
Acara demi acara telah selesai. Andre tampak menggendong putri kecilnya turun dari panggung. Mereka sudah berfoto bersama di atas panggung dan di tempat foto. Tak lupa, Andre meminta Alina Cojocaru untuk berfoto dengan putrinya. Dalam situasi seperti itu, Luna semakin membuat Andre kesal dengan tingkah dan sikapnya. Wanita rubah itu bersikap seolah-olah dirinya sangat menyayangi dan peduli pada perkembangan bakat putrinya.
Tak jarang Luna memberikan jawaban pada siapa pun yang bertanya padanya. Padahal, jawaban yang keluar dari mulutnya hanyalah dusta belaka. Sungguh ironis dan menjijikkan bagi Andre. Ditambah lagi, Luna semakin sering mepet pada Andre dan seolah mereka masih menjadi sepasang suami istri. Tentu saja hal itu benar-benar membuatnya sangat jengah dan muak. Untung saja Andre masih dapat mengontrol emosinya sendiri. Sebab, ia tidak ingin marah-marah di tempat ramai seperti itu.
"Putri Daddy benar-benar hebat! Daddy sangat bangga sekali pada princess," puji Andre seraya menurunkan Sandrina dari gendongannya.
"Iya dong, siapa lagi Mommy nya. Kau berbakat seperti Mommy, princess sayang." Ucap Luna menimpali.
Andre memutar bola matanya malas dan sangat muak mendengar ucapan istrinya yang begitu kege'eran.
"Tidak, princess tidak seperti Mommy. Mommy tidak bisa menari balet. Princess seperti ini karena bakat princess sendiri!" sanggah Sandrina yang berhasil membuat Luna tersentak kaget.
"Apa yang kau katakan, princess sayang? Tentu saja bakat yang kau miliki didapat dari Mommy yang multitalenta. Jangan bersikap seolah Mommy bukan siapa-siapa bagimu, sayang." Protes Luna yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Ya, kau memang begitu multitalenta, Luna. Maka tak heran jika kau bisa berbohong sana sini, menipu sana sini, menyimpan perasaan sana sini, berbagi cinta sana sini, bahkan menikmati pria sana sini, astaga! Kuharap Tuhan tidak mengutukku dengan menurunkan watakmu pada putriku!" cicit Andre di dalam hati.
"Tidak! Princess tidak ingin seperti Mommy!" tolak Sandrina dengan raut wajah yang begitu terlihat kesal pada Mommy nya.
Luna mengerlingkan matanya dan menatap sebal pada putri kecilnya itu. Untung saja tidak ada yang mendengar ucapan gadis kecil itu. Jika ada yang mendengar, maka sudah pasti ia sangat malu seumur hidup.
"Ya sudah, sekarang kita temui Bunda di sana, yuk!" ajak Andre seraya kembali menggendong putri kecilnya itu.
"Ayoook! Bunda pasti senang melihat princess mendapatkan piala penghargaan ini," sorak si cantik Sandrina yang tampak antusias.
Luna semakin dibuat kesal oleh putri dan mantan suaminya itu. Bagaimana tidak, kedua orang itu seperti tidak menganggap kehadirannya di sana.
"Tunggu, princess!" cegah Luna seraya menghalangi langkah kaki mantan suaminya.
"Ck, menyingkirlah dari hadapan kami! Drama-mu di sini sudah selesai!" ujar Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Tidak! Aku ingin memberi hadiah untuk princess putriku!" jawab Luna penuh percaya diri.
"Tidak perlu, Mom. Princess sungguh tidak mengharapkan hadiah dari Mommy," tolak si cantik Sandrina yang berhasil membuat Luna terperanjat kaget.
"Apa? Astaga! Jangan seperti ini, princess sayang. Kau pasti hanya berpura-pura saja. Ayolah, katakan princess ingin dibelikan hadiah apa oleh Mommy?" paksa Luna yang begitu mendesak.
Sandrina menggeleng dengan cepat. "No, Mom. Lebih baik uangnya ditabung saja untuk masa depan Mommy," ucapnya yang berhasil membuat Andre tercengang kaget dengan kata-katanya yang tanpa drama.
"Astaga, anak ini benar-benar jenius." Andre berkata dalam hati.
__ADS_1
"Sialan, kau benar-benar cacat mendidik anakmu, Andre! Apa yang kau ajarkan pada princess sehingga membuatnya durhaka padaku!?" cicit Luna yang tampak sedikit menaikkan suaranya.
Andre menatap tajam pada mantan istrinya itu. Ia benar-benar muak dan sudah tak dapat lagi menahan emosinya. "Jaga ucapanmu, wanita rubah! Aku tidak pernah mengajarkan hal buruk pada putriku sendiri. Dengar,, apa yang kau lakukan, itulah yang kau dapatkan. Jadi, berhentilah menghakimiku!" bentaknya dengan tatapan penuh permusuhan.
Luna memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. Sementara Andre dan Princess Sandrina sudah melenggang pergi meninggalkannya di sana.
"Ck, sialan! Ini pasti gara-gara wanita kampungan itu! Bisa-bisanya princess bersikap cuek dan tidak membutuhkanku seperti itu. Wanita kampungan itu pasti sudah menghasut princess agar membenci diriku." Luna tampak berdecak kesal dan menyangka jika putrinya telah dihasut oleh Rumanah.
Sementara itu Andre dan putri mahkotanya tampak tersenyum ceria menghampiri Rumanah, Ferhat, Mami Purwat, dan Papi Dargono. Sebuah piala penghargaan, medali, piagam, dan juga hadiah uang tunai dan yang lainnya telah berada di genggaman princess dan Daddy nya.
"Hallo anak cantiiiiik." Rumanah menyambut dengan ceria dan pelukan hangat.
"Hebatnya cucu Omma ini. Princess memang juara di mana-mana!" seru Mami Purwati penuh pujian.
"Ya dong, siapa lagi Daddy nya. Andreeeeee!" timpal Andre penuh percaya diri.
"Ck, selalu saja kau seperti itu. Padahal, princess berbakat karena transferan dari Uncle nya." Seloroh Ferhat seraya mendekati keponakannya itu.
Andre memelototkan matanya pada mantan adik iparnya. "Tidak ada dari kamusnya! Jelas semua bakat yang princess miliki adalah dari diriku!" cicitnya.
"Astaga! Kalian berdua merebutkan hal yang sangat jauh dari kebenaran. Percuma saja, karena kalian benar-benar tidak memiliki bakat. Yang benar adalah, Oppa Princess yang sangat berbakat ini telah menurunkan bakatnya pada cucunya yang cantik dan menggemaskan ini. Sudah! Untuk hal ini, kalian tidak bisa protes!" ujar Papi Dargono yang tampak menekan setiap ucapannya.
Ferhat dan Andre tampak terdiam dan saling beradu pandang. Mereka benar-benar tidak bisa protes, karena memang Papi Dargono memiliki bakat tersendiri sebagai mana yang dimiliki oleh cucunya.
"Ya, benar yang dikatakan Mami. Bagaimana pun, setiap manusia pasti memiliki bakat yang berbeda-beda. Seperti princess, sangat berbakat menari balet. Sedangkan Daddy princess, ia berbakat menggoda wanita dan memaksa setiap wanita yang ia inginkan untuk menikah dengannya. Seperti itu!" timpal Rumanah yang berhasil membuat Andre membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap tajam pada istrinya.
"Ha ha ha, istrimu berkata jujur, Bang!" timpal Ferhat disertai tawa ngakaknya.
"Diam kau, jomblo!" sungut Andre seraya menatap sengit pada mantan adik iparnya itu.
Ferhat masih terkekeh kecil. "Apakah dulu Kak Luna juga kau goda dan kau paksa? Ha ha ha!" ledeknya yang berhasil membuat Andre kesal.
Pletak!
Andre menjentikkan tangannya menyentil jidat Ferhat.
"Auuuwh, sakit!" ringis Ferhat.
"Kau tahu? Aku merasa jika pernikahanku dengan Kakakmu itu adalah sebuah kecelakaan yang membuatku trauma! Jika aku bisa memilih, mungkin aku tidak akan pernah mau menjadi suami wanita itu!" sungut Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
__ADS_1
"Ha ha ha, sudah jangan emosi! Aku hanya bercanda." Ucap Ferhat.
"Jangan pernah bercanda soal Kakakmu, Ferfer. Suamiku ini sangat membenci becandaan tentang wanita itu. Mohon maaf,ya!" timpal Rumanah seraya menyunggingkan senyuman manisnya pada Ferhat.
"Hmmm, tentu saja. Aku sangat mengerti." Jawab Ferhat.
"Ngomong-ngomong soal Luna. Bagaimana ceritanya dia bisa berada di atas panggung tadi?" tanya Mami Purwati penuh selidik. Tentu saja ia sangat penasaran soal itu.
Andre dan Rumanah tampak saling beradu pandang. Mengingat itu, Rumanah sedikit kesal dan merasa cemburu. Tentu saja ia cemburu, sang suami berada di atas panggung bersama mantan istrinya. Astaga! Istri mana yang tidak cemburu. Ya, walaupun Andre cuek dan nyaris tidak menginginkan Luna berada di atas panggung bersamanya. Tapi tetap saja, Rumanah cemburu dan rasanya tidak rela melihat pemandangan menyebalkan itu.
"Emh itu, ini sangat menyebalkan sekali! Ck, lagi-lagi Kakakmu membuat masalah denganku, Ferhat. Aku sungguh nyaris tak bisa menahan emosiku. Untung saja istriku ini sangat baik dan tidak egois. Astaga!" cicit Andre yang tampak terlihat kesal sekali.
Ferhat memutar bola matanya jengah. "Jangan mengadukan Kakakku padaku, Bang. Aku juga sungguh muak dengan sikapnya. Dia sudah tidak bisa diberikan nasihat oleh siapa pun. Bahkan oleh Mami nya sendiri. Aku juga sangat kesal karena dia berpacaran dengan teman masa SMA-ku. Astaga! Benar-benar menyebalkan! Padahal, kekasihnya itu hanya memanfaatkannya saja." Ferhat berkata dengan ekspresi yang begitu kesal seperti Andre.
"Hah? Jadi, kekasihnya itu temanmu, Ferfer? Astaga, pantas saja jauh lebih muda darinya," seru Rumanah yang tampak sedikit tersentak kaget.
Ferhat mengangguk mengiyakan. "Kau pernah bertemu dengan kekasihnya?" tanyanya.
"Ya, kami pernah bertemu dengan kekasihnya saat honeymoon." Andre yang menjawab.
"Ooooh, aku rasa Dimas hanya ingin mengambil keuntungan dari Kak Luna." Ucap Ferhat.
"Itu bukan urusanku, Fer. Bahkan aku merasa bersyukur jika hal itu benar-benar terjadi," ketus Andre.
"Haha, iya juga. Ya, aku juga sudah tidak ingin ambil pusing. Dia memang sulit dikendalikan." Balas Ferhat disertai tawa renyahnya.
"Tetap saja, jika Kakakmu itu masih berkeliaran, kehidupan kami pasti tidak akan tenang karena gangguannya," ucap Andre.
"Teruuuuuss? Aku harus bagaimana? Harus menguburnya hidup-hidup?" seloroh Ferhat.
"Ha ha ha, konyol!" desis Rumanah disertai tawa ngakaknya.
"Jika kau bisa, maka tidak masalah, Fer. Itu ide yang bagus." Timpal Andre.
"Astaga, kau ingin membuatku menjadi mafia yang kejam? Aku sungguh tidak bisa melakukannya! Jika aku melakukan itu, untungnya apa untukku? Yang ada dosaku semakin menumpuk!" cicit Ferhat.
"Haha, kau masih ingat dosa rupanya. Tapi kenapa Kakakmu itu seperti tidak percaya pada dosa? Astaga!" seloroh Andre yang tampak tertawa renyah.
"Ck, sudahlah jangan terus-terusan membahas wanita itu. Sebenarnya saya sangat kesal melihat Anda berada di atas panggung bersamanya, hubby!" cicit Rumanah dengan ekspresi manjanya.
__ADS_1
Andre menatap intens dan tersenyum kecil. "He he he, maafkan aku, darling. Jika tadi kau memaksa, maka aku tidak akan naik ke atas panggung bersamanya. Salah siapa kau membiarkan wanita itu naik bersamaku." ucapnya seraya menggenggam tangan mungil istrinya.
BERSAMBUNG...