Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Ada sesuatu dibalik sesuatu


__ADS_3

#Flashback On


Andre menatap tajam pada seorang pria yang sudah tak asing lagi baginya. Dengan tatapan penuh intimidasi dan penyelidikan, Andre** benar-benar membuat pria di hadapannya terpaku dan tegang dalam kepanikan.


"Setelah kuperhatikan, kau sangat akrab dan dekat dengan Rumanah," ucap Andre pada Muhsin.


Ya, saat Andre telah menyelesaikan sarapan paginya. Pria tampan itu menyuruh Muhsin untuk menemuinya di kamarnya. Tentu saja ia akan menyidang si koki itu, seperti yang ia katakan beberapa hari yang lalu.


"Kami dekat hanya sekedar teman sesama pegawai di rumah Anda, Tuan," jawab Muhsin dengan wajah yang ia tundukkan.


Andre menyilangkan kakinya dan memainkan telunjuknya pada dagunya. "Benarkah hanya sebatas itu teman?" selidiknya.


Muhsin mengangguk tanpa ragu. Walaupun ia sangat heran dengan persidangan kali ini, tapi ia tetap mencoba tenang dan menjawab apa adanya.


"Benar, Tuan. Kami tidak pernah mengobrol selain saat bertemu di mini bar dan di meja makan," jawab Muhsin dengan lugas.


Andre manggut-manggut tanda mengerti. Namun, tetap saja ia harus terus menyelidiki.


"Aneh sekali. Kenapa Tuan Andre menanyakan kedekatanku dengan Rumanah? Apa jangan-jangan kecurigaanku selama ini benar-benar terjadi?" ucap Muhsin dalam hati.


"Tapi, kau selalu perhatian padanya. Apakah kau jatuh cinta pada wanita itu?" desak Andre yang berhasil membuat Muhsin terjingkat kaget.


"Apa? Ja–jatuh cinta??" Muhsin membulatkan kedua bola matanya penuh. Ia benar-benar semakin tak mengerti. Kenapa dia harus disidang sedetail ini mengenai kedekatannya dengan Rumanah. Si pemecah rekor pegawai perempuan pertama di rumah itu.


"Benar, bukan? Kau jatuh cinta padanya?" selidik Andre semakin mendesak.


Dengan cepat Muhsin menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan! Saya hanya menganggapnya sebagai teman saya. Tidak lebih! Saya tidak memiliki perasaan apa-apa pada Rumanah. Saya benar-benar jujur dan tidak berbohong, Tuan!" jawabnya yang tampak berusaha meyakinkan majikannya.


Andre memincingkan matanya, menatap tajam serta penuh intimidasi pada chef Muhsin. "Dari jawaban dan ekspresi wajahnya, ia terlihat tidak sedang berbohong," ucapnya dalam hati.


"Ada apa ini? Kenapa aku seperti seorang pria hidung belang yang ketahuan menggaet istri orang. Astaga!" cerocos Muhsin dalam hati.


"Hmmm, baiklah kalau begitu. Aku percaya padamu," ucap Andre seraya menurunkan kakinya.


Muhsin sedikit mendongakkan wajahnya dan membuang napasnya lega. Aman!

__ADS_1


"Tapi, kuperingatkan untuk tidak macam-macam di rumah ini. Jangan lagi kau terlalu dekat dan akrab dengan Rumanah, apalagi sampai menjalin hubungan dengannya. Emh, maksudku ... jangan sampai para pegawai di rumah ini ada yang berpacaran dengan wanita itu. Karena, aku tidak suka melihat para pegawai berpacaran dengan pegawai lainnya. Apalagi dalam satu rumah ini. Hal itu akan membuat pekerjaan kalian terbengkalai karena sibuk pacaran!" tegas Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.


Muhsin mengangguk tanda mengerti. Tentu saja ia harus menaati apa yang majikannya peringatkan.


"Ya sudah, kau boleh keluar," ucap Andre dengan nada yang biasa.


"Baik, Tuan," jawab Muhsin sembari mengangguk dan sedikit membungkuk.


Setelah itu Muhsin pun bergegas keluar dari kamar majikannya. Sementara Andre tampak membuang napasnya kasar dan beranjak dari duduknya.


"Huffft! Semoga saja dia nggak curiga padaku. Astaga! Ini karena aku takut kehilangan wanita yang penuh dengan misteri itu," ucap Andre seraya menatap langit.


#Flashback Off


"Jadi begitu ceritanya, Tuan Ferhat," ucap Muhsin saat ia selesai menceritakan apa yang terjadi pada dirinya di dalam kamar majikannya tadi.


Ferhat tampak mendengarkan secara saksama dan manggut-manggut. Namun, ia sangat terkejut dan semakin curiga juga penasaran dengan apa yang terjadi pada Rumanah dan mantan kakak iparnya.


"Aneh sekali. Ini benar-benar membuatku semakin curiga. Sepertinya aku memang harus menyelidikinya," ucap Ferhat.


"Hah? Benarkah itu?" selidik Ferhat yang tampak terkaget-kaget.


"Ya, saya tidak berbohong, Tuan. Bahkan semalam, saya melihat ... astaga! Entah ini mimpi atau tidak, saya melihat..." Muhsin tampak terlihat ragu untuk mengungkap semuanya.


"Kau melihat apa, Muhsin?" tanya Ferhat penasaran.


Muhsin terdiam sejenak, dan seperti sedang mengumpulkan keberanian. "Emh, bagaimana ya. Saya tidak bermaksud membuka privasi Tuan Andre. Tapi, ini benar-benar membuat saya sakit kepala karena memikirkannya," ucapnya yang semakin membuat Ferhat penasaran.


"Ck, bicaralah yang jelas, Muhsin! Jangan bicara setengah-setengah seperti itu!" desak Ferhat yang tampak gereget dan kesal.


Muhsin menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan. "Semalam saya melihat Tuan Andre masuk ke dalam kamar Rumanah," ungkapnya yang berhasil membuat Ferhat terbelalak kaget.


"Whaattt???" Ferhat tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu terkaget-kaget.


Muhsin mengangguk. "Ya, Tuan. Mungkin Tuan Andre pikir, saya tidak melihatnya," ucapnya.

__ADS_1


Ferhat mengusap wajahnya kasar dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Astaga! Sepertinya memang ada sesuatu dibalik sesuatu. Semalam, aku melihat Rumanah masuk ke dalam lift, dan kau melihat Bang Andre masuk ke dalam kamar Rumanah." ucapnya.


Muhsin mengangguk. "Saya pun merasa demikian, Tuan. Bahkan saya melihat kecemburuan di mata Tuan Andre saat saya mencoba memberi perhatian pada Rumanah," ungkapnya.


"Hmmmm, tidak diragukan lagi. Sepertinya kita harus menyelidiki ini semua, Muh." Ferhat berkata sembari menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


"Ya, saya pun sangat tertarik untuk menyelidiki ini semua," balas Muhsin.




Drrrttt... Ddrrrttt... Drrrrttt


Gawai Rumanah bergetar menandakan pesan masuk ke dalam aplikasi whatsappnya. Dengan cepat ia menolehkan wajahnya dan seketika senyuman manisnya terukir di wajaj cantiknya.


"Princess sayang, tunggu sebentar, ya. Dewi Peri akan menyiapkan sesuatu," ucap Rumanah pada putri sambungnya setelah ia membaca pesan yang masuk ke dalam gawainya.


Sandrina yang sedang memainkan tab nya pun langsung mengangguk. Dan hal itu membuat Rumanah tersenyum dan bergegas keluar dari kamar putri sambungnya.


"Ada apa lagi suami manja ini. Sudah tahu di rumah ini masih ada mantan adik iparnya, dia tetap saja memintaku terus-terusan ke kamarnya," cerocos Rumanah dalam hati.


Wanita cantik itu melangkahkan kakinya menuju lift. Manik matanya bekerja semaksimal mungkin untuk mengamati keadaan di tempat ini.


"Kau mau ke mana, Rumrum?" terdengar suara Ferhat yang berhasil membuat Rumanah terjingkat kaget dan refleks menghentikan langkahnya tepat di dekat lift.


Rumanah menolehkan wajahnya dan tersenyum kaku. Tentu saja ia tampak tegang dan gugup.


"Emh, aku ... tadi mataku menangkap sawang di dekat lift ini, Ferfer. Tapi sepertinya itu hanya perasaanku saja. Ternyata tidak ada apa-apa di sini. Hehehe," jawab Rumanah dengan alasan yang tidak masuk akal.


Ferhat mengerutkan dahinya. "Alasan, aku tahu kau akan masuk ke dalam lift, Rumrum." ucapnya dalam hati.


"Astaga, aku harap pria ini tidak menaruh curiga padaku." Rumanah berucap dalam hati.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2