
Rumanah mengipas-ngipaskan tangannya, panas dan haus kini menerpanya. Setelah setengah hari ia menunggu asuhannya yang sedang belajar di dalam kelas, Rumanah tampak sedikit gerah dan bete.
"Kok saya seperti orang ilang begini ya." ucap Rumanah sembari celingukan. Di kanan kirinya hanya ada pohon bunga dan pohon-pohon besar. Tentu saja itu karena ia berada di taman sekolah.
"Haduh, mana perut saya lapar lagi. Bagaimana ini, sementara saya tidak bawa uang sepeser pun." kembali Rumanah merengek sendiri, sementara cacing di dalam perutnya sudah berdemo sedari tadi.
Rumanah pun melangkahkan kakinya meninggalkan taman sekolah. Mencari sesuatu yang bisa dia makan. Bila perlu dia akan berhutang pada ibu kantin.
"Mbak, bisa numpang tanya nggak?" saat Rumanah melangkah lima jengkal dari tempat ia duduk, seorang lelaki tampak menghentikan langkahnya.
Refleks Rumanah menolehkan wajahnya, mengerutkan dahinya dan menatap penuh pertanyaan pada pria itu.
"Ehm, maaf mengganggu waktunya sebentar, Mbak." ucap pria itu seraya lebih mendekati Rumanah.
"Ada apa lelaki ini mendekatiku? Sepertinya dia ingin menculikku." batin Rumanah berargumen.
"Apakah.." belum sampai pria itu menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Rumanah berlari menjauhi pria itu. Tentu saja hal itu membuat pria yang ingin bertanya itu pun tampak terkejut dan bertanya-tanya.
"Hah? Kenapa dia berlari seperti itu? Memangnya ada apa di wajahku." ucap pria yang bergaris wajah Eropa itu.
"Sebaiknya aku kejar saja dia. Aku penasaran, apa yang dia takuti dari wajahku." kembali pria itu berkicau.
Tentu saja pria yang bernama Ferhat Aslan itu tampak heran dan sungguh penasaran. Di dalam sejarah hidupnya, ia selalu dikerumuni oleh para wanita cantik yang ingin dekat dengannya. Tapi dengan wanita ini? Ah, sungguh di luar dugaannya.
"Hei, tunggu!" Ferhat sedikit berteriak sembari berlari mengejar Rumanah.
Sementara itu Rumanah tampak tegang dan panik. Ia sedikit ketakutan saat menengok ke belakang.
"Astaga, lelaki ini benar-benar mengikutiku." ucapnya dalam hati.
"Hei, tunggu sebentar. Kenapa kau berlari begitu. Aku bukan orang jahat." kembali Ferhat menyerukan suaranya. Mencoba menghentikan pelarian Rumanah.
"Bukan orang jahat katanya? Memangnya ada orang jahat yang mengaku bahwa dirinya jahat? Kalau memang ada, itu penjara pasti sudah penuh oleh para penjahat." cerocos Rumanah dalam hati.
Rumanah terus berlari menghindari kejaran pria yang ia anggap sebagai orang jahat. Saat ia tepat di depan toilet, ia pun masuk ke dalam salah satu toilet di sana. Tentu saja ia ingin bersembunyi dari kejaran pria tampan yang ia anggap sebagai penjahat.
"Hufft, sepertinya bersembunyi di dalam sini aman." ucap Rumanah seraya mengatur napasnya yang tampak ngos-ngosan.
__ADS_1
Sementara itu Ferhat tampak kewalahan dan kehilangan jejak. Sebenarnya tak banyak yang ingin ia tanyakan, hanya ingin tahu di mana letak kelas TK A. Dan dia juga ingin tahu alasan wanita yang berlari menghindarinya.
"Huh, gesit sekali wanita itu. Sebenarnya apa yang dia takuti dari diriku." ucap Ferhat seraya menghentikan kejarannya.
Setelah kehilangan jejak Rumanah, Ferhat pun bergegas kembali mencari kelas yang ingin ia tuju.
Sementara itu di dalam toilet, Rumanah tampak masih ngos-ngosan dan menunggu waktu yang tepat untuk dia keluar.
Setelah bersembunyi selama satu jam, akhirnya Rumanah pun keluar dari dalam toilet itu.
"Sepertinya lelaki jahat itu sudah tidak ada." ucapnya dalam hati.
Rumanah celingukan ke sana kemari. Memantau situasi yang dia rasa sudah aman.
"Astaga, sebenarnya apa yang lelaki itu inginkan dariku? Uang? Memangnya dia tidak lihat penampilanku yang sederhana ini? Tubuhku? Astaga, sepertinya lelaki itu buta mata. Masa iya lelaki itu menginginkan tubuh dan wajahku yang jelek ini." cerocos Rumanah seraya kembali melangkahkan kakinya menuju kelas princess.
Sesampainya di depan kelas princess, Rumanah tampak terkejut saat melihat kelas yang sudah kosong dan para orang tua yang menunggu anak-anaknya tampak sudah sepi.
"Haaahh, kenapa sepi sekali? Astaga, pada ke mana anak-anak ini?" Rumanah tampak terlonjak kaget dan seketika ia kembali tegang dan juga panik.
Dengan cepat ia berlari ke sana kemari mencari asuhannya yang sudah tidak ada di dalam kelasnya. Perasaannya mulai tidak karuan, ia sangat takut kehilangan jejak princess.
"Maaf mbak mencari siapa ya?" tanya seorang wanita yang berprofesi sebagai OG di sana.
"Ah ini, saya mencari seorang anak yang belajar di kelas A." jawab Rumanah dengan nada yang panik.
"Semua murid sudah keluar kelas, Mbak. Mbak bisa mencarinya ke depan sekolah, biasanya anak-anak akan menunggu jemputan mereka di sana." ucap seorang wanita itu.
Rumanah mengangguk dan tanpa membuang waktu lagi ia pun berlari menuju tempat yang wanita itu tunjukkan padanya.
Di depan sekolah, anak-anak yang sedang menunggu jemputan tampak ramai dan saling bercengkrama.
Rumanah mulai mengedarkan pandangannya ke sana kemari. Setiap anak ia lalui dan teliti satu persatu, hingga saat kedua manik matanya meleset ke suatu tempat, ia tampak menghela napas panjang dan membuangnya perlahan.
"Hufft, itu dia princess. Untung saja dia tidak ke mana-mana." ucap Rumanah seraya tersenyum lega. Tanpa membuang waktu lagi ia pun melangkahkan kakinya mendekati princess yang sedang duduk sendirian.
"Princess, kau di sini." ucap Rumanah seraya mendudukkan bokongnya di samping asuhannya.
__ADS_1
"Dewi peri, dari mana saja? Kenapa tadi tidak ada di depan kelas princess?" sambutan dari princess.
Rumanah tersenyum kecil lalu mengusap lembut puncak kepala princess.
"Maafkan dewi peri ya sayang. Tadi dewi peri sakit perut, jadi dewi peri bulak balik toilet." jawab Rumanah berbohong.
"Oooh, dewi peri sakit perut ya. Princess kira dewi peri ninggalin princess." rengek princess yang tampak manja.
"Hehehe, tidak sayang. Ya sudah, sekarang kita tunggu Daddy princess di sana yuk." ajak Rumanah pada princess.
Sandrina menggeleng kecil.
"Tidak, princess sedang menunggu uncle Fer." tolak Sandrina.
Rumanah mengerutkan dahinya.
"Menunggu uncle Fer?" Rumanah tampak tak mengerti.
Sandrina mengangguk.
"Uncle Fer itu siapa sayang?" tanya Rumanah yang sangat penasaran.
"Uncle Fer, ya dia uncle princess." jawab Sandrina yang masih membuat Rumanah tak mengerti.
"Ah, begitu. Memangnya princess sudah menghubungi orang itu?" tanya Rumanah.
"Tidak, uncle Fer yang tiba-tiba ke sini." jawab Sandrina yang belum juga memecahkan teka-teki yang berputar di dalam kepala Rumanah.
"Terserah kamu aja deh anak kecil." ucap Rumanah dalam hati.
"Uncle Fer sedang membeli ice cream untuk princess." ucap Sandrina.
"Oooh beli ice cream. Memangnya princess minta dibelikan.." Rumanah tampak menggantung ucapannya saat tiba-tiba Sandrina berteriak dan bersorak.
"Yeeeey, ice creamnya sudah datang." sorak Sandrina seraya meloncat dari tempat duduknya.
Refleks Rumanah menolehkan wajahnya pada pusat perhatian Sandrina. Dan pada saat itu..
__ADS_1
"Haaaaaaaah, lelaki itu." ucap Rumanah dengan raut wajah yang terlihat syok.
****