
Andre mengusap wajahnya. Melihat gadis desa itu berlari membuatnya tertantang untuk mengejarnya. Bukan Andre namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Bagaimana pun cara dan jalannya, duda tampan itu akan selalu berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Jangan kabur kau, Annabelle sialan!" pekik Andre seraya berlari mengejar pengasuh putri kecilnya itu. Sementara yang dikejar tampak sedang menekan tombol di depan lift, tentu saja ia sudah akan masuk ke dalam kift itu.
"Waduh, gawat suraswat nii. Majikan galak itu malah mengejarku, aku harus cepat-cepat!" gumam gadis desa itu yang tampak sedikit panik dan ngos-ngosan.
"Tunggu, Annabelle!" teriak Andre yang kini sudah semakin dekat dengan gadis desa yang sudah akan masuk ke dalam lift.
"Aaa, cepat-cepat, jangan sampai majikan galak itu masuk bersamaku," ucap Rumanah seraya melangkahkan kakinya ke dalam lift itu.
Pintu lift sedikit demi sedikit sudah mulai tertutup, namun sebelum benar-benar tertutup, Andre tampak mendapatkan keberuntungan saat itu. Ya, dia berhasil menerobos masuk sebelum pintu lift tertutup.
"Haaah, kenapa Anda ikut masuk, Tuan?" ucap Rumanah yang tampak panik.
"Hng, kau memang benar-benar menyebalkan, Annabelle!" duda tampan itu mengusap wajahnya kasar lalu memepet Rumanah agar bersandar pada dinding lift.
"Jangan mac—" Rumanah belum selesai bicara, dengan cepat Andre membungkam mulutnya dengan ciumannya. Huh, dasar duda mesum! Main cium-cium saja!
"Eeeemmmmmhhhh!" gadis desa itu bergumam seraya berusaha mendorong tubuh majikan galaknya agar tidak memepet kepadanya dan agar melepaskan ciumannya.
Namun duda tampan itu tak peduli dan malah semakin membabi buta dengan meremas balon kenyal milik gadis desa itu.
"Eeeemhhhhh!" kembali gadis desa itu berontak dan berusaha melepaskan diri.
Namun, tetap saja hal itu tidak berpengaruh bagi pria dewasa seperti Andre. Dalam waktu beberapa detik itu, Andre tampak menghabisi bibir dan lidah Rumanah dengan ciumannya.
Tring!
Seketika pintu lift terbuka. Dan hal itu membuat Andre terpaksa harus melepaskan ciumannya.
"Sssh, kenapa cepat sekali!" desis duda tampan itu kesal.
Sementara Rumanah tampak mengatur napasnya dan mengusap bibirnya yang kian membengkak dan memar akibat perbuatan majikan galaknya itu. Andre memang galak dan ganas. Ia begitu buas menyedot bibir tipis milik Rumanah.
"Menyebalkan!" dengus duda tampan itu yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari lift itu. Tentu saja meninggalkan Rumanah yang sedang mengatur napasnya agar kembali normal.
"Apa katanya? Menyebalkan? Ha ha ha, dia memang kurang berkaca dan harus sering berkaca. Padahal, dia yang sangat menyebalkan dalam hal apa pun!" sungut Rumanah yang tampak kesal.
__ADS_1
Gadis desa itu meletakkan tangan kanannya di dadanya. Kemudian ia menarik napas dalam lalu membuangnya kasar. Masih banyak hal lain yang akan ia lalui di rumah mewah itu. Yang pasti hal yang akan ia lalui bersama duda tampan itu.
Di dalam kamar princess...
Ferhat memainkan gawainya sendiri, entah apa yang sedang pria itu lakukan dengan gawainya. Yang jelas, ia tampak terlihat sedang asyik.
Ceklek!
Jebrueeed!
Andre membuka handle pintu lalu mendorongnya dengan kasar. Dua orang yang berada di dalam tampak tersentak kaget.
"Astaga, Bang Andre! Bisakah kau membuka pintu lebih pelan dari ini? Hampir saja jantungku tergelincir dari tempatnya," cicit Ferhat setengah kesal.
"Ha ha ha ha, kalau aku membuka pintu lebih pelan dari ini, aku takut jantungmu akan terperosot hingga jatuh dan terguling di dasar jurang, Fer!" seloroh Andre disertai tawa ngakaknya.
"Tidak apa-apa terguling di dasar jurang. Yang penting bukan tergelincir di dasar lautan penderitaan saja, hu hu hu," balas Ferhat sedikit berpantun. Hah? Pantun? Ha ha.
"Ha ha ha ha," Andre tertawa terbahak-bahak.
"He he he, Uncle tidak curhat, sayang." pria tampan itu berkata dengan lembut.
"Daddy juga! Tadi tu Daddy buka pintunya bukan pelan, tapi sangat kencang! Bagaimana kami bisa terkejut jika Daddy membuka pintunya dengan pelan. Astaga!" sungut gadis kecil itu mengomeli sang Daddy.
Andre tersenyum kecil serta menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. "He he he he, maksud Daddy begitu, sayang." ucapnya.
"Hmm, kenapa Daddy lama sekali?" tanya gadis kecil itu.
"Emh, sorry tadi Daddy sedikit ada pekerjaan, sayang," ucap duda tampan itu sedikit berbohong.
"Princess sayang, ini diminum dulu susunya," ucap Rumanah seraya membawa segelas susu di atas nampan kecil besera camilannya. Walaupun tangan kirinya masih terbalut perban dan kain kasa, juga masih terdapat jahitan di sana, tetapi gadis desa itu masih terlihat lincah menggunakan satu tangan.
"Astaga, Rumrum. Kenapa kau tidak minta bantuanku akan hal ini? Ya Tuhan, bagaimana kalau kau tidak kuat membawa ini? Ck, lain kali kau harus minta bantuan padaku, Rumrum!" tegur Ferhat yang tampak perhatian. Pria tampan itu tampak buru-buru menyambar susu dan camilan yang ada di tangan Rumanah. Tentu saja ia harus membantunya.
"He he he, tidak apa-apa, Ferfer. Aku sungguh baik-baik saja. Dan aku bisa melakukannya," sanggah Rumanah.
"Ck, jangan ngeyel, Rumruuuuum!" decak pria tampan itu seraya mencubit gemas hidung mancung gadis desa itu.
__ADS_1
Andre membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap tajam pada gadis desa itu. Ia benar-benar kesal melihat Ferhat mencubit hidung pengasuh putri kecilnya itu. Namun, walaupun ia kesal, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menahan kesalnya.
"Kalau gelasnya jatuh dan pecah, bagaimana? Aku takut tanganmu yang akan terluka," ucap Ferhat yang semakin membuat Andre kesal.
"He he he, terima kasih atas perhatiannya, Ferfer," ucap Rumanah seraya menepuk-nepuk lengan kekar pria tampan itu. "Tapi aku sungguh tidak apa-apa." lanjutnya.
"Tetap saja kau harus berhati-hati!" tegas Ferhat seraya menepuk jidat Rumanah.
"Auw!" gadis desa itu meringis kecil. Dan hal itu membuat Andre memejamkan mata dan seketika teringat kembali saat Rumanah meringis karena ulahnya.
"Ck, sialan!" desis Andre dengan suara yang jelas dan terdengar oleh ketiga orang yang ada di sana.
"Siapa yang sialan, Dadd?" tanya Sandrina tak mengerti.
"Hahh??" Andre melongo sedikit kaget.
Sementara Rumanah dan Ferhat tampak saling beradu pandang tak mengerti.
"Daddy kesal pada dewi peri kah?" tebak gadis kecil itu penuh selidik.
Andre tampak terbelalak kaget dan seketika ia melirikkan matanya pada Rumanah dan Ferhat.
"Kesal? Kenapa Daddy harus kesal, princess?" tanya Andre seraya mendekati putri kecilnya.
"Karena dewi peri memaksakan diri membawa susu dan camilan ini," jawab Sandrina.
Andre terdiam sejenak dan kemudian ia menyunggingkan senyuman manisnya. "Oooh, iya sayang. Daddy sangat kesal akan hal itu. Lain kali kau beritahu dewi perimu agar tidak melakukannya lagi!" jawab duda tampan itu.
"Baik, Dadd!" jawab gadis kecil itu.
"Bagus!" puji Andre seraya mengusap lembut puncak kepala putri kecilnya.
Sandrina tersenyum. Sementara Rumanah tampak membuang napasnya lega.
Sepertinya Andre semakin kesemsem nii pada Annabelle. He he he he, jangan lupa disawer ya, guys!
BERSAMBUNG...
__ADS_1