Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Bukan salah dia


__ADS_3

Masih di dalam ruangan Andre..


"Bang Andre, sebaiknya sekarang selesaikan permasalahan ini. Aku ingin segera meninggalkan tempat ini." ucap Ferhat pada mantan kakak iparnya.


Andre menghela napas panjang lalu membuangnya kasar. Manik matanya menatap tajam pada Rumanah yang tampak menundukkan wajahnya. Setelah mendapatkan pembelaan dari Meliza, Rumanah tampak sedikit merasa tenang dan percaya diri.


"Masalah apa? Kau cukup katakan padaku bagaimana ceritanya kalian bisa pergi bersama-sama." desak Andre dengan suara yang terdengar menyeramkan di telinga Rumanah.


"Itu, sebenarnya tadi..." Ferhat pun menceritakan apa yang telah terjadi. Tak ada yang ia lewatkan sedikit pun. Dari saat ia pertama kali bertemu dengan Rumanah, sampai ia mengajak Sandrina berkunjung ke pameran dan taman bermain.


"Awalnya aku tidak berniat untuk mengajak princess jalan-jalan, tapi karena gadis desa ini yang telah mencurigaiku, maka aku membuatnya malu dengan membawa princess pergi bersamaku." jelas Ferhat tanpa di skip.


Andre dan Meliza tampak manggut-manggut mendengarkan cerita yang keluar dari mulut Ferhat dengan saksama.


"Astaga, kalian benar-benar membuat kepalaku hampir pecah, tahu!?" sungut Andre seraya memelototkan manik matanya.


"Asal kalian tahu, aku dan Meliza sangat bersusah payah berusaha mencari princess, karena kukira princess diculik atau dibawa pergi oleh Ibunya! Aaargh, ternyata kalian berdua biang keroknya. Bahkan aku sampai meminta bantuan pihak kepolisian untuk menyelesaikan kasus ini." lanjut Andre yang kini tampak menaikkan suaranya.


Ferhat dan Rumanah tampak terdiam tak menjawab amukan Andre. Ya, mereka paham jika Andre pasti sangat khawatir pada putrinya. Dan salahnya mereka tidak memberi kabar terlebih dahulu pada Andre. Kedua manusia itu sangat menyadari kesalahan mereka.


Namun penuturan Andre membuat Rumanah mengernyitkan dahi tak mengerti. Ia tampak memutar otaknya untuk bekerja lebih keras lagi. Tentu saja ia menggaris bawahi ucapan Andre yang mungkin saja tak sengaja Andre ucapkan.


"Ibunya? Kenapa dia bicara seperti itu. Ucapannya seolah takut putrinya diambil oleh Ibunya sendiri, sedangkan ibunya princess


itu ya istri Tuan galak ini. Hmmm, apa yang sebenarnya terjadi? Lalu, wanita cantik ini siapanya Tuan galak? Astaga, keluarga ini benar-benar membuat kepalaku vertigo." cerocos Rumanah dalam hati.


"Dan kau, gadis desa. Seharusnya kau menghubungiku, memberi kabar jika princess diajak main oleh pamannya. Ck, dasar kau pengasuh tidak becuss! Untung saja tidak terjadi apa-apa pada princess, dan kau masih dalam zona aman saat ini." Andre melanjutkan amukannya pada Rumanah sehingga membuat ambyar lamunan gadis desa itu.

__ADS_1


Rumanah tampak sedikit terlonjak kaget, namun gadis desa itu tampak hanya bisa terdiam dan tetap menundukkan wajahnya. Ia tak berani protes walau hanya satu kata pun. Menurutnya sangatlah percuma jika ia protes, sebab ia pasti akan kalah dan selalu disalahkan.


"Cukup bang. Jangan salahkan pengasuh ini, sebenarnya dia tidak salah. Dia hanya pengasuh yang lugu dan penurut, harusnya aku yang bertindak saat itu. Jadi maafkan aku, dan jangan salahkan dia. Karena aku yang salah, bukan dia." entah mendapat dorongan dari mana sehingga membuat Ferhat mencoba membela dan melindungi Rumanah. Padahal tadi pria ini seperti hendak memojokkan gadis desa yang tak berdaya itu.


Mendengar pembelaan Ferhat, Rumanah tampak tercengang dan setengah tak percaya. Tentu saja ia tampak mendongakkan wajahnya dan menatap heran pada Ferhat.


Sementara itu Andre pun sedikit terjingkat kaget mendengar pembelaan Ferhat. Dan Meliza, tampak tersenyum hangat pada Rumanah.


"Aku rasa sudah cukup permasalahan ini. Sepertinya aku sudah harus pergi. Sekali lagi aku minta maaf karena telah membuatmu panik dan khawatir pada princess. Kupastikan hal semacam ini tidak akan terjadi lagi." ucap Ferhat yang kemudian beranjak dari duduknya.


Andre tampak dibuat diam oleh mantan adik iparnya itu. Sementara itu Ferhat tampak melangkahkan kakinya hendak pergi meninggalkan tempat itu. Namun pada saat itu Rumanah menghentikan langkahnya.


"Ferhat." dengan suara yang nyaris bergetar namun tetap terdengar lantang, Rumanah tampak memanggil nama Ferhat.


Ferhat menghentikan langkahnya lalu menolehkan wajahnya pada Rumanah.


"Sampai jumpa di lain waktu, gadis desa." ucapnya dengan sebuah senyuman hangat. Setelah berkata demikian, Ferhat pun kembali melangkahkan kakinya benar-benar meninggalkan tempat itu.


"Kau menang." bisik Meliza pada telinga Rumanah. Dan hal itu membuat Rumanah semakin bisa bernapas lega dan tersenyum puas.


Sementara itu Andre tampak menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Tak mampu lagi melanjutkan kemarahannya pada pengasuh putrinya.


"Terima kasih, Nona." ucap Rumanah setengah berbisik.


Meliza menyunggingkan senyumannya.


"Ehem! Kau, gadis desa. Lanjutkan pekerjaanmu dengan baik dan benar. Jangan sampai melukai putriku dan jangan membuat kesalahan lagi." ucap Andre yang kemudian berlalu meninggalkan Rumanah dengan Meliza.

__ADS_1


Rumanah tampak mengangguk kecil mengiyakan. Kini tinggal dirinya dengan Meliza di dalam ruangan itu.


"Nona, terima kasih karena sudah menolong saya. Saya pasti tidak akan pernah melupakan jasa Nona pada saya." ucap Rumanah seraya membungkuk hormat.


Meliza menyunggingkan senyuman manisnya.


"Jangan sungkan. Panggil saja namaku, Meliza." ucapnya seraya mengusap lembut pundak Rumanah.


Rumanah terdiam setengah penasaran pada status wanita di hadapannya itu. Pasalnya ia sempat mengira jika Meliza adalah istri majikan galaknya.


"Eeemmh, maaf, tadi aku sempat mengira jika Nona, eh maksud saya Mbak Meliza akan memarahi saya juga. Hehe." ucap Rumanah sambil nyengenges.


Meliza tersenyum kecut mendengar pengakuan Rumanah.


"Hmm, sudah kuduga." ucapnya singkat.


"Tapi itu tidak masalah, karena aku juga sempat mengira jika kamu yang telah menculik princess. Jadi aku juga minta maaf, hehe." lanjut Meliza.


Rumanah menyengir kuda dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Eemh, ngomong-ngomong siapa namamu?" ucap Meliza.


"Nama saya Rumanah, Mbak." jawab Rumanah.


"Nama yang cantik. Semoga kita bisa berteman." ucap Meliza.


Rumanah tampak tercengang mendengar ucapan Meliza, tentu saja ia terkejut saat Meliza ingin menjadi temannya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, ternyata masih ada manusia sebaik dan setulus ini di muka bumi ini." ucap Rumanah dalam hati.


**


__ADS_2