Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Mencari princess


__ADS_3

Andre menatap tajam pada Rumanah yang kini sudah mulai tenang. Perasaannya sudah tidak enak sejak pertama kali ia melihat Rumanah duduk sendiri tanpa putri kecilnya.


"Rumanah, sekarang kau sudah bisa menjawab pertanyaan kami?" tanya Meliza lembut.


Rumanah mengangguk kecil.


"Oke, sekarang kau jawab, ke mana princess?" desak Andre penuh selidik.


"Maafkan saya, Tuan. Saya akan menerima semua hukuman yang akan Tuan berikan pada saya." ucap Rumanah yang semakin membuat Andre penasaran.


"Jangan bertele-tele, Annabelle! Cepat katakan saja intinya." paksa Andre mendesak.


"Pak, harap tenang." pinta Meliza.


"Bagaimana aku bisa tenang sementara putri kecilku tidak tahu di mana keberadaannya." seloroh Andre yang kini semakin kesal karena Meliza terus-terusan berpihak pada pengasuh putrinya.


"Justru itu, kita harus bertanya dengan tenang pada Rumanah agar dia bisa menjawab dengan tenang dan jelas. Jika seperti ini Rumanah akan merasa takut untuk menjawabnya." ujar Meliza yang juga kesal pada bos dudanya yang bersikap ke kanak-kanakkan.


Andre mengusap wajahnya kasar. "Ya sudah, sekarang aku hanya ingin tahu di mana keberadaan putri kecilku." ucap Andre tanpa basa-basi.


"Princess di bawa oleh Mommynya." ungkap Rumanah yang berhasil membuat Andre dan juga Meliza terbelalak kaget.


"Apaaaa????" Andre dan Meliza begitu terkejut dan menyerukan suara yang sama dan serempak.


"Maafkan saya, saya sudah berusaha untuk menahan wanita itu. Tapi dia sangat kuat dan memaksa princess untuk ikut dengannya." ucap Rumanah dengan wajah yang terlihat memelas.


"Kau benar-benar ceroboh, Annabelle!" hardik Andre dengan tatapan yang sangat menampkkan kemarahan.


"Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar—" Rumanah belum selesai bicara, tiba-tiba Andre menyelanya.


"Aku tidak butuh maafmu! Aku hanya butuh princessku!" bentak Andre yang kini berhasil membuat Rumanah menitikan air mata.


"Ah sudah sudah, tidak ada gunanya marah-marah dalam situasi seperti ini." sela Meliza mencoba menengahi. "Lebih baik kita segera temui Luna di kediamanya, Pak." ajak Meliza yang tetap bersikap bijaksana.


"Ya, kau benar. Kalau begitu ayo kita pergi ke sana." Andre menyetujui usulan sekretaris cantiknya. Ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil sportnya. Sementara Meliza pun mengekori bos dudanya. Dan Rumanah, hanya mematung tanpa kata.


Andre menyalakan mesin mobilnya, sementara Meliza duduk di sampingnya.


"Astaga, gadis desa itu benar-benar." desis Andre saat ia melihat Rumanah masih terdiam membeku.


"Ya Tuhan, mungkin dia sangat merasa bersalah, Pak. Kasihan sekali, saya harap Pak Andre tidak memarahinya." ucap Meliza seraya membuka pintu mobilnya dan melangkahkan kakinya menghampiri Rumanah.


"Kenapa kau betah berdiam diri di sini, Rumanah?" tanya Meliza.

__ADS_1


"Lantas saya harus ke mana, Mbak Mel?" Rumanah balik bertanya.


"Astaga, kau ikut kami." jawab Meliza.


"Tapi kan tadi Tuan Andre dengan Mbak Meliza tidak mengajak saya." seloroh Rumanah.


Meliza terdiam sejenak. "Benar juga sii." ucapnya dalam hati.


Meliza menarik tangan Rumanah. "Sekarang ayo ikut kami." ajaknya secara paksa.


Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh, tanpa menjawab apa-apa ia pun mengekori Meliza yang menarik paksa tangannya.


"Sudah? Tidak ada yang ketinggalan lagi?" tanya Andre saat Meliza dan Rumanah sudah masuk ke dalam mobil sport miliknya.


Meliza menggeleng, karena ia merasa sudah tidak ada yang tertinggal di sana.


"Ada, Tuan." jawab Rumanah.


Meliza menolehkan wajahnya. "Apa itu, Rumanah?" tanyanya.


"Jejak kaki saya." jawab Rumanah dengan entengnya dan tanpa dosa.


Mendengar hal itu membuat Andre tampak kesal namun juga ingin tertawa karena di situasi segenting ini dengan polosnya Rumanah mengeluarkan leluconnya. Entah itu sebuah lelucon atau memang jawaban yang patut ia berikan pada bos dudanya.


Rumanah hanya terdiam tanpa dosa dengan ekspresi wajah yang datar.


"Jika sudah selesai sebaiknya kita segera berangkat menuju kediaman Luna." ucap Andre.


"Baik, Pak." jawab Meliza.


Andre pun bergegas melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Tentu saja ia harus berpacu dengan waktu yang semakin berputar tiada kenal lelah.


"Aku benar-benar tidak habis pikir pada wanita rubah itu. Sudah beberapa kali kutegaskan untuk tidak mengusik kehidupan putriku." Andre mengomel sendiri. Merutuki mantan istrinya.


"Saya rasa itu karena Luna sangat merindukan putrinya, Pak." ucap Meliza.


"Merindukan putrinya? Itu bukan urusanku. Toh, dia sendiri yang sudah membuat putrinya marah dan benci padanya." seloroh Andre yang tampak terlihat sangar.


Rumanah hanya menjadi pendengar setia. Mau bicara apa dia, sementara dirinya tidak tahu permasalahan yang membuat pernikahan Andre dan Luna hancur berantakan.


"Memang benar dia yang membuat putrinya marah dan benci padanya. Tapi mungkin kini wanita itu sudah menyesal, Pak." timpal Meliza. Meliza memang bukan type orang yang suka memprovokasi.


"Cih, menyesal adalah hal yang mustahil bagi dirinya, Mel." cetus Andre.

__ADS_1


Meliza terdiam tak ingin lagi berdebat dengan bos dudanya. Sementara Rumanah tampak mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Andre dan Meliza.


"Sepertinya Mbak Meliza sudah mengenal jauh majikan galak ini. Sampai masalah pernikahannya pun Mbak Meliza tahu. Aku rasa mereka memang cocok dan akan saling melengkapi. Aku rasa Mbak Meliza pun mencintai majikan galak ini. Aish, tahu apa kau tentang cinta, Rum." cerocos Rumanah dalam hati.


Sementara itu Andre masih melajukan mobilnya. Membawa Rumanah dengan Meliza menuju kediaman Luna yang tidak terlalu jauh dari sekolahan Sandrina.


"Mudah-mudahan mereka ada di sini." ucap Meliza seraya mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru halaman rumah mantan istri bos dudanya.


"Semoga saja," timpal Andre seraya menbuka sabuk pengamannya.


Mereka pun turun sama-sama dari mobil milik Andre. Tanpa membuang-buang waktu lagi ketiga orang itu langsung masuk ke dalam rumah milik Luna yang kebetulan tidak di kunci.


"Apakah kita harus diam-diam seperti ini?" tanya Meliza.


"Tidak perlu, jika kita sudah menemukan princess di mana pun berada, kita harus segera membawanya pulang." jawab Andre.


"Jika begitu kita berteriak saja, Pak." usul Meliza.


"Mbak Mel, kita tidak sedang berada di hutan bukan?" timpal Rumanah.


"Ah benar juga." balas Meliza.


"Ada apa dengan kalian? Sudah jangan ribut, lebih baik kita fokus mencari princess." tegur Andre.


"Ke mana kita akan mencari princess, Tuan?" tanya Rumanah.


"Ke kutub utara!" seloroh Andre kesal.


Meliza tampak tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Andre. Sementara Rumanah hanya menyengir kudanil.


"Sudah tahu sekarang sedang berada di rumah Luna. Pake nanya segala lagi." sungut Andre seraya memutar bola matanya malas.


"Maksud saya—" Rumanah menghentikan ucapannya saat tiba-tiba mereka dikejutkan oleh seorang pria bertubuh kekar yang datang menghampiri mereka.


"Woy, sedang apa kalian!?" pria bertubuh kekar yang sepertinya adalah bodyguard Luna tampak menatap sangar pada ketiga orang yang sedang mencari Sandrina.


Sontak saja Andre, Meliza dan Rumanah terjingkat kaget dan saling memepet.


"Astaga, orang itu lagi. Malas sekali aku melihatnya." desis Rumanah yang sedang mepet pada tangan kanan Andre.


"Kau mengenalnya, Rum?" tanya Meliza yang mepet pada tangan kiri bos dudanya.


***

__ADS_1


__ADS_2