Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Joker


__ADS_3

"Maksud Mami apa, ya? Luna benar-benar tidak tahu maksud tujuan Mami," ucap Luna yang tampak benar-benar tidak mengerti.


Dilihat dari segi bicara dan ekspresi wajahnya, Luna memang sepertinya sudah berubah. Dia terkesan ramah dan tidak jutek. Lalu, manik matanya juga menampakan kejujuran. Tak ada kebohongan di netra hitamnya itu.


"Benarkah kau tidak tahu? Bukannya kau sedang tegang saat ini. Sudah berada di dalam penjara, kau masih saja berulah! Kau mau mendapatkan hukuman yang lebih parah dari ini semua, hah??" bentak Mami Purwati dengan tatapan tajam dan penuh intimidasi. Ia begitu yakin jika Luna yang telah melakukan penculikan pada menantunya itu.


Luna membulatkan kedua bola matanya penuh dan semakin tak mengerti dengan ucapan wanita tua di hadapannya.


"Saya benar-benar tak mengerti, Mam. Tolong bicara yang jelas agar saya dapat mengerti semua yang Mami katakan," ujar Luna dengan tatapan melasnya. Ya, dia memang benar-benar tak melakukan apa pun selama ia berada di dalam penjara.


Sehari-harinya, Luna hanya sibuk memikirkan semua kesalahan yang pernah ia lakukan pada mantan suami, putrinya, Rumanah dan Maminya. Tentu saja dari hari ke hari ia semakin membuka pikirannya. Mendapat hidayah dari Tuhan untuk merubah dirinya agar menjadi manusia yang benar-benar dimanusiakan.


Mami Purwati tampak memutar bola matanya malas dan menatap sinis pada wanita di hadapannya. Sementara Papi Dargono tampak membuang napasnya berat.


"Sudahlah, Mam. Luna mungkin memang tidak tahu apa-apa soal ini. Ada baiknya jika kita katakan saja apa yang sebenarnya terjadi. Lihat, dia bahkan seperti tidak paham dengan semua yang Mami katakan!" ujar Papi Dargono memberi saran.


Mami Purwati melirikkan matanya pada suaminya. Ia begitu kesal karena sedari tadi suaminya itu terkesan tak mendukungnya.


"Hei, Pap! Dengar ya! Semua orang yang berbuat jahat itu pasti pandai berakting dan akan berusaha untuk menyembunyikan kejahatannya itu. Dan mungkin saja sama dengan wanita ini. Mami yakin sekali kalau dia yang melakukannya!" Mami Purwati tambah nyolot dan tak mau kalah. Pokoknya sekali yakin, dia tetap yakin!


Dengan kasar Papi Dargono mengusap wajahnya. Sementara Luna begitu kaget mendengar semua yang dikatakan oleh Mami mantan suaminya itu.


"Demi Tuhan saya tidak tahu apa-apa, Mam. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Siapa yang sedang mendapatkan kejahatan?" Luna menatap serius dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Jadi begini, Luna. Rumanah telah diculik! Kami bingung dan sangat tidak tahu siapa yang menculik menantu kami itu. Dan, Mami ini mengira jika kau yang melakukannya. Sekarang, jawab saja yang jujur dan sejujur-jujurnya, benar kau kau yang melakukannya? Atau bukan? Kejujuran atau kebohongan bisa dilihat dai pancaran mata," terang Papi Dargono yang akhirnya memberi tahu Luna soal Rumanah.


Luna tampak terhenyak kaget mendengar semua kata yang keluar dari mulut Papi Dargono. Tentu saja ia sama sekali tidak tahu menahu soal ini.


"Apa? Rumanah diculik? Astaga." Luna tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. Ia sangat terlihat kaget.


"Halah! Sudah tak usah banyak berakting, Katakan saja jika kau yang melakukannya!" sungut Mami Purwati dengan tatapan sinisnya.


Luna menggeleng dengan cepat, "No! Tidak sama sekali, Mam. Itu bukan Luna. Luna tidak tahu apa-apa. Selama ini Luna hanya diam di dalam penjara ini, menebus dosa-dosa yang telah Luna perbuat. Menebus kesalahan pada menantu Mami. Sungguh, Luna tidak melakukan itu semua, Mam." Wanita itu benar-benar terlihat jujur.


Namun, Mami Purwati yang masih curiga dan yakin jika Luna lah yang melakukan penculikan itu, tampak menatap sinis dan penuh kebencian. Berbeda dengan Papi Dargono yang terkesan percaya pada Luna dan seolah yakin jika bukan Luna yang melakukan penculikan itu.


"Jangan berdusta lagi! Jika kau tidak mengatakan di mana menantuku saat ini, maka aku akan melaporkanmu lagi!" ancam Mami Purwati dengan mata yang berkilat marah.


Luna tampak menelan ludahnya kasar. Wanita berusia tiga puluh tahun itu begitu kaget dengan ucapan Mami mantan suaminya.


"Mam, tahan emosi. Dengarkan dulu semua yang Luna katakan. Kita juga tidak bisa menuding seseorang sembarangan seperti ini sebelum ada bukti," tegur Papi Dargono mengingatkan istrinya itu.


Mami Purwati membuang napasnya kasar dan memutar bola matanya jengah.


"Silakan saja jika Mami ingin melaporkan Luna. Yang jelas, Luna benar-benar tidak tahu soal penculikan ini." Luna bicara tenang dan mencoba tetap santai.


Mami Purwati tampak memelototkan kedua bola matanya dan menatap tajam pada wanita mantan istri putranya itu.


"Tapi, setelah mendengar kabar buruk ini. Luna paham dan memaklumi kalian yang sudah menuding Luna yang melakukannya. Karena memang Luna yang selama ini selalu mengganggu Rumanah. Tapi, untuk saat ini, tidak! Luna benar-benar sudah minta maaf dan menyesali semua perbuatan Luna. Jadi, soal ini, Luna tidak ada sangkut pautnya dengan penculikan yang terjadi pada Rumanah," ujar Luna panjang lebar dan penuh penjelasan.


"Ya, kami juga semestinya menyelidiki terlebih dahulu," ucap Papi Dargono.


Mami Purwati melirikkan matanya dan melotot pada suaminya. Ia sangat kesal pada pria tua di sampingnya itu, "Karena selama ini memang tidak ada yang jahat pada Rumanah selain kau!" ucapnya sinis.


Luna mengangguk, "Ya, Luna mengerti," balasnya santai.


"Tapi, benar bukan kau?" tanya Papi Dargono.


Luna menggeleng, "Bukan, Pap. Luna tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Sudah cukup hukuman ini bagi Luna, dan Luna tak ingin mendapatkannya lagi," jawabnya.


Papi Dargono tampak manggut-manggut tanda mengerti.


"Lantas, jika bukan kau, siapa lagi yang memiliki niat jahat pada menantuku itu?" tanya Mami Purwati penuh selidik.


Luna terdiam sejenak. Sejujurnya ia memiliki satu kecurigaan pada seseorang. Tapi, haruskah ia katakan? Jika belum ada bukti, ia hanya takut memberikan informasi palsu.

__ADS_1


"Kita tidak tahu siapa yang baik dan siapa yang jahat, Mam. Di dunia ini, tak sedikit orang jahat bertopeng menjadi orang baik. Pun sebaliknya," ucap Papi Dargono.


Mami Purwati tampak manggut-manggut tanda memahami.


"Jika kalian tidak keberatan, coba saja temui orang yang bernama Dimas. Dia tinggal di apartemen XXX. Seingat Luna, dia sempat tertarik pada Rumanah saat pandangan pertama. Dan, dia itu kemarin sempat menjadi pacar sewaan Luna," ungkap Luna yang berhasil membuat Mami Purwati dan Papi Dargono tampak tersentak kaget.


"Dimas? Apa mungkin dia melakukan ini? Maksudnya, apa mungkin ada motifnya?" tanya Papi Dargono.


Luna mengangguk, "Ya! Dia sudah tahu kalau Rumanah itu sudah punya suami dan tahu kalau suami Rumanah itu mantan suami Luna. Dia juga pernah bilang kalau ingin merebut Rumanah dari Andre. Dan satu lagi, dia itu teman SMA Ferhat. Kalian bisa minta antar pada Ferhat jika ingin ke sana," terangnya menjelaskan.


Mami Purwati dan Papi Dargono tampak manggut-manggut. Mami Purwati begitu terlihat antusias dan semangat. Setelah mendapat informasi penting ini, Mami Purwati pun bergegas mengajak suaminya untuk menemui Dimas di apartemen XXX.


"Hubungi Ferhat terlebih dahulu, Pap," perintah Mami Purwati pada suaminya.


Papi Dargono mengangguk, ia pun menghubungi p pria muda itu. Ferhat tampak kaget saat mengetahui kabar soal Rumanah. Ia pun sangat antusias untuk mengantar Mami Purwati dan Papi Dargono ke apartemen Dimas.


Selepas menghubungi Ferhat, Mami Purwati langsung menghubungi putranya yang masih berada di luar kota.


"Hallo, Mam. Gimana? Apakah di sana sudah ada kabar?" tanya Andre di seberang sana.


"Sudah ada satu jawaban, Ndre. Kami akan menemui seseorang yang diduga telah melakukan penculikan pada Rumanah," jawab Mami Purwati penuh percaya diri.


"Siapa, Mam? Biar anak buah Andre juga ikut dengan kalian," tanya Andre.


"Kau masih belum bisa pulang kah?" Mami Purwati malah balik bertanya dan tak segera menjawab pertanyaan putranya itu.


Andre tampak terdiam sejenak, "Ini sedang di perjalanan, Mam. Kami pun akan langsung mencari menantu Mami," jawabnya sedikit terlambat.


"Oh!" desis Mami Purwati, "Awas saja kalau kau tidak pulang. Mami akan diantar oleh Ferhat ke apartemen Dimas, dia pria yang menyukai istrimu," ungkapnya yang berhasil membuat Andre tersentak kaget.


"Apa? Pria yang menyukai istri Andre?" sosor Andre di seberang sana.


"Ya!" jawab Mami Purwati.


"Mami tahu dari siapa soal ini?" tanya Andre.


"Hah? Memangnya Mami menemuinya?" tanya Andre lagi.


"Ya! Karena Mami mengira jika wanita itu yang melakukan ini semua," jawab Mami Purwati.


"Astaga! Baiklah. Andre akan segera menyusul ke sana, ya. Jangan sampai lolos itu si ... siapa tadi?" ucap Andre lupa dengan nama Dimas.


"Dimas!" jawab Mami Purwati.


"Ya! Jangan sampai lolos. Enak saja dia menyukai istri Andre." Andre bicara dengan nada yang tampak kesal.


"Oke! Kau jangan hanya mengoceh saja, ya. Pokoknya cepat bergerak," tegas Mami Purwati.


"Siap bos!" jawab Andre.


Setelah dirasa cukup, mereka pun mengakhiri telepon. Tak lama setelah itu, Ferhat datang dan mereka pun langsung bergegas menuju apartemen Dimas.


Sementara itu di tempat lain...


Rumanah tampak terbelalak kaget saat ia dibawa ke sebuah gudang yang gelap dan begitu kumuh. Ketika hari sudah malam, Rumanah masih berada dalam tahanan para penculik itu.


"Lepaskan aku! Aku sungguh tidak akan mengampuni kalian semua!" pekik Rumanah mencoba melepaskan diri dari para penculik itu.


"Tidak akan kami lepaskan, Nona. Sebentar lagi bos kami akan tiba menemui Anda," jawab si penculik berwajah brewokan.


"Oh, bagus! Aku sungguh ingin tahu siapa bos kalian! Siapa yang telah menculikku!" tantang Rumanah yang tampak menekan setiap ucapannya.


"Baik, tunggu di sini saja dengan sabar ya, Nona. Tapi, bos kami berpesan agar memberikan Anda makan. Karena, bos kami tidak ingin membunuh Anda," jawab si penculik.


Rumanah tampak memutar bola matanya malas dan menyunggingkan senyuman sinisnya, "Cih! Aku tidak peduli. Lebih baik aku mati daripada harus tersiksa seperti ini!" desis Rumanah dengan tatapan yang berkilat marah.

__ADS_1


"Kami tidak menyiksa Anda, Nona. Kami hanya mengurung Anda di sini. Ini pun kami lakukan atas perintah bos kami," ucap si penculik berkulit putih.


"Siapa nama bos kalian?" bentak Rumanah penuh desakan.


Ketiga pria itu tampak saling beradu pandang, lalu mereka pun berbisik-bisik. Tak lama setelah itu, satu orang di antara ketiganya menjawab.


"Bos kami berinisial—" belum sampai pria itu menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka. Tentu saja hal itu membuatnya menghentikan ucapannya.


Tak tak tak tak!


Suara sepatu kaca. Eh!


Seorang pria masuk dengan memakai baju ala-ala joker. Pria itu pun memakai topeng joker sehingga membuat Rumanah tak mengenali wajahnya.


"Selamat malam," sapa pria itu dengan suara yang sama sekali tidak Rumanah kenali.


Rumanah hanya terdiam dan menatap sengit pada pria yang diduga adalah bos para pria yang menculiknya itu.


"Kalau ditanya itu, harus jawab dong, Nona cantik," ucap si pria bertopeng Joker itu.


"Cih!" desis Rumanah sembari memalingkan wajahnya.


"Menarik sekali. Ternyata kau memang sangat cantik," kembali Joker itu berucap.


"Tapi Nona ini sudah punya suami, bos!" ucap salah satu pria.


"Diam kau!" bentak Joker itu sembari menolehkan wajahnya, "Walaupun dia sudah punya suami, tapi aku akan merebutnya dari suaminya yang jelek itu!" lanjutnya.


"Sialan! Jangan kau menghina suamiku! Suamiku sangat tampan dan tidak ada yang mengalahkan ketampanannya!" omel Rumanah dengan tatapan marahnya.


"Hahahaha!" Joker itu tertawa terbahak-bahak.


"Jelek, kau! Bukalah topengmu itu!" cicit Rumanah sebal.


"Buka dulu tooopengmuuuuu!" ucap salah satu pria itu bersenandung. Meledek Rumanah yang sedang kesal.


"Hahaha! Jangan meledeknya," ucap si Joker disertai tawa renyahnya.


"Ups, sorry, bos!" jawab si anak buahnya.


"Siapa kau? Mau apa kau menculikku? Aku sudah punya suami. Dan suamiku sedang mencari diriku. Siap-siap saja kau akan tertangkap!" ujar Rumanah dengan tatapan marahnya.


"Aku sudah tahu jika kau sudah punya suami, Nona manis. Tapi, aku sangat tertarik padamu. Gimana dong? Tidak boleh kah?" ucap si Joker itu.


Rumanah benar-benar kesal pada penculik di hadapannya itu, "Jangan macam-macam, ya! Aku tidak akan mau denganmu. Kau menyeramkan!" umpatnya sebal.


"Aku tidak se-menyeramkan seperti yang kau lihat ini, Nona. Sebenarnya wajahku sangat tampan." Si Joker itu menjawab penuh percaya diri.


"Kalau gitu, buka topengmu! Aku ingin lihat seberapa tampannya dirimu!" desak Rumanah.


Si Joker itu terkekeh kecil, "Kau sungguh akan terkejut, Nona. Kita pernah bertemu sebelumnya," ucapnya yabg yang berhasil membuat Rumanah mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Banyak yang sudah pernah bertemu denganku! Haruskah aku mengingat dan mengabsen satu persatu manusia yang pernah bertemu denganku!?" seloroh Rumanah dengan tatapan tajamnya.


"Hehehe, tidak perlu, Nona. Kau hanya perlu...." Joker itu menggerakkan tangannya yang terbungkus oleh sarung tangan belang hitam putih macam zebra.


"Jangan sentuh aku!" desis Rumanah.


"Tenang saja, aku memakai sarung tangan agar tidak menyebarkan virus padamu, Nona manis," ucap si Joker yang kini mengusap wajah cantik Rumanah.


Rumanah memalingkan wajahnya dan sungguh tak sudi disentuh oleh pria misterius itu, walaupun dia memakai sarung tangan.


"Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu, Nona manis. Kau hanya harus menjadi milikku untuk selamanya," ujar si Joker.


Rumanah tampak terhenyak kaget dan seketika perasaannya mulai tidak enak.

__ADS_1


Duh, siapa sih yang menculik Rumanah??? Semoga semua cepat kembali.


BERSAMBUNG...


__ADS_2