Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Sadar diri


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan, Luna!?" bentak Andre dengan sorot mata yang berkilat marah.


Luna tersenyum sinis seraya mendekati mantan suaminya. "Tentu saja aku akan menemanimu naik ke atas panggung. Aku, ibu kandung princess. Jadi, aku sangat berhak menemanimu ke atas panggung ini," ucapnya santai.


Andre tampak mengeraskan rahangnya dan menatap tajam pada mantan istrinya itu. Sementara Rumanah hanya diam dan tidak ingin melihat pertengkaran di antara suami dan mantan istri suaminya.


"Jangan bermimpi! Aku sungguh tidak Sudi berjalan bersamamu! Pergi dan biarkan istriku menemaniku ke atas panggung ini!" sungut Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.


Luna tersenyum licik dan memutar bola matanya malas. "Jika itu terjadi, maka aku akan berlari menerobos panggung dan mengatakan pada para penonton jika aku adalah ibu kandung princess. Apakah kau sungguh ingin melihat hal itu terjadi?" ancamnya yang berhasil membuat Andre terdiam dan tampak bingung menghadapi lintah darat di hadapannya itu.


Rumanah membuang napasnya kasar dan begitu muak dengan keegoisan Luna. Ia juga sangat bosan melihat wajah mantan istri suaminya itu.


"Kepada kedua orang tua Sandrina, kami masih menunggu," ucap si pembawa acara yang berhasil dihimpun Andre harus meninggalkan lamunannya.


"Astaga, bagaimana ini. Haruskah aku meninggalkan istriku di sini dan dengan teganya naik ke atas panggung bersama wanita rubah ini? Ck, benar-benar menyebalkan! Aku sangat tidak menyangka jika wanita ini berada di sini. Sialan!" cerocos Andre di dalam hati.


Rumanah mengusap wajahnya kasar dan membuang napasnya berat. Ditatapnya wajah sang suami yang terlihat bingung dan dilema. Sepertinya ia yang harus mengambil keputusan.


"Sebaiknya Anda naik saja bersama dia, hubby. Saya sungguh tidak apa-apa. Toh, kebenarannya memang dia ibu kandung princess," ucap Rumanah yang berhasil membuat Andre terbelalak kaget.


"Apa? Itu tidak mungkin,darling. Aku sungguh tidak ingin naik bersama wanita rubah ini!" protes Andre yang tampak sedikit menaikkan suaranya.


Luna memutar bola matanya malas dan menyilangkan tangannya di dadanya. "Sudahlah jangan buang-buang waktu, Andre! Kau ingin aku benar-benar mempermalukanmu di sini?" sungutnya sembari mengedarkan pandangannya ke sana kemari.


Andre mengusap wajahnya kasar dan membuang napasnya frustasi. Sementara sang istri tampak diam dan membuang wajahnya ke sembarang tempat.


"Kalau begitu, kau saja yang naik. Aku sungguh tidak ingin berjalan bersamamu!" ucap Andre dengan tatapan marahnya.


Luna tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. Tentu saja ia ingin naik berdua bersama mantan suaminya.


"Apa yang kau pikirkan? Kau pikir princess akan senang melihatku naik sendirian tanpa Daddy nya?" sungut Luna yang tampak sedikit menaikkan suaranya.


"Jika kau memikirkan kebahagiaan princess,maka seharusnya kau tidak melakukan ini! Aku yakin princess hanya ingin aku dan Bunda nya yang naik ke atas panggung. Bukan dirimu!" cicit Andre yang tak kalah sengitnya.


Luna tampak mendelikan matanya dan menatap sinis pada Rumanah. "Dia benar-benar tidak berhak berada di atas panggung ini. Kau tahu jika dia hanyalah seorang pengasuh yang kini menjadi ibu sambung bagi putri kita. Astaga! Sedangkan aku, aku adalah wanita yang telah mengandung dan melahirkan princess kita!" ucapnya yang tak mau kalah.


Andre tampak semakin sebal namun juga harus menahan emosinya saat ini. Sementara para penonton tampak sudah terdengar riuh karena menunggu kehadiran kedua orang tua Sandrina di atas panggung.


"Apa yang dia katakan sangatlah benar, hubby. Sebaiknya Anda sekarang naik bersama mantan istri Anda. Saya tidak mau melihat acara ini kacau karena ketidakhadiran Anda di atas panggung. Dan, princess juga pasti sangat menunggu kehadiran Anda saat ini. Jangan membuatnya kecewa dan marah karena di antara kita tidak ada yang naik ke atas panggung menemaninya," ucap Rumanah panjang kali lebar kali tinggi.

__ADS_1


Ya, Rumanah merasa dirinya lebih baik dan lebih pantas untuk mengalah. Ia sangat tidak ingin Luna sampai berani mempermalukan suaminya.


Andre terdiam dan benar-benar bingung harus berbuat apa. Sementara, apa yang dikatakan oleh istrinya memanglah benar adanya. Princess pasti akan marah jika di antara mereka tidak ada yang menemaninya di atas panggung.


"Astaga, ini adalah pilihan yang sangat sulit bagiku. Aku sungguh tidak ingin meninggalkan istriku di sini, tapi ... aku juga tidak ingin moment bahagia princess jadi kacau karena aku tidak naik ke atas panggung." Andre berkata dalam hati.


"Aku tahu, Anda pasti sangat memikirkan perasaan saya. Tapi, saya lebih memikirkan banyak perasaan yang harus saya jaga," ucap Rumanah di dalam hati.


"Permisi, apakah kalian orang tua Sandrina?" tanya seorang crew yang tiba-tiba menghampiri.


Andre, Rumanah, dan Luna tampak menoleh wajah mereka secara bersamaan.


"Iya, aku Daddy nya." Jawab Andre.


"Kalau begitu, kami harap kalian segera naik ke atas panggung. Semua orang sudah menunggu kehadiran kalian," ucap si crew yang berjenis kelamin perempuan.


Andre mengangguk. Sementara Rumanah tampak memutar tubuhnya hendak kembali ke tempat duduknya.


"Darling," ucap Andre seraya menangkap tangan istrinya.


Rumanah menolehkan wajahnya dan tersenyum manis pada suaminya. Ia sangat tahu apa yang sedang dirasakan oleh suaminya itu.


Andre tampak memejamkan matanya sejenak dan membuang napasnya berat. Sungguh ia tidak pernah bermimpi untuk kembali berjalan berdua dan menampakkan kebersamaan dirinya dengan mantan istrinya di depan orang banyak.


"Ck, drama amat siih!" decak Luna di dalam hati.


Setelah berkata demikian, Rumanah melepaskan tangan suaminya dan kemudian ia menyunggingkan senyuman hangatnya. Setelah itu ia pun bergegas melangkahkan kakinya kembali menuju tempat duduknya.


"Aku memang bukan ibu kandung princess. Jadi, tidak sepantasnya aku menolak Luna bersanding dengan suamiku di atas panggung," ucap Rumanah di dalam hati.


"Done? Sebaiknya mari kita naik bersama, Andre. Aku rasa para penonton mesti tahu jika kita pernah semesra ini," ucap Luna seraya merangkul lengan kekar mantan suaminya.


"Lepaskan! Jangan membuatku muak. Kau semakin menjijikkan dari hari ke hari!" ketus Andre seraya mendorong tubuh mantan istrinya itu.


Luna memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. "Hng, aku akan terus berusaha mengganggu ketenangan pernikahanmu dengan wanita kampungan itu!" cicitnya dalam hati.


Andre melangkahkan kakinya naik ke atas panggung dengan sangat berat hati. Bagaimana tidak, yang seharusnya ia berjalan bersama istri cantiknya, kini ia harus berjalan bersama mantan istri yang sangat ia benci.


"Berikan tepuk tangan yang meriah untuk kedua orang tua Sandrina!" sorak si pembawa acara saat Andre dan Luna telah berjalan di atas panggung.

__ADS_1


Prok prok prok prok prok!


Tepuk tangan pun dilakukan oleh para penonton. Terkecuali Rumanah yang baru saja berjalan ke arah tempat duduknya tadi.


"Hah? Kenapa Andre bersama wanita itu? Ke mana Rumanah? Apa yang telah terjadi?" ucap Mami Purwati yang tampak heran dan bertanya-tanya.


"Astaga, kenapa Kak Luna yang naik? Dan, ke mana Rumanah?" gumam Ferhat yang juga tampak terkejut melihat Kakaknya berada di atas panggung bersama Andre dan Sandrina.


"Hai, aku kembali," sapa Rumanah saat ia melewati kursi Ferhat.


Ferhat tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap heran pada wanita cantik itu. "Rumrum, apa yang terjadi? Ke–kenapa kau ... tidak menemani Bang Andre?" tanyanya penasaran.


Rumanah tersenyum kecil dan menatap ke arah panggung. Menyaksikan senyuman ceria dari Luna, dan senyuman malas yang sangat terpaksa dilakukan oleh Andre. Sementara si cantik Sandrina, tampak terlihat badmood dan keceriaannya berubah menjadi murung.


"Kakakmu yang lebih pantas berada di atas panggung itu, Ferfer." Jawab Rumanah dengan santai namun tidak dapat dipungkiri jika dirinya begitu kesal dan juga kecewa.


Ferhat mengusap wajahnya dan membuang napasnya kasar. "Aku sungguh tidak tahu jika Kak Luna ada di sini, Rumrum. Astaga! Pasti orang itu memaksamu untuk mengalah, ya?" ucapnya yang tampak geregetan.


Rumanah tersenyum kecil. "No! Dia sama sekali tidak memaksa, Ferfer. Aku yang memang harus sadar diri," jawabnya.


Ferhat hanya menghela napas panjang dan membuangnya berat. Jika ia tahu Luna hadir di sana, maka sudah pasti ia tidak akan membiarkan Kakaknya itu naik ke atas panggung.


"Bagaimana cara Anda mendidik putri Anda sehingga dia mampu menjadi pebalet cilik yang hebat? Silakan beri jawabannya, Nona." Ucap si pembawa acara saat masuk ke bagian wawancara.


Luna tersenyum sumringah dan begitu senang. Dengan cepat ia menyambar mic dan bicara sesuka hatinya di sana.


"Emh, jadi begini. Saya selaku Mommy nya Sandrina, selalu menegaskan padanya agar selalu semangat dalam belajar dan menggapai cita-citanya. Di samping itu juga, saya selalu menyemangati putri saya ini. Dan, hasilnya benar-benar nyata. Dia selalu semangat dan pada akhirnya gadis kecil ini bisa berdiri di sini dan memenangkan anugerah piala penghargaan utama. Saya benar-benar bangga pada putri saya ini," ucap Luna panjang kali lebar kali tinggi. Tentu saja ia berkata bohong. Nyatanya, Luna selalu cuek pada kegiatan putrinya itu.


Andre mengepalkan tangannya dan rasanya ia ingin sekali menghajar wanita di samping putrinya itu. "Dasar wanita ular! Bisa-bisanya dia bicara seperti itu di hadapan orang banyak. Lihat saja nanti, aku akan membuatmu menyesal!" cicitnya dalam hati.


Sandrina memutar bola matanya malas dan tampak terlihat kesal pada sang Mommy. Padahal, ia sangat berharap sang Bunda yang naik ke atas panggung. Namun nyatanya, hal lain telah terjadi.


"Waaaah, hebat sekali ya. Setiap orang tua pasti bangga memiliki anak yang berprestasi. Mari kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk kedua orang tua Sandrina!" seru si pembawa acara.


Prok prok prok prok!


Kembali para penonton bertepuk tangan. Bahkan Rumanah pun ikut bertepuk tangan memeriahkan acara itu.


"Tidak perlu bertepuk tangan, Rumrum. Dia bicara tidak sesuai fakta. Aku sangat muak mendengarnya!" ucap Ferhat dengan kekesalannya yang meninggi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2