
Rumanah melipat kedua tangannya di dadanya. Tak ada lagi yang mesti ia sembunyikan dari Chaisay. Ia berharap Chaisay bisa mengerti dan tidak memaksanya untuk menikah dengan pria Thailand itu.
"Jadi, kau dan aku tidak bisa bersama, Chai. Takdir mempertemukanku dengan pria dewasa yang kini sudah menjadi suamiku. Kau, mungkin tidak akan mempercayai apa yang terjadi padaku. Tapi, aku sungguh tidak berbohong. Tuhan benar-benar memberikan jalan seperti ini padaku, Chai. Aku mohon maaf karena aku menolak perjodohan di antara kita. Tapi, itu semua aku lakukan karena aku benar-benar tidak mempunyai perasaan apa-apa padamu selain menganggapmu sebagai sahabatku." Ujar Rumanah panjang kali lebar kali tinggi.
Chaisay terdiam dan menatap air terjun yang mengalir deras. Semua yang Rumanah katakan padanya benar-benar membuatnya sedikit tidak menyangka. Namun, ia juga tidak dapat menyangkal atau menolak semua yang telah terjadi pada wanita di sampingnya itu.
"Aku memang terlanjur menyepakati perjodohan ini, Sanee. Tapi, setelah mendengar semua yang kau katakan, aku memilih untuk mundur. Aku hanya ingin kau bahagia dengan pilihanmu. Lagi pula, jika kau belum menikah pun, aku tidak akan memaksamu untuk menikah denganku. Karena, aku tidak ingin merasakan cinta yang terpaksa." Ucap pria tampan berdarah Thailand itu
Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap setengah tidak percaya. Ia kira, pria tampan di sampingnya itu akan memaksanya untuk menikah dengannya. Tapi, ternyata tidak seperti yang dia pikirkan.
"Benarkah yang kau katakan, Chai? Kau tidak kecewa?" tanya Rumanah memastikan.
Chaisay tersenyum serta mengangguk. Tatapannya tulus dan lembut, sepertinya pria berdarah Thailand itu memang lembut dan penyayang.
"Tentu saja, Sanee. Aku tidak kecewa sama sekali. Kau tahu 'kan jika Tuhan pasti telah mengatur segala yang terbaik untuk hambanya. Dan, aku sangat percaya itu." Jawab Chaisay dengan sikap yang sangat dewasa.
Rumanah tersenyum dan sangat senang dengan penyikapan pria tampan di sampingnya itu. Ternyata, Tuhan memang tidak mempersulit jalannya untuk tetap menjadi istri bagi suaminya.
Sementara itu di villa. Andre tampak heran dengan istrinya yang belum juga kembali. Setelah ia mengobrol dengan Mami, Papi dan juga princess Sandrina melalui telepon, ia pun bergegas mencari istrinya ke sekeliling villa. Namun, tidak ada sang istri di sana.
"Ke mana perginya Annabelle. Kenapa dia belum kembali? Astaga! Apakah dia sedang pergi ke rumahnya?" ucap Andre sambil berjalan kembali ke villa.
Pria tampan itu tampak kebingungan sendiri mencari istrinya. Sementara perutnya kini sudah merasa lapar.
"Kau, melihat istriku?" tanya Andre pada penjaga yang sudah menggantikan penjaga yang tadi.
Si penjaga itu menggeleng. "Tidak, Tuan. Kebetulan saya baru beberapa menit menggantikan Barjo." Jawabnya.
Andre manggut-manggut dan melengos masuk ke dalam villa. Benar juga, ia lupa jika tadi bukan penjaga itu yang berdiri di depan pintu.
"Argh, perutku sudah lapar. Ini makanan juga sudah banyak di sini. Tapi, ke mana sebenarnya istriku!" gerutu Andre yang tampak kesal.
Perutnya yang sudah lapar tampak tak berhenti berbunyi. Rasanya perih dan ingin sekali ia menyantap nasi liwet rekwesan istrinya tadi.
"Hum, aromanya wangi sekali. Tapi, makanan apa ini? Astaga, aku baru pernah melihatnya." Gumam Andre sembari mendekati nasi liwet di atas meja.
Aroma khas nasi liwet itu benar-benar menusuk masuk ke dalam indera penciumannya. Ingin rasanya ia melahap makanan di hadapannya, tapi, ia menunggu sang istri yang entah di mana.
"Aduh! Kalau seperti ini caranya, bisa-bisa gue mati karena kelaparan!" desis pria tampan itu sembari melempar gawainya ke atas ranjang.
Dengan kesal ia keluar dari villa. Hendak mencari sang istri yang mungkin bisa ia tanyakan pada kedua mertuanya.
Di sisi lain, Rumanah dan Chaisay masih berada di tempat yang tadi. Mereka tampak tertawa riang saat bernostalgia masa kecil mereka berdua.
"Aku yakin anakmu nanti akan seperti dirimu yang takut gelap, Sanee." Kekeh Chaisay yang berhasil membuat Rumanah terkekeh kecil.
"Jangan lah! Anakku harus pemberani!" Balas wanita cantik itu yang seakan sedang melupakan suaminya. Tapi, tenang saja. Ia tidak lupa sama sekali. Ia hanya sedang melepas rindu dengan teman kecilnya.
"Ya, tentu saja pemberani. Sama seperti dirimu yang berani kabur dari rumah." Sindir Chaisay menggoda wanita cantik di sampingnya.
"Hahaha, benar juga. Ternyata aku memang pemberani, ya." Balas Rumanah disertai tawa ngakaknya.
Chaisay terkekeh dan mengacak rambut wanita di sampingnya. Sementara itu, Andre kini sedang sibuk mencari sang istri yang katanya sedang berada di sungai.
"Ngapain dia di sungai? Aku sangat penasaran. Hmm, sepertinya sungainya cantik seperti istriku. Hahay!" cerocos Andre yang kini tengah berjalan ke arah sungai.
__ADS_1
Setelah ia diberitahu arah menuju sungai oleh seorang pekerja mertuanya, ia pun kini sudah dapat menemukan sungai jernih di hadapannya. Namun, di mana istrinya. Manik matanya belum menemukan sosok wanita yang dicintainya. Pria itu pun melangkah ke arah barat, beberapa onggok batu besar menghalangi panorama di depannya.
"Pokoknya, kau harus bahagia dengan suamimu, Sanee. Aku tidak mau kau menyesali apa yang menjadi pilihanmu. Aku harap, kau dapat hidup bahagia, damai, tenang, dan selalu dalam satu cinta sampai kalian menua." Ucap Chaisay seraya merengkuh bahu wanita cantik di hadapannya.
Rumanah mengangguk dan menatap damai manik mata teman kecilnya itu.
"Sanee, walaupun kau sudah menikah, aku tidak mau putus hubungan persahabatan denganmu. Dan, apakah kau setuju dengan ucapanku?" ucap Chaisay sembari menyambar tangan Rumanah dan menggenggamnya.
Rumanah mengangguk dan tersenyum. "Ya, aku setuju. Aku akan tetap menganggapmu sebagai sahabatku, Chai." Jawabnya.
Chaisay tersenyum hangat dan mengangguk. "Bagus, aku senang mendengarnya." Ucapnya.
"Oh ya, kau harus bertemu dengan suamiku, Chai." Rumanah berkata sembari melepaskan tangannya.
"Tentu saja, aku harus tahu bagaimana wajah pria dewasa itu. Aku juga harus kenalan dengannya." Jawab Chaisay penuh semangat.
Rumanah tersenyum. "Kau tahu? Dia pria yang tampan dan gagah. Aku sangat tergila-gila padanya. Aku selalu merindukannya saat tidak bersamanya. Seperti saat ini, aku sangat memikirkannya. Aku yakin dia sedang mencariku." Ucapnya memaparkan bagaimana suaminya.
Chaisay tersenyum. "Bahagia sekali. Dan, aku ikut bahagia jika kau bahagia." Balasnya sembari mengacak rambut Rumanah.
"Terima kasih, aku juga selalu berharap kau akan menemukan pasangan yang sangat mencintai dirimu." Ucap Rumanah sembari tersenyum manis dan lembut.
Chaisay mengangguk. "Semoga saja." Balasnya seraya mencubit kecil pipi Rumanah.
Secara bersamaan, Andre menatap syok pada dua orang yang tidak seberapa jauh dari tempatnya berdiri. Manik matanya tampak membulat penuh dan dadanya bergemuruh. Jelas, itu wanita cantik yang sudah lama mengisi ruang di hatinya.
Ya, Rumanah dan Chaisay tampak sedang tertawa riang dan begitu terlihat bahagia. Akrab dan hangat pastinya. Namun, tentu saja Andre tidak tahu siapa pria yang sedang bersama dengan istrinya itu.
Seketika mata elang itu menatap marah dan memerah menahan rasa cemburu. Kedua tangannya mengepal dengan sempurna. Rahangnya berdiri tegak dan giginya gemelutuk menahan emosi.
"Sialan! Ternyata dia sedang berduaan dengan pria lain di belakangku. Pantas saja sedari tadi dia tidak mau melayaniku dan selalu menghindar. Ternyata dia mencari kesempatan untuk berduaan dengan pria ini. Benar-benar pengkhianat!" Umpat Andre dalam hati.
"Astaga! Apa itu?"
Chaisay dan Rumanah tampak tersentak kaget dan refleks menolehkan wajahnya ke belakang.
"Hubby!" desis Rumanah yang tampak terbelalak kaget saat melihat suaminya berdiri membelakangi dirinya.
Andre tak ingin melihat wajah istrinya dan tak ingin mendengar apa pun yang akan istrinya katakan padanya. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya meninggalkan tempat di mana ia harus menyaksikan istrinya berduaan dengan pria lain.
"Sanee, itu suamimu?" tanya Chaisay yang juga tampak terlihat kaget.
Rumanah mengangguk mengiyakan. "Iya, Chai. Astaga! Aku rasa dia salah paham melihat kita. Aku harus mengejarnya dan menjelaskan padanya." Ucapnya yang kemudian berlari kecil meninggalkan Chaisay.
"Astaga, apa yang akan terjadi. Semoga suami Sanee bisa mengerti dan mau mendengarkan apa yang Sanee jelaskan." Gumam Chaisay dengan raut wajah yang cemas.
Sementara itu, Andre berjalan cepat menuju villa. Kepalanya terasa sakit dan tubuhnya terasa panas. Ia begitu kesal dan kecewa pada istrinya yang berduaan dengan pria asing yang sama sekali tidak ia kenali.
"Sialan! Beraninya dia mencari kesempatan dalam kesempitan. Aku pikir dia benar-benar gadis yang polos dan setia. Ternyata, aku hanya terbuai oleh kecantikan dirinya. Aku ... argh! Aku kesal!" decak Andre seraya menaiki anak tangga dengan cepat.
Penjaga yang berdiri di depan pintu tampak terlihat heran pada suami Nona mudanya. Namun, ia tidak mau menanyakan apa yang sedang terjadi pada suami Nona mudanya itu. Ia hanya menatap heran dan bertanya-tanya dalam hati.
Brruuugghhh!!!
Andre membanting pintu villa dengan kuat dan membuat penjaga terjingkat kaget.
__ADS_1
"Astaga! Apa yang terjadi. Kenapa Tuan Andre terlihat seperti sedang marah." Ucap si penjaga dengan ekspresi yang sangat heran.
Sementara itu, Rumanah berlari cepat menyusul suaminya yang sedang marah besar padanya. Ia benar-benar harus berusaha keras menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apakah Tuan Andre masuk ke villa?" Tanya Rumanah pada si penjaga.
"Ya, Nangsaw. Tadi masuk dengan wajah yang merah padam. Sepertinya telah terjadi sesuatu padanya." Jawab si penjaga dengan raut wajah yang terlihat cemas.
Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan dengan cepat ia membuka pintu. Perasaannya semakin tidak enak saat si penjaga berkata demikian.
"Astaga! Sepertinya hubby benar-benar marah padaku." desis Rumanah sembari membuka pintu kamar di villa itu.
Di dalam kamar, Andre tampak sedang berdiri di depan jendela. Menatap air terjun yang begitu indah dan sejuk. Namun, tidak dapat menyejukkan hatinya yang sedang panas.
"Hubby! Aku bisa jelaskan apa yang kau lihat tadi," ucap Rumanah to the point. Ia berjalan pelan mendekati suaminya yang mematung tanpa suara.
Andre hanya diam dan melipat kedua tangannya di dadanya. Wajahnya benar-benar merah padam dan menampakkan kekesalan yang teramat dalam.
"Sayang, jangan marah. Aku tidak ada bermain di belakangmu. Aku tidak mengkhianatimu. Aku tahu, kau pasti mengira jika aku telah menusukmu dari belakang. Tapi, itu sama sekali tidβ" Rumanah belum selesai bicara, dengan cepat Andre menyelanya.
"Aku melihat kau tersenyum manis dan menatap lembut pada pria itu. Tawa keceriaan tercipta saat kau berdua bersamanya. Aku yakin, ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku! Kau menghindariku dan meninggalkanku saat aku tertidur. Hebat, ya!" Tuding Andre dengan suara yang dingin.
Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu kaget dengan tudingan suaminya. Padahal, ia tidak merencanakan semua itu.
"Aku tidak seperti yang kau katakan, hubby!" Sanggah Rumanah sembari berjalan mendekati suaminya. "Aku sama sekali tidak merencanakan semua ini." Lanjutnya.
Andre hanya diam tak menjawab. Dadanya masih bergemuruh dan merasakan cemburu yang teramat dalam. Tadi, ia melihat istrinya sangat akrab dan hangat dengan pria yang bernama Chaisay. Tentu saja ia sangat cemburu dan kecewa.
"Aku tidak mengkhianatimu, sayang. Percayalah padaku!" ucap Rumanah lirih. Ia memeluk hangat tubuh suaminya dari belakang.
Napas Andre naik turun tak beraturan. Sepertinya memang darahnya sudah mendidih. Dan, Rumanah sangat memahami itu.
"Aku hanya mencintai dirimu, hubby!" ucap Rumanah sekali lagi.
Andre membuang napasnya berat dan melepaskan tangan istrinya yang memeluk dirinya. "Jika benar hanya aku yang kau cintai. Lantas, mengapa kau berduaan dengan pria itu di belakangku?" desaknya dengan tatapan tajam dan menusuk.
Rumanah menelan ludahnya kasar dan menatap takut pada suaminya yang sedang marah padanya. "Ya, aβaku hanya sedang memberitahu dirinya jika aku sudah punya suami. Aku berkata jujur padanya jika aku tidak mencintainya. Aku menolak perjodohan di antara kami." Ungkapnya dengan suara yang gemetar menahan takut.
Andre terdiam dan mencoba mencerna setiap ucapan istrinya. Dilihat dari segi mana pun, istrinya sedang tidak berbohong. Tapi, ia benar-benar kesal dan cemburu melihat keakraban istrinya dengan pria lain selain dirinya.
"Apa buktinya jika kau tidak main-main dengannya? Apakah aku bisa melihat kesungguhanmu?" Desak Andre yang berhasil membuat Rumanah bingung.
Wanita cantik itu terdiam sejenak dan mencoba berpikir keras. Bukti apa yang suaminya inginkan?
"Kau diam? Itu berarti kau tidak bisa membuktikan apa yang kau katakan. Aku ingin kau membuktikan jika cintamu, hatimu, dan semua yang ada pada dirimu hanyalah milikku!" Ucap Andre dengan tatapan tajam dan begitu membuat Rumanah bergidik ngeri.
Rumanah masih terdiam dan mencari cara agar ia selamat dari kemarahan suaminya. Tapi, bagaimana caranya?
Andre mengusap wajahnya dan mendekati istrinya yang sedang gugup. "Semua yang ada pada dirimu, hanyalah milikku, bukan?" Ucapnya sembari menyentuh lembut wajah cantik istrinya.
Rumanah mengangguk dan mendongakkan wajahnya. Wajahnya yang cantik dan lugu begitu membuat Andre gemas.
"Aku mengerti," ucap Rumanah dalam hati.
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
__ADS_1
Hai dears, happy new years 2022. Semoga selalu dalam kebahagiaan. π₯°π₯°π₯°
BERSAMBUNG...