
Rumanah masih memegangi kepalanya yang terasa pusing karena menghirup aroma parfum milik Luna. Sementara mual di perutnya pun masih terasa. Dan Luna, ia merasa geram dan kesal karena ia pikir Rumanah sedang menghina dirinya.
"Aku tahu kau hanya berpura-pura saja, kampungan!" tuding Luna dengan tatapan penuh api permusuhan.
Rumanah menggeleng dan menutupi hidungnya dengan tangannya, "Tidak! Aku sungguh merasa mual dan sakit kepala mencium aroma parfum milikmu, Tante," sanggahnya.
"Halaaaaah! Tidak mungkin parfum mewah milikku bisa membuat orang sampai sakit kepala dan mual. Astaga! Kalau memang iya, itu berlaku bagi orang-orang katro seperti dirimu! Hahaha!" ujar Luna penuh penghinaan. Ia begitu puas dan tertawa lepas.
Rumanah tampak menyipitkan matanya dan mengerutkan dahinya menahan pusing di kepalanya. Ingin rasanya ia menghindar dan pergi dari hadapan Luna, tapi hal itu tidak bisa ia lakukan karena ia harus menunggu putri kecilnya. Tentu saja ia takut jika Luna akan membawa pergi Sandrina.
"Terserah mau bicara apa. Pokoknya aku mohon jangan semprotkan lagi parfum itu. Astaga! Kepalaku benar-benar sakit." Rumanah berkata penuh permohonan.
Luna memutar bola matanya malas dan seperti tidak mempedulikan ucapan Rumanah. Ia malah kembali menyemprotkan parfum itu di hadapan Rumanah. Dan tentu saja hal itu kembali membuat Rumanah merasa mual.
"Uweeeeek!"
Rumanah berlari kecil ke arah taman. Di sana ia bisa membuang sedikit ludahnya ke dalam tempat sampah. Hal ini benar-benar membuatnya tersiksa.
"Ya Tuhan. Apa yang terjadi padaku? Kenapa kepalaku sakit dan perutku begitu mual saat mencium aroma parfum milik Luna," ucap Rumanah sembari mengatur napasnya yang tampak ngos-ngosan.
Rumanah sendiri merasa heran pada dirinya. Tentu saja ini kejadian yang tidak biasa baginya. Ia tahu merek parfum yang digunakan Luna itu bukanlah parfum ecek-ecek atau KW. Ia tahu persis wanginya seperti apa parfum yang berasal dari Paris itu. Tapi kini, mengapa hidungnya merasakan aroma bau ketika mencium parfum itu? Hal ini benar-benar membuat Rumanah semakin bingung.
Krriiiiiiing!
Bel tanda pulang sekolah sudah berdering. Hal itu membuat Rumanah bergegas membersihkan area mulutnya menggunakan tissue basah.
"Ah, anak-anak sudah pulang. Aku harus bergegas sebelum Luna yang lebih dulu menemui princess," gumam Rumanah sembari melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam halaman sekolah.
Namun sayang, Luna sudah lebih dulu masuk ke dalam gerbang. Hal itu membuat Rumanah tersentak kaget dan mulai panik. Dengan cepat ia berlari dan menahan sakit di kepalanya. Perutnya yang terasa seperti diaduk-aduk pun tak ia hiraukan.
Di dalam sekolah, Luna tampak tersenyum lebar saat melihat putri kecilnya keluar dari kelas. Tanpa membuang waktu lagi ia pun menghampiri putri kecilnya itu.
"Princess!" panggilnya sembari menarik tangan mungil putri kecilnya.
Sandrina tampak terlonjak kaget saat melihat wajah Mommy nya. Manik matanya tampak membulat penuh dan terlihat jelas jika ia tidak ingin bertemu dengan Mommy nya.
"Mom–my!" ucap Sandrina terbata.
"Ya, sayang. Ayo ikut Mommy. Princess beli apa? Nanti Mommy akan belikan untuk princess." Luna mulai meluncurkan rayuan mautnya.
Secepat kilat Sandrina menggeleng. Tangannya ia lepaskan dari genggaman Mommy nya, "Tidak mau! Princess mau pulang dengan Bunda!" tolaknya dengan ekspresi yang sangat jutek.
Luna tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan sedikit kesal dengan sikap putrinya yang tidak kunjung lunak.
"Princess!" panggil Rumanah sembari menangkap tangan putri sambungnya.
"Bunda!" balas Sandrina yang buru-buru memeluk Bundanya itu.
"Tenang, sayang. Ada Bunda di sini," bisik Rumanah menenangkan putri sambungnya itu.
Sandrina mengangguk dan menatap takut-takut pada Mommy-nya.
"Sudahlah, kampungan. Biarkan aku membawa putriku ini. Kau jangan berlagak seperti penguasa putriku. Mau sampai kapan pun, princess adalah putriku. Karena aku yang mengandung dan melahirkannya!" ujar Luna dengan suara yang sengaja ia tinggikan.
Rumanah tampak menatap sebal pada mantan istri suaminya itu. Namun, tentu saja ia tidak ingin ribut-ribut di sekolah princess.
"Sebaiknya bicara saja yang jelas, Tante. Sudah kuberitahu cara yang baik untuk bertemu dan mengajak princess. Jika kau tidak mengikuti saranku, maka sampai kapan pun princess tidak akan mau pergi denganmu," ucap Rumanah sembari memeluk erat putri kecilnya itu.
Luna memutar bola matanya malas dan menyilangkan kedua tangannya di dadanya, "Sudah kubilang jangan mengajariku! Kau hanya menghasut putriku agar tidak mau bertemu denganku! Jadi, jangan sok baik!" tudingnya yang berhasil membuat Rumanah sebal.
"Terserah! Memang manusia seperti dirimu baiknya tidak usah diladenin. Karena kau memang keras sekeras batu!" sungut Rumanah penuh kekesalan.
"Cih!" Luna berdesis kesal dan tetap memperhatikan putrinya yang nyaris tidak bersimpatik padanya.
"Bunda, ayo kita pulang saja," ajak Sandrina dengan suara yang lirih.
Rumanah mengangguk kecil dan mengusap lembut puncak kepala putri kecilnya itu, "Ayo sayang," jawabnya sembari menggenggam erat tangan Sandrina.
__ADS_1
"Princess sayang, ayolah ikut dengan Mommy sebentar saja. Mommy janji akan memberikan apa pun yang princess mau," bujuk Luna sambil mengikuti putrinya dari belakang.
Sandrina terus menggeleng dan nyaris tak menolehkan wajahnya sama sekali. Hal itu semakin membuat Luna merasa geram dan sakit di ulu hatinya. Ya, namanya juga seorang ibu. Sebejad-bejadnya seorang ibu pada anaknya, tetap saja hati nuraninya begitu menyayangi putrinya. Dan tentunya hatinya terasa sakit ketika anaknya sendiri tidak mau bicara atau pun bertemu dengannya.
"Princess!" panggil Luna dengan nada yang tinggi.
"No, Mom!" sergah Sandrina dengan cepat.
Luna mengusap wajahnya kasar dan begitu kesal. Ia sangat ingin mengajak putrinya pergi bersamanya. Tetapi, putrinya sendiri sangat tidak ingin ikut bersamanya.
"Sepertinya aku harus mencari cara untuk merebut princess dari wanita kampungan ini," ucap Luna dalam hati. Ia terus mengikuti Rumanah dan Sandrina hingga ke halaman sekolah.
"Ahaa!" seketika sebuah ide muncul di kepalanya.
Dengan cepat Luna merogoh tas miliknya. Mencari sebuah parfum yang akan ia gunakan sebagai senjata.
"Aku akan melemahkan wanita kampungan itu dengan ini. Jika dia benar-benar mual merasa pusing lagi, itu artinya dia memang tidak berbohong." Luna bicara sembari menatap sinis pada parfum di tangannya.
Dengan cepat ia berlari kecil mengejar Rumanah dan Sandrina. Ia harus cepat bergerak sebelum Rumanah menemui sopir pribadinya.
"Princess sayang, tunggu!" ucap Luna sembari berdiri di hadapan Rumanah dan Sandrina. Menghentikan langkah kaki mereka berdua.
"Mau apa lagi, Tante?" tanya Rumanah dengan nada yang sebal.
"Aku ingin jalan-jalan dengan putriku," jawab Luna dengan senyuman liciknya.
"Princess tidak mau!" tolak Sandrina dengan cepat.
"Harus mau, sayang," paksa Luna sembari mengusap lembut pipi chubby putrinya.
"Kau bisa pergi bersamanya. Tapi, aku dan bodyguard akan menemani kalian," ucap Rumanah.
Luna tersenyum sinis dan memutar bola matanya malas, "Jangan bermimpi! Rasakan ini!" desisnya yang kemudian menyemprotkan beberapa kali parfum di hadapan Rumanah.
Rumanah tampak terbelalak kaget melihat apa yang dilakukan oleh Luna. Sontak saja tangan kirinya menutupi hidungnya. Sementara tangan kanannya masih menggenggam erat tangan putri sambungnya.
"Ohok ohok ohok!" Rumanah tampak terbatuk dan kepalanya kembali terasa pusing.
Sementara itu, si cantik Sandrina tampak terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi di hadapannya. Yang ia takutkan hanyalah sang Mommy akan melukai Bunda nya dan juga dirinya.
"Mampooos kau!" umpat Luna yang tampak masih menyemprotkan parfum mahal miliknya ke sekeliling Rumanah.
"Hentikan! Jangan lakukan itu! Uwwweeeek!" pinta Rumanah yang tampak tak kuasa menahan mual di perutnya.
Ini aneh, memang sangat aneh. Dan tentunya hal itu pun dirasakan oleh Sandrina. Pasalnya, ia mencium aroma harum dari parfum milik Mommy nya. Tapi kenapa Bundanya malah seperti sedang mencium bangk*ai tikus?
"Bunda, are you oke?" tanya gadis kecil itu dengan tatapan cemasnya.
Rumanah mengangguk. Tangannya masih berusaha keras menggenggam erat tangan mungil putrinya.
"Sialan, dia masih bertahan," desis Luna di dalam hati.
"Hentikan, Mom! Jangan menyiksa Bunda," ujar Sandrina yang tampak ingin melindungi Bundanya.
"Bunda? Dia hanya orang asing di kehidupan kita, sayang. Dia bukan siapa-siapa untukmu. Ini Mommy, orang yang sudah mengandung dan melahirkanmu. Jadi, ayo ikut Mommy, sayang. Mommy akan melakukan apa pun yang princess mau," bujuk Luna dengan sebisa mungkin.
Sandrina cepat menggeleng. Tentu saja ia tidak mau pergi dengan ibu yang telah menelantarkan dirinya dan tidak pernah memberikan perhatian padanya. Selalu sibuk dengan pekerjaan dan poya-poyanya.
"Sebaiknya jangan paksa princess seperti ini, Tante. Mestinya kau pelajari bagaimana caranya meluluhkan hati putrimu ini," ucap Rumanah sembari menutupi hidungnya dengan tangannya.
"Jika aku berusaha keras meluluhkan hati putriku, akan kah aku berhasil? Sementara kau pasti terus menerus menghasut putriku agar membenci diriku," ujar Luna penuh desakan.
"Astaga. Berapa kali aku katakan jika aku tidak ... hmmmp! Uuweeek!" Rumanah tak kuasa menahan mual di perutnya. Ia bahkan kini kembali seperti hendak memuntahkan semua isi di dalam perutnya.
"Bunda kenapa? Bunda sakit, ya?" tanya si cantik Sandrina yang tampak semakin cemas pada Bundanya.
Rumanah menggeleng kecil, "Tidak, sayang. Bunda hanya merasa mual mencium aroma parfum milik Mommymu. Baunya tidak enak sekali," jawabnya dengan raut wajah yang terlihat pucat dan kewalahan.
__ADS_1
Sandrina mengerutkan dahinya tak mengerti, "Bau? Apa Bunda tidak sedang mengigau?" selidiknya.
Rumanah menggeleng, "Tidak, sayang. Parfumnya memang benar-benar bau. Kepala Bunda sampai pusing sekali," ucapnya.
"Itu karena Bunda mu sangat kampungan, princess sayang. Jadi, dia tidak bisa mencium aroma parfum mahal dan mewah milik Mommy," timpal Luna yang kembali menghina Rumanah.
"Hah? Tidak mungkin. Setiap hari Bunda mencium parfum mahal milik Daddy," bela Sandrina.
Rumanah tersenyum kecil dan mengusap lembut puncak kepala putrinya, "Sudah tidak usah dipikirkan. Lebih baik sekarang kita pulang saja," ucapnya.
Sandrina mengangguk. Namun, pada saat itu dengan cepat Luna kembali menyemprotkan parfum miliknya tepat di wajah Rumanah. Tentu saja hal itu membuat Rumanah terlonjak kaget dan seketika perutnya kembali merasa mual.
"Uwweeeeeekkk! Uuweeek!" Rumanah tak kuasa menahan mual di perutnya. Dengan refleks ia melepaskan tangannya yang semula menggenggam kuat tangan putri sambungnya.
"Hahaha! Dasar kampungan!" hardik Luna dengan tawa jahatnya.
Sandrina begitu panik dan cemas melihat Bunda nya yang sedang uwek-uwekan seperti hendak memuntahkan semua isi di dalam perutnya.
"Astaga, ada apa denganku ini. Uwweekkk! Ya Tuhan, kepalaku pusing sekali," gumam Rumanah sembari memegangi perut dan kepalanya yang sedang tidak bersahabat dengannya.
"Bunda! Bunda kenapa?" pekik Sandrina yang semakin panik melihat Bunda nya kini tengah sempoyongan.
"Sepertinya ini kesempatan emas bagiku. Tapi, aneh sekali wanita kampungan ini. Kenapa dia bisa sampai seperti orang mabuk begini. Padahal, aku hanya menyemprotkan parfum yang aromanya sangat harum sekali," gumam Luna di dalam hati.
Sementara itu, Rumanah tampak mendudukkan bokongnya di kursi. Kepalanya semakin terasa sakit dan juga perutnya terasa seperti diaduk-aduk.
"Bunda, kita pulang saja. Telepon Daddy, Bun!" rengek Sandrina sembari ngelendot manja pada Bundanya yang sedang kewalahan.
"Ya, sayang. Tunggu sebentar, ya. Uuweeek!" balas Rumanah disertai uwek-uwekannya.
Rumanah pun merogoh tas selempang miliknya. Mencari gawai miliknya untuk menghubungi suaminya. Hal ini akan ia lakukan secara terpaksa. Sebab, keadaan begitu sangat mendesak. Mungkin saja ia akan sedikit mengganggu kegiatan suaminya. Tapi, tidak ada pilihan lain saat ini selain menelpon suaminya.
"Hng, telepon saja suamimu itu. Karena, aku akan memaksa princess ikut denganku. Kau sangat lemah sekarang, kampungan! Aku akan menyemprotkan kembali parfum ajaibku ini," celoteh Luna di dalam hati.
Dalam keadaan yang sangat mendesak, Rumanah pun mulai menghubungi nomor suaminya. Namun, tidak ada jawaban dari suaminya. Sepertinya memang sedang sibuk.
"Tidak diangkat, sayang," ucap Rumanah pada putrinya.
Sandrina tampak murung dan terlihat bersedih, "Princess takut, Bun. Lihat, wajah Bunda sekarang sangat pucat sekali," ucapnya.
Rumanah menyunggingkan senyuman manisnya, "Jangan takut, sayang. Ada Bunda di sini. Mungkin Daddy sedang sibuk. Uhuk uhuk!" jawabnya mencoba menenangkan putri sambungnya itu.
"Sebaiknya princess pulang bersama Mommy saja, yuk. Mommy ajak jalan-jalan dulu, setelah itu Mommy antarkan princess pulang," ucap Luna kembali membujuk putrinya.
Sandrina menggeleng. Dan Rumanah dengan cepat menggenggam tangan mungil putri sambungnya.
"Ayo kita ke luar saja, sayang. Pak sopir mungkin sudah menunggu," ajak Rumanah sembari menggandeng tangan mungil putri sambungnya.
"Princess ikut Mommy saja!" sela Luna sambil menarik tangan putri kecilnya.
"Tidak! Princess tidak mau!" tolak Sandrina sembari berusaha melepaskan tangannya.
"Jangan paksa princess!" tegas Rumanah.
"No! Aku berhak membawanya pergi. Dia anakku!" balas Luna sambil menyemprotkan parfum ke hadapan Rumanah.
"Tidak!" pekik Rumanah sambil menutup hidungnya.
Dalam kesempatan seperti itu, dengan cepat Luna mendorong tubuh Rumanah hingga tersungkur ke lantai.
"Bundaaaa!" pekik Sandrina panik.
Rumanah tampak kewalahan dan sakit di kepalanya benar-benar menjadi. Sehingga ia tidak sadar jika putrinya telah ditarik paksa oleh Luna dan membiarkan gadis kecil itu meronta serta menangis minta dilepaskan.
"Bundaaaaa! Tolong princess!" teriak Sandrina yang tampak menangis menjerit-jerit.
Rumanah sayup-sayup mendengar teriakan putri kecilnya. Namun, kabut hitam menghalangi pandangan matanya. Sehingga pada detik itu juga ia tak dapat lagi mengingat apa-apa.
__ADS_1
BERSAMBUNG...