Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Ferhat patah hati


__ADS_3

Di meja makan...


Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis tampak sudah menunggu kedua manusia yang sebentar lagi akan kembali meninggalkan mereka berdua. Meninggalkan untuk sementara, dan pastinya mereka akan bertemu lagi saat acara pernikahan Andre dan Rumanah nanti.


"Apakah Phoo sudah merasa puas melepas rindu dengan putri kesayanganmu itu?" Tanya Maae Lilis sembari meraih sepotong roti panggang di hadapannya.


Phoo Boon-Nam menggeleng kecil dan membuang napasnya berat. "Tentu saja Phoo tidak akan merasa ada puasnya, sayang. Sampai kapan pun Phoo akan tetap merindukan putri kita." Jawabnya dengan nada yang terdengar sedih dan berat.


Maae Lilis tersenyum simpul dan mengangguk. "Ya, itu pun yang dirasakan oleh Maae. Rasanya, Maae belum siap melepas anak kecil itu. Maae masih ingin menjaga dan melindunginya. Memanjakannya dengan penuh cinta dan kasih sayang." Ucapnya yang juga tampak terlihat bersedih.


"Ya, dia memang putri kita satu-satunya. Jadi, sudah pasti jika kita sangat berat melepaskan dirinya dan menyerahkan pada seorang pria yang sudah menjadi suaminya. Tapi, mau bagaimana lagi. Kalau sudah jodoh, tidak bisa diganggu gugat. Itu sudah kehendak Tuhan. Di usia Sanee yang baru sembilan belas tahun ini, Tuhan telah mengirimkan seorang pria yang dipercayai-Nya untuk menjaga dan melindungi Sanee." Balas Phoo Boon-Nam panjang kali lebar kali tinggi.


Maae Lilis mengangguk paham. Tentu saja ia pun tahu jika semuanya sudah campur tangan Tuhan. Dan dia, tentu saja tidak bisa menghentikan apa yang telah Tuhan kehendaki.


"Good morning, everybody!" Sapa Rumanah dengan senyuman manis dan manjanya. Ia baru saja turun bersama suaminya.


"Morning, guys." Balas Phoo Boon-Nam sembari meletakkan sebuah cangkir berisi kopi.


"Loh, kok cuma berdua. Ke mana Chaisay?" Tanya Rumanah sembari menarik sebuah kursi untuk suaminya.


"Itu dia. Chaisay sudah pulang tadi jam lima, sayang." Jawab Maae Lilis yang berhasil membuat Rumanah dan Andre terjingkat kaget.


"Apa? Sudah pulang?" Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan sedikit tidak percaya.


"Ya, dia buru-buru karena Neneknya sedang sakit dan tiada henti memanggil-manggil namanya. Maae tidak bisa menahannya jika sudah seperti itu. Dia hanya menitipkan salam untukmu dan Andre," ungkap Maae Lilis tanpa berbohong.


Ya, Chaisay memang sudah pulang sekitar dua jam yang lalu. Neneknya di Thailand sedang dirawat di rumah sakit. Sepertinya sakit parah dan selalu memanggil-manggil nama Chaisay. Pria tampan itu pun bergegas berangkat kembali setelah ia berpamitan pada Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis.


"Ya Tuhan, aku turut prihatin." Ucap Andre dengan raut wajah yang prihatin.


"Memangnya Nenek Chaisay sakit apa, Maae?" tanya Rumanah penasaran.


Maae Lilis menggeleng kecil. "Maae juga tidak tahu, sayang. Chaisay bicara tidak jelas sekali pada Maae. Tapi sepertinya sakit komplikasi gitu deh," jawabnya.


Rumanah dan Andre manggut-manggut tanda paham.


"Kasihan sekali. Mudah-mudahan cepat membaik," ucap Rumanah menyelipkan doa.


"Aamiin," sahut ketiga orang lainnya.


"Tapi, apakah Phoo dan Maae sudah berpesan padanya jika dia harus bicara dengan keluarganya mengenai pernikahan Sanee dengan Andre?" tanya Rumanah penuh selidik.


"Tentu saja sudah, sayang. Dan, jikalau pun kami tidak berpesan padanya. Dia juga pasti akan tetap mengatakan apa yang telah terjadi padamu," jawab Phoo Boon-Nam disertai senyumannya.


Rumanah mengangguk dan tersenyum. "Syukurlah kalau begitu. Soalnya, keluarga Chaisay harus tahu soal ini agar tidak salah paham dan kecewa." Ucapnya.


"Tenang saja, sayang. Tante Raylai Chai pasti akan mengerti. Dia juga bukan orang yang suka memaksa seperti...." Maae Lilis menolehkan wajahnya pada suaminya yang sedang mengunyah roti.


"Seperti siapa? Aku maksudmu?" Tuding Phoo Boon-Nam penuh desakan.


Maae Lilis menyengir kuda dan menggeleng kecil. "Itu yang selalu Sanee katakan tentangmu, sayang." Ucapnya sambil mengusap lembut tangan suaminya.


Phoo Boon-Nam memutar bola matanya malas dan kembali menyuapkan sepotong roti ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Ha ha ha, Phoo pasti tidak akan terima, Maae. Padahal, memang kenyataannya seperti itu," timpal Rumanah yang tampak tertawa renyah.


Maae Lilis terkekeh dan mengangguk. Sementara Andre hanya senyum-senyum kecil menyaksikan kehangatan antara kedua mertua dan istrinya.


"Sudah-sudah jangan dibahas. Sebaiknya sekarang cepat sarapan dulu, Sanee. Sebentar lagi kau akan berangkat, bukan?" Ujar Maae Lilis menyuruh putrinya segera sarapan mengisi perutnya.


"Okey," jawab Rumanah sambil menaikkan kedua alisnya.


Mereka pun sarapan bersama untuk terakhir kalinya sebelum Rumanah kembali ke Jakarta bersama suaminya.


***


Di tempat lain, seorang pria tampan bernama Ferhat tampak sedang berjalan santai masuk ke dalam perusahaan milik mantan Abang iparnya yaitu Andre. Ya, sudah dua hari Ferhat menjadi bagian dari perusahaan itu. Walaupun jabatannya hanya staf manager, tapi ia tetap senang dan akan melakukan pekerjaannya sebisa mungkin.


"Morning," sapa Ferhat pada pramusuara.


"Morning Pak Ferhat," balas pramusuara yang berjenis kelamin perempuan.


Ferhat memang termasuk pria yang humble dan hangat. Tidak sedikit temannya di dunia nyata maupun di dunia maya. Dia memang pria yang asyik dijadikan sebagai teman ataupun pasangan.


"Apakah Bu Ririn sudah datang?" tanya Ferhat pada security yang berjaga di lift khusus tim direksi dan jajarannya.


"Sudah sekitar tiga puluh menit yang lalu, Pak. Bu Ririn selalu datang awal setiap harinya," jawab security itu dengan senyum ramahnya.


Ferhat tersenyum dan mengangguk. "Okey, kalau gitu aku permisi," ucapnya.


"Pak Ferhat bisa gunakan lift ini juga, jika Anda ingin lebih cepat dan nyaman." Ujar security itu yang berhasil menghentikan langkah kaki Ferhat.


"Menggunakan lift ini? Lift khusus presiden direktur dan jajarannya?" tanya Ferhat dengan kedua alis yang bertautan.


Ferhat sedikit tersentak dan manggut-manggut tanda mengerti. "Baik, terima kasih, Pak. Tapi, saya tidak bisa menggunakan lift ini. Saya hanya seorang staf di sini, jadi tidak pantas masuk ke dalam lift khusus ini. Lagipula, saya tidak akan mencuri kesempatan dengan status saya sebagai mantan adik ipar Pak Andre. Jadi, terima kasih, ya. Saya menggunakan lift umum saja," ujarnya panjang kali lebar kali tinggi.


Security itu berdecak kagum dan begitu tidak mengira jika Ferhat akan menolak tawarannya. Ia sungguh tidak menyangka jika ternyata sikap dan sifat Ferhat jauh berbeda dengan mantan istri pemilik perusahaan itu yaitu Luna. Ya, tentu saja jauh berbeda. Luna, selalu semena-mena pada segenap pekerja di perusahaan itu.


"Kenapa aku jadi semakin semangat bekerja setelah tahu ada sosok wanita yang akhir-akhir ini menggelayuti pikiranku." Gumam Ferhat sambil berjalan menuju ruangan Ririn.


Ya, Ferhat memang selalu memikirkan wanita cantik yang tak sengaja bertabrakan dengannya saat acara pernikahan Meliza tempo hari. Wanita yang tersenyum manis dan tidak marah-marah saat ia menabrak tubuhnya. Hanya dua kata yang terucap yaitu 'no problem'. Hal itu benar-benar membuat Ferhat kagum dan selalu memikirkan wanita cantik yang ternyata adalah Ririn. Tentunya, Ferhat juga belum tahu jika Ririn adalah adik kandung Meliza.


"Cantiknya." Gumam Ferhat dalam hati. Manik matanya tampak melebar dan fokus menatap wajah cantik Ririn di balik kaca. Ia mengintip secara diam-diam. Mungkin setelah ini ia akan mengatur strategi agar bisa dekat dan selalu berkomunikasi dengan sekretaris Andre.


"Ehem!" terdengar dehaman yang berhasil membuat Ferhat terlonjak kaget.


"Astaga," desisnya sambil mengusap-usap kaca di hadapannya. "Kacanya kenapa masih berdebu seperti ini, ya? Apakah OB di sini kurang teliti?" Ucapnya mengalihkan dan berpura-pura seolah tengah mendapati kaca yang kotor oleh debu.


Seorang pria di belakang Ferhat tersenyum sinis dan hanya menggeleng kecil. Tanpa sepatah kata pun, ia tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Ririn dengan mudah dan seperti sudah mendapat izin.


"Astaga! Untung saja dia tidak curiga." Ucap Ferhat dengan suara yang sangat pelan. Pria tampan itu tampak membuang napasnya lega dan mengusap dadanya. "Tapi, siapa pria itu? Kenapa dia tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Bu Ririn? Apakah dia staf personalia?" Lanjutnya yang tampak bertanya-tanya sendiri.


Dengan penasaran, Ferhat kembali melemparkan pandangannya ke dalam ruangan Ririn melalui kaca di hadapannya.


"Hahhh??"


Betapa terkejutnya Ferhat saat melihat Ririn tengah cipika cipiki dengan pria yang tadi mengejutkannya. Mereka tampak mesra dan hangat. Sepertinya ada sebuah hubungan di antara keduanya.

__ADS_1


"Ouuwh, sakit, ini sangat sakit!" desis Ferhat sambil memegangi dadanya yang terasa sesak dan ulu hatinya terasa berdenyut.


Ferhat sangat syok melihat pemandangan yang membuatnya sesak napas dan sakit hati. Untung saja dia tidak sakit jantung sehingga masih bisa bertahan melihat kemesraan Ririn dengan pria yang sepertinya adalah kekasih wanita cantik itu.


Di dalam ruangan, Ririn tampak duduk berhadapan dengan pria tampan yang ternyata adalah kekasihnya. Senyum wanita itu tak hentinya mengembang.


"Sayang, apakah ini kejutan? Bukan kah kau masih di luar negeri?" tanya wanita cantik itu penuh selidik dan menatap penuh cinta pada kekasih tampannya itu.


Pria di hadapannya itu mengangguk dan tersenyum manis. "Aku rasa kau senang dengan kejutan ini, sayang." Jawabnya penuh percaya diri.


Ririn tersenyum. "Ya, aku senang. Tapi, untung saja Pak Andre sedang cuti. Jadi, kau bisa menemuiku di jam kantor," jawabnya.


"He he he, padahal aku tidak tahu jika bosmu sedang cuti," balas kekasih Ririn yang bernama Median itu.


Di sudut lain, Ferhat tampak termenung dan menekuk wajahnya. Pikirannya kalut dan bercabang ke mana-mana. Pekerjaan yang sudah harus ia input sedari tadi masih ia abaikan dan tidak tersentuh sedikit pun. Seperti seorang kekasih yang sedang diputuskan oleh kekasihnya. Seperti itulah yang sedang dirasakan oleh Ferhat saat ini.


"Ternyata dia sudah punya kekasih. Kenapa aku sangat kesal sekali melihat kemesraannya dengan pria tadi. Astaga! Hatiku benar-benar hancur sekali. Padahal, aku berharap bisa menjadi seorang pria yang spesial untuknya." Ferhat bicara dalam hati.


Ya, tentu saja Ferhat merasa hancur dan sakit hati saat ini. Pasalnya, Ririn adalah wanita cantik yang tidak sengaja membuatnya jatuh cinta hanya dalam sekejap saja. Ferhat yang memiliki perasaan pada Ririn tampak berniat untuk mendekati dan menjadikan wanita cantik itu sebagai penghuni tetap di dalam hatinya. Namun sayang, seperti lilin yang tiba-tiba padam diterpa angin, semangat Ferhat pun kini sedikit terkubur dan terkikis.


"Pak Ferhat, saya perhatikan sejak tadi Anda terus bengong dan tidak melakukan apa-apa. Apakah Anda sedang tidak baik-baik saja?" tanya seorang staf yang meja kerjanya di seberang meja kerja Ferhat.


Ferhat menolehkan wajahnya dan mengangkat kedua alisnya. "Hatiku yang sedang tidak baik-baik saja," jawabnya malas-malas.


Wanita itu tampak sedikit terhenyak. "Ya Tuhan, saya turut prihatin, Pak Ferhat. Tapi, jika Anda butuh bantuan, saya sangat bersedia membantu Anda," ucapnya menawarkan diri. Sepertinya wanita ini menyukai Ferhat. Sebab, dari awal Ferhat bekerja, wanita satu ini sering memperhatikan gerak-geriknya.


"Bisakah kau panggil aku dengan panggilan nama saja? Aku merasa paling tua di dunia jika kau memanggilku Pak Ferhat!" tegur Ferhat yang tampak menekan setiap ucapannya.


Si wanita itu tampak tersentak kaget dan tercengang dengan penegasan Ferhat. Namun ia tetap mengangguk pasrah. "Ba–baik, Ferhat." Amel menjawab pasrah.


Ferhat memutar bola matanya malas dan kembali ke posisi semula. Memalingkan wajahnya dari Amel yang sepertinya ingin berteman dengannya.


"Huft, aku jadi kurang semangat kalau seperti ini caranya." Ferhat membatin sambil menatap setumpuk pekerjaan di hadapannya.


Di ruangan Ririn...


"Sepertinya seseorang yang bekerja di perusahaan ini ada yang mengagumimu, sayang." Median berkata dengan raut wajah yang terlihat cemburu.


Ririn tampak mengerutkan keningnya tak mengerti, "Mengagumiku? Siapa, sayang? Kamu jangan suka ngaco deh!" selorohnya sedikit tak percaya.


Media menggeleng kecil. Dan kini tatapannya begitu serius pada kekasihnya, "Aku tidak ngaco. Dengar, tadi aku melihat seorang pria sedang mengintip mu dari kaca itu!" ujarnya sambil menunjuk pada kaca yang tembus pandang.


Ririn tampak terhenyak kaget mendengar ucapan kekasihnya. Ditatapnya kaca yang berderet di dinding ruangannya dengan ekspresi seram.


"Saat kukejutkan dia, pria itu beralibi jika dia sedang membersihkan debu di kaca itu. Padahal, dapat dilihat dengan jelas jika tidak ada debu sedikit pun di sana. Dia malah berpura-pura menggerutu pada OB yang katanya tidak teliti," ungkap Median panjang lebar.


Tentu saja Median harus memberitahu kekasihnya agar waspada dan hati-hati. Ia pun khawatir kekasihnya akan dicolong orang.


"Astaga, aku benar-benar tidak pernah membayangkan itu terjadi, sayang. Tapi, selama ini tidak ada karyawan atau staf, atau bahkan para direksi beserta jajarannya yang menonjolkan sikap aneh padaku. Tidak ada! Semuanya biasa-biasa saja, sayang. Lantas, siapa orang itu? Aku benar-benar heran dan juga penasaran." Ririn merasa sangat tidak yakin dan sedikit tidak percaya jika ada yang mengaguminya di sana.


"Entahlah! Yang jelas, saat ini kau harus wasapda dan jaga diri, ya. Aku tidak mau kau kenapa-napa. Pokoknya, jangan tertarik pada siapa pun selain aku!" tegas Median penuh penekanan.


Ririn mengangguk mengerti. Namun sebenarnya ia masih penasaran pada sosok pria yang dimaksud oleh kekasihnya itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2