
"Selamat pagi, Pak Andre," sapa Ririn yang tak lain adalah sekretaris baru Andre. Ya, Ririn sudah resmi menjadi sekretaris pengganti Kakaknya yaitu Meliza.
Andre mengangguk kecil tanpa tersenyum. Seperti biasa ia akan bersikap dingin pada siapa saja jika pikirannya sedang kacau dan mood nya sedang hancur.
Braaakk!
Dengan keras Andre membanting pintu ruangannya. Untung saja bukan terbuat dari kayu dan tidak lapuk. Jadi, pintu itu masih kokoh dan tidak roboh.
"Sial, Annabelle benar-benar cuek padaku. Bahkan dia tak mau menatap wajahku." Andre mendengus kesal mengoceh sendiri di dalam ruangannya yang sepi.
"Tak akan kubiarkan kau cuek bebek seperti ini padaku, Annabelle. Senyumanmu yang manis dan manja selalu membuatku semangat dan bagagia. Tapi, pagi ini aku benar-benar kehilangan senyumanmu itu! Kau benar-benar menyiksaku!" cicit Andre yang kian kesal dan emosi.
Pria tampan itu menghempaskan bobot tubuhnya pada kursi kebesarannya. Membuang napas kasar dan menatap kosong pada langit-langit ruangannya.
"Bisa-bisanya dia menolak perintah suaminya sendiri. Bersikap cuek dan tidak sopan pada suaminya ini. Astaga! Aku sungguh bisa gila jika wanita itu terus-terusan seperti ini padaku." kembali pria tampan itu mengoceh.
Ya, Andre sangat merasa janggal dan tidak nyaman dengan sikap istri sirrinya. Pasalnya, sejak ia bertemu dengan Rumanah di meja makan, hingga ia mengantarkan putrinya ke sekolah. Wanita cantik yang berasal dari desa itu tampak bersikap cuek dan seolah tak peduli pada dirinya. Bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka berdua. Dan hal itu benar-benar membuat Andre merasa kesal karena tidak dapat melihat senyuman manja dari istri sirrinya yang selalu membuatnya gemas.
Sementara itu, di depan perusahaan milik Andre...
Seorang wanita cantik bertubuh tinggi semampai tampak berjalan anggun melintasi setiap jengkal lantai yang ia pijak. Sendal hak yang tinggi dan pakaian yang sangat seksi dan casual begitu menandakan jika wanita itu bukan wanita biasa.
"Andre, kita akan bertemu lagi. Aku ingin kau menjadi suamiku lagi." Luna berucap di dalam hati.
Wanita cantik yang tak lain adalah Luna—mantan istri Andre, tampak berjalan masuk ke dalam perusahaan milik mantan suaminya. Banyak pasang mata yang menatap intens pada dirinya. Tidak ada yang tidak tahu jika Luna adalah mantan istri bos mereka.
Tak sedikit orang yang mengira jika Luna sudah rujuk dengan bos mereka yaitu Andre. Sebab, selama ini tidak pernah ada wanita lain yang menemui Andre selain Luna. Tentu saja hal itu membuat para karyawan Andre mengira jika Luna sudah menjadi istri Andre kembali.
__ADS_1
"Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis.
"Hm, saya ingin menemui Pak Andre. Apakah sedang rapat?" jawab Luna dengan senyuman sok ramah.
"Sepertinya tidak, Nona. Tapi, apakah Anda sudah memiliki janji dengannya?" tanya si resepsionis.
Luna tersenyum sinis serta mendelikkan manik matanya. "Hng, perlukan kami janjian terlebih dahulu?" ucapnya penuh desakkan.
Resepsionis terdiam dan sedang berpikir keras. Tentu saja ia tahu jika Luna memang tidak pernah mau menunggu dan bisa dengan mudah masuk ke dalam ruangan Andre.
"Tentu saja, Nona. Tapi, sesuai dengan perintah Pak And—" belum sampai resepsionis itu menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Luna menyelanya.
"Aku tidak butuh penjelasanmu! Kau tidak lupa 'kan siapa aku? Jadi, biarkan aku menemui Pak Andre! Bye!" ucap Luna yang tampak sinis dan sewot. Setelah berkata demikian, ia.pun bergegas melangkahkan kakinya menuju lift yang akan mengantarkannya ke ruangan mantan suaminya.
"Sialan, berani-beraninya dia mengalangiku," cicit Luna di dalam hati.
Luna berjalan dengan santai menuju ruangan mantan suaminya. Saat ia berada di depan meja Ririn, janda cantik itu pun menolehkan wajahnya dan menatap sinis pada Ririn yang sedang tersenyum padanya.
Luna mendelikkan matanya dan tersenyum sinis. "Hng, siapa wanita ini. Dan di mana si ja*lang itu?" ucapnya dalam hati.
"Kenapa dia menatapku seperti itu? Apakah ada yang salah dengan ucapanku?" ucap Ririn di dalam hati.
"Emh, aku ingin menemui mantan suamiku, kebetulan kami sudah janjian." Luna menjawab penuh kebohongan.
Ririn tersenyum serta mengangguk. "Oh, ini mantan istrinya Pak Andre. Cantik sekali," ucapnya dalam hati.
"Apakah Pak Andre ada di dalam? Dia memintaku untuk langsung masuk ke dalam ruangannya," tanya Luna dengan raut wajah yang ia buat seramah mungkin.
__ADS_1
"Ada, Nona. Baiklah, silakan masuk," jawab Ririn mempersilakan masuk. Ia benar-benar tidak tahu jika ternyata Luna dan Andre memiliki masalah yang panas.
Luna tersenyum, tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Mungkin jika Meliza masih menjadi sekretaris Andre, wanita cantik itu tidak akan membiarkan Luna masuk ke dalam ruangan bosnya.
Dengan senang hati Luna membuka pintu, bersorak dalam bati dan melangkah masuk ke dalam ruangan mantan suaminya.
"Good morning," sapa Luna yang berhasil membuat Andre membuka kelopak matanya yang sedang terpejam.
"Luna, mau apa dia kemari," ucap Andre di dalam hati.
Luna terus melangkahkan kakinya mendekati mantan suaminya yang sedang duduk menatap dingin padanya.
"Mau apa kau ke sini? Dasar lancang! Aku tak sudi bertemu denganmu lagi!" maki Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
Luna tersenyum santai dan memutar bola matanya malas. "Jangan marah-marah dulu dong, mantan suamiku." ucapnya seraya mendudukkan bokongnya di sofa.
Andre tampak memelototkan matanya dan mengeraskan rahangnya. "Keluar kau dari ruanganku! Dasar lintah darat! Sudah cukup kau membuat kekacauan kemarin. Kuharap kau tidak mencari gara-gara lagi denganku! Kalau tidak, maka tak ada ampun lagi bagimu!" ucap pria tampan itu dengan tatapan tajamnya.
Luna tersenyum seraya bangkit dari duduknya. Ia berjalan mendekati mantan suaminya. "Kenapa kau berubah jadi galak begini padaku, Mas Andre? Sebenarnya kedatanganku ke sini hanya ingin bicara santai denganmu. Aku ingin...," ucap wanita cantik itu yang tampak santai dan tenang.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi! Aku tidak ada urusan apa-apa lagi denganmu. Sebaiknya sekarang enyahlah dari hadapanku!" bentak Andre dengan wajah yang dingin.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau tanda tangani surat ini!" ucap Luna yang kini tampak menaikkan suaranya.
Andre tampak memincingkan matanya dan menatap intens pada selembar surat yang ada di genggaman mantan istrinya.
"Aku sudah mengajukan hak asuh anak pada kantor pengadilan. Mereka menyetujuianya dan sekarang aku hanya butuh tanda tanganmu. Setelah itu, princess berhak tinggal bersamaku." Luna bicara seraya meletakkan selembar surat di hadapan mantan suaminya itu.
__ADS_1
Andre tampak terbelalak kaget mendengar ucapan mantan istrinya itu. Tentu saja hal ini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Nampaknya sang mantan istri sangat berusaha keras untuk mendapatkan hak asuh anak.
BERSAMBUNG...