Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Seperti pernah bertemu


__ADS_3

Jakarta, waktu setempat.


Ferhat mengendarai mobil miliknya ke sebuah perusahaan yang akan menjadi tempatnya bekerja. Ya, orang tua Ferhat memang tidak memiliki perusahaan seperti halnya Andre. Mereka hanya memiliki beberapa restoran dan kafe yang telah dikelola oleh adik-adik almarhum ayahnya.


Bukan tidak diperbolehkan untuk Ferhat mengelola dan mengatur semua aset kekayaan milik keluarganya. Tapi, pria tampan itu lebih memilih bekerja dan mencari pengalaman di tempat lain. Ia lebih tertarik menjadi karyawan, bukan bos. Karena, ia sudah puas menikmati uang dari hasil kekayaan kedua orang tuanya.


"Akhirnya aku bisa bekerja di perusahaan ini," ucap Ferhat saat ia keluar dari mobil miliknya.


Pria tampan itu berjalan dengan penuh wibawa. Sesekali ia menarik napas dan membuangnya perlahan. Mencoba merilekskan dirinya. Tentu saja ini adalah pengalaman pertamanya dalam hal pekerjaan. Ia harus fokus dan benar-benar hati-hati agar tidak terjadi masalah ke depannya.


"Sesuai dengan perintah bos besar, Bang Andre. Gue harus menemui sekretarisnya untuk mengarahkan apa yang harus gue kerjakan. Hmm, padahal gue belum tahu Bang Anda bakalan kasih gue kerjaan apa. Syukur-syukur jadi manager, hahay. Paling tidak, yaaaa staf tinggi gitu lah. Gak mungkin 'kan seorang Ferhat diberikan pekerjaan sebagai office boy. Astaga! Seram sekali dah!" cerocos Ferhat dengan suara yang pelan.


Saat ia berada di depan pintu utama perusahaan milik mantan kakak iparnya itu, security yang berjaga menyambutnya dengan hangat. Mungkin sekretaris Andre yang tak lain adalah Ririn sudah berpesan pada security yang jaga di depan.


"Selamat pagi, Mbak. Saya ingin bertemu dengan sekretaris Pak Andre," ucap Ferhat pada pramusuara.


"Ya, selamat pagi, Pak. Apakah Anda Pak Ferhat?" sahut wanita yang duduk di kursi kebesarannya.


Ferhat mengangguk disertai senyuman manisnya.


"Baik, kalau begitu saya akan hubungi Bu Ririn bahwa Anda telah datang." Ucap si pramusuara yang kemudian menyambar gagang telepon dan menekan beberapa tombol.


Ferhat menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan. Ia sempat terkejut saat tahu sekretaris mantan kakak iparnya adalah seorang perempuan. Lagi-lagi harus perempuan. Mungkin begitu pikirnya. Pasalnya, Andre memang tidak memberitahu dirinya secara mendetail tentang sekretarisnya itu.


Di ruangannya, Ririn tampak sedang mengerjakan beberapa lembar laporan yang harus bos tampannya tandatangani. Sebagai sekretaris yang smart seperti kakaknya, Ririn memang sudah bisa Andre andalkan. Maka hal itu membuat Andre merasa tenang dan nyaman memiliki sekretaris pengganti Meliza yaitu Ririn.


Krrriiiing!


Saat telepon berdering, dengan cepat Ririn menyambar gagang telepon lalu menempelkan di telinganya.


"Hallo, dengan Ririn, sekertaris Pak Andre." Ucap Ririn menyapa seseorang di seberang sana.


"Hallo," sahut suara seorang pria yang hanya berkata 'hallo'.


Ririn bengong dan mengerutkan dahi. Ia tidak tahu itu siapa. Tapi, sepertinya ia harus bertanya dan mungkin saja ada yang harus dia lakukan.


"Hallo, ini dengan siapa, ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ririn dengan suara yang halus.


Di bawah, Ferhat tampak terdiam dan membiarkan Ririn bicara sendiri. Sementara dirinya tampak tertegun dan sedikit tercengang mendengar suara sekretaris mantan kakak iparnya itu. Sepertinya dia pernah mendengar suara itu. Tapi, siapa dan di mana?


"Hallo," terdengar suara Ririn memecah lamunan Ferhat.


"Pak, itu teleponnya masih hidup, lho. Kok Anda diam saja? Bu Ririn bertanya Anda siapa. Tadi juga biar saya saja yang bicara. Kenapa rebut teleponnya dan memaksa ingin bicara dengan Bu Ririn. Sekarang, Anda malah diam saja." Celoteh si wanita menegur Ferhat.


Ferhat mengerjapkan matanya dan menggeleng kecil. Mengusap wajahnya lalu membuang napasnya kasar.


"Hallo, dengan Ririn sekertaris Pak Andre. Ada yang bisa saya bantu?" terdengar kembali suara Ririn di seberang sana.


"Hallo, dengan Ferhat, calon karyawan baru di perusahaan Pak Andre." Sahut Ferhat yang kini mulai bersuara banyak.


"Oh, Pak Ferhat. Baik, silakan naik ke lantai lima belas, Pak. Saya ada di ruangan," balas Ririn dengan suara yang lembut dan hangat.


Ferhat tersenyum dan mengangguk. Entah tersenyum pada siapa. Mengangguk pun, Ririn tidak akan bisa melihat anggukannya. Sebab, mereka tidak sedang duduk berdua di sana.


"Saya tunggu ya, Pak. Kebetulan Pak Andre sudah menghubungi saya beberapa jam yang lalu," ucap Ririn yang kembali membuyarkan lamunan Ferhat.


"Oh iya, Bu Ririn. Tapi, saya tidak membawa apa-apa." Jawab Ferhat.

__ADS_1


"No problem, Pak." Balas Ririn singkat padat jelas.


Ferhat tampak tercengang kembali dan matanya kini terbuka lebar-lebar. Sepertinya ia memang pernah mendengar suara wanita itu. Walau melalui gagang telepon, tapi suara wanita bernama Ririn itu benar-benar jelas dan menusuk ke dalam hatinya.


"No problem. Argh! Kenapa aku seperti sudah pernah mendengar kata dan suara ini. Tapi, di mana dan siapa?" ucap Ferhat di dalam hati.


"Jika sudah selesai, silakan naik ke lantai lima belas, Pak. Bu Ririn berada di ruangannya." Ucap si wanita sembari meraih gagang telepon yang hampir saja terlepas dan jatuh dari tangan Ferhat.


"Ah, iya. Terima kasih." Jawab Ferhat sedikit gugup.


Si wanita mengangguk dan tersenyum secara terpaksa. Mungkin dia merasa heran melihat pria tampan yang memiliki gelagat aneh itu.


"Tampan, tapi kok seperti lemot. Saat bicara dengan Bu Ririn, dia seperti melamun dan memikirkan sesuatu. Ah, entahlah!" cerocos si wanita di dalam hati.


Sementara itu, Ririn tampak menggeleng kecil dan membuang napasnya perlahan. Baru saja ia bicara dengan orang yang baru pertama kali akan bertemu dengannya.


''Aneh, kenapa dia yang bicara. Harusnya staf yang ada di sana." Ucap Ririn sembari kembali mengerjakan apa yang harus ia kerjakan.


Tidak bisa Ferhat pungkiri jika tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang saat ia mendengar suara sekretaris Andre yaitu Ririn. Pria tampan itu pun sangat merasa heran pada dirinya sendiri. Ada apa sebenarnya? Dan kini, ia merasa jika pernah bertemu dengan wanita yang menjadi sekretaris mantan kakak iparnya itu. Tapi, di mana? Di mana ia pernah mendengar suara yang lembut dan hangat itu? Ia sendiri masih memikirkan hal ini. Apakah hanya halusinasi semata? Atau ia memang pernah bermimpi bertemu dengan pemilik suara lembut itu?


Entahlah!


"Ehem, tes-tes!" dehem Ferhat mencoba latihan suara agar terlihat berwibawa.


Pria tampan itu kini sudah berada di lantai lima belas. Satu lantai di atasnya adalah ruangan bos besarnya yaitu Andre. Tentu saja ruangan presiden direktur mah berbeda dengan ruangan-ruangan yang lainnya. Lebih spesial dan mewah.


Ferhat berdiri di depan pintu ruangan Ririn. Di lantai itu, memang tidak ada ruangan yang lain selain ruangan Ririn. Tentu saja Ferhat pun tidak kesulitan menemukan ruangan khusus itu.


"Apakah aku harus mengetuk pintu? Atau harus menggunakan ini saja?" Ferhat bertanya-tanya, apa yang harus ia lakukan. Di hadapannya, ada sebuah interkom yang sepertinya harus ia gunakan.


Setelah berpikir untuk beberapa saat. Akhirnya ia pun bergegas menekan interkom yang tersambung ke dalam ruangan Ririn.


Setelah bicara, ia tersenyum kecil dan menunggu jawaban dari dalam.


"Masuk, Pak Ferhat." Balas Ririn melalui interkom.


Ferhat mengangguk dan tersenyum. Sebelum masuk, ia merapikan kemeja navy-nya dan mengatur napasnya agar tetap santai dan tenang.


Ceklek!


Pria tampan itu membuka handle pintu dengan pelan. Mendorongnya secara perlahan dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan sekretaris mantan kakak iparnya itu.


"Hah, ke mana orangnya? Kenapa tidak ada di mejanya? Astaga, ada apa dengan jantungku? Kenapa dag dig dug seperti ini, sih?" cerocos Ferhat di dalam hati.


Ya, pada saat Ferhat masuk, sosok Ririn memang sedang tidak ada di mejanya. Entah ke mana wanita cantik itu.


"Ehem," deham Ferhat mencoba memberi kode pada Ririn jika dirinya sudah berada di dalam ruangan wanita cantik itu.


Ia berdiri di depan meja kerja Ririn dan menatap fokus pada beberapa tumpuk laporan yang berada di atas meja Ririn.


"Selamat pagi, Pak Ferhat. Silakan duduk," ucap Ririn secara tiba-tiba. Ia muncul dari balik rak buku dan berhasil membuat Ferhat tersentak kaget dan hampir saja jantungnya meloncat dari tempatnya.


"Astaga! Se–selamat pagi," balas Ferhat dengan suara yang gugup. Secepat kilat ia menolehkan wajahnya menghadap Ririn yang berjalan di belakangnya.


Namun, betapa terkejutnya Ferhat saat melihat wajah cantik wanita di hadapannya itu.


"Hah, kamu!?" ucap Ferhat dengan raut wajah yang terlihat syok.

__ADS_1


Ririn mengerutkan dahi dan mencoba mengingat-ingat siapa sosok pria di hadapannya. Setelah melihat wajah Ferhat, ia sedikit merasa jika pernah bertemu dengan pria itu. Tapi, di mana?


"Apakah kita saling mengenal?" tanya Ririn sembari melangkahkan kakinya dan duduk di kursi kebesarannya. "Silakan duduk." Lanjutnya menyuruh Ferhat untuk duduk.


Ferhat mengerjapkan matanya dan membuyarkan lamunannya sendiri. "Benar, kalau jodoh memang tak ke mana. Hahay," ucapnya dalam hati.


Dengan pelan ia mendudukkan bokongnya di kursi depan meja Ririn. Senyumnya mengembang dan sesekali ia menatap wajah cantik Ririn yang sedang membuka sebuah map di tangannya.


"Sepertinya dia tidak mengenal aku. Tapi, aku juga tidak kenal sama dia. Hahaha. Menarik sekali. Hmmm, ternyata sekretaris Bang Andre si cewek cantik ini. Astaga, Bang Andre benar-benar tahu mana wanita yang cantik." Cerocos Ferhat di dalam hati.


"Pak Ferhat, apakah Anda siap menjadi bagian dari perusahaan ini?" tanya Ririn memecah keheningan di antara mereka.


"Ehem, tentu saja saya siap, Bu Ririn yang terhormat dan ... cantik," jawab Ferhat dengan senyuman manisnya. Ketika ia berkata 'cantik', suaranya sangat kecil sekali sehingga membuat Ririn tidak bisa mendengar dengan jelas.


Ririn tersenyum dan menggeleng kecil. "Baik, kalau begitu, saya selaku sekretaris Pak Andre. Dan, beliau juga sudah berpesan pada saya untuk mengurus pekerjaan Anda, jadi saya sampaikan hal ini pada Anda, Pak Ferhat." Ucapnya sembari menutup map dan meletakannya kembali.


Ferhat mengangguk dan tersenyum. Ia sangat tertarik menatap wajah cantik Ririn.


"Dilihat-lihat, dia hampir mirip dengan Meliza. Astaga! Bang Andre ini benar-benar cepu. Dia sampai sedetail itu mencari sekretaris pengganti Meliza. Dan, wajahnya pun benar-benar mirip dengan Meliza. Aku harap, dia sudah move on dari wanita itu dan setia pada Rumrum." Celoteh Ferhat di dalam hati.


"Jadi begini, Pak Ferhat. Pak Andre meminta saya untuk menyampaikan ini. Emh, sebelumnya saya mau mengucapkan selamat, ya. Karena Anda sudah diterima bekerja di sini. Semoga Anda bisa berkiprah dengan baik dan benar," ucap Ririn dengan senyuman manisnya.


Ferhat mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih, Bu Ririn. Saya pasti akan berusaha semaksimal mungkin." Balasnya. "Tapi, kalau boleh tahu, pekerjaan apa yang Pak Andre berikan pada saya? Bisa dilihat dari segi pendidikan, saya tidak terlalu buruk, Bu. Jadi, mungkin akan menempati posisi sepadan dengan pangkat saya." Lanjutnya penuh percaya diri dan membuat Ririn melongo mendengarnya.


"Ge'er banget," desis Ririn di dalam hati.


Ferhat tersenyum-senyum kecil dan menatap wajah cantik Ririn yang sedari tadi fokus pada dirinya. Ya, karena tidak ada orang lain di sana selain dirinya dengan Ririn.


"Saya harap, Anda sudah siap mendengar pekerjaan apa yang telah Pak Andre tetapkan pada Anda," ucap Ririn dengan senyuman yang menawan.


"Saya sudah siap, Bu Ririn. Menjadi bodyguard Bu Ririn pun saya sangat siap sekali. He he he," balas Ferhat dengan gombalan mautnya.


Ririn menatap datar dan menggeleng kecil. "Dasar laki-laki. Memang hobby-nya menggombal saja menggombal," desisnya kesal.


"Cantik, suaranya bahkan tidak berubah." Ucap Ferhat di dalam hati.


Ririn menarik napasnya dan membuangnya perlahan. "Mulai hari ini, Anda sudah ditetapkan di bagian staf manager, Pak Ferhat. Semoga Anda bisa bekerja dengan baik dan kompeten, ya." Ucapnya dengan senyuman hangat.


Ferhat membulatkan kedua bola matanya penuh. Sedikit tidak terima dengan posisi pekerjaan yang ia terima. Hm, tentu saja tidak sesuai dengan pangkat dan pendidikannya.


"Staf manager?" tanyanya memastikan.


Ririn mengangguk dengan santai. "Benar. Tapi Anda tidak perlu khawatir, Pak. Kami akan mengawasi cara kerja Anda. Jika Anda giat dan bersungguh-sungguh, maka kami akan menaikkan jabatan Anda." Ujarnya memberi ketenangan pada Ferhat.


"Huft, syukurlah kalau begitu," ucap Ferhat sembari membuang napas lega.


Ririn tersenyum kecil. Tentu saja ia pun tahu siapa sosok pria di hadapannya. Berkali-kali ia melihat biografi pria tampan di hadapannya itu. Pun sang bos besarnya telah memberitahu dirinya jika Ferhat adalah mantan adik iparnya. Ya, adik kandung mantan istrinya yaitu Luna.


"Selamat!" Ucap Ririn sembari mengulurkan tangannya pada Ferhat.


Ferhat mengangguk dan tersenyum. Tanpa membuang waktu ia pun menjabat tangan wanita cantik di hadapannya. "Terima kasih, Bu Ririn. Saya akan bekerja dengan baik dan benar." Ucapnya tanpa melepaskan tangan Ririn yang ia genggam.


Ririn tersenyum dan mengangguk. Namun, kenapa tangannya tidak bisa ia lepas? Sulit sekali melepaskan tangannya dari genggaman pria tampan di hadapannya itu.


"Bisakah Anda lepaskan tangan saya, Pak Ferhat? Saya masih memiliki banyak pekerjaan." Ucap Ririn penuh sindiran.


Ferhat terkekeh. Dengan pelan ia melepaskan tangannya dan membuat Ririn membuang napas frustasi. "Aneh!" desisnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2