Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Oh Annabelle


__ADS_3

Sekitar pukul delapan malam, Andre baru saja pulang dari perusahaannya. Hari ini, pria tampan itu harus disibukkan dengan pekerjaannya yang tidak dapat ia tinggalkan. Maka hal itu pun yang membuatnya tidak bisa menjemput sang putri mahkota dan sang istri sirrinya di sekolah TK.


Beruntungnya, sang asisten pribadi yaitu Leo bisa dengan sigap dan siaga menjaga serta melindungi sang putri mahkota beserta istri cantiknya yang sempat membuatnya badmood hari ini.


Bruugghhhh!


Dengan kasar Andre membanting pintu mobilnya. Bayangan princess yang menangis ketakutan karena kedatangan Mommy nya begitu menari-nari di kepalanya. Belum lagi bayangan sang istri yang sedang diamuk, dicaci maki dan didorong dengan kasar oleh sang mantan istri pun juga ikut menggerayangi pikirannya.


Ya, ia sudah tahu apa yang telah terjadi di sekolah princess siang tadi. Leo, sang asisten pribadi itu dengan mendetail menceritakan apa yang telah Luna lakukan di sekolah putri kecilnya itu. Tak lupa Leo pun menceritakan jika Rumanah sempat didorong oleh Luna dan tentu saja sempat hendak dilukai oleh wanita bunglon itu.


"Selamat malam, bos. Princess dan Rumanah sudah aman dan tenang." Leo menyambut sang bos tampannya dengan sebuah kabar yang akan membuat pria tampan itu sedikit tenang.


"Apakah mereka sudah terpejam?" tanya Andre.


"Sepertinya princess sudah terpejam sedari tadi, bos. Gadis kecil itu tidak ingin jauh-jauh dari dewi peri nya." Leo menjawab dengan lugas dan tanpa ragu.


Andre tampak membuang napasnya lega dan menganggukkan kepalanya. Mendengar kabar seperti itu mampu membuatnya sedikit tenang.


"Baiklah, terima kasih atas kerja bagusmu hari ini, Le. Kalau gitu, kau sudah bisa pulang," ucap Andre dengan suara yang berat.


Leo mengangguk. "Baik, bos." ucapnya yang kemudian melenggang pergi meninggalkan bos tampannya itu.


"Huuuffffft!" Andre membuang napasnya berat dan merenggangkan sendi-sendinya. Menghadapi mantan istrinya benar-benar membuat kepalanya keram dan emosinya hampir meledak-ledak.


"Semoga saja Annabelle belum tidur, aku harus bicara dengannya," ucap Andre di dalam hati.


Tanpa membuang waktu lagi Andre pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga hingga lantai tiga. Lantai di mana kamar putri mahkotanya berada.


Ceklek!


Dengan pelan Andre membuka handel pintu. Menatap jeli pada seluruh isi di dalam kamar itu. Sementara yang berada di dalam tampak sedikit terjingkat kaget saat mendengar handle pintu.


"Hah, dia sudah pulang," gumam Rumanah di dalam hati. Wanita cantik itu tampak berbaring di samping putri sambungnya dengan posisi miring menghadap putri sambungnya yang sudah terlelap sedari tadi.


Andre melangkahkan kakinya dengan pelan. Dilihatnya dua orang yang mengisi ranjang, seketika bibir tebalnya melengkung ke atas. Membentuk sebuah senyuman manis dan tenang.


"Ademnya melihat mereka seperti ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bahagia dan tekejutnya princess saat tahu jika dewi peri nya kini sudah menikah dengan Daddy nya ini." Andre bicara di dalam hati.


Dengan pelan ia melangkahkan kakinya mendekati ranjang itu, tentu saja ia berjalan ke arah istri sirrinya yang membelakanginya.


"Astaga, aku harus bagaimana? Kenapa jantungku berdegup kencang seperti ini? Aku sungguh tidak ingin bicara dengannya. Aku tak ingin menatap wajahnya, argh!" celoteh Rumanah di dalam hati.

__ADS_1


Wanita cantik itu tampak berpura-pura terpejam karena tidak ingin bicara dan menatap wajah suaminya yang tampan dan selalu berhasil membuatnya terpesona. Sementara itu Andre kini sudah berdiri di sampingnya.


"Princess sudah tidur dengan nyenyak dan terlihat tenang dalam pelukan dewi peri nya. Ah tidak, maksudku Bundanya. Tapi, apakah wanita ini benar-benar sudah terlelap?" cerocos Andre di dalam hati.


Pria tampan itu tampak masih berdiri sembari memperhatikan wajah cantik istri sirrinya yang sedang terpejam. Namun, sesekali ia pun menatap damai wajah cantik putri mahkotanya yang benar-benar terlelap dengan tenangnya.


Lumayan lama pria tampan itu berdiri di sana, ia bingung harus berbuat apa. Sementara dirinya sangat merindukan istri sirrinya yang sedang marah padanya. Tentu saja ia ingin bicara dan ingin menyelesaikan permasalahan di antara mereka. Namun, sang istri benar-benar bersikap seperti sedang terlelap.


"Sepertinya dia benar-benar tidur," ucap Andre di dalam hati. Ia tampak mendekatkan wajahnya pada wajah cantik istri sirrinya. Tentu saja ia harus memastikan jika istri sirrinya itu benar-benar terlelap.


"Astaga, apa-apaan sii pria ini! Kenapa dia harus deket-deket gini sii. Bisa-bisa aktingku gagal ini gara-gara hembusan napas pria ini yang menerpa wajahku, ish!" cicit Rumanah dalam hati.


Sementara itu Andre tampak melengkungkan bibirnya ke atas, membentuk senyuman geli dan usil saat ia melihat kelopak mata Rumanah yang tidak mau diam. Tentu saja hal itu menandakan jika wanita itu belum terlelap. Astaga!


"Ha ha ha, ternyata dia sedang berpura-pura. Hmmm, aku suka gaya dan usahamu, Annabbelle." batin Andre kembali berucap.


Andre menjauhkan wajahnya dari wajah istrinya. Seketika ide konyol muncul di kepalanya. Pria tampan itu mendudukkan bokongnya di sisi ranjang. Untuk sesaat ia memperhatikan kedua wajah orang yang sangat berharga baginya.


Dengan pelan Andre menaikkan kakinya ke atas ranjang, beruntungnya di sisi Rumanah masih tersisa ruang untuknya. Pria tampan itu tampak menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang, menatap geli pada sang istri yang berusaha keras berpura-pura terlelap.


Sementara Rumanah tampak terbelalak kaget dan membulatkan kedua bola matanya penuh saat Andre beringsek duduk di sampingnya.


"Astogeh, kenapa harus duduk di sini sii? Apa yang akan dia lakukan? Waduh, bisa-bisa napasku sesak karena pria ini," cicit Rumanah dalam hati.


Rumanah terhenyak kaget mendenyar ucapan suaminya itu. Tentu saja ia mulai tidak tenang dengan kehadiran suami tampannya itu.


"Sepertinya aku harus menciumnya agar tidurnya semakin nyenyak," ucap Andre yang berhasil membuat Rumanah tercengang dan tegang.


"Hah? Siapa yang mau dia cium? Di sini ada aku dan princess." Rumanah pun kembali membatin.


Andre tersenyum kecil melihat gestur tubuh istri sirrinya yang terlihat tidak nyaman dan juga napasnya yang terlihat naik turun tak beraturan.


"Kau selalu membuatku gemas," gumam Andre dalam hati.


Pria tampan itu pun benar-benar hendak mencium salahsatu di antara dua orang itu. Ya, tentu saja Andre akan mencium putri mahkotanya. Namun, bukan itu yang membuat Rumanah tegang dan sesak. Tapi, tubuh Andre yang seakan sengaja mengapit tubuhnya dengan paksa sehingga wanita cantik itu harus sedikit tergoyang.


Muaccch!


Dengan lembut Andre mendaratkan bibirnya pada kening putri mahkotanya.


"Uh! Kenapa harus dari sini sii menciumnya, padahal bisa dari sebelah sanaaaaa! Ck, dasar menyebalkan!" cicit Rumanah dalam hati.

__ADS_1


Andre kembali menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Dan senyuman usilnya masih terukir di wajah tampannya.


"Tenyata dia benar-benar berusaha keras menghindariku. Dia belum tahu gimana aku. Ha ha ha ha. Semakin kau jauh, semakin kukejar. Ha ha ha ha," ucap Andre dalam hati.


"Ya ampun, ngapain lagi sii dia masih duduk di sini? Kenapa gak langsung minggat saja ke kamarnya. Benar-benar meresahkan!" cicit wanita cantik itu dalam hati.


Andre terdiam sejenak dan masih memandangi wajah cantik istri sirrinya. Bibir mungilnya yang berwarna merah muda alami itu tampak membuatnya sulit menelan salivanya.


"Kenapa dia senang sekali membuatku seperti ini? Dan, kenapa dia senang sekali memakai daster seperti ini? Hmmm, sepertinya aku harus membelikannya daster yang lebih seksi dari ini," ucap Andre dalam hati.


Setelah beberapa detik ia terdiam dalam posisinya, akhirnya pria tampan itu pun beringsut menurunkan tubuhnya dan merebahkan kepalanya di bantal yang digunakan oleh Rumanah.


"Ya Tuhan, pria ini benar-benar ... pengen tak hiiiiickkkhhh!!!!" cicit Rumanah dalam hati.


Dengan santai Andre memiringkan tubuhnya, menghirup sejenak aroma tubuh istri sirrinya itu.


"Hummmm, harumnya," gumam pria tampan itu dalam hati.


Tanpa membuang waktu lagi, Andre pun melingkarkan tangannya pada perut rata istri cantiknya itu. Mengusel pada tengkuk istrinya yang putih dan harum.


"Ya ampun, dia ini maunya apa sii? Kenapa malah tidur di sampingku. Ya Tuhan, semoga aku tidak tergoda olehnya. Dasar menyebalkan!" cerocos Rumanah di dalam hati. Wanita cantik itu tampak mengkeret dan mencoba menahan dirinya agar tetap tenang.


Sementara Andre kini tampak semakin mengeratkan pelukannya dengan sengaja agar sang istri terusik oleh kehadirannya.


"Annabelle, apakah kau benar-benar sudah tidur?" bisik Andre pada telinga istri sirrinya. Tentu saja hal itu membuat Rumanah sedikit begidik geli akibat hembusan napas suami tampannya itu.


Pria tampan itu menyunggingkan senyuman usilnya. Walaupun ia tahu jika istrinya sedang kesal dan marah padanya, tapi ia sangat gemas dan semakin ingin menggoda istri sirrinya itu.


"Bangun dong istriku yang cantik, suamimu sudah berada di sampingmu." Andre kembali membisiki telinga istrinya dan membelai lembut perut rata istrinya itu.


Glek!


Rumanah tampak menelan ludahnya kasar dan seketika napasnya tercekat di tenggorokan. Tentu saja ia mulai terusik oleh kegilaan suami tampannya itu. Jangan sampai ia gagal mempertahankan aktingnya.


"Ha ha ha ha, dia sudah mulai tidak nyaman," ucap Andre dalam hati.


Kembali Andre mengusel pada tengkuk istri cantiknya itu. Dan kali ini ia sengaja menggesek-gesekkan adik kecilnya pada belahan bokong istri sirrinya itu. Dan lagi, hal itu membuat Rumanah benar-benar sulit bernapas dan hampir saja mengences karena menahan sesuatu.


"Ya Tuhan, kuatkanlah diriku ini dari godaan setan yang terkutuk. Eh, kok setan sii. Dia 'kan manusia, suami gue lagi. Astaga!" cicit Rumanah dalam hati.


"Oh Annabelle, ayolah kau bangun dan katakan kau menginginkanku." Andre tampak terpancing oleh permainannya sendiri. Padahal, ia yang memulai, tapi ia juga yang merasakan penderitaannya. Seketika saja senjata tajamnya bangkit berdiri dengan gagah perkasa.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2