Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Perfect


__ADS_3

Rumanah tersenyum senang mendengar ucapan asuhannya yang pintar itu. Ya, tentu saja Rumanah senang. Karena, asuhannya telah menyimpan segala nasihat baiknya di dalam memori ingatannya.


"Benarkah kau yang mengatakan itu, Rumanah?" tanya Meliza yang nampak kagum. Sejauh ini Meliza memang tidak tahu cara mendidik anak.


Rumanah mengangguk seraya tersenyum. "Benar, Mbak Mel." jawab gadis desa itu.


"Termasuk mencium tanganku sebelum berangkat sekolah?" tanya Andre penuh selidik.


Kembali Rumanah mengangguk. "Benar, Tuan." jawab gadis desa itu yang berhasil membuat Andre tercengang dan melongo tak percaya.


"Waaah, keren sekali, Rumanah. Ternyata kau bukan hanya berperan menjadi pengasuh, tetapi juga kau sangat pandai mendidik princess." seru Meliza yang nampak terkagum-kagum pada pengasuh putri bos dudanya itu.


Rumanah tersenyum kecil. "Biasa saja, Mbak Mel. Saya hanya mengajarkan apa yang orang tua saya ajarkan pada saya." ucap Rumanah rendah hati.


"Oh, perfect sekali, Rumrum." timpal Ferhat.


"Ya, dewi peri memang perfect, Uncle." sambung Sandrina.


"Benar, perfect dalam menjaga dan mendidik princess." sosor Meliza.


Rumanah tersenyum simpul, sejujurnya ia sangat malu dipuji-puji seperti itu.


"Perfect seluruh tubuhnya juga." ucap Andre dalam hati. Diam-diam duda tampan itu menyunggingkan senyuman manisnya dan menatap gemas pada Rumanah yang tersipu malu.


"Ya sudah, kalau begitu aku mau minta maaf padamu, Rumrum." ucap Ferhat mengusir keheningan yang sesaat terjadi.

__ADS_1


Rumanah tampak tercengang dan buru-buru ia menolak. "Ah, tidak perlu meminta maaf, Ferfer. Bahkan aku tidak menganggap itu sebuah kesalahan." sergah gadis desa itu.


Ferhat tersenyum. "Tidak, Rumrum. Aku harus meminta maaf sebagaimana yang kau ajarkan pada princess. Oh ya, dan aku juga ingin meminta maaf atas perbuatan kakakku Luna, aku benar-benar tidak enak hati padamu, Rumrum." ujar lelaki tampan itu dengan raut wajah yang memelas.


Rumanah tersenyum hangat. "Tidak usah dipikirkan, Ferfer. Aku sama sekali tidak menganggap itu semua sebagai kesalahan. Toh, yang terjadi padaku atas dasar ketidak sengajaan. Jadi, tidak usah merasa tidak enak hati padaku. Santai saja dan bersikaplah seperti biasa. Aku baik-baik saja." ucap gadis desa itu seraya menepuk pundak Ferhat penuh keakraban.


Ferhat tersenyum simpul. "Terima kasih ya, kau benar-benar memiliki hati yang baik, Rumrum." ucap Ferhat seraya menepuk pundak gadis desa itu. Mereka berdua sudah semacam sahabat bagaikan kepompong.


Meliza dan Sandrina tersenyum bahagia, sementara Andre tampak menatap kagum pada pengasuh putri cantiknya itu.


"Dan Anda, Tuan. Saya sangat berterima kasih karena Tuan telah bersedia menanggung segala biaya perawatan saya." ucap Rumanah yang berhasil membuyarkan lamunan duda tampan itu.


Andre tersenyum kecil. "Tentu saja, Annabelle. Karena kurasa kau adalah tanggung jawabku." ucap duda tampan itu yang berhasil membuat Ferhat dan Meliza saling beradu pandang.


Rumanah tersenyum simpul.


"Oh ya, coba aku ingin melihat jarimu, Rumrum." ucap Ferhat seraya menangkap tangan kiri Rumanah dengan sangat hati-hati. Ngeri terkena lukanya.


"Ini, tapi tidak bisa dibuka, Ferfer. Auuwh." Rumanah sedikit meringis.


"Eh, apakah terasa sakit?" tanya Ferhat ngeri.


Rumanah menggeleng. "Tidak, hanya sedikit." jawabnya.


"Ya ampun, aku merasa ngilu melihat jarimu, Rumanah. Apa yang kau rasakan sekarang?" Meliza ikut menyosor dan melihat jari Rumanah yang sudah dibalut oleh kain kasa dan perban.

__ADS_1


"Masih sedikit terasa sakit dan seperti kesetrum jika tersenggol, Mbak Mel. Entah sampai kapan akan seperti ini, saya juga tidak tahu." jawab Rumanah.


"Satu minggu lagi kau akan pergi check up bersamaku, Annabelle." timpal Andre yang berhasil membuat Rumanah tercengang.


"Ah, baiklah, Tuan." jawab Rumanah.


"Ya, memang harus check up agar tanganmu diperiksa oleh dokter. Semoga saja cepat kering dan cepat sembuh." timpal Meliza.


Rumanah tersenyum. "Mudah-mudahan begitu, Mbak Mel." ucap gadis desa itu.


"Kasihan sekali dewi peri, kalau begitu selama tangan dewi peri sakit, princess tidak akan merepotkan dewi peri." ucap Sandrina seraya ngelendot manja pada pengasuhnya itu.


Rumanah tersenyum kecil. "Dewi peri masih punya tangan kanan, sayang. Tenang saja, dewi peri akan berusaha semaksimal mungkin melakukan apa yang biasa dewi peri lakukan." ucap gadis desa itu.


"Jangan dipaksakan, Rumrum." sergah Ferhat. "Untuk sementara waktu, aku akan tinggal di sini menemani princess bersama kalian." lanjut pria tampan itu.


Rumanah tersenyum hangat. "Terima kasih, Ferfer." ucap gadis desa itu.


Ferhat, Meliza dan Sandrina tersenyum senang. Sementara Andre tampak membuang wajahnya ke udara, tak mau melihat Ferhat yang semakin akrab dan perhatian pada pengasuh putrinya.


Ciiaaaahhh, ada apa dengan duda mesum ini??? 😎😉


#Ferhat


__ADS_1


__ADS_2