
"Maksudmu, para pegawai di rumah ini kurang jeli membersihkan rumah ini?" desak Ferhat penuh sindiran.
Rumanah menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. "He he he, bukan seperti itu, Fer. Emh, maksudku—"
Drrrttt... Drrttt... Drrrttt...
Rumanah menggantung ucapannya saat tiba-tiba ponselnya bergetar beberapa kali. Dengan cepat ia menatap layar ponselnya. Dan seketika kedua bola matanya tampak membulat penuh.
"Hah, kenapa harus menelpon siii. Dasar tidak sabaran!" desis Rumanah dalam hati.
Ferhat memperhatikan raut wajah Rumanah yang terlihat tegang, gugup, serta panik. Hal itu semakin membuatnya yakin jika di antara Rumanah dan Andre ada sesuatu di balik sesuatu.
"Ada apa? Kenapa kau tidak menjawab teleponnya?" selidik Ferhat penuh sindiran.
Rumanah tersenyum kaku dan menggelengkan kepalanya. "Emh, tidak apa-apa, Ferfer. Ini dari ... emh, nomor tidak dikenal," jawabnya dengan sedikit tergagap.
Ferhat menatap lekat manik mata wanita di hadapannya. Tergambar jelas kebohongan di sana.
"Biarkan aku yang menjawabnya!" ucap Ferhat sembari hendak merebut gawai milik wanita di hadapannya.
"Tidak, Fer! Biarkan saja," dengan cepat Rumanah menolak dan menyembunyikan gawainya di belakang tubuhnya.
Ferhat membuang napasnya kasar dan semakin ingin melihat siapa yang menghubungi Rumanah. Hal itu membuatnya kembali berusaha merebut gawai milik wanita cantik di hadapannya.
"Berikan padaku!" ucap Ferhat sembari merebut gawai di tangan Rumanah.
"Jangaaaaan!" Rumanah berteriak panik dan histeris, tangannya mencoba mempertahankan gawai miliknya.
"Biarkan aku yang bicara, barangkali itu nomor-nomor si domba hitam," paksa Ferhat sembari mencoba beruasaha merebut gawai milik Rumanah.
Rumanah menggeleng. "Tidak, Fer. Tidak usah! Abaikan saja. Lepaskan tanganmu!" sangkalnya.
Ferhat tak ingin percaya begitu saja pada wanita di hadapannya itu. Tentu saja dengan sikap dan tingkah Rumanah yang seperti itu membuat Ferhat semakin curiga dan penasaran.
"Kau tidak bisa mengabaikan penelepon seperti itu, Rumrum. Berikan padaku! Biarkan aku yang menanganinya!" paksa Ferhat sebisa mungkin.
"Tidak, Fer. Tidak perlu!" tolak Rumanah sembari mempertahankan gawainya. Sementara gawainya kembali bergetar, dan hal itu semakin membuat Rumanah panik.
__ADS_1
Dengan cepat manik mata Ferhat mengamati layar gawai yang sedang ia rebut dari tangan Rumanah. Namun, dengan cepat pula Rumanah mematikan gawainya agar tidak dapat dilihat oleh Ferhat.
"Sialan! Dia mematikan ponselnya,"desis Ferhat sebal.
"Lepaskan, Fer. Ini sama sekali bukan urusanmu!" tegas Rumanah.
"No! Ini urusanku, Rumrum. Karena kau sudah kuanggap.sebagai adikku!" Ferhat tak mau kalah.
Rumanah tampak menatap kesal dan membuang napasnya kasar. Tak ada lagi yang bisa ia katakan pada pria yang berusaha merebut gawainya itu.
"Berikan!" pinta Ferhat.
"Tidak!" tolak Rumanah.
"Berikan!" paksa Ferhat.
"Tidak!" Rumanah tetap teguh pendirian.
Perebutan gawai itu pun berlangsung penuh ketegangan dan keseriusan. Ferhat terus berusaha merebut gawai milik Rumanah, sementara sang pemilik gawai pun berusaha mempertahankan miliknya.
Sementara itu di kamar Andre...
Tut tut tut tut tut*...
"Ck, menyebalkan! Sudah lama tak menjawab telepon dariku. Kini gawainya pun dinonaktifkan. Ada apa dengannya? Apa yang sebenarnya terjadi?" decak Andre yang tampak kesal.
Beberapa menit Andre menunggu sang istri yang ia suruh menemuinya di kamar. Tapi, lama kelamaan kesabarannya terkikis dan kini ia merasa kesal. Terlebih, saat Rumanah mematikan gawainya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada istri cantiknya itu.
"Sepertinya aku harus menemuinya," ucap Andre yang kemudian beranjak dari duduknya. Pria tampan itu sudah tidak bisa menunggu lama lagi. Di samping itu juga, ia sangat penasaran apa yang terjadi pada istrinya.
Di depan lift...
"Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti menyembunyikan sesuatu?" sindir Ferhat sembari melepaskan tangannya begitu saja. Dan hal itu sedikit membuat Rumanah terjerembab.
Rumanah mengatur napasnya yang naik turun tak karuan. Sementara gawainya ia sembunyikan di balik punggungnya.
"Tidak ada, Fer. Sudahlah kau tidak usah kepo pada urusanku!" sanggah Rumanah dengan tatapan yang kesal.
__ADS_1
"Tapi ... sikapmu," Ferhat berjalan mendekati Rumanah, dan hal itu membuat wanita cantik itu harus melangkah mundur menghindari pria di hadapannya. "Sikapmu sangat meresahkan, Rumrum," lanjutnya yang terus mendesak Rumanah.
Deggg!
Rumanah tampak terhenyak kaget dengan ucapan pria di hadapannya. Seketika jantungnya berdetak tak karuan. Ia sangat tegang dan panik dengan keadaan yang menimpanya. Sementara kini dirinya sudah sangat terdesak dan tersudutkan.
"Berikan gawainya padaku. Ada apa di dalam gawaimu itu?" desak Ferhat yang kini sudah berada dekat dengan Rumanah. Sementara wanita cantik itu sudah bersandar pada dinding di pojokan.
Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan mengatur napasnya yang ngos-ngosan seperti sedang dikejar hantu. "Tidak, Fer. Kau terlalu ingin tahu dengan urusanku. Sejak kapan kau menjadi kepo-kers seperti ini?" ucapnya.
Ferhat menyunggingkan senyuman tipisnya. "Sejak ... kau hadir dalam hidupku, Rumrum." ucapnya sembari menempelkan tangannya pada dinding dan mengurung Rumanah dalam kungkungannya.
Rumanah tampak tersentak kaget dan benar-benar tegang menghadapi pria yang seperti sedang mengulitinya hidup-hidup. Padahal, Ferhat tidak melakukan apa pun. Tapi, wanita cantik itu sangat tegang dan panik.
Tring!
Pintu lift terbuka, dan hal itu disadari oleh Ferhat dan Rumanah.
"Berikan padaku!" bisik Ferhat sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Rumanah. Dan hal itu membuat Rumanah semakin panik dan juga kesal pada pria di hadapannya.
Sementara kini, seorang pria tampan yang baru saja keluar dari lift tampak terbelalak kaget melihat apa yang terjadi di sudut tembok.
"****! Pantas saja aku sulit sekali menghubungi gawainya. Rupanya dia sedang asyik bersama kakak angkatnya. Aku sungguh kecewa!" ucap Andre dalam hati.
Menyadari kehadiran suaminya, dengan cepat Rumanah mendorong tubuh Ferhat agar menjauh darinya.
"Astaga! Apa yang kau lakukan?" ucap Rumanah seraya melirikkan matanya pada suami tampannya yang sedang menatap sengit kepadanya.
"Ya Tuhan, kenapa dia harus muncul disaat seperti ini. Pasti dia akan salah paham padaku," ucap Rumanah dalam hati.
Ferhat menolehkan wajahnya pada Andre yang sedang mematung dan membuang wajahnya ke udara.
"Hei, Bang. Pengasuh putrimu ini semakin hari semakin menggemaskan," ucap Ferhat yang berhasil membuat Andre kesal dan tak terima.
"Tutup mulutmu!" sungut Andre seraya menatap tajam pada mantan adik iparnya itu.
Rumanah tampak meremas jari jemarinya dan menggigit bibir bawahnya. "Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Ferhat tampak mengerutkan dahinya dan mengamati ekspresi kesal mantan Abang iparnya itu. "Wow, menarik sekali. Sepertinya aku harus mendekati Rumanah agar semakin menarik perhatian Bang Andre. Dengan begitu, aku akan tahu apa yang mereka sembunyikan dari kami semua," ucapnya dalam hati.
BERSAMBUNG...