Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Pencarian


__ADS_3

Mami Purwati tampak begitu antusias saat telah berada di apartemen XXX. Dengan cepat pula Ferhat menanyakan si pemilik apartemen nomor sekian sekian yang telah Luna bocorkan pada Mami Purwati dan Papi Dargono.


"Dimas Nugraha, Mbak. Dia tinggal di apartemen ini sudah selama tiga tahun yang lalu," ucap Ferhat pada resepsionis.


"Mohon maaf sekali, Mas. Penghuni apartemen atas nama Dimas Nugraha sudah tidak tinggal di apartemen ini lagi," ungkap si resepsionis pada Ferhat.


Tentu saja hal itu membuat Ferhat, Mami Purwati dan Papi Dargono tampak tersentak kaget mendengar jawaban dari wanita itu.


"Apa? Sudah tidak tinggal di sini lagi? Maksudnya, dia pergi, gitu?" sosor Mami Purwati yang tampak kaget bukan main.


" Benar. Dia sudah pindah dari sini, Bu. Terakhir dia katakan akan pindah ke rumah orang tuanya. Tapi, kami sungguh tidak tahu di mana alamatnya," jawab si resepsionis itu dengan tenang dan tanpa kebohongan.


Ferhat tampak menepuk jidatnya dan mengusap wajahnya frustasi. Sementara Mami Purwati pun kini tengah kesal dan panik. Ternyata Dimas sudah pindah dari apartemen itu. Padahal, mereka berharap bisa bertemu dengan pria itu malam ini juga.


"Apakah Anda memiliki nomor teleponnya?" tanya Papi Dargono.


Si resepsionis itu menggeleng kecil, "Tidak ada, Pak." Ia menjawab singkat namun jelas dan padat.


Baiklah, mungkin mereka memang salah tempat dan salah sasaran. Malam ini mereka mungkin tidak bisa bertemu dengan pria yang bernama Dimas. Tapi, tentu saja mereka semua tidak akan sampai lengah dan menyerah begitu saja. Mencari tahu tentang keberadaan Dimas saat ini sangatlah penting. Maka hal itu membuat Ferhat ingin bertanya pada teman-temannya yang lain juga.


"Bagaimana ini, Fer? Apakah kau ada sebuah jalan? Dimas itu 'kan teman semasa SMA-mu. Jadi, Mami rasa kau tahu di mana rumah orang tuanya," ucap Mami Purwati dengan raut wajah yang penuh permohonan.


Ferhat menekuk alisnya dan menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya ia tahu di mana rumah orang tua Dimas. Tapi, sepertinya itu sudah tak terpakai lagi. Terakhir dia lihat rumah itu ada tulisan dijual.


"Ferhat tahu rumah orang tua Dim—" belum sampai Ferhat menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Mami Purwati menyelanya.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau kau tahu rumahnya? Astaga! Kalau begitu ayo kita segera meluncur ke rumah orang tua si Dimas!" sosor Mami Purwati yang tampak antusias.


Ferhat menggeleng lantas melambaikan tangannya, "Tidak, Mam. Ferhat belum selesai bicara. Maksud Ferhat itu, rumah orang tuanya yang dulu sepertinya sudah tidak terpakai lagi. Terakhir Ferhat lihat ada tulisan rumah ini dijual, begitu!" ujarnya penuh penjelasan.


Mami Purwati dan Papi Dargono tampak membulatkan mata lagi dan sejurus kemudian mereka pun membuang napas kecewa.


"Yaaaaaah! Kirain kau tahu di mana rumah orang tua temanmu itu," lirih Mami Purwati dengan ekspresi kecewanya.


"Hehehe, yang sekarang Ferhat sungguh tidak tahu, Mam." Ferhat menjawab sembari menyengir kudanil.

__ADS_1


Tak berselang lama, Andre datang bersama Leo dan anak buah yang lainnya. Entah punya berapa dia anak buah yang handal dan terpercaya. Yang jelas, buanyaak sekali orang-orang yang menjadi tentaranya Andre.


"Hei, bagaimana? Apakah pria itu sudah kalian temui?" tanya Andre to the point.


Mami Purwati langsung menyambar tubuh putranya. Ia memeluk tubuh kekar putranya sambil menangis sesenggukan.


"Istrimu diculik, Ndre. Huhuhu. Mami sangat sedih sekali.Mami khawatir padanya. Huhuhu," adu Mami Purwati pada putranya. Ia begitu menangis sesenggukan.


Andre menghela napas panjang lalu membuangnya perlahan. Sementara Papi Dargono tampak memutar bola matanya malas dan menatap risih pada istrinya yang menangis sesenggukan.


"Sudah, Mam. Jangan menangis seperti ini. Ini sungguh tidak ada gunanya. Mami yang sabar, ya. Pokoknya kita akan menemukan menantu Mami itu," ucap Andre sambil mengusap punggung Mami nya.


"Hiks hiks hiks. Mami takut menantu Mami tidak kembali lagi, Ndre," rengek Mami Purwati yang masih terisak.


"Astaga! Jangan bicara seperti itu, istriku. Lihat, sedari tadi padahal aku ada bersama dirinya. Tapi, rasanya aku sungguh tidak berguna apa-apa untuknya. Dia malah memeluk dan mengadu pada putranya. Ck! Benar-benar aneh!" decak Papi Dargono sembari berkacak pinggang.


Andre terkekeh kecil mendengar ocehan Papi nya itu. Sementara Mami Purwati tampak tak menggubris.


"Mungkin Oppa bau balsem kali, makanya Omma tak mau memeluk Oppa. Hehehe," goda Leo tanpa dosa.


Leo hanya tertawa kecil.


"Sudah ah, jangan menangis, Mam. Kenapa Mami bersikap seolah Rumanah sedang kritis di ruang operasi. Astaga!" cicit Papi Dargono yang tampak sedikit kesal melihat istrinya menangis seperti itu.


"Diam kau! Aku sedang sedih karena menantu kesayanganku diculik. Kita tidak tahu apa yang akan penculik itu lakukan padanya. Huhuhu," oceh Mami Purwati yang tampak menekan setiap ucapannya.


"Ya sudah, kalau gitu sekarang apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita lapor pada polisi?" tanya Ferhat.


"Aku sudah melaporkannya tadi," kata Andre.


"Syukurlah kalau kau sudah bertindak cepat," balas Papi Dargono.


"Mohon maaf bapak-bapak, dan Ibu-ibu," ucap si resepsionis.


"Di sini Ibu-ibunya ada satu doang, Mbak," protes Ferhat.

__ADS_1


"Oh iya, maksud saya Ibu," kata resepsionis sambil tersenyum masam, "Demi kenyamanan semuanya, kami mohon untuk tidak ribut di depan meja kami, ya. Silakan datang ke ruang pengadilan jika membutuhkan seorang hakim untuk menuntaskan permasalahan kalian. Jadi, silakan tinggalkan tempat ini karena kalian hanya mengganggu aktivitas kami. Mohon maaf sebelumnya!" lanjutnya mengusir secara halus dan penuh sindiran.


Andre dan orang-orang di tempat itu tampak saling beradu pandang. Sejurus kemudian mereka pun mengangguk. Ya juga, mereka memang hanya mengganggu konsentrasi para pekerja dan penghuni yang hilir mudik berganti keluar masuk.


"Lah, memangnya kalian sudah menemui pria itu?" tanya Andre saat mereka sudah berada di halaman apartemen yang tingginya begitu menjulang ke angkasa.


Mami Purwati, Papi Dargono dan Ferhat tampak menggeleng secara bersamaan.


"Kok geleng-geleng kepala? Tadi, apa gunanya kalian datang ke tempat ini?" desak Andre.


"Jadi dia itu sudah tidak tinggal di sini lagi, Ndre!" ujar Mami Purwati penuh penegasan.


Andre tampak terhenyak kaget, "Apa? Kok bisa? Terus, di mana dia sekarang?" tanyanya antusias.


Mereka bertiga kembali menggeleng lagi.


"Astaga! Kalau begitu tidak ada gunanya aku berlama-lama di sini. Hanya membuang-buang waktuku saja," desis Andre sedikit sebal.


"Kami pun tidak tahu kalau dia sudah tidak tinggal di sini lagi, Bang," ucap Ferhat melas.


"Hm, ya sudah begini saja. Sekarang Mami sama Papi pulang saja, ya. Sementara kau, Ferhat. Cari tahu di mana tempat tinggal pria itu sampai ketemu. Terserah kau mau cari langsung atau melalui jejaring sosial. Sedangkan aku, tentunya akan mencari keberadaan istriku bersama anak buahku ini. Apakah kalian semua paham?" ucap Andre memberikan sebuah instruksi.


"Oke, Bang. Gue paham!" jawab Ferhat.


"Paham juga," kata Mami Purwati.


"Ya sudah, sekarang kita kembali bubar, ya. Oh ya, Mam. Jangan lupa sampaikan salamku pada princess. Katakan jangan menangis lagi, Daddy akan mencari Bunda nya sampai ketemu," ucap Andre.


"Ya," jawab Mami Purwati.


Mereka pun akhirnya kembali berpisah. Ferhat memilih nongkrong di cafe sambil mencari tahu di mana keberadaan Dimas. Sementara Papi Dargono dan Mami Purwati pulang sesuai dengan perintah putra mereka. Dan Andre, kembali cabut dengan Leo dan anak buahnya yang lain.


Duh! Sebenarnya siapa sih penculik si Bunda ??? Kalau penasaran, yuk ikuti terus. Kalau di novel ini belum juga terungkap. Insya Allah, akan diungkap di novel baru season ke 2.


Sarangheooooo ❤️❤️❤️

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2