Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Luna vs Meliza


__ADS_3

"Jangan lupa nanti siang jemput lagi ya Dad." ucap Sandrina pada Daddynya, Andre.


"Siap, Princess!" jawab Andre seraya mengusap lembut puncak kepala putrinya.


"Bagaimana dengan Dewi Peri?" tanya Rumanah polos.


"Tentu saja kau ikut dengan Princess, kau temani dia sampai pulang sekolah. Karena kau sudah resmi menjadi pengasuh Princess." tutur Andre yang menjawab pertanyaan Rumanah.


Rumanah mengangguk kecil. Seharusnya dia tak perlu bertanya, hanya saja dia ingin memastikan apakah Sandrina benar-benar membutuhkannya seharian penuh?


"Kau tenang saja, Dewi Peri. Kau tidak akan menemaniku belajar di dalam kelas, kau hanya menungguku di luar bersama para orang tua teman-temanku." ujar Sandrina menimpali.


"Hehehee, ya sayang. Dewi Peri sangat mengerti." ucap Rumanah.


Mereka pun sampai di depan sekolah TK ternama di kota itu. Sandrina dan Rumanah turun dari mobil, sementara Andre kembali melajukan mobilnya menuju perusahaannya.


Andre Wijaya Rakadewa adalah seorang pemilik perusahaan besar di kota itu. Karirnya selalu melejit dari tahun ke tahun. Semenjak ia bercerai dengan istrinya, duda tampan beranak satu itu hanya berfokus pada bisnis dan putri semata wayangnya.


Sementara sang mantan istri yang sampai saat ini masih mengejar-ngejarnya tampak tak ia perdulikan.


Bukan hal yang sulit bagi Andre untuk mendapatkan pengganti istrinya. Namun duda tampan nan kaya raya itu tampak belum ingin membuka lembaran baru dengan wanita yang akan menjadi ibu bagi putri sematawayangnya.


"Selamat pagi, Tuan. Semoga hari ini menyenangkan." sapa Meliza yang tak lain adalah sekretaris cantik Andre.


Meliza sudah selama lima tahun bekerja bersama Andre. Selama itu lah dia menjadi tangan kanan Andre. Dan karena hal itulah pernikahan Andre dengan mantan istrinya tergunjang-ganjing.


"Pagi, Mel. Ya, semoga saja menyenangkan menghadapi pekerjaanku yang menumpuk." sahut Andre seraya membuka jas hitamnya lalu menggantungkan di tempatnya.


Meliza terkekeh.


"Walaupun menumpuk tapi semuanya selalu dapat diselesaikan." ucap Meliza seraya meletakkan beberapa berkas di atas meja bosnya.


"Ya, tentu saja. Karena kau yang selalu membantuku menyelesaikan semuanya." timpal Andre seraya menghempaskan bobot tubuhnya di kursi kebesarannya.


"Hehe, kau membuatku tersanjung, Tuan." ucap Meliza.

__ADS_1


"Hmmm, biasa saja, Mel. Aku bukan memujimu, tapi mengatakan yang sebenarnya." ujar Andre.


"Ya, Anda benar, Tuan. Karena semua yang kulakukan memang sudah menjadi kewajibanku." ujar Meliza seraya mendekati bos tampannya lalu merapikan rambut hitam bos tampannya.


"Hmmm, tentu saja. Karena itulah aku sangat berterima kasih padamu." ucap Andre.


Tak berapa lama..


"Tok tok tok." terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Siapa itu?" selidik Andre.


"Tunggu sebentar, biarkan saya yang membukanya." ucap Meliza seraya melangkahkan kakinya mendekati pintu hendak mencari tahu siapa yang datang.


Meliza pun membuka pintu, dan matanya terbelalak kaget saat ia mendapati sosok seorang wanita yang sudah tak asing lagi baginya. Wanita yang selalu mencurigainya.


"Tundukkan wajahmu, bersikap baiklah kepadaku, jal*ng!" maki wanita cantik yang bernama Luna.


Meliza memutar bola.matanya malas dan membuang nafasnya kasar.


"Sialan, kau tak berhak mencampuri urusanku dengannya. Sebaiknya kau minggir!" maki Luna seraya mendorong tubuh Meliza dengan kasar. Pada saat itu juga Luna langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Andre.


Andre tampak terkesiap saat menyadari siapa wanita yang datang menemuinya. Kedua bola matanya tampak membulat penuh dan memancarkan api permusuhan.


"Hai, selamat pagi, mantan suamiku." sapa Luna seraya mendudukkan bokongnya di kursi depan meja kerja Andre.


"Ck, lancang sekali kau masuk ke dalam ruanganku!" umpat Andre penuh kemarahan. Sepertinya hubungan mereka memang tidak terjalin dengan baik.


Luna menyunggingkan seringai jahatnya, ia menyilangkan kakinya dan bertingkah kurang sopan.


"Hm, tidak ada kata lancang untukku menemuimu di sini, Andre." ujar Luna seraya menatap tajam pada mantan suaminya.


"Kau tidak ingat jika kita memiliki seorang putri yang sama?" sindir Luna.


Andre hanya membuang nafas kasar dan membuang wajahnya ke udara.

__ADS_1


"Jadi sebaiknya kau jangan coba-coba untuk selalu menghindariku. Karena putri kita pasti merindukn ibunya, yaitu aku." sambung Luna.


"Tidak, kau salah besar." sergah Andre.


"Sampai saat ini pun Princessku tak pernah menanyakan tentangmu. Karena kau tahu bukan jika putrimu sangat membencimu, ia pernah melihat perselingkuhanmu dengan mata kepalanya sendiri. Jadi jangan harap kau akan berhasil merebut Princess dariku." ujar Andre penuh penegasan.


Luna tampak terhenyak kaget, namun dari sorot matanya terpancar ketidak terimaan atas ucapan mantan suaminya itu.


"Jangan asal bicara kau, bukankah kau sendiri yang berselingkuh dariku!? Kau yang bermain api dengan si jal*ng sekretarismu itu!" kali ini Luna tampak tak kuasa menahan emosinya. Ia tampak sedikit menaikan suaranya.


"Jaga ucapanmu, wanita lont*!" maki Meliza yang sangat geram mendengar makian Luna padanya.


"Kau hanya membuang-buang waktumu hanya untuk mencurigaiku dengan bosku. Karena sebenarnya kaulah yang berselingkuh dengan atasanmu!" semprot Meliza tak kuasa menahan emosi.


Luna mengepalkan tangannya dan mengertakkan gigi-giginya. Ia pun beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati Meliza.


"Apa kau bilang!? Bisakah kau berkaca, wanita jal*ng!?" cetus Luna seraya menyilangkan kedua tanganny bersikap angkuh.


Meliza tak kalah sinisnya, ia tampak memelototkan kedua bola matanya. Menatap tajam pada wanita yang selalu menganggapnya simpanan Andre.


Sementara itu Andre tampak mulai was-was saat melihat kedua wanita yang sedang terbakar emosi itu saling berhadapan. Sepertinya pertandingan sengit akan segera dimulai.


"Apa yang akan mereka lakukan? Sebaiknya aku dekati mereka. Tidak akan kubiarkan wanita itu membuat keributan di perusahaanku." ucap Andre dalam hati. Ia pun beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya mendekati kedua wanita yang sedang beradu tanduk itu.


"Kau yang harus berkaca! Akibat keegosianmu, kau harus kehilangan dua orang yang sudah lama hadir di dalam hidupmu." ujar Meliza tak mau kalah.


"Apa kau bilang? Haha, kau bahkan tak menyadari jika kaulah wanita yang telah berani menghancurkan keluarga kecilku." ucap Luna yang masih ngotot.


"Jaga ucapanmu! Meliza sama sekali tidak berpengaruh atas kehancuran pernikahan kita. Dia tidak melakukan kesalahan apa-apa. Perpisahan kita adalah buah dari keegoisanmu, Luna. Jadi sebaiknya berhenti memandang buruk pada sekretaris setiaku ini!" tegas Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.


Luna tampak terhenyak kaget, lagi-lagi ia harus menanggung malu dan rasa cemburu. Ternyata Andre lebih membela Meliza ketimbang dirinya yang tak lain adalah mantan istri Andre.


"Cih, tentu saja dia setia padamu, karena dia adalah sekretaris sekaligus wanita simpananmu. Dan sampai kapan kau akan menutupi perselingkuhanmu dengan sekretarismu ini? Aku harap Princess akan segera mengetahui kebusukan Daddynya." Luna berucap penuh umpatan dan kemarahan.


Sementara Meliza tampak mengepalkan kedua tangannya menahan emosi.

__ADS_1


***


__ADS_2