Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Satu rumah satu minggu


__ADS_3

Sementara itu di perusahaan Andre..


Meliza mendudukkan bokongnya di sofa malas ruangan bos dudanya. Hari ini ia akan mendengar keputusan yang keluar dari mulut bos dudanya. Tentu saja sekretaris cantik itu harus menerima apa yang akan Andre katakan padanya.


"Apakah kau sudah siap mendengar keputusanku?" tanya Andre dengan tatapan menusuknya.


Meliza mengangguk seraya tersenyum ramah. "Saya sudah siap, Pak. Apa pun yang akan Pak Andre katakan pada saya, maka saya akan menerimanya." jawabnya yang tampak terlihat tetap santai.


Andre mengangguk seraya menatap lekat wajah cantik Meliza. "Kalau begitu aku katakan jika aku tidak mengizinkanmu berhenti menjadi sekretarisku sebelum kau menghabiskan waktu selama satu bulan lagi." tutur Andre yang tampak menakan setiap ucapannya.


Meliza tampak terhenyak kaget, namun seperti yang ia katakan pada bos dudanya tadi, ia harus menerima apa yang telah bos dudanya putuskan.


"Jika kau keberatan dengan keputusanku, maka aku akan menambah jangka waktu yang harus kau lalui." ujar Andre yang tampak berhasil membuat Meliza semakin terperangah.


"Emh, tidak, Pak. Saya bersedia menerima keputusan Tuan yang pertama." ucap Meliza tanpa ragu. Sepertinya wanita cantik itu memang bertekad ingin berhenti menjadi sekretaris bos duda itu.


Andre tersenyum licik. "Baiklah kalau begitu. Selama satu bulan penuh kau tinggal di rumahku. Kau tahu bukan jika princess sangat ingin ditemani olehmu." ucap Andre.


"Hah? Tinggal di tumah Pak Andre selama satu bulan penuh?" Meliza tampak terperangah kaget dan setengah tak mengerti dengan keinginan bos dudanya.


"Ya, kau tinggal di rumahku. Itu tidak masalah, karena kau sekretarisku." jawab Andre dengan entengnya.


Meliza terdiam sejenak dan mencoba mencari jalan keluarnya, tentu saja ia sangat keberatan jika harus tinggal di rumah bos dudanya.


"Tapi sepertinya itu terlalu berlebihan, Pak. Saya tidak enak pada yang lainnya." ucap Meliza bernegosiasi.


"Tidak, Mel. Kau akan menemani princess selama di rumahku." sanggah Andre yang tampak tetap kekeh.


Meliza membuang napasnya kasar. "Itu tidak mungkin saya lakukan selama satu bulan penuh, Pak. Bagaimana dengan pengasuh princess? Dia pasti sangat merasa heran dan tidak nyaman. Saya pasti akan merasa bersalah padanya. Dan, lagi pula belum tentu princess ingin ditemani oleh saya." protesnya.


Andre mengusap wajahnya. "Gadis desa itu pasti akan mengalah, Mel. Dan soal princess, sudah kukatakan jika dia selalu menanyakanmu padaku. Ayolah, ini hanya satu bulan." seloroh Andre tetap teguh pada pendiriannya.


Meliza terdiam sejenak. Berat sekali masalah yang harus ia tempuh. Untuk beberapa saat sekretaris cantik itu memutar otaknya berpikir keras. Mencari jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah yang rumit ini.

__ADS_1


Suasana hening seketika, keduanya tak ada yang berbicara. Meliza masih sibuk dengan pertimbangannya, sementara Andre tampak berharap Meliza menyetujui keputusannya.


"Bagaimana ini? Kenapa jadi serumit ini sii. Sebenarnya apa yang Pak Andre inginkan dariku." ucap Meliza dalam hati.


Meliza menarik napasnya dalam lalu membuangnya perlahan.


"Katakan kau setuju pada keputusanku, Mel." batin Andre berucap.


Baberapa menit berlalu..


"Saya setuju tinggal di rumah Pak Andre." ucap Meliza yang berhasil membuat Andre tersenyum sumringah.


"Tapi hanya satu minggu saja. Selebihnya saya tinggal di rumah saya kembali." lanjut Meliza yang berhasil membuat Andre terjingkat kaget.


"Apa?? Satu minggu? Kenapa sebentar sekali." protes Andre dalam hati.


"Saya harap Pak Andre dapat menghargai keputusan saya." ucap Meliza kemudian.


Andre mengusap wajahnya kasar dan membuang napasnya berat. "Baiklah kalau itu keputusanmu, Mel. Aku setuju, jadi mulai hari ini kau tinggal di rumahku." ucap Andre yang kini tampak pasrah.


"Baiklah, selama satu minggu itu aku harus memanfaatkan waktu untuk mendapatkan perhatian dan hatimu, Mel." ucap Andre dalam hati.


***


Rumanah terduduk lesu di bangku yang biasa ia duduki dengan asuhannya. Setelah kepergian princess Sandrina, gadis desa itu tampak lemas lunglai dan menyalahkan dirinya sendiri.


"Maafka dewi peri, princess." ucap Rumanah dalam hati.


Rumanah sangat merasa kasihan pada asuhannya yang menangis meronta meminta tolong padanya. Namun dirinya tidak bisa menolong asuhannya itu. Dan kini, gadis desa itu hanya bisa menangisi kepergian asuhannya.


Rumanah tampak terdiam sembari menunggu majikan galaknya menjemput ke sana. Tak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu majikan galaknya. Jika ia memaksa berjalan kaki, tentu saja ia akan menyasar karena tidak tahu jalan. Bahkan untuk menghubungi majikan galaknya pun ia tidak bisa. Kebetulan gadis desa itu sedang tidak membawa ponsel.


"Kenapa lama sekali sii. Aku yakin Tuan Andre akan marah padaku saat tahu putrinya dibawa pergi oleh Mommynya. Tapi, aku siap menanggung resikonya." ucap Rumanah dalam hati.

__ADS_1


Tak berselang lama, sebuah mobil sport milik Andre tampak berhenti tepat di hadapan Rumanah. Tentu saja gadis desa itu mulai panik dan tegang. Namun dia juga sangat siap menerima kemarahan majikan galaknya itu.


Andre turun dari mobilnya, disusul oleh Meliza yang juga ikut dengannya. Mungkin sekretaris cantik itu akan langsung tinggal di rumah Andre selama satu minggu.


"Annabelle, kenapa kau sendirian?" tanya Andre saat ia mendapati Rumanah hanya duduk sendiri.


"Loh, princessnya ke mana, Rumanah?" tanya Meliza.


Rumanah terdiam namun nampak jelas raut wajah kekhawatiran dan kepanikan. Jari jemarinya ia remas sekuat-kuatnya, wajahnya ia tundukkan sedalam-dalamnya.


"Hei, kenapa kau diam saja?" gertak Andre.


Rumanah tampak terjingkat kaget, seketika air matanya kembali mengalir membasahi wajahnya. "Maafkan saya, Tuan." ucap Rumanah dengan suara yang bergetar.


Andre tampak menatap heran pada pengasuh putrinya. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.


"Kenapa kau menangis, Rumanah?" tanya Meliza penuh selidik.


"Katakan, Annabelle!" desak Andre yang kini mulai curiga dan panik. Tentu saja ia langsung mengira jika ada sesuatu yang terjadi pada putri kecilnya.


Rumanah terisak kecil dan menundukkan wajahnya, nampak sekali kesedihan dan ketakutan di wajahnya.


"Tenanglah dulu, Pak. Saya rasa Rumanah sangat syok sekali. Kita bisa tanyakan baik-baik padanya." ucap Meliza penuh kebijakan.


Andre tampak mengusap wajahnya kesal dan membuang napasnya kasar. Sementara Rumanah tampak masih menangis dan terisak kecil.


"Rumanah, bisakah kau tenang dan memberitahu kami di mana princess?" Meliza berkata sangat lembut pada gadis desa itu.


"Cepat katakan, Annabelle. Jangan membuat kami penasaran dan panik." desak Andre yang tampak tidak sabar.


"Maafkan saya, Tuan. Hiks hiks hiks." Rumanah begitu tak kuasa menahan tangis. Sehingga hal itu membuat Meliza merasa iba padanya.


"Tenanglah, Rumanah. Tarik napas lalu buang perlahan agar kau tenang dan dapat menjawab pertanyaan kami." ucap Meliza seraya merangkul hangat gadis desa itu.

__ADS_1


Rumanah mengangguk seraya mengusap air matanya kasar. Untuk sesaat ia menikmati pelukan hangat sekretaris majikan galaknya itu.


__ADS_2