Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Satu minggu lagi


__ADS_3

Andre memeluk erat tubuh istrinya dan mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Sementara si tuyul botak sedang memuntahkan benih-benih junior Andre.


"Oooh, kau hebat sekali, darling," ucap Andre dengan suara yang berat.


Rumanah mengatur napasnya yang naik turun tak beraturan. Ia tampak sedang mengumpulkan tenaganya kembali. "Apakah Anda benar-benar menebar benih di kebun saya?" tanyanya penuh selidik.


Andre mengangguk tanpa ragu. "Aku rasa kita sudah harus memulai untuk bercocok tanam, darling," jawabnya yang berhasil membuat Rumanah terbelalak kaget.


"Apaaaa??? Jadi, Anda benar-benar melakukannya?" tanya Rumanah yang benar-benar terkejut mendengar pengakuan suaminya.


Andre tersenyum tipis seraya melepas ikatan di tangan istrinya. "Ya, aku melakukannya, sayang. Apakah kau merasakan tembakan yang dahsyat di dalam kebunmu?" jawabnya.


Glek!


Rumanah menelan ludahnya kasar dan buru-buru ia melepas penutup matanya. Aah, kini ia sudah kembali seperti semula. Bisa melihat dan bisa menyentuh atau memegang apa saja.


"Apakah Anda sudah hilang akal? Kenapa Anda lakukan itu, Tuan? Bagaimana kalau saya benar-benar hamil?" sungut Rumanah seraya menatap intens manik mata suaminya.


Andre tersenyum kecil seraya meraih tangan mungil istrinya itu. "Memangnya kenapa kalau kau hamil, darling? Bukan kah kau adalah istriku? Dan aku adalah suamimu. Tidak ada salahnya jika kau mengandung anakku, darling," ucapnya penuh kelembutan dan tetap santai.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. Ia tak menyangka jika sang suami akan menebar benih Andre junior di dalam rahimnya. Padahal, ia sama sekali belum memikirkan tentang kehamilan. Ya, walaupun terkadang ia berpikir ingin segera punya anak bersama Andre. Tapi, tetap saja hal itu ia tepis jauh-jauh. Pernikahannya yang secara sirri pun belum diketahui oleh siapa pun, bagaimana jadinya jika tiba-tiba perutnya membuncit karena mengandung anak suaminya?


"Aaaaaaaaa! Mereka pasti akan mengira jika aku hamil di luar nikah. Mereka semua pasti akan menganggapku sebagai wanita ecek-ecek. Astaga!" cicit Rumanah yang tampak mengacak rambutnya frustasi.


"Apa yang kau pikirkan, Annabelle?" tegur Andre seraya memeluk hangat tubuh istri cantiknya itu. "Tentu saja sebelum kau hamil, aku akan mengumumkan perihal status pernikahan kita. Dengar! Aku sudah yakin dan sepakat jika sebaiknya status pernikahan kita dibeberkan pada khalayak. Aku akan memberitahu princess terlebih dahulu, dan setelah itu—" belum sampai Andre menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Rumanah menyelanya.


"Apakah Anda tidak main-main? Sudah siap kah Anda mendapatkan pertanyaan dari para wartawan dan rekan bisnis Anda? Sudah siap kah Anda mendapatkan cemoohan dari mantan istri Anda? Anda belum tahu tentang saya dan keluarga saya, Tuan. Apakah Anda yakin untuk mengungkap pernikahan kita sebelum Anda tahu siapa saya dan keluarga saya?" Rumanah memberondong Andre dengan beberapa pertanyaannya.


Andre tampak terdiam sejenak dan seperti sedang berpikir keras. Semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Rumanah memang belum sempat ia pikirkan. Dan, soal keluarga Rumanah? Sampai saat ini Andre belum mengetahuinya. Leo yang ditugaskan untuk menyelidiki tentang keluarga Rumanah pun belum bisa menemukan jawabannya.

__ADS_1


"Annabelle, memangnya ada apa dengan keluargamu? Bukan kah kau akan mengajakku menemui kedua orang tuamu di desa? Setelah kita ungkap pernikahan kita pada princess dan semua orang yang ada di sini, maka saat itu juga kita akan memberitahu kedua orang tuaku dan juga kedua orang tuamu, darling. Kurasa tidak ada masalah jika aku belum tahu bagaimana keluargamu. Kau bukan terlahir dari jin dan setan, bukan? Selagi kau berwujud manusia dan terlahir dari rahim manusia, maka apa pun alasannya, aku akan tetap menjadikanmu sebagai istriku!" papar Andre panjang lebar.


Andre tampak menatap serius manik mata istri cantiknya itu. Kini, tak ada lagi keraguan dalam hatinya. Yang ia ingin, pernikahannya terekspos, diakui oleh negara, dan tentunya ia ingin segera memiliki anak yang dilahirkan oleh istri cantiknya itu.


Rumanah terdiam dan tampak menggigit bibir bawahnya. Tergambar jelas raut kekhawatiran di wajah cantiknya itu.


"Jangan banyak berpikir, sayang. Aku tak ingin kehilanganmu. Aku berjanji akan selalu ada untukmu, apa pun yang terjadi." Andre berkata sembari mengusap lembut wajah cantik istrinya.


Rumanah tampak masih terdiam dengan ekspresi wajah yang terlihat cemas. Entah apa lagi yang wanita itu pikirkan, yang jelas saat ini Rumanah seperti belum siap memberitahu pernikahannya dengan Andre pada orang tuanya.


"Darling, kenapa kau diam saja? Dengar, aku akan mengungkap pernikahan kita sekitar satu minggu lagi. Setelah itu kita lakukan serangkaian pernikahan yang sah menurut agama dan negara. Nanti, aku akan mengatur ini semua dengan kantor pengadilan agama dan kantor urusan agama. Sebaiknya kau jangan banyak berpikira dan persiapkan dirimu. Mungkin, sebentar lagi junior-juniorku akan tumbuh di dalam sini," ucap Andre yang kemudian mengusap lembut perut rata istrinya.


Rumanah menarik napasnya lalu membuangnya berat. "Berjanjilah untuk tidak meninggalkan saya dan menerima saya apa adanya, Tuan." Pintanya.


Andre tersenyum hangat serta mengangguk. "I am promise, beybii," jawabnya seraya mengacungkan kelingkingnya.




Malam pun telah tiba, malam ini tidak seperti malam-malam biasanya bagi Rumanah dan Andre. Sebab, sang penyejuk mata yaitu princess Sandrina sedang tidak ada di rumah.


"Sepi sekali malam ini, biasanya princess akan bergelayut manja padaku. Hmmm," ucap Rumanah dalam hati.


Tok tok tok tok!


Terdengar suara pintu diketuk dari luar. Hal itu membuat Rumanah sedikit terjingkat kaget. "Siapa yang data**ng menemuiku?" gumamnya dalam hati.


Tanpa pikir panjang, ia pun melangkahkan kaki lalu membuka pintu. Dan yang mengetuk pintu ternyata si Deni, sang pelayan pribadi Tuan Andre.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Rumanah.


"Kau, Tuan Andre memintamu untuk menemuinya di kamar," jawab Deni dengan tatapan penuh intimidasi.


Rumanah mengerutkan dahi. "Berani sekali, sepertinya dia memang benar-benar sudah siap dan yakin." ucapnya dalam hati.


"Tuan Andre memintamu untuk tidak berlama-lama dan membuang waktu!" tegas Deni.


Rumanah tampak mengerjapkan matanya dan tersadar dari lamunannya. "Oh, iya iya, Den. Aku akan segera ke sana," ucapnya seraya keluar dari kamar dan menutup pintu kamarnya. Tak ada keraguan dalam dirinya, mungkin itu karena sebentar lagi pernikahannya akan diungkap.


"Tunggu! Setelah kuperhatikan kau semakin sering keluar masuk kamar Tuan Andre. Apa saja yang kau lakukan di sana? Aku sangat penasaran," ucap Deni penuh selidik.


Rumanah tersenyum tipis dan mengedipkan sebelah matanya. "Jangan terlalu berpikir keras, karena sebentar lagi kau akan tahu!" ucapnya tanpa ragu.


Deni menyipitkan matanya. "Aku akan tahu? Tahu apa? Oh astaga, apakah kau...."


"Ya, apakah aku apa?" desak Rumanah.


"Kau dan Tuan Andre...," ucap Deni yang tampak masih berpikir keras.


"Ya, aku dan Tuan Andre? Cepat, sedikit lagi!" desak Rumanah.


Deni mengusap wajahnya dan megarahkan telunjuknya pada wajah cantik Rumanah. "Kau ... adik kandung Tuan Andre!" tebaknya salah sasaran.


"Apa???" Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. "Ha ha ha ha!" tawanya pecah saat itu juga. "Kau salah menebak, Den." ucapnya yang kemudian berlalu dari hadapan Deni.


Deni tampak mengerutkan dahi dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2