Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Telphon dari princess


__ADS_3

Dengan sedikit kesal Andre menyambar ponsel miliknya yang ia biarkan tergeletak di atas nakas. Namun, saat ia menatap layar ponselnya, seketika ia membulatkan kedua bola matanya penuh dan menelan ludahnya kasar.


"Siapa yang menelphon, Tuan?" tanya Rumanah yang masih terbaring di atas ranjang.


Andre menolehkan wajahnya pada istrinya. "Princess, Belle." jawabnya sedikit ragu.


"Hah??" gadis desa itu pun sedikit terperangah.


"Sudah tidak apa-apa, abaikan saja! Paling dia minta dibelikan es cream." duda tampan itu seakan tak peduli dengan putrinya. Yang ia pikirkan saat ini adalah mempersatukan dua jenis kelamin yang berbeda.


"Eh, jangan begitu, Tuan. Jawab saja telphonnya, siapa tahu ada hal yang penting," ucap Rumanah seraya menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Andre masih diam dan sedikit ragu. Jika ia menjawab telphon dari putri kecilnya, ia takut kegiatannya terhambat dan mungkin bisa tertunda. Tapi, jika tidak dijawab, ia pun takut ada hal yang penting yang ingin putrinya sampaikan.


"Sudah jawab saja, Tuan. Saya sungguh tidak apa-apa!" paksa Rumanah.


Dengan berat Andre menggeser layar ponselnya. Menjawab panggilan masuk ke dalam ponselnya itu.


"Hallo, princess. Ada apa sayang?" ucap Andre menyapa.putrinya melalui telphon.


"Hallo, Dadd. Daddy di mana sekarang? Cepat pulang, Dadd. Kenapa lama sekali! Apakah dewi peri baik-baik saja?" serbu gadis kecil yang bernama Sandrina itu.


Andre mengusap wajahnya kasar dan mendudukkan bokongnya di sisi ranjang.


"Emh, tentu saja dewi perimu baik-baik saja, sayang. Cuma tadi antriannya panjang sekali, jadi sedikit lama, sayang." Andre menjawab bohong.


Rumanah yang mendengar itu hanya dapat membuang napas berat dan memutar bola matanya malas.


"Ya sudah jika baik-baik saja, cepatlah pulang! Ini bukan sedikit lama, Daddy! Tapi sangat lamaaaaa sekali. Princess sudah pulang sedari tadi. Tapi Daddy dengan dewi peri belum pulang juga. Apa jangan-jangan kalian berdua sengaja jalan-jalan tanpa mengajak princess, yaaa!?" cerocos gadis kecil itu yang sepertinya sangat sebal karena lama menunggu kedatangan Daddy dan pengasuhnya.

__ADS_1


"Astaga, bicara apa kamu, sayang? Kami tidak jalan-jalan ke mana-mana. Baiklah, sebentar lagi dewi peri pulang bersama Daddy princess. Tunggu sebentar ya, sayang." kali ini Rumanah yang bicara pada asuhannya itu. Eh tidak, sekarang bukan asuhan lagi. Akan tetapi anak sambungnya.


Andre memelototkan matanya pada istrinya. Nampaknya ia tidak setuju dengan ucapan istrinya itu.


"Ya sudah jika begitu cepatlah pulang! Princess kesepian, Uncle Fer tiba-tiba ada kepentingan yang mendadak," rengek gadis kecil itu yang tampak memaksa.


"Iya, princess sayang. Sebentar lagi kami akan—" Rumanah tampak menggantung ucapannya saat tiba-tiba Andre meletakkan telunjuknya pada bibir tipis istrinya. Tentu saja hal itu membuat Rumanah diam karena sang suami memintanya untuk tidak bicara lagi.


"Tidak, princess. Kali ini Daddy mohon pada princess untuk bersabar sebentar saja. Sebab, kami belum selesai melakukan pemeriksaan. Daddy harap princess bisa mengerti. Nanti Daddy akan membelikan ice cream dan camilan yang banyak untuk princess," ujar pria tampan itu yang tampak berusaha berbohong dan berharap putri kecilnya akan percaya padanya.


"Hah? Belum selesai? Kenapa lama sekali siiii? Tapi, ya sudah tidak apa-apa, yang penting dewi peri baik-baik saja dan bisa segera kembali ke rumah. Ya sudah, princess tunggu ice cream sama camilannya, ya!" ucap gadis kecil yang ternyata bisa mengerti. Tentu saja ia tidak berpikir macam-macam dan mudah saja percaya. Namanya juga anak kecil. Hi hi hi.


Andre tersenyum lebar dan merasa senang. Hatinya bersorak riang gembira. Sementara Rumanah tampak menatap tak percaya dan menggeleng-gelengkan kepalanya sangat tidak mengerti.


Setelah Andre selesai bicara dengan putrinya, pria tampan itu pun kembali mendekati istrinya yang menatap tajam padanya.


"Annabelle, princess tidak apa-apa menunggu kita di rumah. Jadi, lebih baik sekarang kita lanjutkan permainannya!" ucap pria tampan itu seraya menyibakkan selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya itu.


Andre membulatkan kedua bola matanya penuh dan mengusap wajahnya frustasi.


"Apa kau bilang? Tidak mau melakukannya? Kau tidak ingat jika sekarang kau sudah sah menjadi istriku, Annabelle! Jadi, kau tidak bisa menolak keinginan suamimu ini!" omel Andre yang tampak kesal.


"Iya, saya tahu, Tuan. Tapi, saya kasihan pada princess. Ayolah Tuan mengerti, apakah Tuan tidak memikirkan putri Tuan? Soal bercinta, kita bisa melakukannya lain waktu. Mungkin nanti malam saat princess terpejam. Ayolah mengerti, Tuan! Saya sangat memikirkan princess, kita tidak bisa membohonginya dan menyiksanya seperti ini. Jangan kedepankan ego kita, Tuan. Pikirkan putri Tuan!" ujar Rumanah panjang lebar. Gadis desa itu tampak sangat memikirkan putri sambungnya itu.


Andre terdiam sejenak dan seperti sedang berpikir keras. Tentu saja ucapan gadis desa di hadapannya seakan menampar wajahnya. Dengan kasar ia mengusap wajahnya dan mengacak rambutnya frustasi.


"Ck, kau benar-benar!" decak pria tampan itu. "Ya sudah, sekarang kita pulang. Tapi, kau harus janji jika nanti malam kau akan melakukannya lagi!" desak Andre dengan tatapan tajamnya.


Rumanah mengangguk serta tersenyum kecil. Tentu saja ia bisa berjanji karena saat ini ia sudah sah menjadi istri pria di hadapannya itu.

__ADS_1


"Sialan, ada saja yang menggagalkan moment honeymoon kita, Belle." pria tampan itu tampak masih saja menggerutu kesal.


"Hehehehe, jangan menggerutu seperti itu, Tuan. Lagipula yang menggagalkak adalah putri Anda sendiri," ucap Rumanah seraya memakai dress hitamnya.


Andre tersenyum kecil seraya mendekati istrinya. "Sekarang, kau pun sudah berhak menjadikannya anakmu, Annabelle. Kau adalah Mommy baru untuk princess. Untung saja princess sangat mengharapkan dan menyukaimu, Belle. Jadi, aku yakin dia pasti sangat bahagia saat tahu kau sudah menjadi Mommy untuknya," ucap pria tampan itu seraya melingkarkan tangannya pada pinggang ramping istrinya itu.


Rumanah tersenyum. Jujur saja ia sangat senang mendengar ucapan suaminya itu. Tapi, tentu saja ia perlu bersabar mengungkap semua itu.


"Ya, Tuan. Saya tahu," jawab Rumanah seraya menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya.


"Belle, kau ingin princess memanggilmu apa? Mommy, Mami, Mama, Bunda, Ibu?" tanya Andre.


"Emh, saya tidak ingin dipanggil Mommy, Tuan. Karena Mommy adalah mantan istri Anda," jawab Rumanah.


"Hehehe, lantas, kau ingin dipanggil apa?" tanya Andre lagi.


Rumanah terdiam sejenak, nampaknya ia sedang berpikir keras. Hingga beberapa detik kemudian...


"Bunda saja, Tuan," ucap Rumanah tanpa ragu.


Andre tersenyum. "Sip! Sangat pas dan cocok sekali, Bunda! He he he," ucap Andre disertai cengengesnya.


Rumanah tersenyum senang dan melepaskan tangan suaminya.


"Sebaiknya kita bergegas, Tuan," ucapnya.


Andre mengangguk mengiyakan. Setelah dirasa cukup, mereka berdua pun bergegas pergi meninggalkan kamar yang telah memberikan kenangan indah namun juga mengesalkan bagi pasangan pengantin baru itu.


Kasihan sekali ya, Tuan Andre. Pasti sangat kesal karena harus menahan hasratnya lagi. Hihihi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2