Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Pengecut


__ADS_3

Rumanah tampak masih memepet pada majikan galaknya. Tangannya semakin erat memeluk lengan kekar Andre. Sementara Andre tampak sedang menahan tawanya.


"Tuh kan, gamelannya bunyi sendiri. Itu artinya ada makhluk astral yang sedang menatap kita. Ah bukan kita, tapi eluuu!" ucap Andre yang semakin menakut-nakuti Rumanah.


Rumanah semakin merinding ketakutan. Gadis Desa itu tampak mempercayai ucapan majikannya. Tentu saja karena dia sudah kepalang parno.


"Tuan, jangan asal bicara. Kenapa hanya saya saja yang ditatap? Bukankah di sini ada Tuan juga." protes Rumanah.


Andre tertawa kecil mendengar protesan Rumanah.


"Karena kau yang berulah di sini." jawabnya enteng.


Rumanah tampak terjingkat kaget dan semakin mengeratkan pegangannya. Sementara kakinya sudah gemetaran sedari tadi.


"Astaga Tuaaaan, saya harus bagaimanaaa? Aaaaaa, kenapa Tuan bawa saya ke rumah yang menyeramkan begini si! Ayoo Tuan, kita keluar dari sini." teriak Rumanah yang kini semakin menjadi.


Andre tampak tertawa terbahak-bahak. Ekspresi Rumanah benar-benar membuatnya terhibur. Bagaimana bisa gadis Desa itu begitu ketakutan sementara hari masih sore. Tentu saja hal itu membuat Andre tak henti-hentinya tertawa.


"Yaelah Tuaaan, kenapa Anda malah tertawa senang seperti itu? Ayolah Tuan, kita harus segera keluar dari sini sebelum nyawa Tuan jadi taruhannya." celoteh Rumanah yang masih panik dan ketakutan.


"Apa kau bilang? Nyawaku? Hahaha, itu tidak mungkin. Lagipula kau yang bermasalah di tempat ini, jadi kuyakin kau yang akan menjadi anak buah penghuni tempat ini. Hahahaaha!" sungut Andre yang tampak masih tertawa terbahak-bahak.


Rumanah tampak menggigit bibir bawahnya dan seluruh tubuhnya kini tampak bergetar hebat. Keringat dingin bercucuran di mana-mana, wajahnya pun kini berubah pucat. Ternyata gadis Desa yang cerewet itu sangat takut gelap dan pengecut.


"Ampuuun! Maafkan saya, saya tidak akan melakukan hal yang tak terpuji lagi." rengek Rumanah yang tampak pasrah dan meminta maaf. Dia tidak tahu jika majikannya hanya bercanda dan menakut-nakutinya.

__ADS_1


Andre semakin kegelian sendiri dengan tingkah pengasuh putrinya. Duda tampan itu sudah tak bisa lagi melanjutkan aksinya.


"Ayolah Tuan, kenapa Tuan diam saja? Ayo kita keluar dari tempat menyeramkan ini." kembali Rumanah merengek pada majikan galaknya. Saat seperti itu gadis Desa itu tidak memperdulikan siapa dirinya dan siapa pria yang berada di pelukannya.


"Oke baiklah, kau tenang dan jangan berisik. Kau membuat telingaku hampir meledak karena suaramu." ucap Andre seraya mulai melangkahkan kakinya mencari sebuah pintu keluar dari dalam sana.


Rumanah pasrah dan benar-benar terdiam, yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah keluar dari tempat yang gelap dan menyeramkan itu.


Andre membuka daun pintu dengan sebuah senyuman puas. Ya, dia puas karena telah mengerjai pengasuh putrinya yang ngeyel dan cerewet itu.


"Sudah, lepaskan tanganku." ucap Andre seraya menepiskan tangan Rumanah yang memeluk erat lengan kekarnya.


Alih-alih melepaskan, Rumanah malah semakin mengeratkan pegangannya. Wajahnya benar-benar terlihat syok dan pucat. Tentu saja ia masih merasa ketakutan dan suges.


"Astaga, kau ini kenapa? Lihat, dunia masih terang. Jangan lebay deh!" sungut Andre kesal karena Rumanah masih mepet dan ngelendot padanya.


"Ck, apa yang kau takutkan hah? Kita sudah keluar dari tempat itu. Astaga, pengecut sekali kau!" rutuk Andre yang tampak menaikkan suaranya.


"Saya takut dijadikan pengikut makhluk-makhluk astral di sini, Tuan." jawab Rumanah polos.


Andre tampak tak kuasa menahan tawanya.


"Hahahaha!" tawa Andre kembali menggelegar saat itu juga.


Di saat waktu yang bersamaan, princess dan Omma Oppanya tampak berjalan ke arah mereka.

__ADS_1


"Daddy! Dewi peri!" Sandrina berlari kecil menghampiri Andre dan Rumanah.


Sementara itu Omma Purwati dan Oppa Dargono tampak menatap heran pada seorang gadis yang tak mereka lihat begitu lengket dan mepet pada putranya.


"Hei, cepat lepaskan! Aku tak mau kedua orang tuaku salah paham. Jangan membuatku malu!" ucap Andre seraya menepiskan tangan Rumanah.


Kali ini Rumanah tampak nurut dan tidak ngeyel. Gadis desa itu tampak menundukkan wajahnya yang tampak masih terlihat pucat.


"Dad, dewi peri, kalian sedang apa? Pantas saja kami mencari kalian tapi tidak ketemu. Ternyata kalian sedang berduaan." celoteh Sandrina yang berhasil membuat Andre mengusap wajahnya kasar.


"Aduh-aduuuh, siapa ini? Sepertinya Omma belum pernah melihatnya." ucap Omma Purwati saat ia telah berada di dekat Andre dan Rumanah.


Rumanah tampak tersenyum kaku dan sedikit membungkuk memberi hormat. Kemudian dia menyalami tangan kedua orang tua Andre.


"Ini dewi peri, Omma. Dia sangat cantik dan lucu." timpal Sandrina yang menjawab pertanyaan Ommanya.


Omma dan Oppa tampak tersenyum hangat pada Rumanah.


"Ooh ini dewi peri yang princess ceritakan pada Omma?" tanya Omma.


Sandrina mengangguk dan tersenyum sumringah.


"Dewi peri, kenapa wajahmu terlihat pucat dan tubuhmu gemetaran? Dewi peri gerogi bertemu dengan Omma dan Oppa?" selidik gadis kecil berusia lima tahun itu.


Rumanah tersenyum kaku dan meremas jari-jemarinya. Sementara Andre tampak menarik napas panjang dan membuangnya kasar.

__ADS_1


***


__ADS_2