
Rumanah mengecup lembut kening putri sambungnya. Entah mengapa ia semakin sayang pada gadis kecil asuhannya itu. Saat pertama kali diminta untuk tetap tinggal di rumah itu sebagai pengasuh Sandrina, dalam benak dan insannya sudah tersirat kasih sayang dan rasa cinta pada gadis kecil itu. Mungkin kah itu semua pertanda jika memang dirinya berhak menjadi ibu sambung bagi gadis kecil yang cantik dan menggemaskan itu?
"Tidur yang nyenyak ya, princess sayang. Maafkan dewi peri yang harus meninggalkanmu sendiri. Ini semua karena keinginan dan keegoisan Daddy mu itu." Rumanah bicara pada putri sambungnya yang sedang terlelap.
Lima menit sudah sejak Andre keluar dari kamar Sandrina. Itu artinya Rumanah harus bergegas dan mencari aman. Tentu saja ia harus memastikan jika tidak ada siapa-siapa di sepanjang jalan menuju lantai lima. Lantai yang hanya dihuni oleh seorang pria tampan yaitu Tuan Andre Wijaya Rakadewa.
"Semoga tidak ada siapa-siapa di luar. Bisa-bisa besok pagi para penghuni di rumah ini bergosip dan berghibah ria. Menggosipkan si pramusiwi yang yang tiba-tiba naik ke lantai lima pada waktu tengah malam. Astaga! Itu tidak boleh terjadi." cerocos Rumanah di dalam hati. Ia tampak sedikit tegang dan waswas.
Dengan pelan gadis desa itu menutup pintu kamar putri sambungnya. Sebelum melangkah, Rumanah menarik napasnya lalu membuangnya perlahan. Tak lupa ia celingukan ke sana kemari. Tentu saja ia harus benar-benar memastikan tidak ada orang yang melihatnya.
"Sepertinya aman," bisik Rumanah dalam hati.
Tak membuang waktu lagi, Rumanah pun bergegas melangkahkan kakinya dengan cepat agar bisa segera masuk ke dalam lift yang akan mengantarnya ke lantai lima. Sementara dirinya kini berada di lantai tiga.
"Rumanah," terdengar suara seorang pria yang sudah tak asing lagi baginya. Sontak saja hal itu membuat Rumanah terjingkat kaget dan kembali menurunkan tangannya yang hendak menekan tombol di depan pintu lift.
"Eh, Pak Muhsin," sahut Rumanah yang tampak gugup dan tegang.
"Apa yang kau lakukan di sini, Rum? Ini 'kan lift. Kenapa kau hendak menaikinya? Sejak kapan kau pindah kamar? Bukankah kamarmu ada di lantai satu?" selidik Pak Muhsin yang tampak menatap penuh intimidasi pada Rumanah. Namun sepertinya ia pun sangat heran dengan gelagat dan tingkah Rumanah.
Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh dan seketika ia menyunggingkan senyuman kakunya. "Hehe, benar juga ya. Kenapa aku hendak naik lift? Astaga! Ini semua pasti gara-gara aku sangat mengantuk sekali sehingga membuatku tidak fokus, Hoooaaaaammmmm," ucap gadis desa itu yang tampak beralasan.
__ADS_1
Muhsin mengerutkan dahinya. "Dasar ceroboh! Kalau aku tidak memergokimu, sudah pasti kau naik hingga lantai lima dan masuk ke dalam kamar Tuan besar. Dan, sudah dapat dibayangkan jika kau akan mendapat hukuman dan amukan dari Tuan Andre. Astaga! Beruntung aku memergokimu dan menyadarakanmu. Maka, berterima kasihlah padaku!" cerocos si koki dingin itu.
Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Sialan, semua yang kau katakan itu tidak benar, Pak Muhsin. Justru aku berharap tidak bertemu denganmu. Tapi, kenapa kau malah muncul di hadapanku. Astaga! Jika kau tidak memergokiku, maka aku sudah berada di kamar suamiku saat ini jugaaaaaaaaa. Dasar menyebalkan!" oceh Rumanah di dalam hati.
Gadis desa itu menyunggingkan senyuman kakunya. Sejujurnya ia tak ingin membuang-buang waktu lagi. Semnetara kini jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Rumanah yakin jika saat ini suami rahasianya sedang mengoceh sendiri karena kesal menunggunya.
"Oh oke, kalau gitu terima kasih, Pak Muh. Berkat Anda, saya jadi tersadar. Hehehe," ucap Rumanah disertai cengengesnya.
"Yup! Ya sudah, lebih baik sekarang kau kembali ke kamarmu. Aku juga akan ke kamarku, tidur dengan nyenyak dan mimpi indah," ucap Muhsin yang kemudian melangkahkan kakinya berlalu dari hadapan Rumanah.
"'Huuuufffftttttt!" Rumanah membuang napasnya kasar. "Pergi sana, jangan muncul lagi. His, mengganggu saja!" cicit gadis desa itu sebal.
Dirasa sudah aman, Rumanah pun cepat-cepat masuk ke dalam lift dan menekan angka 5. Tentu saja ia tak ingin lagi membuang-buang waktunya.
Pintu lift terbuka. Dengan cepat Rumanah keluar dari lift itu dan sedikit berlari menuju kamar yang sudah tak asing lagi baginya.
Ting tong!
Rumanah menekan bell. Tak lama setelah itu, pintu kamar terbuka dengan sendirinya.
"Semoga dia tidak murka!" ucap Rumanah dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali? Nampaknya kau selalu senang membuatku menunggu seperti ini," semprot Andre seraya mendekati istrinya dan berdiri di hadapannya.
"Maaf, Tuan. Sebenarnya telah terjadi sebuah perkara yang membuat saya sedikit terlambat," ungkap Rumanah.
"Perkara apa? Jangan membohongiku!"
"Saya tidak bohong. Tadi ... Pak muhsin memergoki saya saat hendak masuk ke dalam lift. Dan...," Rumanah menceritakan apa yang telah terjadi barusan.
"Oh, begitu rupanya." Andre menyilangkan tangannya di dadanya. "Untung saja dia tidak curiga padamu, Belle." ucap pria tampan itu seraya merengkuh pundak istri sirrinya.
Rumanah tersenyum. "Karena saya pandai berakting," celetuk gadis desa itu.
"Cih, ge'er!" desis Andre seraya membuka kancing daster Rumanah satu persatu.
Rumanah hanya tersenyum kecut dan menatap wajah tampan suaminya. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan seorang pria yang tampan dan tajir melintir.
"Apakah kau sudah siap, Annabelle?" bisik Andre seraya melepas daster bali yang Rumanah kenakan.
Rumanah bergidik geli serta mengangguk tanpa ragu.
"Woah, so beautifull." Andre bersorak saat melihat tubuh Rumanah.
__ADS_1
"Tuan juga sangat tampan dan ... seksi!" balas Rumanah seraya membelai lembut dada bidang suaminya yang sedikit berbulu halus.
BERSAMBUNG...