Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Pencarian dihentikan


__ADS_3

Andre dan Meliza terus mencari keberadaan princess Sandrina. Para polisi pun sudah bertugas untuk mencari sosok gadis kecil yang sangat Andre sayangi. Tentu saja single daddy itu tampak berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan putri sematawayangnya. Sejak sore tadi hingga saat ini waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, single daddy itu tampak masih berusaha mencari jejak putrinya.


"Astaga princess, ke mana lagi Daddy harus mencarimu sayang." Andre sedikit mengeluh. Napas berat itu begitu menggambarkan kekhawatiran yang amat dalam pada putrinya.


Meliza yang setia menemani bos tampannya tampak hanya bisa mencoba menghibur dan menenangkan bosnya.


"Sabar Pak, mudah-mudahan polisi bisa segera menyelesaikan pencarian ini. Mudah-mudahan princess dalam keadaan baik-baik saja." ucapnya dengan lembut.


Andre memukul-mukul setir mobilnya, raut wajahnya benar-benar terlihat kacau dan kusut. Pria kaya raya itu benar-benar menyangka jika putrinya telah hilang diculik oleh seseorang.


"Lihat saja nanti jika pelakunya sudah ditemukan. Tak segan-segan aku akan mencekik lehernya dan menggergaji setiap persendiannya, siapa pun itu!" ancam Andre yang tampak terlihat marah.


Seketika bulu kuduk Meliza upacara semua, ia tampak bergidik ngeri mendengar ucapan bosnya yang begitu menyeramkan.


"Astaga, sebenarnya siapa yang telah menculik princess Sandrina. Apa mungkin pengasuh barunya itu?" batinnya berucap.


"Mel, apakah kau masih kuat dan sanggup menemaniku mencari princess?" tanya Andre pada Meliza. Raut wajahnya benar-benar kusut dan tergambar jelas kesedihan di sana.


Meliza tampak semakin iba pada bos dudanya, bagaimana pun dia harus terus mengabdi pada bos tampannya.


"Anda bicara apa, Pak? Tentu saja saya sanggup mencari princess sampai ketemu. Anda tidak usah khawatir, Pak." jawabnya dengan sebuah senyuman yang tulus.


Andre tampak menghela napas berat dan membuangnya kasar.


"Kau memang yang terbaik." ucapnya sembari menyalakan mesin mobilnya kembali.


Meliza hanya mengulas senyuman manis. Tentu saja hal semacam ini memang harus dia lakukan demi kepuasan bosnya.

__ADS_1


Baru saja Andre melajukan kendaraannya, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Tentu saja sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya.


"Siapa yang menelepon, Mel?" tanya Andre seraya melirikkan matanya pada ponselnya.


Meliza pun meraih ponsel milik bosnya lalu melihat siapa yang menghubungi bosnya.


"Sepertinya ini dari kepolisian, Pak." jawab Meliza seraya menunjukkan layar ponsel ke hadapan Andre.


"Oh My Good, semoga kabar baik." ucapnya penuh harap.


Tanpa membuang waktu lagi Meliza pun menggeser layar ponsel milik bosnya lalu menempelkannya di telinga bosnya yang sedang menyetir.


"Hallo, dengan saya sendiri." ucap Andre pada polisi di seberang sana.


"Maaf, Pak Andre, anggota kami tidak menemukan jejak putri Anda. Dan setelah diselidiki beberapa kali, nampaknya tidak ada kejadian penculikan di TK itu. Kami harap Pak Andre bisa bersabar, anggota kami akan tetap mencari keberadaan putri Anda sampai ketemu. Tapi sebaiknya untuk saat ini pencarian dihentikan terlebih dahulu." terang polisi di seberang sana.


Andre tampak terlonjak kaget mendengar penjelasan polisi itu. Seketika wajahnya pun kembali berubah pucat dan kacau.


Pria kaya yang berstatus single daddy itu tampak terlihat lesu dan hampir putus asa. Pasalnya ia telah mencari putrinya ke setiap penjuru perkotaan.


"Princess belum ditemukan, Mel." ucap Andre memberitahu sekretarisnya.


"Ya Tuhan." Meliza tampak merasa kasihan pada bosnya yang benar-benar terlihat frustasi.


"Dan polisi meminta kita untuk menghentikan pencarian ini untuk sementara waktu. Entah apa penyebabnya, namun yang kudengar tadi bahwa tidak ada kasus penculikan di TK princess." lanjut Andre menjelaskan pada Meliza.


"Ya, mungkin ada benarnya juga jika kita menghentikan pencarian ini untuk sementara waktu, Pak." ucap Meliza seraya menarik sehelai tissue lalu memberikannya pada bos dudanya. Karena sepertinya sebentar lagi buliran bening akan keluar dari sudut mata elang itu.

__ADS_1


Andre menerima sehelai tissue yang Meliza berikan. Tentu saja ia harus menahan air matanya agar tidak tumpah begitu saja.


"Siapa tahu princess memang tidak diculik, saya rasa saat ini Pak Andre harus pulang terlebih dahulu. Siapa tahu princesa sudah ada di rumah saat ini." lanjut Meliza.


Andre menatap intens pada sekretarisnya yang cerdas. Tentu saja ia merasa tertarik pada ucapan Meliza.


"Ya, kau benar, Mel." ucapnya yang kini tampak sedikit menyimpan harapan.


Andre pun semakin melajukan kendaraannya secepat mungkin. Tak sabar rasanya untuk segera pulang ke rumahnya dan berharap princess Sandrina ada di rumah dalam keadaan baik-baik saja.


____


Sandrina menyeruput segelas susu hangat buatan dewi perinya, Uncle Ferhat yang masih berada di samping gadis kecil itu tampak enggan untuk meninggalkan keponakannya.


"Uncle, menginap saja malam ini, temani princess bobok." rengek princess Sandrina pada pamannya.


Ferhat menyunggingkan senyumannya, mengusap lembut surai keponakannya.


"Uncle sangat tertarik sekali, princess. Tapi, saat ini Uncle tidak bisa menemani princess di sini. Mungkin lain waktu Uncle akan menginap dan membacakan dongeng sebelum tidur untuk menemani princess." ucapnya menolak secara halus.


Sandrina tampak mengerucutkan bibirnya bertingkah manja. Sebagai seorang anak yang sudah satu tahun lebih berpisah dengan ibunya, Sandrina memang selalu ingin ditemani oleh orang-orang yang ia sayangi dan yang menyayanginya. Maka tak heran ia sangat senang saat bertemu dengan Rumanah dan membawanya ke rumahnya.


"Uncle janji!" Ferhat mengacungkan kelingkingnya dan mengarahkan pada Sandrina. Berharap gadis kecil itu akan mengerti.


Sandrina mengangguk dan tersenyum. Ia pun mengaitkan kelingkingnya pada kelingking pamannya. Sebuah janji sudah terikat di sana.


"Nah, gitu dong! Itu baru namanya princess yang cantik dan pintar. Hehe." sorak Rumanah yang tampak baru saja datang membawa camilan yang Sandrina minta.

__ADS_1


Sandrina tersenyum ceria dan kembali menonton televisi. Sementara Ferhat tampak mengelus lembut puncak kepala gadis kecil itu.


***


__ADS_2