
Meliza berdiri di depan pintu kamar bos dudanya. Tentu saja ia tidak akan sembarangan masuk. Lagi pula, bos dudanya pasti mengunci pintu kamarnya di dalam.
"Kenapa lama sekali, padahal aku sudah menekan bell. Dan, hujannya pun sudah reda. Hmmm, apa jangan-jangan Pak Andre ketiduran." ucap Meliza yang tampak heran.
Sementara itu di dalam, Andre tampak terjingkat kaget saat ia melihat sosok sekretaris cantiknya sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Astaga, Meliza." cicit duda tampan itu yang tampak terlonjak kaget.
Rumanah yang sedari tadi memperhatikan majikan galaknya itu tampak penasaran dengan apa yang majikan galaknya lihat.
"Siapa, Tuan? Kenapa Anda terkejut seperti itu?" tanya gadis desa itu yang tampak penasaran. Rumanah yang manis tampak masih berselimut dalam keadaan polos tanpa pakaian.
Andre meninggalkan komputernya, duda tampan itu buru-buru menghamiri Rumanah lalu membisikinya. "Annabelle, sebaiknya sekarang kau bersembunyi di kamar mandi. Aku rasa ini sangat berbahaya sekali," ucap duda tampan itu yang berhasil membuat Rumanah semakin tidak mengerti.
"Ada apa, Tuan? Kenapa? Apanya yang berbahaya?" tanya Rumanah berbondong-bondong.
Andre mengusap wajahnya dan menyibakkan selimut pengasuh putri kecilnya itu. "Meliza, dia sedang menungguku di luar. Sebaiknya sekarang kau bersembunyi di dalam kamar mandi, Annabelle. Sementara aku akan menemui wanita itu terlebih dahulu." jawab duda tampan itu seraya menarik tangan Rumanah lalu menggendongnya seperti seorang bayi.
__ADS_1
"Astaga, Tuan. Apa-apaan, saya bisa berjalan sendiri." cicit Rumanah seraya menepuk-nepuk dada bidang majikan galaknya itu.
"Ssstttt, kau jangan berisik, Annabelle. Kau mau Meliza melihatmu berada di sini?" tegur duda tampan itu yang tampak menekan setiap ucapannya.
Rumanah melipat bibirnya ke dalam. Tentu saja ia tidak mau sampai Meliza mengetahui keberadaannya yang sedang gila. Ya, dia seperti orang gila! Mau saja diraba dan dinikmati oleh duda tampan mata keranjang cucian seperti Andre. Dasar!
"Tidak, saya tidak mau ada yang tahu tentang ini, Tuan." jawab Rumanah sedikit merengek.
"Makanya kau diam." ucap Andre seraya menurunkan pengasuh putri kecilnya itu di dalam kamar mandi. Duda tampan itu sampai lupa jika kamarnya kedap suara.Ha ha ha, tentu saja Meliza tidak akan mendengar apa yang ia bicarakan di dalam sana. Dasar, ini penyebab dari kepanikan yang mendalam.
"Tuan, jangan mengatakan apa pun pada Mbal Mel, saya tidak ingin—" belum sampai Rumanah menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Andre menyelanya.
Rumanah terdiam membisu saat Andre sedikit memarahinya. Apalagi saat Andre mengucapkan satu persatu kata yang keluar dari mulutnya. Dan jujur, Rumanah sedikit merasa sedih dan mulai menyadari perbuatannya. Dia menyesal!
"Sudah, kau diam di sini. Aku akan menemui Meliza dan akan menyuruhnya menunggu di mobil agar semuanya aman. Kau aman dan aku pun aman." tegas duda tampan itu seraya mengusap wajah Rumanah yang tampak kusut seperti belum disetrika.
Dengan pasrah Rumanah mengangguk mengiyakan. Tentu saja ia tak dapat menolak atau pun membantah perintah majikan galaknya itu. Sementara Andre tampak sudah berlalu meninggalkan Rumanah di dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa semudah ini aku menyerahkan tubuhku pada majikan galak itu. Dan lihat sikapnya, dia tidak semanis tadi. Tidak semanis saat merayuku. Astaga, aku benar-benar sudah gila dan sudah seperti *******! Aku bersumpah tidak akan pernah melakukannya lagi. Untung saja majikan galak itu belum mendobrak lubang mis vags milikku. Astaga, aku pasti akan menyesal seumur hidup jika itu benar-benar terjadi. Untuk pengalaman ini, akan kusimpan dalam-dalam dan anggap saja itu semua sebagai edukasi. Ha ha ha ha ha. Gila, masih saja bisa tertawa." celoteh Rumanah di dalam.hati.
Sementara itu Andre tampak merapikan kemeja dan rambutnya, tentu saja ia harus hati-hati menghadapi sekretaris cantiknya yang jeli itu.
Sssrrreeeetttt!
Seketika pintu kamar itu terbuka secara perlahan. Andre berdiri di ambang pintu, sementara Meliza tampak tersenyum manis kepadanya.
"Selamat pagi, Pak." sapa sekretaris cantik itu.
Andre melemparkan senyumannya. "Selamat pagi juga, Mel. Aku rasa kau datang ke sini untuk menjemputku, bukan?" ucap duda tampan itu.
Meliza mengangguk. "Ya, benar sekali, Tuan. Sedari tadi princess sudah menung—" Meliza belum selesai bicara, tiba-tiba Andre menyelanya.
"Hujan pagi ini begitu lebat, Mel. Rasanya aku ingin sekali menghabiskan waktu di dalam kamar hingga malam menjelang. Akibat hujan yang lebat ini, aku sampai ketiduran, Mel." sela duda tampan itu seakan tahu pertanyaan sekretaris cantiknya.
Meliza tersenyum hangat, tak ada sedikit pun rasa curiga di dalam hatinya. "Sudah saya duga, Pak," ucap sekretaris cantik itu. "Tetapi, apakah Pak Andre akan bekerja dan mengan—" lagi-lagi Meliza menggantung ucapannya saat tiba-tiba Andre menyelanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...