Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Apakah kau marah?


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


"Bagaimana, Ndre? Apakah istrimu sudah bersedia menemui kedua orang tuanya?" tanya Mami Purwati pada Andre yang sedang duduk termenung di dekat kolam renang.


Andre membuang wajahnya ke udara dan membuang napasnya berat. "Belum, Mam." Jawabnya singkat namun terlihat jelas raut wajah kekecewaan di sana.


"Why? Mami heran, deh. Kenapa Rumanah malah sulit sekali diajak menemui kedua orang tuanya? Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya enggan menemui kedua orang tuanya. Apakah kau tahu latar belakang istrimu itu?" berondong Mami Purwati dengan pertanyaannya yang menggunung.


Ya, Rumanah memang selalu menghindar dan menunda-nunda untuk menemui kedua orang tuanya. Padahal, Andre sudah sangat sering mengajak istrinya itu. Tapi, sampai saat ini, Rumanah tetap menolak dan menunda-nunda dengan alasan dia belum siap.


"Entahlah, Mam. Tapi, Andre memang tidak tahu siapa istri Andre itu. Ini juga yang sangat membuat Andre penasaran padanya. Penasaran dengan keluarganya. Dia sendiri tidak pernah menceritakan bagaimana keluarganya. Apakah mungkin benar, ada yang dia sembunyikan dari kita semua?" jawab Andre panjang lebar. Ia semakin merasa yakin jika sang istri sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Mami Purwati terdiam sejenak dan mencoba berpikir keras. Ia juga sangat heran pada menantunya itu, setiap kali ia bertanya tentang besannya, sang menantu pasti selalu menjawab tidak jelas dan mengalihkan pembicaraan.


Sementara itu di dalam kamar, Rumanah tampak mondar-mandir dan terlihat uring-uringan. Sebenarnya ia juga merasa tidak enak dan tidak nyaman ketika ia selalu menolak untuk menemui keluarga dan kedua orang tuanya.


"Ya Tuhan, bagaimana ini? Lagi-lagi aku menolak untuk menemui kedua orang tuaku. Dan sekarang, hubby pasti sedang marah dan kesal padaku. Astaga! Aku harus bagaimana, dong? Apakah aku harus menemui kedua orang tuaku saat ini juga? Tapi, aku benar-benar belum siap. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Duuuuh!" cerocos Rumanah dalam hati.


Entah apa yang membuat Rumanah sangat malas dan takut menemui kedua orang tuanya. Yang jelas, dia merasa jika pernikahannya dengan Andre akan terombang-ambing oleh badai yang menerpa saat ia menemui kedua orang tuanya.


"Sebaiknya aku temui hubby, dia pasti marah dan kesal padaku. Ini tidak boleh dibiarkan. Aku bisa gila jika dia benar-benar marah padaku," ucap Rumanah pada dirinya sendiri.


Tanpa pikir panjang, Rumanah pun bergegas melangkahkan kakinya. Namun, belum sampai ia keluar kamar. Tiba-tiba gawainya berdering pendek. Ya, sebuah pesan WhatsApp masuk ke dalam gawainya.


"Ck, siapa yang mengirim pesan. Hubby kah?" ucap Rumanah seraya berjalan ke arah nakas.


Tanpa membuang waktu lagi, ia pun menggeser layar gawainya. Di sana, sebuah pesan masuk dari nomor baru. Sepertinya nomor yang tempo hari mengirim pesan padanya.


"Ck, nomor ini lagi. Siapa sih dia ini!" decak Rumanah sebal. Namun, ia tetap membuka pesan itu.


(Hai, cantik. Bagaimana kabarmu? Sudah lama ya kita tidak bertemu. Tapi, aku ingin bertemu lagi, bagaimana ya caranya. Kau tahu? Aku tidak bisa melupakanmu. Kau benar-benar membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. I love you! Nanti aku akan kembali ke hadapanmu, ya.)


Seperti itu pesan yang dikirim oleh nomor aneh itu. Dan itu benar-benar membuat Rumanah sebal.


"Hiiiiiiiyyy, nomor ini lagi! Pesannya aneh-aneh, lagi! Malas amat gue nanggepin orang tidak jelas seperti ini. Tidak ada gunanya! Lagipula, apa sih maunya dia? Gak ada kerjaan banget deh!" cicit Rumanah di dalam hati.


Tak mau peduli, Rumanah pun langsung mendelete pesan yang tadi masuk. Setelah itu, ia pun bergegas keluar kamar dan berjalan mencari suaminya.


"Duh, ke mana ya, hubby. Kenapa aku jadi takut begini," lirih Rumanah seraya celingukan ke sana kemari.


Di lantai empat tidak ada, di lantai tiga pun tidak ada. Kini wanita cantik yang sudah dipanggil Nyonya oleh penghuni di rumah itu turun ke lantai dua. Lantai di mana kolam renang berada.


"Hei, tunggu!" ucap Rumanah menghentikan langkah kaki seorang asisten rumah tangga.


"Ya, ada apa, Nyonya?" tanya asisten itu.


"Apakah kau melihat Tuan?" tanya Rumanah to the point.


"Oh, Tuan sedang berada di kolam renang, Nyonya."


Rumanah mengangguk, tanpa berkata apa-apa lagi ia pun bergegas berlari ke kolam renang.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu, Mami akan mendesak Rumanah agar mau menemui kedua orang tuanya. Jika seperti ini terus, kita akan terus dihantui oleh rasa penasaran dan keraguan. Kita juga perlu tahu siapa orang tuanya, bagaimana seluk beluk keluarga dia itu. Mami takut, dia berasal dari keluarga penjahat. Makanya dia tidak mau menceritakan apa pun tentang keluarganya. Apakah kau juga berpikir seperti itu?" kali ini Mami Purwati berkata dengan ekspresi yang terlihat serius.


Andre manggut-manggut tanda mengerti. "Ya, itu lebih baik, Mam. Tapi, bagaimana kalau dia tetap bungkam? Ck, wanita itu benar-benar meresahkan. Andre juga kesal padanya, Mam. Dia selalu saja menghindar dan menghindar. Apa jangan-jangan, kehadirannya di kehidupan Andre ada sesuatu yang dia inginkan? Atau ada sesuatu yang dia rencanakan? Astaga. Ini sungguh tidak boleh terjadi. Bagaimana pun, Andre sangat mencintai dirinya,Mam." ucapnya panjang kali lebar kali tinggi.


Mami Purwati mengusap wajahnya dan mendekati putranya itu. "Sabar ya, Nak. Kita coba desak Rumanah agar mau mengatakan semuanya. Jika seperti ini, kita hanya akan terus-terusan berprasangka buruk padanya. Ya Tuhan! Mami juga sudah sayang padanya, Ndre. Dia menantu yang baik dan sayang pada dirimu juga princess. Tapi, melihatnya seperti ini, membuat Mami sedikit ragu."


Andre menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan. "Ini sungguh rumit." desisnya.


"Hubby!" teriak Rumanah memanggil suaminya.


Sontak saja Andre dan Mami Purwati menolehkan wajah mereka secara bersamaan.


"Hubby, ternyata kamu di sini. Dari tadi aku mencarimu." Rumanah berjalan cepat mendekati suaminya.


Mami Purwati menatap tajam dan terlihat sinis menyeramkan. Sedangkan Andre membuang muka dan bertingkah seperti sedang malas menatap wajah istrinya itu.


"Sayang," ucap Rumanah seraya merangkul manja pundak suaminya. "Mami." lanjutnya seraya melirik sang Mami mertua yang sedang sipek padanya.


Keduanya tak ada yang menjawab. Tentu saja hal itu membuat Rumanah sangat heran dan begitu tegang.


Glek!


Wanita cantik itu menelan ludahnya kasar dan menatap takut-takut pada suami dan Mami mertuanya.


"Busyet dah. Ada apa ini, guys? Kenapa suasananya terasa mencekam. Ish, ini sih seramnya melebihi film zombie." Rumanah nyerocos dalam hati.


Andre tampak masih diam dan membiarkan sang istri yang bicara lebih dulu padanya. Begitu pun dengan sang Mami, ia tampak masih menatap tajam pada menantunya itu.


Beberapa detik berlalu, tak ada yang mulai bicara. Hanya gemericik air dari saluran kolam yang terdengar di sana.


Andre dan Mami Purwati masih diam tak menanggapi.


"Hubby, Mami, kenapa kalian diam saja?" tanya Rumanah yang mulai berani mengeluarkan suaranya.


Andre melirikkan matanya pada istrinya. Tatapannya begitu tajam dan menusuk ke dalam relung hati Rumanah.


"Memangnya kami harus bicara apa, Rum? Bukankah kamu yang menghampiri kami," jawab Mami Purwati dengan ekspresi yang benar-benar jutek.


Rumanah terdiam dan begitu merasa tersudutkan.


"Ayo bicara! Aku ingin kau katakan jika hari ini juga kau mau menemui kedua orang tuamu bersamaku." Ucap Andre di dalam hati.


"Maaf jika Rumanah mengganggu. Kalau gitu, silakan dilanjut nostalgia-nya." Rumanah berkata dengan raut wajah yang terlihat murung dan sedih.


Andre tampak sedikit terhenyak. "Ck, bisa-bisanya dia melawak di situasi seperti ini." decaknya dalam hati.


"Astaga, bukannya membujuk atau memohon, ini kok malah melawak." Desis Mami Purwati di dalam hati.


"Kenapa mereka diam saja? Apa mungkin ini bukan saatnya? Ya sudah, kalau begitu, aku memang harus pergi dulu dari sini." Rumanah bicara dalam hati.


Melihat sang suami dengan sang Mami mertua hanya diam tanpa kata. Akhirnya Rumanah pun memilih meninggalkan kedua orang itu. Ia mengira jika sang Mami mertua merasa terganggu oleh kehadirannya.

__ADS_1


Rumanah menundukkan wajahnya dan membungkuk memberi hormat. Kemudian ia pun bergegas melangkahkan kakinya dan benar-benar meninggalkan kedua orang itu. Padahal, dia ingin bicara dan menyelesaikan masalah yang tidak seberapa berat itu. Tapi, melihat suami dan Mami mertuanya yang cuek membuat dirinya merasa harus menunda.


"Astaga! Dia benar-benar pergi lagi, Mam!" desis Andre seraya bangkit dari duduknya.


Mami Purwati mengusap wajahnya. "Mami kira dia hanya bercanda. Ya Tuhan, dia tidak mengerti jika kita sedang kesal padanya!" ucapnya setengah kesal namun sangat geli.


"Dia memang istri yang polos, Mam. Astaga, terus gimana ini, Mam? Katanya Mami ingin mendesaknya, tapi kenapa Mami biarkan dia pergi?" cicit Andre yang tampak kesal.


"Andre, kenapa kamu menyalahkan Mami? Seharusnya kau yang mencegahnya tadi. Astaga, kalian ini benar-benar lucu. Apakah kalian memang selucu ini dalam menjalankan rumah tangga?" semprot Mami Purwati yang tak mau kalah.


Andre mengusap wajahnya kasar. "Kan Andre sedang pura-pura marah besar padanya, Mam." Balas Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.


"Hmm, ya sudah. Kalau gitu, sebaiknya sekarang kamu temui istrimu sana. Mami tidak mau ikut campur dengan urusan rumah tanggamu, kau yang harus menyelesaikannya." Ucap Mami Purwati dengan penuh kebijakan.


Andre mengusap wajahnya kasar. Kenapa jadi dia yang harus menemui istrinya? Astaga. Ini benar-benar menggelikan.


"Sudah jangan banyak berpikir, Ndre. Cepat ka temui istrimu. Siapa tahu dia ingin mengajakmu menemui kedua orang tuanya," perintah Mami Purwati penuh penekanan.


Andre mengangguk kecil. Tanpa pikir panjang ia pun bergegas melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


"Ck, ini benar-benar lucu! Tapi, tidak apa-apa lah. Siapa tahu Annabelle benar-benar ingin mengajakku menemui kedua orang tuanya." Ucap Andre dalam hati.


Ssreeeettt!!!


Pintu kamar terbuka. Di dalam kamar, Rumanah tampak sedang berdir di balkon kamar mereka. Tentu saja ia merasa perlu menghirup udara segar di malam hari. Ia berdiri di sana dengan tangan berpegangan pada tralis besi. Air matanya mengalir deras dan isak tangisnya terdengar lirih.


"Hiks hiks hiks, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau berpisah dengan suami dan putriku. Tapi, aku juga ingin memberitahu kedua orang tuaku." Rumanah mengoceh sendiri sembari menangis sedih.


Sementara itu, Andre tampak dibuat kaget oleh istrinya yang sedang berdiri di balkon kamar. Tentu saja hal itu membuatnya panik.


"Astaga! Apa yang akan dia lakukan di sana? Ck, benar-benar nekat!" decak Andre yang tampak terbelalak kaget.


Dengan cepat pria tampan itu berlari menghampiri istrinya itu.


"Darling! Hentikan! Apa yang akan kau lakukan, darling!? Jangan gila seperti ini. Aku masih mencintaimu. Kau tidak pantas mati konyol seperti ini, darling!" teriak Andre dengan kepanikannya yang menggunung.


Rumanah tampak terjingkat kaget dengan kehadiran suaminya yang tiba-tiba. Dengan kasar ia mengusap air matanya.


"Darling, kamu kenapa? Jangan seperti ini. Aku sangat mencintaimu. Kamu jangan coba-coba bunuh diri!" ucap Andre seraya menangkupkan kedua tangannya pada wajah cantik istrinya.


Rumanah terdiam dan menatap heran pada suaminya. Ya, Andre mengira jika Rumanah akan bunuh diri. Astaga. Padahal, dia hanya sedang termenung dan membutuhkan udara segar.


"Hah? Bunuh diri? Astaga, terlalu berlebihan!" desis Rumanah dalam hati.


Andre menatap wajah cantik istrinya. Ia sangat takut kehilangan wanita cantik itu.


"Kau marah padaku?" tanya Andre dengan tatapan lembutnya.


Rumanah terdiam dan tampak heran. "Marah? Kenapa aku yang marah? Bukannya dia yang sedang marah padaku? Astaga, lucu sekali!" cerocos Rumanah dalam hati.


Dengan lembut Rumanah membelai dada bidang suaminya. "Aku tidak marah, sayang. Aku hanya merasa jika aku telah membuatmu kesal. Jadi, aku yang semestinya minta maaf." Jawabnya dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


Andre menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan. Ia tampak lega karena sang istri tidak marah padanya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2