
Rumanah membuka matanya, di sampingnya sosok seorang suami yang semakin hari semakin sweet padanya tampak masih terpejam dengan nikmat. Lengan kekar yang berbulu itu memeluk erat tubuh mungilnya. Menghimpit tubuhnya dan seolah ia tidak ingin melepaskan wanita cantik yang bernama Rumanah itu.
Ya, nama wanita itu memang Rumanah. Itulah nama yang ia perkenalkan saat ia bertemu dengan suaminya untuk pertama kalinya. Dan, sampai saat ini, ia tetap bernama Rumanah. Namun, apakah benar jika wanita itu memang memiliki nama Rumanah? Ah, entahlah. Bahkan, teka-teki yang bersarang di kepala Andre tentang istri dan keluarga istrinya belum terjawab dan terpecahkan.
"Umh,. sudah pagi rupanya." Rumanah bergumam. Diliriknya jam yang menempel di dinding, jarum jam menunjukkan pukul enam pagi. Ya, tentu saja Rumanah sudah harus bangun dari tidurnya.
"Uh, berat sekali!" keluh Rumanah seraya menyingkirkan tangan kekar suaminya itu.
"Eeemhhhh!" gumam Andre seraya membalikkan badannya membelakangi istrinya.
"Astaga, bukannya bangun, dia malah berganti posisi. Hmmmm, hari ini 'kan pernikahan Mbak Mel. Jam berapa hubby akan berangkat?" cerocos Rumanah seraya beringsut bangun dari tidurnya.
Ya, hari ini tepat hari pernikahan Meliza dengan calon suaminya yang berkewarganegaraan Prancis. Tentu saja Rumanah sudah diajak oleh suaminya untuk hadir di acara pernikahan Meliza.
"Sebaiknya aku bangunkan saja," ucap Rumanah seraya menyibakkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Dengan perlahan Rumanah mengguncang tubuh suaminya agar terbangun dari tidurnya.
"Hubby, bangun! Ini sudah pagi, hubby." Rumanah berbisik di telinga suaminya.
Andre membalikkan badannya dan menangkap tangan istrinya. "Ini masih pagi, darling. Kenapa kau sibuk sekali membangunkanku. Astaga, lebih baik sekarang tidur lagi." ucapnya dengan suara yang serak khas bangun tidur.
Rumanah memutar bola matanya dan kembali mengguncang tubuh suaminya itu. "Jangan merem lagi, hubby. Ayo bangun! Apakah Anda lupa jika hari ini pernikahan Mbak Meliza? Saya rasa Anda tidak mungkin melupakan hari spesial dan bahagia mantan sekretaris Anda itu." ujarnya sedikit menaikkan suaranya.
Sontak saja Andre membuka kedua kelopak matanya dan menatap langit-langit kamarnya. Ya, ia sedikit terkejut.
"Astaga, untung saja kau mengingatkanku, darling." Andre berkata sembari menolehkan wajahnya pada wajah istrinya.
Rumanah mengernyitkan dahinya dan menatap penuh selidik pada suaminya. "Jadi, Anda benar-benar lupa, hubby?" tanyanya.
Andre mengangguk mengiyakan.
"Hah?" Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh. "Benar-benar mantan bos yang tidak berperikemanusiaan. Bisa-bisanya Anda melupakan hari bahagia mantan sekretaris yang sudah bertahun-tahun menemani Anda!"
omelnya.
Andre tersenyum tipis dan mengusap wajahnya pelan. "Namanya juga manusia, darling. Lupa itu adalah hal yang wajar. Jika kau tidak pernah merasakan lupa dalam hidupmu, maka kau bukan manusia. Ha ha!" ucapnya disertai tawa ngakaknya.
__ADS_1
Rumanah memutar bola matanya dan membuang napasnya kasar. "Tapi ini adalah lupa yang tidak wajar, hubby. Bagaimana bisa Anda melupakan apa yang semalam kita bicarakan!?" protesnya.
Andre terkekeh kecil. "He he he, itu karena semalam aku mabok goyangan gergaji darimu, sayang." ucapnya seraya memainkan jari jemarinya di wajah cantik istrinya itu.
"Ck, alasan! Untung saja saya tidak memberikan goyangan patah-patah padamu, hubby." Seloroh Rumanah.
"Ha ha ha, aku sangat tertarik, darling. Emh, bagaimana kalau sekarang kau berikan goyangan patah-patah seperti yang kau katakan tadi. Aku rasa, lebih baik mencobanya terlebih dahulu." Andre bicara sembari beringsut bangun dari tidurnya dan begitu terlihat bersemangat.
Rumanah menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Astaga, pria ini seperti anak kecil. Tidak bisa mendengar apa pun yang dia dengar. Langsung saja meminta apa yang dia dengar. Ck, menyebalkan!" gerutunya dalam hati.
"Darling, kenapa kau malah diam? Ayo lakukan! Aku sangat penasaran. Ayo ayo ayo!" rengek Andre seraya menggoyangkan tangan istrinya seperti anak kecil yang sedang meminta jajan ice cream. Ck, ada-ada saja.
Rumanah melipat bibirnya ke dalam dan mengusap wajahnya kasar. "Emh, sebenarnya ... aku hanya bercanda saja, sayang. Jadi, jangan dianggap serius dan lebih baik sekarang bangun lalu mandi!" ucapnya seraya menurunkan kakinya dari ranjang dan hendak kabur dari suaminya itu.
Andre tersenyum tipis dan buru-buru ia menangkap tubuh istrinya lalu memeluknya dengan erat. "Aku tidak suka bercanda dalam hal ini, darling. Kau tahu bukan jika aku seorang petualang yang liar. Hmmmm," bisiknya pada telinga istri cantiknya itu.
Rumanah memejamkan matanya dan memalingkan wajahnya. Tangannya berusaha melepaskan pelukan suaminya. "Yes, I know, hubby. But, aku juga tidak tahu bagaimana goyangan patah-patah yang kumaksud. Hmmm!" ucapnya seraya berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Bohong!" kilah Andre seraya menarik paksa tubuh istrinya agar kembali naik ke atas ranjang king size yang selalu mereka gunakan untuk bercocok tanam.
Andre tersenyum tipis dan menatap lekat wajah istrinya itu. "Aku tidak bisa berhenti memaksamu untuk bercocok tanam denganku, darling. Karena, aku sangat ingin kau segera hamil anakku. Kau tahu? Princess memintaku untuk memberikan adik lucu darimu. Jadi, sebaiknya ayo kita lakukan lagi." desak pria tampan itu yang tampak semakin memaksa.
Rumanah menarik napasnya dalam lalu membuangnya perlahan. "Ya, aku tahu, hubby." ucapnya. "Tapi, setelah kupikir-pikir, alangkah baiknya jika aku hamil setelah pernikahan kita diselenggarakan kembali. Setelah hubby menemui kedua orang tuaku. Bagaimana? Emh, saya tidak mau saat kita menemui orang tuaku, perut saya sudah membuncit karena perbuatanmu. Jadi, sebaiknya selow saja soal itu, ya!" lanjutnya penuh penekanan.
Andre tampak terdiam dan seperti sedang berpikir keras. Ya, ia memang berencana untuk menyelenggarakan pesta pernikahan mereka. Dan, tentu saja mereka ingin mengesahkan pernikahan mereka secara hukum negara. Dan tentunya, hal itu harus ia lakukan setelah ia meminta izin pada kedua orang tua istrinya.
"Tentu saja aku harus dalam keadaan seperti ini saat menemui kedua orang tuaku nanti. Dan, apa pun yang terjadi, aku harus siap menerima dan mempertahankan pernikahanku ini. Aku tidak ingin berpisah dengan suami dan putriku. Mereka sudah menjadi bagian hidupku." Rumanah bicara di dalam hati.
Andre mengusap lembut perut rata istrinya. Ditatapnya perut yang ia harapkan segera membuncit karena ulahnya. "Sepertinya apa yang kau katakan memang benar, darling. Aku tidak mau saat kita mengadakan acara pesta pernikahan kita, kau sedang ngidam dan tentu saja hal itu akan menghambat kelancaran pesta pernikahan kita." ucapnya yang tampak mengerti pada istrinya itu.
Rumanah tersenyum manis dan mengangguk. "Ya, kamu benar, hubby. Itu juga yang sangat aku pikirkan." ucapnya seraya mengusap lembut surai suaminya. "Sabar, ya. Saat kita sudah melewati itu semua, maka saat itu juga istrimu ini sangat siap lahir batin untuk mengandung anak kita. Siap-siap saja hubby melihat perut saya membuncit dan membulat seperti balon." lanjutnyanya panjang kali lebar kali tinggi.
Andre tersenyum dan menangkap tangan mungil istrinya. "Tentu saja aku akan selalu bersabar, darling. Bagaimana pun, hanya kau wanita yang kuharapkan dapat mengandung anak keduaku. Dan, jika perutmu membuncit, aku pasti akan gemas melihat perut yang bulat seperti balon itu. Uh, rasanya aku sudah tidak sabar ingin melihat perutmu membuncit!" cerocos ya yang tampak semangat dan antusias.
"He he he, jika perut saya membuncit dan bulat seperti balon. Apakah Anda masih bergairah pada saya?" celetuk Rumanah seraya tersenyum malu-malu.
"Tentu saja, darling. Kau tahu? Setiap wanita semakin terlihat seksi ketika mengandung anak suaminya. Ya Tuhan, aku sudah tidak sabar menantikannya!" jawab Andre seraya menyentuh perut rata istrinya kembali.
__ADS_1
Rumanah tersenyum. "Bukankah setiap wanita akan terlihat lucu dan jelek ketika sedang hamil? Dengan perut buncit yang membulat, dan pastinya berat badan juga bertambah, apakah masih bisa dikatakan seksi? Aku rasa itu kebohongan yang nyata, hubby!" celotehnya yang berhasil membuat Andre tersenyum kecil.
"Kenapa kau sangat tertarik membahas ini, darling? Apakah kau mengira semua pria itu sama? Atau, kau memiliki traumatis tentang kehamilan? Kau pernah hamil dan ditinggalkan oleh pria yang menghamilinya?" tanya Andre penuh desakan.
"Apa? Ih, sembarangan saja kalau bicara!" semprot Rumanah yang tampak tak terima dengan tudingan suaminya itu. "Sudah jelas saya masih virgin saat Anda menikahi saya. Astaga! Jangan suka ngarang cerita deh!" cicitnya yang tampak sebal.
"He he he, sorry. Aku hanya bercanda." Balas Andre disertai cengengesnya. "Kalau begitu, apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" tanyanya lagi.
Rumanah terdiam sejenak dan menatap langit-langit kamarnya. "Itu ... saya sering menemukan hal semacam itu pada ibu hamil. Miris sekali! Ketika hamil, suaminya mencari wanita lain yang masih gadis dan lebih cantik dari istrinya. Saya sungguh tidak ingin seperti itu." jawabnya dengan raut wajah yang terlihat sedih.
Andre tampak tersentak kaget mendengar ucapan istrinya. "Hah? Benarkah itu? Astaga, tega sekali. Itu hanya dilakukan oleh pria bajingan, darling. Kalau aku, tidak seperti itu." ucapnya dengan wajah yang serius.
Rumanah menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan. "Ya, semoga saja kamu tidak seperti itu, hubby." ucapnya penuh harap.
Andre mengangguk. "Itu tidak akan terjadi. Aku akan selalu mencintai dan menyayangimu dalam situasi apa pun. Tidak mungkin aku tega meninggalkan istriku yang sedang mengandung anakku sendiri. Astaga! Bunuh saja aku jika itu terjadi." ujarnya yang berhasil membuat Rumanah tersenyum manis.
"Ya, aku percaya padamu, hubby." Ucapnya seraya menyandarkan kepalanya pada pundak kekar suaminya.
Andre tersenyum dan membuang napasnya lega. "Syukurlah kalau kau percaya, darling." ucapnya seraya mengusap lembut puncak kepala istrinya itu.
Rumanah mengangguk tanpa menjawab apa-apa.
"Bay the way, di mana kau melihat kejadian itu, darling?" tanya Andre penasaran.
"Di novel-novel yang aku baca dan di sinetron-sinetron, hubby." Jawabnya enteng.
"What?" Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan tersentak kaget mendengar jawaban istrinya. "Dari novel-novel dan dari sinetron?"
"He'em," jawab Rumanah disertai anggukannya.
Andre memutar bola matanya dan membuang napasnya berat. "Astaga! Aku kira kau melihatnya di dunia nyata, darliiiiiiing!" ucapnya seraya mencubit gemas pipi mulus istrinya itu.
"He he he, tidak, hubby." Jawab Rumanah seraya menyengir kuda tanpa dosa.
"Hadeuuuhhh!" Andre menepuk jidatnya frustasi.
BERSAMBUNG...
__ADS_1