
Andre melangkahkan kakinya menaiki anak tangga satu persatu. Ucapan Meliza masih terngiang-ngiang di pikirannya. Sementara hatinya mengatakan jika ia harus menahan Meliza agar tetap bersamanya.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Mel. Kau harus menjadi milikku, menjadi istriku, menjadi ibu untuk putri mahkotaku—Sandrina." bisik Andre dalam hati.
Andre semakin menguatkan cintanya pada Meliza, ia merasa Meliza orang yang tepat dan cocok untuk menggantikan sosok Luna bagi Sandrina. Bagaimana pun ia harus mencarikan ibu sambung untuk Sandrina. Ia tidak ingin mencari sembarang istri yang akan menjadi ibu sambung untuk putrinya.
Sebagai seorang Ayah yang baik, Andre sangat ingin menghadirkan seorang ibu untuk putri kesayangannya. Maka dari itu Andre merasa jika dirinya harus menikah dengan Meliza. Bukan karena ia sudah mulai mencintai Meliza, tapi juga karena Meliza sangat dekat dengan putrinya. Di samping itu juga, Meliza memiliki sifat dan kepribadian yang baik menurut Andre.
"Sepertinya aku harus menahan Meliza untuk beberapa waktu. Aku harus memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Meliza jatuh cinta padaku. Aku yakin wanita itu pun memiliki rasa yang sama seperti diriku. Wanita mana yang tidak jatuh cinta saat melihat wajah dan pesona diriku? Apa lagi Meliza sudah bertahun-tahun mengenalku dan mengabdi padaku. Aku yakin dia sedang memendam rasa untukku." celoteh Andre dalam hati.
Sementara itu di dalam kamar Sandrina..
"Ayo Uncle jadi serigalanya." seru Sandrina yang tampak heboh dan ceria.
Ferhat memutar bola matanya malas dan menggelengkan kepalanya, "No! Uncle tidak mau." tolak Ferhat tanpa basa-basi.
Sandrina tampak mengerucutkan bibirnya bertingkah manja, "Yaaah, Uncle kok gitu sii?" rengeknya.
Rumanah menyunggingkan senyuman kecilnya, "Ayolah, Fer. Kau tidak bisa menolah keinginan keponakanmu. Lihatlah wajahnya yang manja, apakah kau tidak kasihan padanya? Lagi pula, mumpung kau ada di sini, jadi sebaiknya kau turuti saja keinginan princess cantik ini." ucap Rumanah membujuk Ferhat.
Ferhat tampak terdiam sejenak seperti sedang berpikir keras. Untuk sesaat ia membiarkan keponakannya memanyunkan bibirnya bertingkah manja. Seketika ide licik muncul di kepalanya.
"Oooh tidak. Aku rasa yang lebih cocok menjadi serigala itu dewi perimu, princess." seloroh Ferhat yang malah memojokkan Rumanah.
Rumanah tampak terjingkat kaget mendengar ucapan pria tampan di hadapannya.
"Yeeeeeay, kalau begitu dewi peri saja yang menjadi serigalanya." timpal Sandrina yang tampak menyetujui usulan Pamannya.
Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh dan sedikit ingin menolak. Tapi saat ia menatap wajah Ferhat yang memelototinya, seketika ia pun menyetujui ide konyol itu.
"Oke, baiklah kalau begitu. Dewi peri akan menjadi serigalanya." ucap Rumanah menyetujui.
"Horrraaaaaay!! Ayo Uncle kita siap-siap. Oh ya, berikan costum kepala serigala itu pada dewi peri." sorak Sandrina yang tampak sangat antusias.
__ADS_1
Rumanah tersenyum simpul melihat kegembiraan asuhannya. Tanpa membuang waktu lagi ia pun memakai costum kepala serigala di wajahnya. Tentu saja kini wajahnya sudah berubah menjadi serigala.
"Aduh, kok dewi peri tidak bisa melihat princess? Bagaimana ini? Kok gelap sii? Apakah dewi peri mendadak buta?" cicit Rumanah yang tampak panik karena ia tidak dapat melihat apa pun.
Sandrina dan Ferhat tampak tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Rumanah.
"Ha ha ha ha," Ferhat dan Sandrina tertawa terbahak-bahak bagaikan pemeran antagonis di film laga.
"Lah, kenapa kalian malah tertawa seperti itu?" seloroh Rumanah keheranan.
"Tentu saja kami tertawa, dewi peri." ucap Sandrina.
"Haha, kau ini ada-ada saja. Tentu saja kau tidak bisa melihat apa-apa, sebab costum serigala ini memang tidak ada celah untuk dapat melihat apa pun." timpal Ferhat yang tampak geli pada Rumanah.
"Haaaahh?? Terus gimana aku akan menangkap kalian sementara aku tidak dapat melihat apa-apa." protes Rumanah seraya membuka costum serigalanya kembali.
"Lah kenapa heran? Memang seperti itu permainannya. Kau harus menangkap kami tanpa harus melihat. Kalau kau dapat melihat, maka kuyakin permainan akan cepat selesai." ucap Ferhat yang berhasil membuat Rumanah mengerutkan dahinya.
"Apaaaaa??? Kalau begitu caranya sampai akhir zaman pun aku tidak akan bisa menangkap kalian!" sungut Rumanah yang tampak tidak setuju dengan permainan yang akan mereka mainkan.
"Hei, sialan kau. Kepalaku ini sudah di fitrah ya, sembarangan saja kau nyonyor-nyonyorin." protes Rumanah tak terima.
"Ha ha, sorry-sorry." ucap Ferhat seraya mengacak rambut Rumanah.
"Hisssssh!" cicit Rumanah sebal.
"Sudah jangan banyak ngoceh, Rumrum. Pokoknya kau harus memakai costum kepala serigala ini. Dan cara bermainnya kau harus mengejar dan menangkap kami, jika tidak tertangkap maka kau yang akan selalu menjadi serigala. Tapi jika di antara kami ada yang tertangkap olehmu, maka kau akan berhenti menjadi serigala dan kami yang akan menggantikanmu." tutur Ferhat panjang lebar.
Rumanah tampak menghela napas panjang dan membuangnya kasar. Mendelikkan matanya dan memanyunkan bibirnya.
"Cepatlah bermain, dewi peri." rengek Sandrina setengah merajuk.
Rumanah memutar bola matanya pasrah, "Baiklah princess. Dewi peri akan menjadi serigala berbulu unta." ucapnya seraya memakai costum kepala serigalanya kembali.
__ADS_1
"Horraaaaaay!" sorak Sandrina yang tampak antusias dan mulai mengambil ancang-ancang.
"Baiklah Rumrum, sekarang kau siap-siap dan aku akan mulai menghitung mundur." ucap Ferhat.
Rumanah mengangguk tanda mengerti.
"Oke, kita mulai ya. Satu, dua, tiga! Ayo tangkap kamii serigala!" sorak Ferhat yang mulai berlari kecil menjauhi Rumanah.
Rumanah mulai melangkahkan kakinya dengan kedua tangan ke depan sebagai alat untuk mendapatkan Ferhat dan Sandrina. Sementara kedua bola matanya tidak dapat melihat apa pun, tentu saja hal itu tidak akan membuatnya semudah itu menangkap dan mendapatkan Ferhat dan Sandrina.
"Ayo, ayo, ayo. Kejar kami serigala." sorak Sandrina seraya bertepuk tangan.
"Iya, iya, aku akan menangkap kalian. Tapi aku membutuhkan kekuatan dan kesabaran yang tinggi untuk sampai mendapatkan kalian." ucap Rumanah dalam hati.
Rumanah terus melangkahkan kakinya ke mana pun ia ingin melangkah. Kedua tangannya tak mau diam, meraba setiap apa yang ia dapatkan.
"Ayoooo tangkap kami, serigala. Kenapa kau bodoh sekali." sorak Ferhat.
"Sialan, senang kau Ferfer! Bagaimana aku tidak bodoh, sementara kedua mataku tidak dapat melihat kalian." dengus Rumanah dalam hati.
Sepuluh menit berlalu, Rumanah tampak belum juga mendapatkan kedua mangsanya. Ia tampak sudah lelah dan menyerah, ia pun mendudukkan bokongnya di sofa.
"Sudah ah, capek aku dari tadi kalian gak kena-kena." keluh Rumanah seraya membuka costum kepala serigalanya.
Ferhat dan Sandrina tampak tertawa kecil melihat Rumanah yang tampak kesal.
"Yaaah, kok nyerah sii. Jangan begitu dong, kau harus semangat dan pasti bisa menangkap kami. Ayo lanjutkan!" seloroh Ferhat.
"Iya, benar kata Uncle. Ayo dewi peri lanjut lagi." timpal Sandrina mendukung Pamannya.
"Huuffft, Paman dan keponakan sama saja. Senang melihatku menderita." gerutu Rumanah dalam hati.
Rumanah pun bangkit dari duduknya, "Baiklah, tapi jika dalam waktu sepuluh menit kalian tidak dapat kutangkap maka aku akan menyerah dan menyudahi permainan menyebalkan ini." ucapnya yang kemudian memakai costum serigalanya kembali.
__ADS_1
Ferhat dan Sandrina tampak tertawa kecil melihat kekesalan Rumanah.
***