Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Dinginnya di desa


__ADS_3

Rumanah memeluk hangat tubuh suaminya. Selimut tebal berbulu halus itu kini menjadi penutup tubuh keduanya. Kehangatan itu ingin selalu ia rasakan sampai mereka terpisah oleh ajal. Senyumannya terus mengembang saat ia menatap lembut wajah tampan suaminya yang terpejam. Ya, Andre memang benar-benar tampan. Walaupun usianya sudah tiga puluh plus, tapi wajah dan tubuhnya masih tetap mempesona.


"Aku tidak menyangka akan memiliki suami duda seperti kamu, hubby. Tapi, mau bagaimana pun, ini semua sudah menjadi takdirku. Dan aku, sangat bahagia. Aku ingin kita seperti ini sampai aku dan kamu terpisah karena ajal yang menjemput kita." Ucap Rumanah dalam hati.


Tangan lentik nan putih bersih itu seakan tergerak sendiri dan menyapu lembut wajah tampan suaminya. Semua yang ada pada wajah suaminya memang sangatlah indah dan mempesona. Ia, sangat tidak rela membagi seorang pria tampan yang kini sudah ia miliki.


"Emh," gumam pria tampan yang sepertinya sudah sedikit terlelap.


Sontak saja Rumanah melepas tangannya dan menyunggingkan senyuman kakunya. Ia sangat merasa geli sendiri pada dirinya. Mengapa seperti dia yang tergila-gila pada suaminya.


"Astaga, aku pasti sudah gila." Desis wanita cantik itu seraya mengusap wajahnya berkali-kali.


"Darling," panggil Andre yang berhasil membuat Rumanah terlonjak kaget.


"Ah, iya sayang. Kamu bangun? Astaga, pasti karena aku tidak mau diam. Maaf—" Rumanah menggantung ucapannya saat tiba-tiba Andre meletakan telunjuknya di bibir wanita cantik itu.


Rumanah membuka matanya lebar-lebar. Kembali dadanya bergetar dan meronta. Dia memang liar. Ah, kenapa mesti terusik barang yang jauh di bawah sana.


"Aku benar-benar sudah gila. Padahal, dia tidak melakukan apa pun. Hanya menatap mataku disertai senyumannya dan menempelkan telunjuknya di bibirku. Tapi ... kenapa aku segatal ini? Ck, sialan!" Rumanah tampak berdecak kesal di dalam hati.


Melihat ekspresi sang istri yang tegang dan seolah meminta sesuatu darinya. Membuat Andre tersenyum usil dan merasa gemas pada istri cantiknya itu.


"Kau sengaja mengganggu tidurku, darling?" bisik Andre dengan tatapan genitnya.


Suara lembut dan seolah memanggil jiwa muda untuk menumpahkan hasrat bercintanya itu, tampak membuat Rumanah tercekat dan sulit sekali menelan salivanya. Manik matanya membulat penuh dan tubuhnya mulai terasa panas juga gemetar. Uh, dia wanita yang normal. Apalagi, dia masih muda dan gairahnya masih meronta-ronta. Tapi, satu jam yang lalu, mereka sudah melakukannya sampai dua kali pelepasan. Apa Rumanah benar-benar hiperse*ks? Astaga.


"Tid—" lagi-lagi Rumanah menggantung ucapannya saat tiba-tiba Andre menggerakkan telunjuknya dan menyapu lembut bibir ranum milik wanita cantik itu.


Kembali, Rumanah tercekat. Napasnya sesak dan dadanya bergemuruh. Sementara manik matanya sudah menampakkan keinginan lebihnya.


"Apakah ada yang kau inginkan lagi, darling?" tanya Andre dengan suara yang setengah berbisik seksi. Sementara telunjuknya masih menyapu lembut bibir istrinya yang hanya melongo menatap wajahnya.


"Ck, sialan! Ini benar-benar memalukan!" decak Rumanah dalam hati.


Wanita cantik itu menangkap tangan suaminya dan mencengkeramnya dengan kuat. Sementara tatapannya tidak berubah.


"What's wrong, darling?" tanya Andre dengan tatapan usilnya.


Rumanah menggeleng dan mengerjapkan matanya. "Tidak ada!" jawabnya seraya melahap telunjuk suaminya dan mengisapnya ekstra lembut.


Andre bergidik dan sedikit memejamkan matanya menahan sesuatu.


Cup!


Rumanah menyelesaikan aksinya dan mengusap bibirnya sendiri menggunakan jempolnya.


"Nakal!" desis Andre seraya menjentikkan telunjuknya pada hidung istrinya.


"Kamu yang membuatku senakal ini, hubby," balas wanita cantik itu sambil tangannya membelai lembut dada bidang suaminya yang sedikit memiliki bulu halus.


"Ya, tentu saja. Karena aku menyukai itu," kekeh Andre sembari menangkap tangan istrinya dan menuntunnya ke sebuah benda yang masih layu.


Rumanah tersenyum kecil dan tersipu malu. Wajahnya memerah merona dan berpaling ke arah yang lain.


"Menggemaskan," puji Andre seraya beringsut bangun dan menindih tubuh mungil istrinya itu.

__ADS_1


"Ups, apa yang akan kau lakukan, hubby?" tanya Rumanah pura-pura panik dan cuek.


Andre tersenyum geli. "Seperti yang kau inginkan." Jawabnya sambil mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya.


Rumanah membulatkan mata. "Apa yang aku—" ucapannya terputu.


"Emh," gumam Rumanah.


Kejantanan seorang Andre kembali terusik. Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun kembali memadu kasih tanpa pengaman apa-apa. Andre memang sudah sangat ingin menghamili istrinya itu. Mengingat sebentar lagi mereka akan mengadakan resepsi pernikahan dan akan mengungkap pernikahan mereka pada dunia.


***


Pagi hari di provinsi Jawa Barat, tepatnya di pedesaan yang berada di Bandung. Suasana pagi tampak terasa berbeda bagi Andre, Leo dan sopir. Sejuk dan dingin menusuk tulang sangat membuat mereka merasa seperti sedang berlibur di Korea.


Bagaimana tidak, sekitar pukul setengah enam, Andre sudah dibangunkan oleh sang istri. Di waktu pagi seperti itu, biasanya ia masih terlelap. Dalam keadaan seperti ini, sulit bagi Andre untuk menolak dan kembali terpejam. Tentu saja karena ia berada di rumah mertuanya. Ia harus sebisa mungkin menjaga sikap dan tingkah lakunya agar terkesan baik di mata mertuanya.


"Dinginnya, darling. Apakah di sini selalu dingin seperti ini? Astaga, airnya saja bagaikan es," celoteh Andre yang baru saja selesai mandi. Ia tampak bergidik dan gemelutuk kedinginan.


Rumanah tersenyum. "Tidak, sayang. Karena kami sudah terbiasa dengan dinginnya suasana pagi di desa. Memang seperti ini, tapi itu tidak membuat kami terusik. Menurutku, ini adalah kealamian desa dan karena udara di desa masih sangat sehat. Jauh dari pencemarah polusi udara. Hummmm! Coba kau hirup udaranya, sayang. Kau pasti tenang." Jawabnya panjang lebar. Memaparkan jika di desa udaranya masih sangat alami dan sehat tentunya.


"Yes, I know." Andre berjalan sembari sesekali menggigil kedinginan. "Tapi, bisakah kau berikan kehangatan padaku di pagi ini? Hum, kau sudah mandi rupanya." Lanjutnya sembari memeluk hangat tubuh istrinya dari belakang.


Rumanah sedikit terkesiap. Tentu saja itu hal konyol baginya. "Jangan konyol, hubby. Kita sudah melakukannya semalam. Jangan macam-macam, deh! Lagipula, aku sengaja membangunkanmu pagi-pagi sekali karena Phoo dan Maae mengajak kita memanen bunga yang akan dikirim ke Thailand." Ujarnya seraya memutar tubuhnya menghadap suami tampannya itu.


Andre tersenyum kecil. "Cih, kau sok cuek kalau sedang tidak hornay. Tapi, kalau sedang hornay, kau bahkan tahu seribu cara untuk membangkitkan gairahku. Ck, ini tidak adil!" decaknya sebal dan memutar tubuhnya membelakangi istrinya itu.


Rumanah tersenyum geli dan gereget dengan tingkah manja suaminya. Namun walaupun begitu, ia tidak terlalu menanggapi dan mencoba tetap cuek. Gila aja kalau pagi ini pun mereka masih akan melakukannya lagi. Pikirnya begitu.


"Hmm, terserah apa katamu, hubby." Rumanah berkata sembari menepuk kecil punggung suaminya dan berjalan ke arah lemari. "Jika kau tidak mau ikut dengan kami, itu tidak masalah. Kau bisa bersantai di dalam kamar ini. Sementara aku akan menemani Phoo dan Maae mengontrol para karyawan memanen bunga." Lanjutnya penuh penekanan dan desakan.


"Terus?" desak Rumanah santai.


"Tentu saja aku mau ikut. Walaupun dingin seperti ini. Uh, aku tidak bisa membayangkan bagaimana dinginnya di luar." Pria itu berkata sambil menatap jauh ke arah jendela. Embun pagi begitu terlihat menyelimuti wilayah itu.


Namanya juga di desa yang jauh dari polusi udara. Sampai jam tujuh pagi pun, terkadang embun pagi masih menitik membasahi bumi. Itulah indahnya pedesaan. Sejuk dan alamiahnya tetap terjaga.


Rumanah menggeleng dengan senyuman gemasnya. "Ni, pakai baju milik Phoo waktu ia masih muda. Pasti cocok melekat di tubuhmu," ucapnya seraya memberikan kaos santai warna hitam dan celana jeans selutut.


Andre mengerutkan keningnya. "Kenapa mesti pakai baju ini, darling? Aku 'kan bawa baju dari rumah." tanyanya tak mengerti.


Rumanah tersenyum. "Agar kau semakin dekat dengan Phoo. Jika menantu dan mertua sangat akrab, maka pernikahan akan terjalin dengan indah. Jadi, pakailah!" ucapnya sedikit memaksa.


Andre pasrah dan menerima pakaian yang istrinya berikan. Walaupun ia sedikit tak mengerti dengan ucapan istrinya yang menurutnya sangatlah konyol, tapi ia tetap menurut dan memakai pakaian bekas mertuanya tempoe doeloe.


Di meja makan, Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis tampak sudah duduk menunggu Rumanah dan Andre. Mereka tidak lupa jika hari ini ada dua tamu spesial yang akan menemani mereka sarapan pagi. Biasanya, mereka hanya menikmati sarapan berdua saja semenjak kepergian sang putri tunggal mereka.


"Phoo, Maae benar-benar tidak menyangka dengan takdir yang menyatukan putri kita dengan suaminya. Maae masih menganggap Sanee adalah putri kecil Maae yang manja. Tapi kini, dia sudah punya suami dan mungkin akan segera punya anak. Ya Tuhan, begitu cepat waktu berlalu," ucap Maae Lilis pada suaminya yang sedang menyeruput kopi hitam kesukaannya.


"Begitu pun dengan Phoo. Padahal, Phoo tidak berniat untuk menikahkannya terlalu cepat seperti ini. Perihal perjodohannya dengan Chaisay, itu hanya akan Phoo lakukan ketika Sanee sudah mendapatkan gelar sarjana di universitas terbaik. Tidak disangka, ternyata putri kita mendapatkan jodoh begitu cepat dan tidak seperti yang kita bayangkan. Ini benar-benar kuasa Tuhan, sayang." Jawab Phoo Boon-Nam dengan tatapan seriusnya.


Ya, Maae Lilis dan Phoo Boon-Nam tentu saja sangat merasa tidak menyangka dengan takdir sang putri tunggal mereka. Bagaimana pun, kedua orang itu sangat menyayangi Rumanah dengan sepenuh hati mereka. Mereka merasa jika Rumanah hanyalah seorang gadis kecil yang manja pada keduanya. Maka hal itu membuat mereka sedikit haru namun juga bahagia karena Rumanah mendapatkan suami yang sangat mencintainya.


"Wilujeng enjing, Phoo, Maae," sapa Rumanah dengan logat sundanya yang ia tampakkan kembali. Setelah sekian lama tinggal di kota besar Jakarta, ia telah melupakan logat Sunda yang biasa ia pakai sehari-hari.


(Selamat pagi, Ayah, Ibu)

__ADS_1


Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis menoleh seraya tersenyum hangat. Penampilan menantu tunggal mereka sangat membuat keduanya tercengang dan terkesiap.


"Wilujeng enjing. Aduh-aduuuh, meni kasep pisan minantu Maae teh," sahut Maae Lilis dengan bahasa Sunda yang biasa ia gunakan saat mengobrol dengan warga sekitar.


(Selamat pagi. Aduh-aduuuh, tampan sekali menantu Maae ini)


Rumanah tersenyum kecut dan menatap suaminya yang senyum-senyum tak mengerti dengan ucapan ibu mertuanya.


"Baju ini memang sangat keren. Dulu, saat Phoo yang memakainya, Maae begitu terpesona dan selalu mengatakan 'kau suamiku yang paling tampan se-kabupaten'. Ha ha ha," ucap Phoo Boon-Nam sedikit menirukan suara istrinya. Ia tampak tertawa terbahak-bahak.


Maae Lilis menutup mulutnya dan terkekeh kecil. Sementara Andre tampak senyum-senyum kecil dan sok ja'im.


"Apakah kau mengerti apa yang Maae katakan tadi?" tanya Rumanah seraya menarik sebuah kursi untuk suaminya.


Andre tersenyum dan duduk di kursi yang telah tersedia. "Sedikit pun aku tidak mengerti, darling. Tapi, dari ekspresi wajah Maae, aku dapat menebak jika ucapan Maae itu adalah sebuah pujian padaku." Jawabnya penuh percaya diri.


Rumanah tersenyum dan mengangguk. "Sip! Selain ahli menggoda dan memikat perempuan, kau juga ahli membaca ekspresi orang, ya, sayang." sindirnya sambil mencubit kecil pipi suaminya.


"He he he, kau tidak tahu jika aku juga ahli mengambil hati kedua orang tuamu." Balas Andre mengandung kelakar.


Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis tersenyum simpul mendengar ucapan menantu tunggal mereka.


"Tidak seperti itu. Nyatanya kami hanya iba pada pria kota yang mengemis cinta pada kami." Jawab Maae Lilis yang juga berkelakar.


Andre membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap hampa istrinya.


"Don't worry, hubby. Maae bicara tidak sesuai fakta." Ucap Rumanah seraya mengusap lembut punggung tangan suaminya.


Andre tersenyum dan mengangguk paham.


"Apa pun itu, yang penting saat ini kita bisa sarapan bersama dan menghabiskan waktu selama Sanee di sini. Jadi, ayo selesaikan sarapan kalian. Sebentar lagi panen akan segera dimulai. Waktu pagi adalah waktu yang tepat untuk memanen bunga." Timpal Phoo Boon-Nam yang tampak ingin segera menyudahi obrolan enteng mereka.


Maae Lilis, Rumanah dan Andre mengangguk mengiyakan. Mereka pun mulai fokus sarapan tanpa mengobrol.


"Andre, apakah kau tidak mengingat sesuatu? Atau merasa kehilangan sesuatu?" tanya Phoo Boon-Nam penuh teka-teki.


Andre mengerutkan dahi tak mengerti. "Kehilangan sesuatu? Apa ya?" tanyanya sambil berpikir keras.


"Kehilangan apa, Phoo?" tanya Rumanah yang turut penasaran.


Phoo Boon-Nam terdiam sejenak dan membiarkan Rumanah dengan suaminya penasaran. "Kedua anak buahmu!" Ucapnya setelah sekian detik berlalu.


Sontak saja Andre dan Rumanah tampak membulatkan kedua bola mata penuh.


"Astaga, Leo dan Sopian!" ucap Andre yang kini tampak mengingat asisten pribadi dan sopirnya.


"Ck, dasar kau bos tidak punya hati. Bisa-bisanya melupakan kedua manusia itu," cibir Maae Lilis.


"Ya Tuhan, di mana mereka sekarang. Kenapa kau tidak mengingatkanku pada mereka, darling?" tanya Andre yang kini mengalihkan pada istrinya.


Rumanah menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal dan tersenyum kikuk. "Aku juga tidak mengingat mereka sama sekali." Ucapnya tanpa dosa.


Maae Lilis dan Phoo Boon-Nam saling beradu pandang dan menggeleng tak mengerti pada kedua pasangan suami istri di hadapannya itu.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2