Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Temani aku berenang!


__ADS_3

"Annabelle, kenapa kau seperti jijik melihatku? Apakah kau tidak menyukaiku? Tetapi kenapa kau memaksa aku untuk menikahimu? Aargh, kau benar-benar membuatku bingung," desis duda tampan itu yang kini sudah melepas celana panjangnya. Short dan shimpak yang kini tinggal melekat menutupi bawah pusar atas lututnya.


"Astaga, apa yang dia pikirkan? Tentu saja aku tidak ingin melihat, emh, apa ya? Pentungan maling? Terong belanda? Belalai gajah? Atau ... argh, masabodo ah!" cicit Rumanah dalam hati.


Merasa diacuhkan dan tidak dipedulikan oleh pengasuh putri kecilnya itu, Andre pun melangkah maju mendekati gadis desa itu. Tanpa pikir panjang ia pun melingkarkan tangan kekarnya pada pinggang ramping gadis desa itu. Dan, sungguh Rumanah begitu terkejut dan hampir saja jantungnya copot dari tempatnya.


"Ya ampun, Tuan! Anda membuat saya terkejut!" desis gadis desa itu seraya meletakan tangannya di dadanya.


Andre tersenyum kecil, ternyata gadis desa itu memang tidaklah tinggi. Buktinya, kepalanya hanya sampai pada dada bidang duda tampan itu. Namun, itu tidak membuat Andre menyesal, karena walau tidak tinggi semampai, gadis desa itu tetap bisa membuatnya uring-uringan dan bahkan penasaran.


"Kau menyebalkan, Annabelle!" desis duda tampan itu.


"Menyebalkan dari mananya?" tanya Rumanah.


"Dari segi mana pun! Kau sangat menyebalkan! Bagaimana bisa kau acuhkan aku saat aku sudah menyanggupi syarat yang kau berikan padaku. Astaga, kau benar-benar ingin mempermainkanku macam...," celoteh duda tampan itu yang tampak menggantung ucapannya dan seperti enggan untuk melanjutkan.


"Macam apa, Tuan?" tanya gadis desa itu penasaran.


"Emh, tidak ada. Pokoknya kau menyebalkan!" jawab duda tampan itu seraya melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh gadis desa di hadapannya agar menghadap kepadanya.


"Ish, gaje, deh!" desis Rumanah.

__ADS_1


"Gaje apaan?" tanya Andre tak mengerti.


"Gak jelas!" jawab Rumanah yang tampak menekan setiap ucapannya. Selepas itu ia melangkahkan kakinya hendak kabur dari tempat itu.


"Astaga, gadis desa ini benar-benar menggemaskan," desis Andre seraya mengusap wajahnya kasar.


Melihat pengasuh putrinya telah berjalan ke arah pintu yang sudah ia kunci, dengan cepat Andre berlari dan menangkap tubuh mungil itu lalu menggendongnya seperti bayi.


"Mau ke mana kau, Annabelle? Kau harus bertanggung jawab akan hal ini. Temani aku berenang sampai puas!" ucap Andre seraya membawa tubuh Rumanah ke pinggiran kolam. Dan tentu saja hal itu membuat Rumanah panik.


"Aaaaa, lepaskan saya, Tuan! Saya tidak mau berenang," pekik gadis desa itu.


"Aku akan mengajarkanmu agar kau bisa berenang, Annabelle!" tegas duda tampan itu seraya menurunkan tubuh Rumanah tepat di pinggir kolam.


"Astaga, aku lupa jika dia habis operasi," desis Andre dalam hati.


"Jika Anda ingin berenang, maka berenang lah sendiri, saya akan menemui princess di—" Rumanah belum selesai bicara, dengan cepat Andre menyelanya.


"Aku akan mencari pelindung anti air untuk melindungi tanganmu, Annabelle. Kau tunggu di sini!" ucap duda tampan itu yang terkesan memaksa.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. "Hahh? Tidak perlu, Tuan. Saya sungguh tidak ingin ber—" lagi-lagi Rumanah harus menggantung ucapannya saat tiba-tiba sang majikan menyelanya.

__ADS_1


"Kau tenang saja, tanganmu pasti aman tanpa terkena air," ucap Andre yang kini tengah sibuk mencari sesuatu.


Rumanah tampak benar-benar frustasi dan pusing menghadapi majikan mesumnya itu. "Ya ampun, orang ini benar-benar kekeh dan harus mendapatkan apa yang dia inginkan. Benar-benar pekerja keras!" cicit gadis desa itu dalam hati.


Beberapa menit kemudian...


Andre memasangkan plastik pelindung tangan Rumanah yang masih dibalut oleh kain kasa dan perban. Di bagian lengannya ia ikat sekuat mungkin, agar tidak ada celah untuk masuknya air ke dalam plastik itu.


"Nah, sudah aman 'kan? Sekarang kau sudah bisa berenang. Tenang saja, ini kuat dan tidak akan masuk air," ucap Andre saat ia telah selesai memasangkan plastik pelindung itu.


Rumanah menatap malas pada tangannya yang terbungkus plastik. "Memangnya siapa sii yang mau berenang? Anda terlalu pemaksa, Tuan. Menyebalkan!" cicit gadis desa itu yang berhasil membuat Andre tersenyum geli.


"Sssst, sudah jangan banyak protes. Sekarang ayo ikut aku," ucap duda tampan itu seraya berdiri dan mengulurkan tangannya pada gadis desa itu.


Rumanah memutar bola matanya malas dan menekuk wajahnya berekspresi kesal. "Saya bisa berjalan sendiri," ketus gadis desa itu yang tak mengurangi kemanisannya.


Andre membulatkan kedua bola matanya penuh dan menggelengkan kepalanya pasrah. "Whatever!" ucapnya lirih.


Kini, Rumanah sudah berdiri di pinggiran kolam. Perasaannya benar-benar kacau dan penuh kesal pada majikan galaknya yang semena-mena dan pemaksa itu.


"Aku benar-benar tidak mengerti pada majikan galak ini. Kenapa dia ngebet sekali ingin mendapatkanku?Dan, dia juga sudah menyanggupi syarat yang aku berikan. Tetapi, kenapa dia tidak mengatakan jika dia mencintaiku? Apa dia memang benar-benar tidak mencintaiku? Lantas, kenapa dia sangat ingin mendapatkanku? Huft, hal ini benar-benar membuatku pusing tujuh belas keliling," celoteh Rumanah dalam hati.

__ADS_1


~Segenggam rindu di ujung kalbu, sebutir cahaya di dalam dada. Seuntai kata cinta yang tak sanggup kuucapkan padanya. Cinta, mungkin akan terasa jika kita sudah saling menyapa hati.~ (Andre)


BERSAMBUNG...


__ADS_2