
Pagi-pagi sekali Rumanah terbangun dari tidurnya. Semalam ia tidur bersama suami rahasianya. Alhasil, princess yang minta ditemani akhirnya tidur sendiri. Dan, Rumanah malah menemani Daddy nya princess. Astaga!
"Hoaaam, sudah pagi ternyata." Rumanah menguap dan mengucek matanya. Di sampingnya, seorang pria dewasa masih terpejam dengan nikmatnya. Wajah tenang dan tampan membuat Rumanah tersenyum manis.
"Ya Tuhan, aku tidak tahu lagi bagaimana nasibku setelah ini. Aku tak tahu apakah pria ini benar-benar mencintaiku atau tidak. Sementara sampai saat ini dia belum pernah mengungkapkan perasaannya padaku. Dia belum pernah mengatakan jika dirinya sangat mencintaiku. Entahlah! Kuharap pria ini yang akan menjadi suamiku untuk selama-lamanya." Rumanah bicara di dalam hati.
Jarum jam yang berputar tiada henti berhasil membuat Rumanah menolehkan wajahnya. Menatap jam besar yang menempel di dinding kamar itu. Nampaknya waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Tentu saja hal itu membuat Rumanah sedikit lega dan tersenyum kecil.
"Aman. Ini masih jam lima. Suasana di rumah ini pasti masih sepi. Sepertinya aku harus bergegas," ucap Rumanah seraya menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Walau mata masih terasa lengket dan mengantuk, tapi wanita cantik itu harus memaksakan dirinya untuk keluar dari kamar suami tampannya itu. Tentu saja ia tidak ingin para penghuni di rumah itu tahu jika dirinya tidur di kamar Tuan besar Andre Wijaya Rakadewa.
"Aauuuwh," ringis Rumanah saat ia menurunkan kakinya dari ranjang. Tentu saja selang*kangannya masih terasa sakit dan perih akibat hajaran si ular berbulu milik suami tampannya itu.
"Ya Tuhan, ini sakit sekali. Entah sampai kapan aku merasakan sakit dan perih seperti ini. Astaga! Ini semua gara-gara si pentungan maling milik pria ini!" desis Rumanah di dalam hati.
Semalam, saat Rumanah kembali dari kamar mandi. Andre yang sudah bertenaga lagi tampak kembali mengobrak abrik tubuh istri sirrinya. Tentu saja ia masih semangat dan ingin memuncratkan mayonaisnya kembali. Dia memang pria yang tangguh, kuat dan perkasa. Maka tak heran jika sampai saat ini pun Luna masih sering mengganggunya. Padahal, Luna sendiri yang berkhianat dan membuat Andre murka.
Dengan pelan Rumanah menginjakkan kakinya pada lantai. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan tulang belulangnya terasa remuk redam. Belum lagi beberapa sablon merah menghiasi leher serta dadanya. Pokoknya seperti habis dikeroyok oleh warga plus enam dua.
"Aaaarrggh! Sakitnya!" Rumanah sedikit memekik dan meringis. Dan hal itu berhasil membuat Andre terbangun dari tidurnya.
"Annabelle, apa yang terjadi?" tanya Andre dengan suara yang serak, khas bangun tidur.
Rumanah menolehkan wajahnya lalu mendudukkan kembali bokongnya pada sisi ranjang. "Ini, sakit sekali." jawabnya dengan raut wajah menuluk memanja.
Andre memincingkan matanya dan belum seutuhnya sadar dengan apa yang ia dengar. "Apa yang sakit, Belle? Ini masih pagi, sudah sini bobok lagi," ucap pria tampan itu seraya menarik paksa tubuh Rumanah sehingga membuat wanita cantik itu ambruk ke dalam pelukan suaminya.
"Astaga, Tuan. Berhentilah mengigau!" desis Rumanah seraya melepaskan tubuhnya dari pelukan suaminya.
"Mengigau apaan? Kau yang mengigau, Belle," seloroh Andre seraya memejamkan matanya yang masih lengket dan mengantuk. Pasalnya, semalam mereka berdua tidur jam tiga dinihari.
"Ck, sudahlah Anda tidur lagi saja. Ini sudah jam lima pagi, Tuan. Saya harus segera minggat dari sini. Ini lagi ah, kenapa semuanya terasa sakit, ini semua gara-gara Anda, Tuan. Semestinya Anda bertanggung jawab atas hal ini. Astaga! Mungkin lebih romantis jika Anda memijat seluruh tubuh saya yang terasa seperti remuk redam. Ya Tuhan!" celoteh Rumanan panjang lebar. Ia tampak mengomeli suaminya yang ternyata sudah kembali terbang ke alam mimpi.
"Krrrhkk kkkkrrrr kkrrrrrr kkrrrrr kkrrrrrr!!!!" terdengar suara dengkuran yang keluar dari mulut Andre. Dan hal itu membuat Rumanah menolehkan wajahnya dan seketika terhenyak kaget.
"Hhaaaaaah??? Astaga, dasar kebo! ***** amat sii. Sekali nempel langsung molor." Rumanah mengoceh sendiri seraya menatap sebal pada suami tampannya yang sudah kembali tidur dan mendengkur nikmat.
Rumanah memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. Tentu saja ia kesal pada suaminya, karena sang suami tiba-tiba tertidur dan mendengkur saat ia sedang mengoceh.
"Ck, dasar! Kukira pria tampan dan gagah seperti dia tidak bisa mendengkur. Tetapi ternyata ... ha ha ha ha!" seketika Rumanah tertawa terbahak-bahak. "Ternyata dia bisa mendengkur seperti ini. Astaga! Untung saja tidak mengences kau, pria galak. Hi hi hi hi." celoteh Rumanah yang tampak cekikikan melihat suaminya mendengkur.
Rumanah mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya. Mengamati setiap jengkal wajah tampan yang nyaris sempurna di matanya. "Hmmmm, tapi ... walaupun sedang mendengkur, pria ini tetap terlihat tampan dan sempurna. He he he he," gumam wanita cantik itu di dalam hati.
Muaaaccchh!
Tiba-tiba Rumanah mendaratkan bibirnya pada kening suaminya. Mengecup manja suaminya yang masih terpejam itu.
"Astaga, aku pasti sudah gila!" cicit Rumanah seraya mengusap wajahnya.
Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Rumanah pun kembali menurunkan kakinya secara perlahan. Tentu saja ia harus hati-hati, karena mis vags dan selangkangannya masih terasa sakit dan berdenyut.
__ADS_1
Namun, baru saja Rumanah hendak menginjakkan kakinya pada lantai. Tiba-tiba saja tangannya dicekal dari belakang. Tentu saja hal itu membuatnya tersentak kaget.
"Monyoong lu!" latahnya kembali muncul. Dengan cepat ia menolehkan wajahnya ke belakang.
"Siapa yang monyong?" tanya Andre yang tampak tidak membuka kelopak matanya.
Rumanah menyengir kudanil dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. "He he he he he, tidak ada, Tuan. Saya hanya sedang terkejut karena Anda tiba-tiba mencekal tangan saya." jawab Rumanah disertai cengengesnya.
Andre membuka kelopak matanya dan menyunggingkan senyuman tipisnya. "Hng, harusnya kau belajar untuk tidak latah seperti itu, Belle." ucap pria tampan itu dengan entengnya.
Rumanah mengerutkan dahi. "Kenapa pria ini bangun lagi? Tadi 'kan dia sudah tidur dan mendengkur. Astaga, apa jangan-jangan dia hanya berpura-pura tidur dan dapat mendengar semua ucapanku tadi!? Ck, sialan!" cerocos wanita cantik itu di dalam hati.
"Kenapa kau diam? Kau tadi mencium keningku, yaaaa????" sosor Andre penuh desakan dan sindiran.
Rumanah tampak terjingkat kaget dan membulatkan kedua bola matanya penuh. "Haaaaaahhh??? Kenapa Anda bisa tahu, Tuan?" tanya wanita cantik itu yang tampak terlihat heran
Andre tersenyum tipis seraya beringsut bangun dati tidurnya. "Mulai sekarang, apa pun yang kau lakukan padaku, aku akan selalu dapat merasakannya, Belle." bisiknya seraya memeluk hangat pinggang ramping istri sirrinya itu.
"Hmmmm? Apakah ini contoh yang Anda katakan semalam?" tanya Rumanah.
"Yes," Andre mengangguk. "Ingat sekali lagi, Belle. Semalam, saat aku merobek selaput daramu. Merenggut keperawananmu, saat itulah kau menyerahkan seluruh hidupmu padaku. Saat itulah aku akan tahu baik dan buruknya dirimu. Begitu pun kamu, kau akan tahu baik dan buruknya diriku. Mulai detik ini ... kau tidak akan bisa jauh dariku, Annabelle!" terang pria tampan itu panjang lebar.
Rumanah terdiam dan mencoba mencerna setiap kata yang terucap dari mulut suami tampannya itu. Ya, mungkin mulai detik ini Rumanah hanya akan memberikan cinta dan seluruh tubuhnya pada suami tampannya itu. Pada pria yang sudah merenggut kesuciannya.
"Jangan terlalu berpikir keras, Belle. Nanti kau bisa stres. Dan oh, ngomong-ngomong...," Andre memainkan setiap helai rambut panjang milik Rumanah dan dilampirkan ke sebelah kiri. "Cantik sekali tato merah hasil lukisanku ini." bisiknya seraya membelai lembut tengkuk dan leher Rumanah yang dihiasi oleh sablonan merah.
Rumanah tersentak kaget dan seketika ia bergidik geli dengan perbuatan Andre padanya. "Sssh, ini sangat menyebalkan dan akan membawa sial, Tuan." ucap wanita cantik itu seraya menyentuh tengkuknya sendiri.
"He he he he he, santai saja. Mulai hari ini kau harus selalu menggerai rambut panjangmu ini, Belle. Dan untuk sablonan yang ada di lehermu, sebaiknya kau sendiri yang cari cara kreatif untuk menyembunyikannya," ucap Andre yang tampak masih memeluk hangat tubuh istri sirrinya itu.
Muaccchh!
Andre mengecup manis tengkuk istrinya yang putih itu. Tentu saja hal itu membuat Rumanah terjingkat kaget dan bergidik geli.
"Ish, Tuan. Jangan lakukan apa-apa lagi, saya sudah harus keluar dari kamar ini sebelum para penghuni di rumah ini pada bangkit dari tidur mereka." Rumanah sedikit mengomel.
"He he he he, kenapa kau sangat ge'er sekali, Belle. Aku hanya ingin menciummu sedikit saja," ucap Andre seraya mendekatkan bibirnya pada bibir istri sirrinya itu.
Sontak saja Rumanah menjauhkan wajahnya dan berusaha menghindar. Sejujurnya ia takut jika suaminya itu akan kembali mengobrak abrik seluruh tubuhnya yang sudah terasa remuk redam.
"Jangan lakukan apa-apa lagi, Tuan! Saya tahu Anda akan U U S!" ucap Rumanah seraya menghindari bibir suaminya.
"U U S?? Apa itu??" tanya Andre yang tampak tak mengerti.
Rumanah menarik kerah dasternya yang sedikit sengkleh lalu menurunkan kakinya dari ranjang. "Ujung-ujungnya se*ks!!!!" jawab wanita cantik itu yang kemudian menapakkan kakinya pada lantai.
Mendengar hal itu membuat Andre tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha ha ha!" tawa ngakak pecah saat itu juga.
"Benar 'kan yang saya katakan?" ucap Rumanah seraya melangkahkan kakinya dengan tertatih. Ia harus bergegas meninggalkan suaminya karena waktu semakin berputar.
"Ha ha ha ha, kau terlalu berburuk sangka pada suamimu sendiri, Annabelle!" seloroh Andre yang kemudian melemparkan bantal tepat mengenai bokong istri sirrinya.
__ADS_1
Rumanah tersentak kaget mendapatkan timpugan bantal itu. "Astaga, sudah tahu istrinya sedang kesulitan seperti ini. Ck, menyebalkan!" decak Rumanah seraya meraih bantal yang tergeletak di lantai.
"Ha ha ha ha, bokongmu terlalu menonjol dan montok, Annabelle. Makanya bantal itu sampai terpental. Ha ha ha ha!" ucap Andre disertai tawa ngakaknya.
Rumanah memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. "Bicaralah sesuka hati Anda, Tuan. Dan, raakan ini!" cicit wanita cantik itu yang kemudian melemparkan bantal di tangannya tepat mengenai mulut Andre yang sedang tertawa.
"Hhaaahhhh??? Sialan kau Annabelle, untung saja bantalnya tidak masuk ke dalam mulutku!" omel Andre kesal.
"He he he he he he, silakan Anda masukkan sendiri, Tuan. Saya akan keluar dari sini, bye!" ucap Rumanah yang kemudian memutar tubuhnya dan melangkah maju mendekati pintu.
"Memangnya kau bisa membuka pintu itu?" tanya Andre seraya menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjangnya.
"Sial, aku lupa jika pintu ini sangatlah ribet!" desis Rumanah di dalam hati. Ia tampak masih kebingungan dan mematung di depan pintu itu.
"Katakan kau ingin aku yang membukanya," bisik Andre seraya memeluk pinggang ramping istri sirrinya itu.
Rumanah memutar bola matanya malas. "Tidak, katakan saja bagaimana caranya," sanggah wanita cantik itu.
Andre tersenyum kecil. "Kau tidak akan tahu walau kuberitahu, Belle." ucapnya.
"Ah, sudahlah jangan membuang-buang waktu, Tuan. Saya harus segera keluar. Lihat itu, matahari sebentar lagi menampakkan cahanya," tegas Rumanah yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Kenapa kau sangat tergesa-gesa sekali, Belle? Akan sangat mudah memberikan alasan pada siapa pun yang melihatmu keluar dari kamarku. Bilang saja kau habis mengantarkan sesuatu, atau ada hal yang penting mengenai princess. Astaga, punya otak ya dipake dong, Annabelle istriku!" ujar Andre seraya memutar tubuh istrinya agar menghadap kepadanya.
Rumanah terdiam sejenak, nampaknya ia sedang mencerna ucapan suami tampannya itu. Ya, memang benar yang dikatakan oleh Andre, Rumanah bisa saja dengan mudah mengatakan alasan yang masuk akal.
"Bagaimana? Apakah kau setuju dengan ucapanku?" tanya Andre penuh desakkan.
Rumanah memutar bola matanya dan membuang napasnya berat. "Huffft, tetap saja kita harus waspada, Tuan." ucapnya seraya menepis tangan suaminya yang menyentuh bahunya.
"He he he he, tidak usah terlalu dibawa pusing. Ini masih pagi, Belle." Andre berucap seraya mengusap lembut wajah cantik istrinya.
"Justru karena masih pagi, saya harus segera keluar dari kamar Anda, Tuan. Bagaimana kalau princess sudah bangun dan mencari saya? Dia pasti akan marah jika tahu dewi peri nya tidak menemaninya tidur." Rumanah tampak terlihat resah memikirkan putri sambungnya.
"Stttt, santai saja. Princess tidak pernah bangun sepagi ini." Andre meletakkan telunjuknya pada bibir istrinya.
Rumanah terdiam dan tak mengerti lagi dengan apa yang akan suaminya lakukan padanya.
"Seperti yang kau katakan padaku, Belle," ucap Andre seraya memeluk manja tubuh istri sirrinya itu.
"Apa, Tuan?" tanya Rumanah tak mengerti.
Andre tersenyum kecil dan mengusap wajah cantik istrinya. "U U S!" bisiknya yang berhasil membuat Rumanah terbelalak kaget.
"Hahhh???" sontak saja Rumanah melepaskan dirinya dan melangkah mundur menjauhi suaminya.
Sementara itu Andre tampak tersenyum kecil dan melangkahkan kakinya mendekati istri cantiknya. "Kenapa kau syok begitu, Belle?" tanya Andre sembari tersenyum usil.
"Astaga, sudah dong Tuan jangan melakukannya lagi. Saya sangat merasa—" Rumanah tampak menggantung ucapannya saat tiba-tiba Andre mendorong tubuhnya hingga menempel di dinding.
"Sssttt, semakin kau menjauh, semakin kukejar dirimu, Annabelle." Andre bicara dengan raut wajah yang terlihat serius.
__ADS_1
Rumanah tampak memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar.
BERSAMBUNG...