
Rumanah menelan ludahnya kasar saat ia menatap punggung kekar, seksi dan putih bersih milik majikan galaknya itu. Langkahnya lantas terhenti saat itu juga, deru napasnya mulai tidak terarahkan. Ah, ada apa dengannya? Ini hanya punggung, bukan sebuah benda yang dapat menghasilkan bibit penerus bangsa.
"Kenapa diam?" tegur duda tampan itu tanpa menolehkan wajahnya.
Rumanah terjingkat dan seketika ia melangkahkan kakinya kembali. Dalam waktu yang bersamaan, pintu kamar pun tertutup rapat.
"Ini air hangatnya, Tuan Andre yang terhormat." gadis desa itu kini sudah berada di belakang majikan galaknya. Wajahnya ia tundukkan dan manik matanya tak sanggup memandang indahnya punggung kekar milik majikan galaknya itu.
Andre menyunggingkan senyuman usilnya. "Berikan padaku!" ucapnya seraya mengulurkan tangannya tanpa menolehkan wajahnya.
Rumanah mengangguk serta menyerahkan segelas air hangat pada majikan galaknya itu. "Ini, Tuan." ucapnya.
Andre menerima segelas air hangat itu lalu meneguknya tanpa ampun.
"Kalau gitu saya langsung ke—" belum sampai Rumanah menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Andre menyelanya.
"Diam di sini!" ucapnya tanpa bantahan.
Rumanah membulatkan mata.
"Apakah kau sudah siap dengan apa yang terjadi di hari ini?" tanya duda tampan itu yang masih membelakangi pengasuh putri kecilnya.
"Apa yang akan terjadi, Tuan?" tanya gadis desa itu yang sedikit lemot.
"Ck," duda tampan itu berdecak lantas memutar tubuhnya menghadap pengasuh putri kecilnya. "Apakah kau lupa? Atau kau pura-pura lupa?" tanya duda tampan itu penuh sindiran.
"Hah? Tuan, bisakah Anda memakai baju terlebih dahulu?" gadis desa itu sontak memejamkan matanya.
Andre menyunggingkan seringai usilnya. "Kau sudah pernah melihatku seperti ini, Annabelle. Jadi, jangan bersikap seolah kau jijik padaku!" tegas duda tampan itu penuh desakan.
"Hah? Bukan begitu maksud saya, Tuan. Justru saya takut tidak kuat menahan godaan yang datang menghadang, astaga!" sanggah Rumanah yang berhasil membuat Andre tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha ha ha ha ha!" tawa ngakak pecah saat itu juga.
"Ups, sepertinya saya salah bicara," gumam Rumanah sembari memalingkan wajahnya ke samping.
"Kau sangat liar, Annabelle!" ucap Andre seraya mengangkat dagu Rumanah dan refleks membuat gadis desa itu membuka matanya.
__ADS_1
"Tidak, Tuan. Saya hanya salah bicara. Jadi, jangan dianggap serius," ucap Rumanah.
"He he he he, tapi aku menganggapnya serius," balas Andre.
Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh.
"Oh ya, apakah kau sudah siap untuk—" Andre belum sampai menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Rumanah menyelanya.
"Check up ke rumah sakit? Tentu saja saya sudah siap, Tuan." gadis desa itu menyela.
Andre tersenyum kecil seraya menangkap tangan kanan gadis desa itu. "Ada satu lagi yang akan kau lakukan, Annabelle!" ucap duda tampan yang yang berhasil membuat Rumanah mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Apa itu, Tuan?" tanya Rumanah.
Andre tersenyum usil. Kemudian ia meletakkan tangan Rumanah pada dadanya dan mengelus-eluskannya di sana. "Menikah denganku!" jawab duda tampan itu yang berhasil membuat Rumanah terbelalak kaget.
"Haaahhh???" gadis desa itu membulatkan kedua bola matanya penuh lantas melepaskan tangannya.
"Kau terkejut? Bukan kah aku sudah sering mengingatkan padamu tentang hal ini?" desak Andre seraya kembali menangkap tangan kanan Rumanah.
Rumanah tampak bengong dan syok berat. Gadis desa itu bahkan tak mampu mengeluarkan suaranya barang sedikit pun.
Rumanah masih terdiam. Ia sangat syok dan tidak menyangka dengan keputusan majikan galaknya yang tidak main-main itu.
"Annabelle, seperti yang kau minta dan kau inginkan. Sebentar lagi aku akan menikahimu, sebentar lagi kau akan menjadi istriku." duda tampan itu berkata dengan lembut seraya membelai halus rambut panjang milik gadis desa itu.
"Tidak! Saya tidak mau, Tuan!" tolak Rumanah secara tiba-tiba. Gadis desa itu melepaskan pelukannya dan menatap penuh penolakan pada majikan galaknya itu.
Andre menatap datar serta menangkap tangan gadis desa itu. "Kau tidak bisa menolak, Annabelle. Bukankah ini sudah menjadi keputusanmu? Ini 'kan keinginanmu? Jangan membuatku marah karena kau telah ingkar janji dan mematahkan semangatku yang menggebu-gebu!" desak duda tampan itu yang semakin membuat Rumanah bingung dan juga takut.
Rumanah mengusap wajahnya kasar dan melipat bibirnya ke dalam. Gadis desa itu sangat terlihat resah. Sungguh ia lupa jika majikan galaknya itu memang menentukan pernikahan mereka di hari ini.
"Jangan menolak lagi, Annabelle! Aku berusaha menuruti keinginanmu. Jadi, jangan membuatku murka atas penolakanmu!" tegas Andre yang kian mendesak.
"Tapi ... saya belum siap, Tuan. Bagaimana dengan keluarga saya? Mereka pasti sangat terkejut jika saya tiba-tiba mengabari hal ini. Dan, belum tentu Bapak saya mau berangkat ke sini untuk menjadi wali saya." gadis desa itu kini bernegosiasi.
Andre tersenyum kecil seraya memeluk hangat gadis desa yang mungil itu. "Tidak usah khawatir. Semuanya aman bersamaku." ucap duda tampan itu.
__ADS_1
"Aman bagaimana, Tuan?" tanya Rumanah seraya mendongakkan wajahnya.
Muaach!
Andre medaratkan bibirnya pada kening gadis desa itu. Dan hal itu membuat Rumanah semakin salah tingkah dan bawa perasaan.
"Kau tidak perlu memberitahu keluargamu dan meminta orang tuamu untuk datang ke sini. Karena, aku tidak butuh itu," ucap duda tampan itu yang semakin membuat Rumanah tak mengerti.
"Lantas, bagaimana kita bisa menikah jika tanpa orang tua saya?" tanya Rumanah penuh keheranan.
Andre tersenyum seraya membawa Rumanah duduk di sisi ranjang bersamanya. Duda tampan itu menggenggam erat tangan mungil dan lembut gadis desa itu.
"Kita akan menikah secara rahasia atau sirri. Kau tahu akan hal itu?" ungkap Andre.
Rumanah menggeleng. Ia memang tak mengerti.
"Kita bisa menikah walau tanpa orang tuamu yang menjadi wali. Dan, setelah kita menikah, kita akan merahasiakan pernikahan ini. Tapi kau tidak usah khawatir, pernikahan kita ini sah dalam hukum agama." duda tampan itu menerangkan.
Rumanah manggut-manggut dan tampak sedikit mencerna penjelasan duda tampan itu. Ini memang sangat berat, namun tak dapat ia pungkiri jika dirinya pun ingin menikah dengan majikan galaknya itu.
"Annabelle, jangan banyak berpikir lagi. Sekarang katakan jika kau setuju dengan keputusanku!" desak Andre seraya mengusap lembut surai gadis desa itu.
Rumanah terdiam dan seperti masih bingung dengan keputusan yang harus ia ambil.
Muach!
Andre kembali mendaratkan bibirnya pada pipi mulus gadis desa itu. Semoga saja dengan kecupan itu, Rumanah akan luluh dan menyetujui keputusannya.
"Katakan, yes, Annabelle." duda tampan itu kembali merayu.
Namun, Rumanah masih terdiam dan kini gadis desa itu memalingkan wajahnya ke samping. Dan, melihat hal itu membuat Andre gemas lantas kian penasaran. Tanpa membuang waktu lagi ia pun menangkap wajah Rumanah lalu mendongakkan wajah manis itu agar menatap wajahnya.
"Kau sangat manis," bisik Andre yang kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir tipis gadis desa itu.
Seketika Rumanah memejamkan matanya dan menerima lum*atan serta hisapan majikan galaknya itu. Mereka berdua kini tampak berciuman dengan lembut dan hangat.
Andre tahu, gadis desa itu kini sedang bingung dan dilema. Guna menetralkan pikiran gadis desa yang ia inginkan, duda tampan itu pun memberikan sedikit kehangatan dan ketenangan pada gadis desa itu.
__ADS_1
Wadaw... Duda tampan itu tidak main-main dengan keputusannya. Lantas, apakah Rumanah akan setuju menikah sirri dengan majikan galaknya itu???
BERSAMBUNG...