Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Sakit kepala


__ADS_3

Rumanah masih berada di dalam kamar putri kecilnya. Beberapa bungkus oleh-oleh khas Sunda sudah ia buka dan berikan pada putrinya itu. Tentu saja senyum ceria selalu terpancar dari wajah gadis kecil itu. Ya, bukan saja ia bahagia karena Bunda nya kini telah kembali lagi. Tapi juga karena dia mendapatkan banyak hadiah dan oleh-oleh dari Bundanya.


"Kalau yang ini, Nenek dan Kakek princess yang berikan. Mereka tidak sabar ingin bertemu dengan princess," ucap Rumanah sambil memberikan dua potong pakaian yang dibelikan oleh Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis.


"Waaaah, cantik sekali. Nenek dan kakek sepertinya sangat baik sekali. Princess juga ingin segera bertemu," sorak Sandrina yang tampak antusias dan bahagia.


Rumanah tersenyum lalu meminta putrinya untuk mencoba memakai baju yang ayah dan ibunya belikan untuk princess Sandrina, "Ayo, silakan dicoba dulu, sayang," ucapnya.


"Ok, Bun!" jawab si cantik Sandrina yang kemudian berdiri hendak mencoba memakai baju yang dibelikan oleh Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis.


Rumanah pun mulai memakaikan baju itu pada putri kecilnya. Namun, tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing dan berat sekali. Sehingga hal itu membuat dirinya menghentikan gerakkannya dan memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Auuuwh," ringis Rumanah sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.


Sandrina tampak menatap heran dan khawatir pada Bunda nya, "Bunda, are you oke?" tanyanya seraya menyentuh tangan Rumanah.


Rumanah tersenyum dan mengangguk, "Yes, princess. Bunda hanya sedikit sakit kepala. Mungkin efek melakukan perjalanan jauh dan naik jet milik Daddy. He he he," jawabnya disertai cengengesnya.


Sandrina tersenyum dan manggut-manggut, "Kalau gitu, Bunda istirahat saja. Mungkin Bunda kelelahan," ucapnya penuh perhatian.


"Terima kasih, sayang. Tapi, Bunda ingin melihat princess memakai baju ini terlebih dahulu," jawab Rumanah sambil memakaikan baju baru pada putri kecilnya itu.


Ceklek!


Terdengar pintu terbuka. Sontak saja Rumanah dan Sandrina menoleh pada seseorang yang masuk seraya tersenyum.


"Hei, Dad! Lihat ini, bajunya cantik sekali, bukan?" sorak si cantik Sandrina sambil menunjukkan baju barunya.


Andre tersenyum lantas mendekati putrinya itu, "Tentu saja, princess sayang. Nenek dan Kakek princess di desa yang membelikannya, bukan? Jangan lupa ucapkan terima kasih pada mereka, ya!" ucapnya sambil berpesan untuk berterima kasih pada Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis.


Sandrina cepat mengangguk, "Ya, Dad. Princess akan berterima kasih ketika bertemu dengan nenek dan kakek," jawabnya penuh semangat.


"Kenapa harus ketika bertemu, sayang? Princess 'kan bisa bicara melalui telepon." Rumanah bicara sambil memegangi kepalanya yang semakin terasa sakit dan berdenyut.


"Oh iya, princess lupa. Hehehe," balas Sandrina sambil nyengenges.


"Dasar, putri Daddy memang suka pelupa!" desis Andre seraya mencubit gemas hidung putri kecilnya itu.


Sandrina terkekeh kecil dan begitu bahagia karena Bunda dan Daddy nya sudah berada di sampingnya kini.


"Auwh, Ya Tuhan!" kembali Rumanah meringis dan memegangi kepalanya yang terasa sakit. Kali ini kepalanya benar-benar berdenyut dan seperti hendak pecah saat itu juga.


Sontak saja Andre merengkuh bahu istrinya dan menyandarkan kepala istrinya pada dada bidangnya. Hampir saja Rumanah oleng dan hilang keseimbangan. Kalau tidak ditahan dan diajak bicara, mungkin Rumanah sudah pingsan sedari tadi.


"Darling, apa yang terjadi?" tanya Andre dengan cemas.


Rumanah memejamkan mata dan tidak segera menjawab. Sakit di kepalanya semakin menjadi sehingga membuatnya sedikit kewalahan.


"Tadi kata Bunda, kepalanya sakit, Dad." Sandrina menjawab dengan raut wajah yang juga cemas.


"Hah? Sakit kepala? Ya Tuhan, kalau begitu sekarang kamu istirahat dulu, darling," ucap Andre sambil memapah istrinya untuk rebahan di atas ranjang putri kecilnya.


Rumanah pun mengangguk mengiyakan. Memang sakit di kepalanya belum juga hilang. Ya, mungkin efek mabuk perjalanan kali.


"Mau kupanggilkan dokter, darling?" tanya Andre penuh perhatian. Tangannya memijat lembut kepala istrinya.


Rumanah cepat menggeleng, "No, hubby. Ini tidak apa-apa, hanya sakit kepala biasa. Mungkin aku mabuk perjalanan yang tertunda. Hehe," tolaknya disertai kelakarnya.


Andre tak menanggapi dengan cengengesan atau bercandaan seperti halnya Rumanah yang masih bercanda dalam situasi seperti itu. Pria tampan itu malah berwajah serius dan begitu cemas. Pasalnya, selama ia menikah dengan Rumanah, wanita cantik itu baru kali ini mengeluh sakit.


"Serius, darling. Sakit kepala jangan dianggap enteng. Aku takut kau kenapa-napa, darling. Sebaiknya aku panggil dokter saja, ya?" balas Andre yang kian memaksa.


Rumanah tersenyum lantas menggeleng. Entah mengapa ia tidak tertarik diperiksa oleh dokter. Ia merasa jika dirinya hanya pusing karena mabuk perjalanan, "Kubilang tidak, sayang. Don't worry, oke! Ini hanya mabuk perjalanan, sayang. Kau tahu 'kan aku sudah lama tidak melakukan perjalanan jauh dan menaiki pesawat? Jadi, mungkin tubuhku sedikit syok dengan semua itu," jawabnya yang lagi-lagi menolak.


Andre membuang napasnya berat dan mungkin ia akan pasrah. Jika dipikir-pikir, masuk akal juga apa yang diucapkan oleh istrinya tadi.


"Kalau gitu princess panggilkan Omma, ya?" kata Sandrina menawarkan.

__ADS_1


Dengan cepat Rumanah menggeleng pula, "Jangan, sayang. Bunda sungguh tidak apa-apa. Mungkin hanya perlu istirahat dan menikmati pijatan Daddy-mu yang lumayan meringankan sakit di kepala Bunda," cegahnya yang kemudian mendongakkan wajahnya dan menatap suaminya disertai senyumannya.


Sandrina mengangguk paham. Sementara Andre tampak tersenyum dan terus memijat kepala istrinya.


"Mau minum obat, Bun?" tanya Andre menirukan gaya bicara putri kecilnya.


Rumanah tersenyum kecil, "Sepertinya ide yang sangat bagus. Tapi, kalau ada tempel koyo, aku ingin menggunakannya, sayang," jawabnya yang berhasil membuat Andre melongo tak percaya.


"Hah, tempel koyo? Apa aku tidak salah dengar?" kata Andre dengan ekspresi wajah yang keheranan.


Rumanah tersenyum seraya menggeleng kecil, "Tentu saja tidak, sayang," jawabnya.


"Tapi, itu terlalu primitif, darling. Bahkan kau bukan terlahir dari keluarga penganut tradisi nenek moyang," protes Andre.


"Haha, memangnya yang memakai koyo harus yang primitif saja? Tidak juga, sayang." Rumanah tampak tertawa dan mengusap lembut wajah tampan suaminya.


"Kupikir begitu," balas Andre.


"Sudah ah sana tolong ambilkan, ya. Kalau ada saja, kalau tidak ada, ya sudah tidak apa-apa," perintah Rumanah tanpa memaksa.


"Baik, Nyonya!" sahut Andre menirukan gaya anak buahnya.


Rumanah tersenyum kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara itu, Andre pun bergegas mencari kotak p3k untuk mengambil obat sakit kepala dan juga tempel koyo, jika ada.


"Princess sayang, apakah kau sudah mandi?" tanya Rumanah.


"Sudah, Bun," jawab Sandrina sambil mendekat dan duduk di samping Bundanya.


"Anak baik," puji Rumanah sambil mengusap kepala putrinya.


Sandrina tersenyum manis, "Bunda jangan sakit, ya. Nanti princess jadi sedih, lho!" rengek gadis kecil itu penuh manja.


Rumanah tersenyum lantas mengangguk, "Tidak, sayang. Bunda tidak sakit, kok. Seperti yang princess katakan tadi, Bunda hanya kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh," ujarnya menghibur putri kecilnya yang berwajah murung.


Sandrina mengangguk dan beringsek merebahkan tubuhnya di samping Bundanya. Dapat dilihat dan dirasakan oleh Rumanah sendiri jika gadis kecil itu sangat menyayangi dirinya. Seperti sangat takut kehilangan ibu sambungnya itu.


Sementara itu, Andre yang tak paham dengan obat-obatan tampak kebingungan saat memilih obat di dalam kotak p3k. Tentu saja ia tidak pernah mengingat setiap obat yang pernah ia gunakan untuk meredakan sakit kepala.


"Aduh, obatnya yang mana, ya?" gumamnya sambil terus memilih dan mencari obat sakit kepala.


"Siapa yang sakit, Ndre?" tiba-tiba sang Mami datang menghampiri. Tentu saja hal itu membuat Andre lega karena ia bisa bertanya pada Mami nya.


"Rumanah, Mam. Dia sakit kepala. Bisakah Mami carikan obat untuknya?" jawab Andre yang kemudian meminta tolong pada Maminya.


Mami Purwati tampak mengerutkan dahi dan sedikit kaget, "Tadi dia terlihat baik-baik saja, Ndre. Kenapa tiba-tiba sekali," ucapnya sambil menyambar kotak p3k di tangan putranya.


"Itu dia, Mam. Katanya sih gara-gara mabuk perjalanan," jawab Andre.


"Oh gitu, bisa jadi juga sih," balas sang Mami yang masih mencari obat pereda sakit kepala.


"Kalau ada tempel koyo, Mam. Dia memintanya," ucap Andre yang berhasil membuat Mami Purwati melongo tak percaya.


"Tempel koyo? Kenapa dia tua sekali," kata Mami Purwati yang tampak heran.


"Entahlah, dia yang meminta." Andre menjawab sambil mengusap wajahnya.


"Sudah seperti Mami kalau sedang sakit kepala," ucap Mami Purwati.


"Mami juga suka memakainya?" tanya Andre heran.


"Ya," jawab Mami Purwati singkat.


Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh.


"Nah, ini obatnya. Sebaiknya makan dulu jika istrimu belum makan, Ndre," ucap Mami Purwati sambil menyerahkan obat pereda sakit kepala pada putranya.


"Oke sip, thank you, Mam." Andre menjawab sambil mencubit kecil pipi Maminya.

__ADS_1


"Astaga, dasar anak nakal!" desis Mami Purwati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Di kamar, Rumanah tampak memejamkan matanya sambil mengusap lembut kepala putri kecilnya yang rebahan di sampingnya sambil memeluk hangat tubuhnya.


Andre masuk dengan terburu-buru dan seketika senyumnya mengembang dengan sempurna saat ia menyaksikan kehangatan istri dan putrinya. Rasanya, Andre tidak pernah melihat penampakan seperti itu pada princess dan mantan istrinya yaitu Luna.


"Manis sekali. Semoga mereka selalu akrab dan hangat seperti ini sampai kapan pun," gumam Andre dalam hati.


Pria tampan itu pun bergegas melangkahkan kakinya menghampiri istri dan anaknya, "Darling," panggilnya lembut.


Rumanah membuka mata dan menoleh, "Ya, hubby. Sudah menemukannya?" tanyanya.


"Sudah, sayang. Tapi, mohon maaf sekali, tempel koyo-nya tidak ada." Andre menjawab seraya mendudukkan bokongnya di sisi ranjang.


Rumanah tersenyum, "Tidak apa-apa, sayang. Lagipula, aku hanya bercanda. Hehe," katanya diiringi cengengesnya tanpa dosa.


Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh, "Kukira kau serius ingin menggunakannya," ucapnya.


Rumanah terkekeh kecil dan menggeleng.


"Tapi darling, kata Mami kau harus makan dulu sebelum minum obat," ucap Andre memberi peringatan.


"Oh, begitu. Ya sudah, aku akan ke meja makan," jawab Rumanah seraya beringsek hendak bangun.


"Tidak usah, darling. Kau diam saja di sini, ya. Aku yang akan mengambilnya," cegah Andre dengan cepat.


"Ya, Bun. Sebaiknya Bunda di sini saja, princess akan membantu Daddy membawa makanan untuk Bunda," timpal si cantik Sandrina seraya bangun dari tidurannya.


Rumanah tersenyum hangat dan sangat bahagia karena dua orang di hadapannya begitu perhatian dan menyayanginya.


"Anak yang pintar!" puji Andre sembari mengacak rambut putri kecilnya itu.


Sandrina tersenyum lantas meloncat dari ranjang. Kemudian Andre pun mengajak putrinya untuk bergegas mengambilkan makan untuk istrinya yang sedang sakit kepala.


***


Di tempat lain...


Luna menatap kosong pada sebuah foto yang ada di tangannya. Ya, foto mantan suami dengan istrinya yaitu Rumanah.


"Aku tidak menyangka jika ternyata kau akan jatuh cinta pada wanita kampungan ini, Andre. Padahal, dia hanya sebagai pengasuh putri kita. Sebenarnya, apa yang membuatmu jatuh cinta pada rakyat jelata seperti dia," ucap Luna dengan tatapan penuh kebencian.


Ya, tentu saja Luna merasa iri pada Rumanah yang kini sudah menggantikan posisinya di hati mantan suaminya. Nasi sudah menjadi bubur, mungkin itu yang kini Luna rasakan.


"Permisi, Nona," ucap anak buah Luna yang tiba-tiba datang menghampiri.


"Ya, ada apa?" tanya Luna.


"Saya sudah mendapat kabar tentang Tuan Andre dengan istrinya. Mereka telah kembali dari desa tempat tinggal istrinya sore tadi," ungkap si anak buah Luna dengan wajah yang serius.


"Benarkah? Apakah mereka benar-benar berniat akan merayakan pesta pernikahan mereka?" tanya Luna penuh selidik.


"Sepertinya begitu, Nona." Anak buah itu menjawab dengan yakin.


Luna terdiam sejenak dan seperti sedang berpikir keras, "Sialan, jika benar mereka akan merayakan pesta pernikahan mereka. Itu artinya sudah tidak ada kesempatan lagi bagiku untuk mendapatkan pria itu kembali," desisnya dalam hati.


Ya, di relung hatinya yang paling dalam, Luna memang masih mencintai Andre. Hanya karena keegoisan dirinya sehingga membuatnya berani mendua dan menelantarkan putrinya sendiri. Namun sebenarnya ia sama sekali tidak berpikir untuk berpisah dengan suami dan putrinya. Kenyataannya Andre yang tampak sakit hati dan murka membuat dirinya merasa tidak layak untuk mempertahankan pernikahannya dengan Luna.


"Baiklah, kau pantau terus mereka berdua, ya. Aku ingin tahu kapan dan di mana mereka akan melaksanakan pernikahan mereka. Kalau bisa sih, aku ingin mendengar kabar jika Andre menceraikan istrinya dan ingin kembali lagi padaku," ujar Luna dengan tatapan sinis dan penuh api permusuhan.


Anak buahnya mengangguk dengan sigap, "Siap, Nona!" jawabnya.


Luna kembali menatap foto Andre dengan Rumanah yang ia dapatkan dari anak buahnya. Terbesit ingin melakukan sesuatu untuk menggagalkan rencana pesta pernikahan mantan suaminya itu. Namun, ia belum menemukan cara apa pun.


"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu. Jika pernikahan Andre dengan wanita itu berjalan lancar, maka aku takut princess benar-benar tidak mau menganggapku sebagai ibunya lagi," ucap Luna di dalam hati.


Wanita satu ini memang benar-benar licik dan selalu ingin mendapatkan apa yang ia inginkan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2