Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Apa yang kalian lakukan?


__ADS_3

Rumanah memejamkan matanya dan meremas kasar rambut suaminya. Sesekali ia menekan kepala suaminya agar lebih bekerja keras.


"Aach, Tuan. Ini su–sudah gila!" racau Rumanah yang tampak sudah bergairah. Sang suami tampak gesit menghis*ap dan menjil*at mis vags istri cantiknya itu. Mereka berdua seolah tak peduli pada si gadis kecil yang sedang belajar di dalam kamar itu.


Andre menyudahi permainannya. Dengan cepat ia memelorotkan celananya dan membiarkan si ular berbulu itu bernapas dengan lega.


"Jangan membuang waktu lagi, Belle," ucap Andre seraya memutar tubuh istrinya agar menghadap dinding.


Rumanah sedikit menunggingkan bokongnya dan berpegangn kuat pada dinding yang kokoh. Sementara sang suami yang seperti seorang pria hyperseks itu tampak sudah menggesek-gesekkan senjata tajamnya pada mis vags sang istri yang sudah lembap dan basah.


"Lakukan secara perlahan, Tuan," lirih Rumanah dengan suara yang berat.


"Tenang saja," jawab Andre sembari mulai menusukkan senjata tajamnya pada lubang surgawi yang selalu ia inginkan.


Rumanah memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya saat senjata tajam milik suaminya sudah menancap ke dalam lubang yang sempit dan legit itu.


"Aaaach! Oooucch, enak sekali Tuan," racau Rumanah saat Andre sudah memaju mundurkan bokongnya. Mengguncang tubuh Rumanah dengan kekuatan yang sangat dahsyat.


"Oh My Good, beybii!" Andre semakin mempercepat laju permainannya. Sementara Rumanah tampak tak henti-hentinya mendes*ah dan mengerang.


Rumanah tipe wanita yang selalu mengekspresikan rasa nikmatnya dengan erangan dan des*ahan yang membabibuta. Suaranya menggema dan benar-benar terdengar dengan jelas oleh si cantik Sandrina.


"Aacchh ach, Tuan. Emmhh!" racau Rumanah.


Dalam waktu yang bersamaan...


Dor dor dor dor doooorrrrr!!!!!


Sandrina menggedor pintu kamar mandi dengan keras. Gadis kecil itu tampak merasa heran dan penasaran dengan kegiatan yang dilakukan oleh dua orang yang ada di dalam kamar mandi itu.


"Daddy, dewi peri! Apa yang kalian lakukan di dalam? Kenapa lama sekali?" teriak Sandrina yang tampak sedikit merasa sebal namun juga penasaran. Pasalnya, ia mendengar dengan jelas suara dewi peri nya yang sedang menger*ang imut-imut manja.


Sontak saja kedua orang di dalam tampak terbelalak kaget dan menghentikan permainan mereka. Keduanya tampak saling beradu pandang dan mulai panik dengan apa yang akan terjadi.


"Astaga, princess pasti mendengar suaramu, Annabelle!" ucap Andre dengan ekspresi wajah yang tegang dan panik.


"Haahh? Ya Tuhan, apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya Rumanah yang buru-buru memutar tubuhnya dan membasuh kemalua*nnya.


"Daddy! Apa yang Daddy lakukan pada dewi periiii???" kembali Sandrina berteriak. Dan hal itu semakin membuat Andre dan Rumanah panik.

__ADS_1


"Astaga, Tuan. Apa yang princess pikirkan saat ini?" ucap Rumanah sembari memakai celananya.


"Sebaiknya kita keluar sekarang juga, Belle," ajak Andre.


Rumanah mengangguk. Tentu saja ia tidak ingin putri sambungnya sampai marah ataupun curiga padanya.


Ceklek!


Andre membuka pintu kamar mandi. Di hadapannya, princess Sandrina tampak sedang menyilangkan tangannya di dadanya, menekuk wajahnya dan mengerucutkan bibirnya. Belum lagi tatapannya yang tajam dan ekspresi wajah sebal begitu ia tampakkan pada sang Daddy dan dewi peri nya.


"Eh, princess, belajarnya sudah selesai, sayang?" tanya Andre basa-basi dan tampak tersenyum kaku tanpa dosa.


Sandrina memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. "Sudah dari tadi!" jawabnya ketus.


"Hehehe, pintar. Ya sudah, sekarang waktunya princess bobok," ucap Andre seraya mengusap lembut puncak kepala putri mahkotanya itu.


Sandrina menggeleng. "No!" tolaknya.


Rumanah dan Andre tampak saling beradu pandang dan saling memberi isyarat jika mereka harus membujuk dan menjelaskan pada gadis kecil itu agar tidak marah. Tentu saja mereka akan mengeluarkan alasan yang tepat.


"Princess sayang, maafkan Dewi Peri dan Daddy, ya. Tadi, kami—" belum sampai Rumanah menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Sandrina menyelanya.


"Apa yang Daddy lakukan pada Dewi Peri? Kenapa Dewi Peri terdengar seperti sedang kesakitan?" tanya Sandrina penuh selidik.


"Hahaha, untung saja princess tidak berpikir macam-macam. Ia berpikir jika Daddy nya melakukan sesuatu yang akan menyakiti dewi peri nya. Ha ha ha," ucap Rumanah di dalam hati.


"Apa? Apa yang Daddy lakukan?" Andre tampak menatap heran dan juga bingung harus menjawab apa. Tentu saja ia harus beralasan.


"Ah, itu bukan apa-apa, princess sayang. Sebenarnya tadi Daddy princess hanya iseng memainkan sikat kamar mandi, Daddy tidak sengaja menyikat kaki dewi peri dengan sangat kasar. Jadi, dewi peri sedikit kesakitan. He he he," timpal Rumanah yang tampak memiliki ide untuk menjawab pertanyaan putri sambungnya itu.


Sandrina tampak mengerutkan dahinya dan menatap penuh intimidasi pada sang Daddy dan dewi peri nya. "Benarkah begitu?" tanyanya.


Andre dan Rumanah mengangguk mengiyakan.


"Ya, sayang. Tapi, untung saja princess berhasil menghentikan keisengan Daddy. Emh, sebaiknya tidak usah dipikirkan, dewi peri tidak apa-apa kok. Hehe," jawab Rumanah yang tampak berbohong.


Sandrina manggut-manggut tanda mengerti. Tentu saja anak kecil seperti Sandrina masih mudah dikibulin. Dan hal itu membuat Andre dan Rumanah tampak membuang napas mereka lega.


"Apakah belajarnya sudah selesai, sayang?" tanya Rumanah penuh kelembutan.

__ADS_1


Sandrina mengangguk. "Sudah, dari tadi." jawabnya sedikit kesal.


"Hehe, maafkan dewi peri, ya. Ya sudah, kalau gitu mendingan sekarang kita bobok aja yuk!" Rumanah mencoba membujuk sang putri sambungnya agar tidak marah lagi padanya.


"Hmmm, tidak apa-apa, princess hanya sebal saja. Soalnya ... lihat itu!" jawab Sandrina yang kemudian mengarahkan telunjuknya pada suatu tempat.


Rumanah dan Andre tampak menolehkan wajahnya dan menatap objek yang Sandrina tunjukkan. Dan, seketika keduanya tampak terjingkat kaget saat melihat ribuan semut sedang berkerumun menikmati tumpahan susu yang tadi Rumanah siramkan pada wajah suami tampannya.


"Haaah? Semuuuttt? Astaga, dewi peri lupa belum membersihkan lantainya," ucap Rumanah yang tampak terkejut melihat semut yang berkerumun. Entah dari mana datangnya semut-semut itu.


"Astaga, sebaiknya kau diam di sini, Belle. Aku akan panggilkan petugas kebersihan di rumah ini," ucap Andre yang kemudian melenggang pergi hendak memanggil petugas kebersihan untuk membersihkan lantai yang dipenuhi oleh semut.


Rumanah mengangguk mengiyakan. Ia pun mengajak princess Sandrina untuk naik ke atas ranjang.




"Udah ya, sayang. Sekarang princess bobok," ucap Rumanah seraya mengelus-elus puncak kepala putri sambungnya itu.


"Dewi peri bobok di sini lagi 'kan?" tanya gadis kecil itu.


Rumanah terdiam sejenak. "Ya Tuhan, dia mengira jika aku selalu tidur bersamanya di sini. Padahal aslinya, aku tidur bersama Daddy nya." ucapnya dalam hati.


"Tentu saja, sayang. Dewi peri mu akan selalu menemanimu bobok. Jadi, sekarang bobok lah yang nyenyak." Andre menimpali. Ia tampak mengusap lembut wajah cantik putri mahkotanya lalu mengecup lembut kening gadis kecil itu.


Sandrina tersenyum dan mengangguk. Ia pun mulai memejamkan matanya. Sementara Andre memberikan secarik kertas pada istri sirrinya. Dan setelah itu, ia bergegas keluar dari kamar putrinya itu.


Rumanah mengerutkan dahinya dan membuka secarik kertas yang suaminya berikan. Nampaknya sang suami menulis sesuatu di kertas putih itu.


_____________________________________________


Jangan lupa, saat princess sudah tidur, kau harus segera ke kamar kita. Jangan lupakan permainan kita tadi yang hanya sampai pertigaan jalan. Kau tahu? Kepalaku sakit karena gagal mencapai puncak. Aku harap kau tidak menolak dan membuatku marah. Oh ya, aku juga punya kejutan untukmu. Jadi, jangan sampai kau tidak ke sini. Aku akan menunggu sampai kau datang. Awas ya!


______________________________________________


Rumanah tersenyum kecil dan tampak geli membaca setiap kata yang ditulis oleh tangan suaminya.


"Ck, dasar. Memangnya kepalaku tidak sakit? Aku juga begitu menahan sakit di kepala karena kurang puas. Astaga!" cicit Rumanah di dalam hati.

__ADS_1


Setelah membaca surat itu, Rumanah pun bergegas menidurkan putri sambungnya agar benar-benar tidur nyenyak. Tentu saja ia tidak bisa melanggar perintah suami tampannya itu. Lagipula, ia sangat penasaran pada kejutan yang suaminya berikan padanya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2