
"Jadi ... ceritanya itu, ha ha ha!" Andre tertawa terbahak-bahak saat ia hendak menceritakan apa penyebab ia menikahi istri cantiknya itu.
Mami Purwati dan Papi Dahono saling beradu pandang. Keduanya benar-benar dibuat kesal oleh sang putra yang nyaris tidak serius bicara dengan mereka.
"Kau bahkan seperti orang mabok karena kebanyakan makan jamur yang mengandung racun!" cicit Mami Purwati yang tampak terlihat kesal.
"Ha ha ha!" Andre tertawa terbahak-bahak.
Mami Purwati dan Papi Dargono tampak saling beradu pandang dan saling memberikan isyarat melalui mata mereka.
"Mami ini ada-ada saja, Andre aja belum pernah memakan jamur yang mengandung racun. Ha ha ha!" ucap Andre disertai tawa ngakaknya.
"Ck, tidak ada gunanya bicara dengan anak nakal ini!" decak Papi Dargono sembari beranjak dari duduknya.
"Benar, bisa-bisa kita darah tinggi jika terus-terusan menghadapi anak yang tidak tahu bagaimana rasanya kesusahan ini!" timpal Mami Purwati yang juga beranjak dari duduknya.
Tanpa mempedulikan Andre yang masih tertawa terbahak-bahak, Papi Dargono dan Mami Purwati pun melangkahkan kaki meninggalkan putra tunggalnya itu.
"Astaga, kenapa aku ditinggalkan sendiri di sini," desis Andre seraya beranjak dari duduknya.
Mami Purwati dan Papi Dargono mendekati Rumanah yang sedang bermain di atas ranjang.
"Aduh aduh, seru amat siih yang sedang bermain. Omma dan Oppa boleh ikutan nggak siiih?" seru Mami Purwati seraya mendudukkan bokongnya di sisi ranjang.
Sandrina mengangguk mengiyakan, dengan cepat ia melompat mendekati Omma nya.
"Apakah Omma akan menginap?" tanya Sandrina seraya ngelendot manja pada Omma nya itu.
Mami Purwati mengangguk mengiyakan. "Tentu saja, sayang. Omma dan Oppa akan menginap sampai princess punya adek bayi," jawabnya yang berhasil membuat Rumanah terbelalak kaget.
"Apa?? Sampai princess punya adek bayi??? Apa maksudnya Mami bicara seperti itu? Apakah itu sebuah sindiran untukku?" tanya Rumanah di dalam hati.
"Yeeeey, kalau begitu, Omma bicara saja pada Bunda princess. Princess juga ingin segera punya adek bayi," sorak Sandrina yang tampak terlihat sumringah.
Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. Sementara Mami Purwati dan Papi Dargono tampak memperhatikan raut wajah menantunya yang tampak tegang dan kaku.
"Astaganagah, sepertinya Mami dan Papi benar-benar menyindirku." kembali Rumanah mengoceh dalam hati.
"Memangnya, siapa Bunda nya princess?" tanya Papi Dargono penuh sindiran.
Si cantik Sandrina tampak tersenyum manis dan begitu terlihat bahagia. "Ini, Dewi Peri sekarang sudah menjadi Bunda nya princess," ungkapnya yang berhasil membuat Rumanah tersenyum kaku.
"Ya ampun, ini siih benar-benar pertemuan menantu dengan mertua yang sangat aestetic," cerocos Rumanah di dalam hati.
"Waaaah, benarkah begitu, Rumanah?" sindir Mami Purwati yang tampak menatap Rumanah penuh intimidasi.
Rumanah tersenyum kecil dan begitu kaku. Terpaksa ia menganggukkan kepalanya. Mau menyangkal? Tidak mungkin. Sebab, Andre pasti sudah memberitahu kedua orang tuanya itu.
"Aku sudah memberitahu Mami dan Papi, darling. Jadi, mulai sekarang kau jangan sungkan lagi dengan mereka. Kedua manusia tua ini adalah mertuamu, sayang." Andre menimpali secara tiba-tiba.
Rumanah tersenyum kecil dan mengangguk dengan pelan. Walaupun suaminya mengatakan jangan sungkan, tapi tetap saja Rumanah masih sungkan dan canggung pada kedua mertuanya itu.
"Hei, jaga ucapanmu, anak nakal! Kami bukan manusia tua. Sembarangan saja kau kalau bicara!" cicit Papi Dargono seraya melipat tangannya di dadanya.
"Ya, benar. Siapa bilang kami manusia tua! Kami hanya manusia yang sudah tak lagi muda," timpal Mami Purwati yang berhasil membuat Rumanah dan Andre saling beradu pandang dan saling menahan tawa mereka.
"Astaga, jangan bicara seperti itu, sayang. Kau sangat membuatku prihatin padamu," ucap Papi Dargono sembari mendudukkan bokongnya di samping istrinya itu.
__ADS_1
"Ck, jangan bilang kau prihatin karena semakin hari aku semakin tua." Mami Purwati berdecak sembari mencubit kecil pinggang suaminya.
"He he he, jangan sembarangan bicara, sayang. Tapi ... apa yang kau katakan, memang sangatlah benar. He he he," ucap Papi Dargono yang berhasil membuat Rumanah dan Andre tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha ha!" tawa ngakak pecah saat itu juga.
"Astaga, aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya bersyukur memiliki suami yang romantis seperti kamu, sayang," ucap Mami Purwati yang tampak menatap tajam pada suaminya. Ya, sejujurnya ia sangat kesal.
"Ya Tuhan, kenapa Papi tega bicara seperti itu pada Mami? Papi ini sungguh keterlaluan. Walaupun benar yang Papi katakan, tapi ... setidaknya berpura-pura sajalah untuk menyenangkan hati istri Papi ini," seloroh Andre yang juga tampak meledek Mami nya.
"Ck, lebih baik kalian berdua tidak usah bicara lagi, ya. Mami sangat tidak ingin mendengar kicauan kalian berdua yang sama sekali tiada gunanya. Astaga!" cicit Mami Purwati dengan kekesalannya yang ia tahan.
"He he he, janganlah seperti itu, Mami ku yang paling cantiiiiik," bujuk Andre seraya merangkul manja Mami nya itu.
"Hust, kau berani memuji Mami mu di hadapan istrimu ini? Nanti dia cemburu seperti mantan istrimu itu," bisik Mami Purwati menegur putra tunggalnya.
Ya, Luna memang sangat posesif. Ia selalu saja cemburu jika Andre dekat dengan Mami nya sendiri. Hal itu pula yang membuat Andre merasa jika Luna bukanlah yang terbaik baginya.
"Ck, jangan samakan istri Andre dengan wanita rubah itu, Mami! Dia benar-benar jauh berbeda! Dia tidak mungkin itu atau cemburu pada Mami," sanggah Andre yang tidak ingin istrinya disamakan dengan wanita rubah yang bernama Luna itu.
Mami Purwati tampak mengerlingkan matanya dan menatap intens pada menantunya itu. Ia benar-benar belum tahu bagaimana sikap dan sifat menantunya itu.
"Sepertinya Mami sangat wanti-wanti padaku. Aku sangat mengerti, mungkin karena Mami trauma dan tidak ingin melihat putra tunggalnya gagal lagi dalam pernikahannya. Dan aku, tentu saja tidak akan sama dengan wanita rubah itu!" cerocos Rumanah di dalam hati.
Rumanah menyunggingkan senyuman hangatnya. Dari matanya memancarkan kelembutan dan ketenangan. "Tentu saja saya tidak akan cemburu melihat Tuan Andre dekat dan bermanja pada Mami ataupun Papi. Saya malah merasa senang dan bangga jika suami saya tetap berbakti pada orang tuanya terutama Mami. Sebab, surganya Tuan Andre tetap ada pada Mami. Sementara surganya Rumanah, ada pada suami Rumanah yaitu Tuan Andre." tuturnya panjang lebar dan tampak terdengar adem di telinga Andre dan kedua mertuanya.
Mami Purwati dan Papi Dargono tampak tersenyum hangat dan saling beradu pandang. Keduanya begitu senang mendengar jawaban yang keluar dari mulut menantunya itu.
"Ya Tuhan, darling. Aku benar-benar bangga dan bersyukur memiliki istri sebaik dan sepintar dirimu ini. Kau memang istri yang perfecto," sorak Andre seraya memeluk hangat istrinya itu. Ia sangat bahagia karena Rumanah benar-benar tidak seperti mantan istrinya yaitu Luna.
Mami Purwati tersenyum hangat lantas menyambar tangan mungil menantunya itu. "Rumanah, kau sangat baik sekali. Mami harap, kau bisa mencintai dan menyayangi putra Mami dengan tulus dan apa adanya," ucapnya lembut dan penuh harap.
"Benarkah dia mesum, Nak?" tanya Mami Purwati seraya menatap usil pada putranya yang tampan maksimal itu.
Rumanah mengangguk tanpa ragu. "Bahkan, alasannya menikahi Rumanah, karena...," belum sampai ia menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Andre menyelanya.
"Jangan katakan itu, darling!" cegah Andre seraya menutup mulut istrinya menggunakan telapak tangannya.
"Andre! Kau tahu bukan jika Papi mu juga sangat mesum?" ucap Mami Purwati seraya menatap sekelibatan wajah suaminya.
"Ya, Andre tahu." Andre menjawab disertai anggukannya.
"Jadi, jangan ditutup-tutupi lagi. Kalian satu darah dan satu aliran. Sama-sama mesum dan pemaksa! Benar begitu, Rumanah??" ujar Mami Purwati yang tampak menekan setiap ucapannya.
"He he he, iya, Mam. Benar sekali, Tuan Andre benar-benar mesum dan pemaksa. Bahkan, dia memaksa saya untuk melakukan anu dengannya sebelum menikah. Saya tidak mau melakukan itu, jadi ... saya memberikan pilihan padanya. Jika ingin menikmati tubuh saya, maka harus menikahi saya. Nah, terjadilah pernikahan di antara kami. Begitu ceritanya, Mam, Pap." Rumanah bercerita begitu mendetail.
Andre tampak tengsin dan menbenamkan wajahnya pada tengkuk istrinya. Malu dia pada kedua orang tuanya. Sementara Mami Purwati dan Papi Dargono tampak saling beradu pandang dan kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha ha!"
"Dasar kau anak nakal dan mesum! Aku tahu, itu karena kau sudah lama tidak bercocok tanam sehingga senjata tajammu itu keratan. Ha ha ha," ucap Papi Dargono yang tampak tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha, benar. Setelah Andre pisah dengan lintah darat itu. Tidak ada wanita yang mampu membuat adik kecil Andre terbangun dan meminta untuk dimanjakan. Tapi, saat Andre melihat tubuh mungil yang menggemaskan ini, beuuuuhhh! Pokoknya Andre kesemsem dan sampai sulit terpejam setiap malam. Astaga!" Andre tampak berkata jujur tanpa ia sadari.
Kedua orang tuanya terkekeh mendengar hal itu.
"Tapi, kasihan sekali istrimu, Ndre. Apakah kau menikahinya hanya karena ingin bercocok tanam saja?" selidik Mami Purwati.
__ADS_1
"Ooooh, tentu saja tidak, Mami ku sayaaaang." Andre menyangkal.
"Awalnya, Rumanah pun merasa ragu dan menyesal saat sudah menikah dan memberikan mahkota Rumanah pada Tuan Andre. Tapi, setelah Tuan Andre berjanji dan menunjukkan rasa cintanya, akhirnya Rumanah bisa percaya dan tidak ragu lagi," timpal Rumanah mencoba menghilangkan kekhawatiran mertuanya.
Andre tersenyum mendengar ucapan istri cantiknya itu.
"Syukurlah kalau begitu, Mami sangat senang mendengarnya," ucap Mami Purwati.
"Tapi, kenapa kau tidak memberitahu kami? Apakah kalian tidak mengadakan pesta? Atau, kau sudah tidak menganggap kami sebagai orang tuamu lagi!?" tanya Papi Dargono penuh sindiran dan desakan.
"Hahh??? Tentu saja tidak, Pap. Bukan seperti itu. Jadi, kami memang tidak mengadakan pesta. Karena ... Andre menikahinya secara sirri!" ungkap Andre yang berhasil membuat Mami dan Papi terbelalak kaget.
"Apaaaaa??? Nikah sirri???"
Rumanah dan Andre mengangguk mengiyakan.
"Astaga! Apa yang kau lakukan, Andre! Bisa-bisanya kau menikahinya secara sirri. Dan kau, Rumanah. Kenapa kau mau saja dinikahi secara sirri oleh suamimu ini!? Apakah kau tidak berpikir keras dan panjang?" omel Mami Purwati yang tampak tidak habis pikir pada putra dan menantunya itu.
"Ya Tuhan, apakah kau tidak memikirkan nasib istri dan anak dari istrimu kelak, Andre? Kau benar-benar menyebalkan!" cicit Papi Dargono yang juga tampak tak habis pikir.
"Memangnya kenapa, Mam? Rumanah memang tidak mengerti soal ini," tanya Rumanah yang tampak polos.
Mami Purwati tampak memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. "Huffft! Mami kira kau sudah tahu konsekwensinya." ucapnya yang tampak masih membuat Rumanah bertanya-tanya.
"Tenang saja, Mam, Pap. Setelah ini kami akan menggelar pesta pernikahan kami. Dan, tentu saja pernikahan kami akan segera sah di mata hukum negara," timpal Andre mencoba menenangkan Mami nya soal pernikahan sirri nya dengan Rumanah.
"Hmmm, bagus deh! Jika kau tidak ingin melakukan itu, maka Mami tidak akan membiarkan Rumanah mengandung anakmu!" tegas Mami Purwati penuh ancaman.
Andre tampak menelan ludahnya kasar dan menatap ngeri pada Mami nya. "Jangan dong, Mam. Andre sangat ingin segera punya baby dengan istri Andre yang sangat cantik ini," rengeknya sembari ngelendot manja pada Mami nya.
"Kalau begitu, secepatnya kau urus pernikahanmu itu, Andre!" desak Mami Purwati tanpa ampun.
"Ya iya, Mam. Andre akan mengurusnya, tapi ... setelah princess lomba menari. Nanti Andre akan menemui kedua besan Mami dan Papi yang berada di desa," jawab Andre penuh percaya diri.
"Oh Ya Tuhan, jika seperti ini ... artinya sebentar lagi segalanya akan terungkap. Aku harus siap menghadapi apa pun yang akan terjadi," ucap Rumanah dalam hati.
"Hhmmmmm, bagus deh! Jangan sampai kau membiarkan pernikahanmu seperti ini," ucap Mami Purwati.
Andre mengangguk mengiyakan. Sementara Rumanah tampak mulai gusar dan gelisah.
"Kalau gitu, kami tidak akan pulang sampai kalian menikah resmi secara hukum agama dan negara," ujar Papi Dargono tanpa ragu.
"Ya, itu harus, Pap. Kalian juga mesti berjumpa dengan besan baru, bukan?" sahut Andre.
"Tentu saja. Kami ingin mengajak besan kami meminum kopi sampai belenger dan mengajak mereka bermain golf," ucap Mami Purwati penuh semangat.
"Waaaw, menyenangkan sekali. Tapi, aku jadi penasaran, apakah Mami dan Papi mampu mengalahkan kedua besan kalian?" sorak Andre.
"Tentu saja kami bisa. Walaupun kami sudah berumur, tapi, kami masih kuat mengayunkan tongkat golf dengan kekuatan tinggi," jawab Papi Dargono penuh percaya diri.
"Wah wah wah, sangat mengharukan sekali. Tapi, apakah kedua orang tuamu bisa bermain golf, darling?" tanya Andre pada istrinya.
Rumanah tersenyum kecil dan menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Emhh, itu ... saya tidak tahu, Tuan. He he he," jawabnya sedikit gugup.
"Astaga, itu artinya ada kesempatan untuk kita, Pap." Mami Purwati bersorak ria.
"Hmmmm, tentu saja," jawab Papi Dargono penuh percaya diri.
__ADS_1
BERSAMBUNG...