
Rumanah menangis memandangi jalan raya di malam hari. Entah akan dibawa ke mana ia pergi oleh anak buah Joker yang telah menculiknya itu. Kini, hatinya remuk redam. Kerinduannya pada suaminya begitu menusuk jantungnya.
"Maafkan aku," lirih berkata dalam sunyi. Ya, Rumanah sangat merasa bersalah karena tak dapat kembali ke pangkuan suaminya.
Meskipun ia lemah, tapi ia berharap Tuhan memberikan sebuah jawaban dan keajaiban padanya. Jadi jemari yang lentik itu mengusap lembut air mata yang mengalir.
Di sisi kanannya, anak buah Joker diam dan menjaganya agar tidak lepas nekat meloncat dari mobil yang membawanya memecah keheningan malam. Di sisi kirinya pun sama, anak buah Joker itu memasang kekuatan ekstra dan kehati-hatian agar Rumanah tak dapat bergerak barang sedikit pun.
Ciiiittttt!
Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah pelabuhan. Ya, tentunya bukan pelabuhan hati bagi Rumanah. Akan tetapi sebuah pelabuhan yang menyediakan kapal pesiar yang bisa membawa siapa pun melewati lautan lepas hingga sampai di penghujung lautan sesuai dengan keinginan mereka.
Rumanah curiga, ia merasa jika Joker itu memang akan membawanya ke luar negeri. Jika memang benar seperti itu, berarti firasat sang Mami mertua benar adanya.
"Ya Tuhan! Aku serahkan semuanya pada-Mu," rintih wanita cantik bergaun hitam itu.
"Ayo, Nona," ajak si anak buah Joker yang tampak sigap dan antusias.
Rumanah tak menjawab. Ia tahu tugasnya apa saat ini. Keluar dari mobil dan berjalan dengan anggun. Kenapa ia begitu lemah saat ini? Ia bahkan bukan seperti Rumanah yang sebenarnya. Di mana Rumanah yang asli akan selalu melawan siapa saja yang merisaknya. Tapi kini, ia sungguh tak ada daya upaya untuk sekedar melawan.
"Bos kami telah menunggu Anda di sana," ucap si pria yang begitu gagah dengan seragam hitamnya.
Rumanah mengangguk. Walau batinnya kini menjerit, tapi ia tetap berusaha menjadi wanita yang kuat dan tegar.
"Oh Tuhan! Jika orang jahat ini tidak mengancamku, aku pasti akan melawan dan mungkin nekat kabur darinya. Tapi, ketakutanku kini semakin menjadi. Aku takut, aku takut dia benar-benar akan melukai suami, putri dan orang tuaku," rintih Rumanah dalam hati.
Sakit! Ya, tentunya ia sangat merasa sakit dalam keadaan ini.
Di sudut lain, Ferhat bersama Mami Purwati, Papi Dargono, Septi, Sandrina dan anak buah Andre tampak menuju ke pelabuhan yang penculik itu janjikan. Semoga semua itu benar, dengan membawa uang satu miliar, penjahat itu akan membebaskan Rumanah.
"Ayo lebih cepat lagi, Jul!" perintah Mami Purwati pada sopir.
"Baik, Omma! Tapi ini sebenarnya sudah sangat cepat. Jika saya menambah kecepatan lagi, saya takut...." Juli tak melanjutkan ucapannya.
"Ya sudah, santai saja, Jul. Yang penting sampai," ucap Papi Dargono.
Mami Purwati mengusap wajahnya, ia terlampau semangat namun juga tegang. Takut si penculik itu berubah pikiran sehingga membuat semua rencana itu gagal total.
"Kita akan bertemu dengan Bunda 'kan, Omma?" tanya si cantik Sandrina yang kini tampak mulai tersenyum karena ia tahu akan menemui si penculik.
Mami Purwati tersenyum, "Ya, sayang. Kita akan membawa Bunda kembali," jawabnya.
"Tapi, Daddy tidak ikut dengan kita?" tanya gadis kecil itu lagi.
"Tentu saja ikut, sayang. Tadi Omma sudah bicara dengannya. Daddy juga sudah meluncur menuju tempat Bundamu berada. Princess tenang saja, ya! Kita pasti akan bertemu dengan Daddy dan Bunda di sana," jawab Mami Purwati penuh kelembutan.
__ADS_1
Sandrina mengangguk lantas tersenyum. Yang terpenting saat ini adalah keselamatan Bundanya. Ia begitu sangat merindukan Bundanya itu.
Kembali ke pelabuhan, Rumanah menatap sinis dan sengit pada pria bertopeng Joker. Sebenarnya siapa dia? Rumanah bahkan mengira jika pria itu adalah Dimas. Ya! Kekasih bayaran Luna yang tempo hari menggodanya.
"Good night, Nona manis," sapa si Joker seraya melangkahkan kakinya mendekati Rumanah yang hanya diam tanpa kata.
Rumanah memutar bola matanya jengah dan malas berhadapan dengan penculik yang telah membuatnya berpisah dengan suami dan putrinya.
"Tangannya," ucap si Joker pada anak buahnya. Memberikan isyarat bahwa tangan Rumanah harus segera diborgol.
"Kenapa dengan tanganku?" tanya Rumanah yang tampak mulai panik.
"Jangan banyak bertanya!" tegas si Joker yang kini sudah berada di hadapan Rumanah.
Wanita cantik itu membulatkan kedua bola matanya penuh. Dadanya bergemuruh dan begitu kaget saat anak buah Joker memborgol tangannya ke belakang. Oh tidak! Ini sangat sulit untuknya.
"Kenapa tanganku diborgol seperti ini? Tolong lepaskan!" pekik Rumanah yang kini tak mau diam.
Kedua anak buah Joker melangkah mundur dan menjauh. Dan kini, Rumanah dihadapkan dengan seorang pria yang entah siapa. Suasana sepi di sana. Walaupun itu pelabuhan yang semestinya ramai dan menenangkan. Tidak bagi Rumanah. Pelabuhan itu sangat dingin dan nyaris memberikan kesan mati.
"Apa yang akan kau lakukan, heh? Kau ingin tubuhku? Kau ingin hartaku? Kau ingin apa dariku? Bunuh saja aku jika kau menginginkan tubuhku!" bentak Rumanah dengan sorot mata yang berkilat marah.
Si Joker berseringai, tapi tidak terlihat karena bersembunyi di balik topengnya.
"Katanya di malam ini aku bisa melihat wajahmu. Coba buktikan! Jangan jadi pria pengecut!" bentak Rumanah penuh tantangan.
"Jangan mendekatiku! Jangan sentuh aku! Aku sudah milik orang lain!" ujar Rumanah dengan nada tinggi.
Si Joker nyaris tak peduli. Ia kini malah menangkap pinggang ramping wanita di hadapannya itu lalu memeluknya dengan hangat.
"Tidak! Lepaskan!" sebisa mungkin Rumanah meronta dan mencoba melepaskan diri dari si Joker. Namun, tentunya ia tak bisa sehebat itu.
"Jangan bergerak. Kau ingin melihat wajahku, bukan?" bisik si Joker sembari meraba punggung Rumanah dengan lembut.
Rumanah bergidik dan memejamkan matanya. Oh Tuhan! Ia merindukan suaminya. Jangan sampai ia gagal pertahanan. Ia tak ingin melampiaskan rasa rindunya pada suaminya saat ini juga.
"Kau terlalu cantik untuk dibiarkan seperti ini, Nona manis," bisik si Joker sembari menurunkan resleting gaun Rumanah.
Deggg!
Terasa berat dan sesak di ulu hatinya. Rumanah tak dapat lagi menahan tangis. Pasti! Ia merasa jika malam ini si Joker itu akan menodainya.
"Jangan! Kumohon," pinta Rumanah dengan suara yang bergetar. Kristal bening alami itu sudah mengalir membasahi wajahnya.
Si Joker tak bergeming, ia tetap menurunkan resleting gaun Rumanah hingga bagian terbawah.
__ADS_1
"Lembut," bisik si Joker lagi. Kini ia melepaskan pelukannya,melangkah dan beralih ke belakang. Memeluk Rumanah dari belakang.
"Ja–jangan lakukan apapun! Kumohon," kembali Rumanah memohon. Ia sungguh ingin merasa mati saat itu juga.
Si Joker tersenyum di balik topengnya, "Kau terlalu membuatku ingin melakukannya," ucapnya seraya meraba perut rata Rumanah.
"No! Jangan!" cegah Rumanah penuh tekanan.
Tak peduli, Joker itu masih melakukan aksinya. Tangannya yang dilindungi oleh balutan hitam itu pun meraba hingga ke dada. Oh tidak! Siapa yang tidak bergidik dan terusik kedewasaannya jika diperlakukan seperti ini.
"Ssshh! Ti–tidak! Jangan, kumohon!" kembali Rumanah memohon. Ia kini menahan sesuatu yang menggelitik di bagian bawah sana.
"Tidak apa? Jangan apa? Jangan menghentikan ini? Oh, aku sangat siap!" bisik si Joker yang kini bukan lagi meraba. Tapi ... meremas!
"Gila! Jangan!" kali ini Rumanah sudah benar-benar seperti orang linglung.
Otak warasnya mencoba menolak dan mencegah. Tapi, reaksi tubuhnya berkata lain. Maklum, dia sudah lama tak mendapatkan nutrisi dari suaminya.
"Ya! Tentu saja, Sayang. Aku tidak akan menghentikannya," ucap si Joker yang kini tengah membuka sarung tangannya.
"Hiks hiks hiks," isak tangis mulai terdengar. Rumanah mulai merasa dirinya sudah ternoda.
"Jangan menangis," bisik si Joker seraya mengusap lembut wajah cantik Rumanah yang basah terkena air mata.
Rumanah memalingkan wajahnya, "Jangan sentuh aku! Kumohon," kembali ia memohon.
"Tapi, aku ingin terus menyentuhmu," bisik si Joker. Kembali, tangannya meraba benda lain Rumanah.
Rumanah memejamkan mata. Berharap tak ada sesuatu apa pun yang ia rasakan. Namun, sulit sekali baginya. Dia wanita normal, tidak mungkin hanya diam dan tak merasa apa-apa bagaikan manekin pemuas naf*su.
"Bunuh saja aku. Aku sudah ternoda," kali ini Rumanah bicara begitu lemas. Selemas hatinya.
Si Joker tersenyum, ia mulai membuka topengnya dengan perlahan. Tapi, tentu saja Rumanah tak dapat melihat wajahnya. Karena, ia berada di belakang wanita cantik itu.
"Hmmmm," gumam si Joker.
"No! Ja–jangan! Uhmmm," sulit bagi Rumanah menolak. Bagaimana tidak! Ia tak dapat melakukan apa-apa saat ini.
"Bunuh saja aku!" pinta Rumanah sembari menolehkan wajahnya ke belakang.
Pria tampan berdiri dengan senyuman di hadapan Rumanah yang sedang kacau dan nyaris ingin mati. Topeng Joker berada di tangannya. Oh, ternyata dia si Joker yang menculik Rumanah.
"Hah? Kau!?" Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan sangat terkejut melihat sosok pria di hadapannya.
Si Joker tampan itu tersenyum dengan manis dan hangat. Seakan tak ada rasa bersalah di dalam hatinya. Dengan paksa ia memeluk erat dan hangat tubuh wanita cantik di hadapannya itu. Wanita yang tadi ia ciumi punggung, tengkuk, telinga dan wajahnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...