
Phoo Boon-Nam menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Di hadapannya, para pengawal yang bertarung dengan Andre beserta Leo dan sopir sedang berdiri sembari menundukkan kepala mereka.
"Aku tidak menyuruh kalian untuk beradu kekuatan!" ucap Phoo Boon-Nam dengan raut wajah yang terlihat marah.
Para pengawal itu hanya diam dan tidak ada yang berani bicara. Mereka tahu jika sang juragan sedang marah.
"Katakan! Siapa yang menyuruh kalian mengeroyok orang itu!?" bentak Phoo Boon-Nam yang berhasil membuat para pengawal itu terlonjak kaget.
"Ti–tidak ada, juragan," jawab seorang pengawal berkepala botak.
"Jika tidak ada, kenapa kalian melakukan itu? Aku hanya ingin kalian usir orang itu! Bukan mengeroyoknya!" kali ini Phoo Boon-Nam bicara dengan nada yang tinggi.
"Maafkan kami, juragan. Kami siap mendapatkan huk—" pengawal itu menggantung ucapannya saat tiba-tiba Maae Lilis memanggil suaminya.
"Beb! Ayang beb!" panggil Maae Lilis dengan raut wajah yang terlihat cemas dan panik.
"Ada apa?" sahut Phoo Boon-Nam seraya menolehkan wajahnya.
Maae Lilis melangkahkan kakinya dengan cepat.
"Astaga, ini kalian kok sudah ada di sini? Bukannya tadi bertarung dengan pria yang datang bersama Nangsaw?" ucap Maae Lilis menatap heran.
"Ya, aku sedang menyidang mereka." Jawab Phoo Boon-Nam.
Maae Lilis mengerutkan keningnya. "Menyidang? Apa itu artinya bukan Phoo yang menyuruh mereka?" selidiknya.
Phoo Boon-Nam menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan. "Kau pikir aku pria seperti apa? Aku juga tidak tahu kalau mereka mengeroyok bocah itu." Ucapnya penuh penegasan.
"Astaga, aku pikir kau yang menyuruh mereka." Maae Lilis bicara sembari mengusap lembut dada bidang suaminya. "Kalau begitu, sekarang Phoo bisa bebaskan anak itu. Tahu tidak? Sanee sangat terluka dengan keegoisan Phoo. Dia benar-benar terpuruk dan tak henti-hentinya menangis. Maae rasa mereka memang cinta sejati." Ucapnya yang mulai mengeluarkan strategi.
Phoo Boon-Nam mengusap wajahnya kasar dan membuang napasnya perlahan. "Sudah kau tidak usah ikut campur. Sudah kubilang ini urusanku! Urusi saja putrimu yang nakal itu. Jangan sampai dia kabur lagi dari rumah ini!" Ucapnya penuh penegasan.
Maae Lilis memutar bola matanya dan menatap kesal pada suaminya. "Setidaknya kau mengerti pada perasaan putrimu, Phoo. Jika seperti ini, kau hanya akan membuat Sanee semakin tersiksa!" ujarnya yang tak mau kalah.
"Sayang, dengar! Jangan ikut campur. Ini urusan pria! Sebaiknya kau lihat saja apa yang akan terjadi." Ucap Phoo Boon-Nam seraya merengkuh bahu istrinya dan menatapnya meminta pengertian.
Maae Lilis menatap tajam dan menekuk wajahnya setengah kesal. "Baiklah, tapi, jika putrimu terluka. Aku yang akan melukaimu!" Ucapnya penuh ancaman.
Phoo Boon-Nam membulatkan kedua bola matanya penuh dan menelan ludahnya kasar. Sementara Maae Lilis sudah berlalu dari hadapannya.
"Ck, dasar perempuan!" decak Phoo Boon-Nam seraya tersenyum licik.
Sementara itu, Andre sedang memanjat tangga besi menuju kamar istrinya. Leo dan sopir tampak memegangi tangga agar tetap kuat dan kokoh.
"Darling, tunggu aku di sana, ya. Sebentar lagi aku sampai!" teriak Andre seraya mendongakkan wajahnya.
"Ayo semangat, sayang. Perjalananmu masih panjang. Panjat terus!" balas Rumanah menyemangati suaminya itu.
Andre tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Walau wajahnya bonyok dan berdarah, tapi ia tetap berusaha keras memanjat tangga menuju kamar istrinya itu.
"Bos, hati-hati!" teriak Leo mengingatkan.
"Tenang saja! Aku akan hati-hati agar bisa sampai ke kamar istriku!" balas Andre.
__ADS_1
Pria tampan itu benar-benar pelan dan hati-hati memanjat tangga menuju kamar istrinya. Perjalanannya memang masih jauh, tapi ia tetap semangat dan tidak memikirkan apa pun selain sampai ke kamar istrinya.
"Woy, ngapain loe!" teriak seorang anak buah ayah Rumanah.
Andre tampak terlonjak kaget dan menolehkan wajahnya. Tentu saja ia mulai panik saat ia tercyduk oleh anak buah mertuanya.
"Waduh! Bagaimana ini, bos? Dia melihat Anda," ucap Leo yang juga tampak panik.
Andre mengusap wajahnya kasar dan begitu bingung harus berbuat apa. Jika ia meneruskan manjat, sudah pasti anak buah mertuanya itu akan mengganggunya dan menyuruhnya turun. Tapi, jika ia berhenti dan kembali turun, sudah pasti ia gagal menemui istrinya di dalam kamarnya. Ini sungguh sebuah pilihan yang sangat rumit baginya.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? Astaga, pakai ketahuan segala lagi!" desis Rumanah panik.
Anak buah Phoo Boon-Nam melangkah dengan ekspresi menyeramkan. Berkacak pinggang dan seolah menantang pria yang sedang memanjat.
"Tercyduk, kau!" ucap anak buah Phoo Boon-Nam seraya menunjuk Andre yang sedang diam tidak melanjutkan panjatannya.
"Astaga, kenapa kau mesti ke sini, sih? Bisa tidak jangan ikuti aku terus! Jangan ganggu aku! Aku akan menemui istriku! Anggap saja aku Romeo dan Nona-mu itu Juliet!" ujar Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Ha ha ha!" anak buah itu tertawa terbahak-bahak.
"Ck, sialan! Dia malah tertawa." Andre berdecak kesal.
"Bos, sudahlah, bos. Sebaiknya Anda turun saja! Saya yakin Anda tidak akan bisa memanjat sampai kamar Nyonya." Ucap Leo.
"Sialan kau, Leo! Bukannya mendukung, malah menjatuhkan!" dengus Andre sebal.
"Aish, bukan menjatuhkan, bos. Justru kalau Anda tidak turun, saya yakin orang ini akan membuat Anda terjatuh!" balas Leo penuh penekanan.
Andre mendongakkan wajahnya ke atas. Menatap sang istri yang terlihat cemas. "Darling, jangan khawatir. Aku pasti akan menggapaimu!" teriaknya percaya diri.
"Itu tidak mungkin, sayang. Lihat itu!" balas Rumanah seraya menunjuk ke bawah.
Andre menolehkan wajahnya dan menatap ke bawah sana. Betapa terkejutnya ia saat melihat seorang pria paruh baya berkumis tebal sedang menatap tajam kepadanya.
"Alamak, mamp*us gue!" desisnya.
Phoo Boon-Nam berkacak pinggang dan menatap tajam pada menantunya yang diam di tempat. Sementara Leo dan sopir sudah ditangkap oleh para pengawal.
"Bos, sebaiknya Anda turun dan menyerah saja. Saya takut Anda terjatuh dan tak bisa bangkit lagi!" teriak Leo yang tampak berontak saat pengawal menahan tubuhnya.
"Ck, sialan kau! Kenapa malah bernyanyi!" decak Andre seraya mengusap wajahnya kasar.
"Bos? Bos apa dia? Bos buaya?" sindir Phoo Boon-Nam seraya melangkahkan kakinya mendekati tangga.
"Bos buaya. Enak saja!" dengus Andre lirih.
Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh saat sang ayah berdiri di dekat tangga besi. Ia takut ayahnya akan melakukan sesuatu pada suaminya.
"Ya Tuhan, apa yang akan Phoo lakukan pada suamiku. Bagaimana ini? Aku tidak ingin melihat suamiku terluka lagi." Ucap Rumanah dalam kepanikannya.
Sementara itu, Andre tampak gemetar menahan takut dan menahan pegal. Tentu saja kaki dan tangannya terasa pegal karena terlalu lama berdiri dan menyesuaikan keseimbangan tubuhnya.
"Hei, bocah tengil! Ternyata kau memiliki jiwa keperjuangan yang tinggi, ya!" ucap Phoo Boon-Nam penuh cibiran.
__ADS_1
"Hmm, tentu saja, ayah mertua. Dan aku akan memperjuangkan cintaku pada putrimu," jawab Andre penuh percaya diri.
"Cih, ayah mertua matamu!" desis Phoo Boon-Nam seraya menyentuh tangga besi di hadapannya.
Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu panik. Sementara sang istri pun kini tampak menatap syok pada ayahnya.
"Phoo, jangan macam-macam! Jangan lukai suami Sanee. Sanee mohon, biarkan dia naik ke kamar Sanee." Teriak Rumanah penuh permohonan.
Phoo Boon-Nam menyunggingkan senyuman sinisnya. "Itu tidak akan Phoo biarkan, putriku sayang. Bocah tengil ini harus pergi dari rumah ini!" Ucapnya seraya mengguncang tangga yang sedang Andre panjat.
"Astaga! Hentikan wahai ayah mertua! Ini sangat tidak lucu!" teriak Andre yang tampak berpegangan dengan kuat.
"Turun kau! Kalau tidak, akan kutendang tangga ini agar kau terjatuh dan tidak bisa melihat putriku lagi!" ancam Phoo Boon-Nam penuh keseriusan.
Andre tampak bergidik ngeri dan menelan ludahnya kasar. Dilihatnya sang istri yang sedang menangis dan menatap cemas kepadanya.
"Darling, jangan menangis. Kau tenang saja, ya. Aku pasti akan mendapatkanmu kembali. Jangan bersedih, sayang. Aku sangat mencintaimu! Muaaacchh! Muaach! Muaaaccchhh!" ucap Andre dengan ekspresi melas.
Rumanah mengangguk kecil. Ia pun tidak bisa memaksa suaminya untuk naik ke kamarnya. Tentu saja hal itu hanya akan membahayakan suaminya sendiri.
"Bos, hati-hati!" teriak sopir.
Andre mengangguk. Akhirnya ia pun memilih untuk turun dan menghentikan niatnya.
"Kau, sebaiknya pulang sekarang juga. Aku sungguh tidak menerima tamu seperti dirimu. Putriku, Sanee. Akan menikah dengan seorang pria tampan dan baik hati berasal dari Thailand. Sebaiknya kau menyerah saja!" Ucap Phoo Boon-Nam tanpa menatap wajah menantunya.
"Tidak, Ayah mertua! Ayah mertua sungguh tidak bisa memisahkanku dengan putrimu itu. Karena kami sudah menikah dan saling mencintai. Lagipula, aku tidak akan pernah menalak istriku sampai kapan pun!" mohon Andre yang tampak mendesak.
"Omong kosong! Dia bukan istrimu! Jangan mengaku-ngaku! Sebaiknya sekarang kau pergi!" usir Phoo Boon-Nam seraya menatap sengit pada menantunya.
Andre mengusap wajahnya kasar dan semakin kesal pada mertuanya itu. "Anda sungguh akan menyesal memisahkanku dengan putrimu! Aku yakin dia bisa gila jika berpisah denganku!" ucapnya yang berhasil membuat Phoo Boon-Nam membulatkan kedua bola matanya penuh.
Phoo Boon-Nam menatap tajam pada menatap tajam pada menantunya. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
"Ayolah, dengarkan dulu penjelasanku, Ayah mertua." Andre kembali memohon.
"Tidak! Pengawal, seret dia agar keluar dari halaman rumah ini!" perintah Phoo Boon-Nam pada para pengawal.
Dalam sekejap saja, para pengawal menangkap tubuh Andre lalu menyeretnya ke luar. Sementar Leo dan sopir tampak sudah lebih dulu diseret ke luar.
"Aku tidak akan pergi sebelum bisa mendapatkan istriku lagi! Aku akan tetap di sini sampai istriku kembali! Darling, aku mencintaimuuuuuu!" teriak Andre yang tampak berusaha berontak.
Rumanah menatap nanar dan sangat sedih melihat suaminya yang diusir oleh ayahnya sendiri. Ia hanya bisa menangis menghadapi situasi rumit yang ia alami saat ini.
.
.
.
Duh, kira-kira, Andre dan Rumanah bakalan bersatu lagi gak yaaaaa????
BERSAMBUNG...
__ADS_1