Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Escalator


__ADS_3

Rumanah melangkahkan kakinya dengan santai, kini gadis desa itu berjalan di belakang Andre dan Sandrina. Sementara Ferhat berada di sampingnya. Tentu saja ia lebih merasa nyaman dan percaya diri saat berjalan dengan Ferhat ketimbang berjalan dengan Andre yang notabene-nya jauh dari kata buruk rupa.


"Fer, sebenarnya apa yang kita cari di tempat ini?" Rumanah bertanya setengah berbisik pada Paman asuhannya.


Paman Sandrina yang tampan itu menyunggingkan senyuman kecilnya, "Sebuah tempat untuk mengisi perut yang lapar," jawabnya santai.


Rumanah membulatkan mulutnya, "Oooooohh," gadis desa itu hanya menanggapi dengan sebuah kata Oh dan kepalanya yang manggut-manggut bagaikan burung unta. Sementara kedua manik matanya tampak tidak bisa berhenti berputar.


"Baru kali ini saya menginjakkan kaki ke tempat seperti ini. Dulu, aku sampai menangis tiada henti hanya karena ingin bermain ke Mall besar di pusat kota Bandung. Sementara kedua orang tuaku tidak mampu mengajakku bermain ke Mall itu. Mereka selalu berkata, bersabarlah! Suatu saat nanti kau pasti akan puas bermain ke Mall. Dan ternyata aku baru bisa merasakannya saat ini. Ya Tuhan, ternyata ramai sekali di dalam Mall ini. Pantas saja Emak dan Abah tidak mampu mengajakku ke Mall, aku baru paham sekarang, mungkin jika aku memaksa pergi ke Mall saat itu, aku akan sangat membuat mereka malu karena aku pasti akan meminta Emak dan Abah untuk membelikanku macam-macam jualan yang ada di sini. Sementara mereka mungkin belum mampu untuk melakukan itu." cerocos Rumanah dalam hati.


Gadis desa itu tampak mengenang masa lalunya, saat ia masih kecil pernah merengek pada kedua orang tuanya meminta bermain ke Mall. Ya, Rumanah memang anak yang tumbuh di desa. Untuk pergi ke pusat kota pun mereka membutuhkan waktu sekitar dua jam bahkan lebih. Dan tentu saja hal itu membuat kedua orang tua Rumanah jarang sekali mengajak Rumanah ke pusat kota.


Rumanah terus mengedarkan pandangannya ke sana kemari. Gadis desa itu tampak terpukau melihat keramaian yang ada di sana. Ia mendongakkan wajahnya ke atas, dilihatnya bagian atas yang begitu luas dan tinggi. Ada lima lantai lagi yang belum dia jelajahi. Dan hal itu benar-benar membuat Rumanah bersorak dalam hati.


"Stop, Rumrum!" Ferhat menarik lengan Rumanah dengan tiba-tiba. Dan hal itu benar-benar membuat Rumanah terjingkat kaget dan terpaksa meninggalkan lamunannya.


"Iiih, ada apa? Kenapa kau mengejutkanku?" sungut Rumanah seraya meletakkan tangannya di dadanya. Kedua manik matanya menatap kesal pada Paman asuhannya itu.


Ferhat mengusap wajahnya lalu membuang napasnya kasar, "Lihat itu!" tunjuk lelaki tampan itu pada tangga escalator yang lumayan tinggi. Tentu saja saat itu Andre dan Sandrina sudah berada jauh dari mereka. Ayah dan anak itu sudah menginjakkan kaki di tangga escalator yang tak pernah berhenti berjalan.


"Haaaaahh???" Rumanah tampak terhenyak kaget melihat apa yang ada di hadapannya. Puluhan anak tangga yang mampu berjalan tanpa ada yang menjalankannya. Tentu saja hal itu membuat Rumanah tercengang dan terpukau. Humm, maklum lah, namanya juga gadis desa yang kuper. Hi hi..

__ADS_1


"Jangan banyak melamun, kalau aku tidak menahanmu tadi, maka kakimu pasti sudah terseret oleh anak tangga ini." ujar Ferhat yang tampak menekan setiap ucapannya.


Rumanah mengatur napasnya yang tampak naik turun tak beraturan. Manik matanya tak henti-henti menatap kagum dan ngeri pada anak tangga yang terus berjalan tanpa kenal lelah.


"Kenapa ini, bisakah tangganya berhenti berjalan. Astaga, aku pasti tidak akan bisa menaiki anak tangga ini. Aku takut, bagaimana ini? Aku benar-benar takut, aku tidak bisa." celoteh Rumanah dalam hati. Kali ini ia tampak menatap ekstream pada escalator yang seakan enggan untuk beristirahat sejenak.


"Dewi periii, Uncle! Ayo cepat naik, kenapa kalian lama sekali!?" dari atas, Sandrina tampak memekik memanggil pengasuh dengan Pamannya. Tentu saja gadis kecil itu sangat keheranan melihat pengasuhnya yang masih mematung di bawah tangga.


Rumanah mendongakkan wajahnya ke atas, "Astaga, princess sudah berada di sana." bisiknya yang tampak terjingkat kaget.


"Ayo, tunggu apa lagi?" ajak Ferhat seraya melangkahkan kakinya naik ke satu anak tangga yang dapat berjalan itu.


Rumanah terhenyak kaget melihat Ferhat sudah naik dan kini sudah terbawa oleh escalator yang berjalan sendiri. Sementara dirinya tampak masih mematung menatap ngeri pada escalator itu.


"Hei, kenapa kau diam saja? Ayo naik!" teriak Ferhat yang tidak mengerti jika Rumanah sangat takut dan tidak berani menginjakkan kakinya di escalator itu. Tentu saja itu karena Rumanah tidak pernah menggunakan atau menginjakkan kakinya pada tangga berjalan itu.


Rumanah masih terdiam dengan raut wajah yang terlihat pucat pasi, sementara asuhannya di atas sudah meneriakinya sedari tadi.


"Ayo, dewi peri!" teriak Sandrina yang tampak heran melihat pengasuhnya tak mau melangkahkan kakinya pada tangga berjalan itu.


"Huft, sepertinya gadis desa itu tidak berani naik escalator." tebak Andre tepat sasaran.

__ADS_1


"Hah? Kenapa dewi peri tidak berani, Dadd?" tanya Sandrina penuh selidik.


"Eeemh, mungkin karena dewi perimu tidak pernah menemukan escalator seperti ini, sayang." jawab Andre dengan kedua tangan yang ia silangkan di dadanya.


"Eemh, begitu ya." gadis kecil itu menatap kasihan pada pengasuhnya, "Kalau begitu princess akan menjemputnya." lanjut gadis kecil berusia lima tahun itu.


"Eh, tunggu-tunggu!" Ferhat menghentikan keponakannya.


"Ada apa, Uncle? Princess akan menjemput dewi peri dan mengajaknya naik ke sini. Kasihan dewi peri tidak bisa naik. Hummmm." gadis kecil itu tampak menekuk wajahnya dan masih menatap iba pada pengasuhnya.


"Kenapa dewi perimu tidak kau suruh terbang saja, princess?" celetuk Andre mengandung kelakar.


Sandrina mendelikkan matanya, "Dewi peri tidak bisa terbang, Daddy!" sungut gadis kecil itu.


"He he he, kalau begitu biarkan Uncle-mu yang menjemputnya, sayang." balas Andre di iringi cengengesnya. Manik matanya ia lirikkan pada mantan adik iparnya itu.


"Hum, baiklah. Kalau begitu Uncle akan menjemput dewi perimu dulu." ucap Ferhat tanpa basa-basi. Lelaki itu pun bergegas melangkahkan kakinya ke sebuah tangga escalator yang berjalan turun.


Sementara itu Rumanah tampak masih mematung dan membeku di tepi tangga. Beberapa pasang mata tampak menatap heran pada dirinya.


"Rumrum, ayo naik bersamaku." ajak Ferhat seraya mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Rumanah tampak menolehkan wajahnya pada Ferhat yang tiba-tiba sudah turun dan berada di sampingnya, "Astaga, kapan kau turun dari sana?" tanya gadis desa itu dengan raut wajah yang sangat kebingungan.


***


__ADS_2