Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Mencoba


__ADS_3

Warning: Terdapat adegan yang harus dihindari oleh kalian yang belum cukup umur dan belum punya suami atau istri.


__________________________________________


"Hei, kenapa kau memekik seperti itu, Belle?" tanya Andre pada istri mungilnya yang kini tampak memalingkan wajahnya dari si ular berbulu itu.


Rumanah menggeleng seraya mengatur napasnya yang tampak ngos-ngosan. "Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya sedikit terkejut," jawab gadis desa itu.


Andre tersenyum kecil seraya menangkupkan tangannya pada istri mungilnya itu. "Itu hal yang wajar, Belle. Kau terkejut karena adik kecilku sangat gagah dan perkasa. Tapi kau tenang saja, dia baik dan tidak akan membuatmu kecewa. Kau harus percaya padaku! Suatu saat nanti kau akan sangat mencintainya. Maka dengarkan aku, Annabelle. Sekarang kau harus berusaha berkenalan dan membiasakan diri dengan adik kecilku ini. Jangan takut dan tenanglah!" ujar pria tampan itu seraya menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya.


Rumanah memejamkan matanya dan menikmati setiap lumata*n dan hisapan suami tampannya itu. Sementara tangannya kini sudah dituntun oleh suaminya untuk kembali menyapa si ular berbulu itu.


"Ya Tuhan, ini besar sekali. Aku benar-benar tidak dapat membayangkan bagaimana sakitnya saat samurai pedang panjang ini menerobos masuk ke dalam lubang mahkota dewaku yang masih sempit. Duuuh! Aku takut mahkota dewaku robek lalu akan dijahit seperti jariku ini," cerocos Rumanah di dalam hati.


Cup!


Andre melepaskan ciumannya. Untuk sesaat ia memandangi tangan mungil istrinya yang masih kaku menyapa adik kecilnya itu.


"Kau begitu asyik, Belle. Dengan caramu seperti ini, menunjukkan bahwa kau belum pernah melakukannya barang sekali pun." duda tampan itu meraih tangan Rumanah yang bermain pada adik kecilnya dan menggenggamnya erat.


Sementara Rumanah tampak tersenyum manis dan malu-malu.


"Apakah kau tidak ingin melihatnya?" tanya Andre yang berhasil membuat Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh.


"Hah? Emh, sa... saya sudah melihatnya, Tuan." Rumanah menjawab dengan gugup dan malu-malu. Wajahnya memerah karena menahan malu.


"Tapi, kau hanya sekilas dan sesegera mungkin kau memejamkan mata. Apakah kau tidak ingin melihatnya lebih jelas lagi? Kau tahu? Dia suka dipandang dan diperhatikan. Jadi, sekarang cobalah kau dekati dia," desak pria tampan itu yang semakin membuat Rumanah deg-degan.


Gadis desa itu menelan ludahnya kasar dan mengatur napasnya yang naik turun tak beraturan. Sementar kini Andre beringsut bangun dan menekuk kakinya setengah berdiri di hadapan istrinya. Dan tentu saja hal itu membuat Rumanah syok dan semakin tegang.


Ular berbulu yang besar, panjang dan gagah perkasa itu kini sedang berhadapan dengan wajahnya. Ya Tuhan, ini sungguh mengerikan.


"Kenapa kau memejamkan mata, Belle?" tanya Andre seraya menyibakkan rambut panjang milik istrinya.


"Emh, tidak apa-apa, Tuan." Rumanah menjawab dengan gelisah.


"Bukalah matamu, Annabelle. Sudah kukatakan kau harus memandanginya dan berkenalan dengannya," desak Andre seraya mengusap lembut wajah cantik istrinya.


Rumanah menarik napasnya dalam lalu membuangnya perlahan. Dengan sekejap saja ia membuka matanya, dan yang ada di hadapannya kini si ular berbulu yang gagah perkasa.


"Haaaaa!!" Rumanah membulatkan mata yang tercengang hebat. Ya, ular berbulu milik suaminya memang sangat besar dan panjang.


"Jangan khawatir, beybii. Dia tidak akan melukaimu," bisik Andre seraya mebangkap tangan kanan Rumanah lalu menuntunnya untuk membelai adik kecilnya itu.


Rumanah terdiam lantas menelan ludahnya kasar. Seketika napasnya tercekat di tenggorokan. Astaga! Untung saja gadis desa itu tidak sawan. Hihihi.


"Baiklah, mungkin aku harus membiaskan diri dengan ini." gumam Rumanah di dalam hati. Tanpa pikir panjang ia pun kembali memainkan tangannya pada ular bulu di hadapannya.


"Aaach! Bagus, Belle. Kau semakin berkembang, tanganmu lembut, lincah dan membuatku merasa terbang," racau Andre seraya meremas lembut dua balon kenyal yang mungil itu.


Rumanah hanya diam tanpa kata. Sejujurnya ia sangat deg-degan, namun juga ia sangat penasaran dan ingin tahu lebih jauh tentang ular berbulu itu.

__ADS_1


"Ooouch, come on, beybii!" kembali Andre meracau saat tangan Rumanah semakin gesit, lincah dan mulai berani.


Melihat suaminya semakin terangsang dan sangat menikmati permainan tangannya, membuat Rumanah sangat bersemangat dan ingin melakukan lebih.


"Oh Annabelle, bukalah mulutmu, aku ingin kau melum*at adik kecilku seperti lolipop," racau Andre meminta Rumanah untuk membuka mulutnya.


Rumanah terbelalak kaget. Namun kini, suaminya sudah mengarahkan adik kecilnya pada mulut istrinya yang mungil itu.


"Ayo, Annabelle. Buka mulutmu, lakukan apa yang kumau. Kau harus ingat jika aku sudah menjadi suamimu. Itu artinya kau harus mematuhi perintahku," desak Andre dengan suara yang berat dan napas yang ngos-ngosan.


"Ta... tapi ini sangat besar sekali, Tuan." Rumanah sedikit berkelit.


"Tidak apa-apa, Annabelle. Kau bisa melakukannya!" ucap Andre memaksa.


Rumanah menelan ludahnya kasar dan menatap ngeri pada ular bulu di hadapannya. Sejujurnya ia tidak yakin jika mulutnya mampu melahap benda sebesar itu. Astaga!


"Kenapa kau diam? Apakah kau jijik?" desak Andre.


"Ah, tidak-tidak, Tuan! Tidak seperti itu. Tentu saja saya akan melakukannya," sanggah Rumanah.


"Hmmm, lakukanlah! Kau istri yang cantik dan penurut," paksa Andre.


Rumanah mengangguk kecil. Untuk sesaat ia terdiam dan mengumpulkan keberanian. Menjil*at bibirnya sendiri lalu membuang napasnya kasar. Tanpa membuang waktu lagi ia pun mulai membuka mulutnya. Sementara Andre memegang kepalanya dan mengarahkan ular berbulunya agar masuk ke dalam mulut yang mungil itu.


Cup!


Rumanah mengecup pucuk ular berbulu milik suaminya. Dan hal itu membuat Andre tersenyum senang dan semakin gemas. Kemudian Rumanah kembali mendekatkan mulutnya. Perlahan ia menjulurkan lidahnya dan mulai menyapu setiap inci ular berbulu itu.


Sementara kini Rumanah tampak memberanikan dirinya, ia melahap sedikit demi sedikit ular berbulu itu hingga mentok dalam rongga mulutnya.


"Aaah!" Andre mendes*ah. Rasa hangat dan lembut begitu membuatnya terhanyut. Walaupun Rumanah hanya menyedot dengan lembut tanpa memaju mundurkan kepalanya, pria tampan itu sangat merasa terbang ke atas awan.


"Uhm!" diam-diam Rumanah menikmati permainannya sendiri. Kali ini ia tampak memaju mundurkan kepalanya, melum*at dan menyedot ular berbulu yang besar itu.


"Uh, ini menyenangkan sekali," ucap Rumanah dalam hati.


"Oh My Good, beybii. Kau hebat sekali, uh!" Andre tampak tak mau diam dan terus nyeloteh. Semakin Rumanah menghisap dan sesekali ia melepaskan benda itu dari mulutnya, Andre semakin terangsang dan tak tahan lagi.


"Uhuk uhuk uhuk!" Rumanah terbatuk akibat si ular berbulu yang hampir saja masuk ke dalam kerongkongannya. Segitu saja belum sampai masuk semua, bayangkan saja betapa besar dan panjangnya ular berbulu itu. Astaga!


"Are you oke?" tanya Andre seraya menangkupkan tangannya pada wajah cantik istrinya.


Rumanah mengangguk kecil, wajahnya tampak merah padam karena terbatuk. "Saya baik-baik saja, Tuan. Ini hanya sedikit keselek karena hampir saja adik kecil tuan itu masuk ke dalam kerongkongan saya," jawab gadis desa itu seraya mengatur napasnya.


Mendengar hal itu membuat Andre tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha ha ha!" tawa Andre meledak saat itu juga.


Rumanah mengerutkan dahinya seraya menyambar air mineral di atas nakas samping ranjang. "Sepertinya saya butuh air untuk minum. Astaga, bisa gawat kalau saya sampai menelan ular berbulu itu," ucap gadis desa yang semakin membuat Andre tak kuasa menahan tawa.


"Hahaha, kau ini ada-ada saja. Haha!" kali ini Andre terpingkal-pingkal dan bergulingan di atas ranjang. Sementara Rumanah tampak santai dan kembali meletakkan air mineral di atas nakas.


"Huh hah!" gadis desa itu mengatur napasnya lalu merebahkan tubuhnya.

__ADS_1


"Astaga, kau benar-benar menyebalkan, Annabelle. Lihat adik kecilku ini, dia ngambek dan tiba-tiba lemas karena kau bicara seperti itu," cicit Andre yang tampak menahan tawa.


"Hm? Saya hanya bicara jujur, hampir saja adik kecil Tuan kelelep masuk ke dalam kerongkongan saya. Lagian kenapa sii punya senjata besar dan panjang seperti itu," seloroh gadis desa itu.


"Hehehehe, jangan asal bicara, Belle. Ini adalah kebanggaan tersendiri untukku. Sudah kubilang kau akan menjadikannya favoritmu!" ujar Andre seraya beringsut bangun dan mulai siap menggerayangi istrinya kembali. Permainan mereka memang belum selesai.


Rumanah hany diam dan memutar bola matanya santai.


"Sebaiknya mari kita lanjut sampai tuntas!" ucap Andre penuh penekanan.


Tanpa membuang waktu lagi Andre pun mulai melakukan pemanasan lagi. Seperti yang sudah dilakukan sebelumnya. Mencium, menbelai, serta menghisap. Tak lupa ia memainkan jarinya pada mis vags istrinya yang kembali basah dan merekah.


"Sudah saatnya, Belle. Tarik napas, dan bersiaplah!" bisik Andre seraya merenggangkan paha istrinya sehingga membuat mis vags itu semakin merekah dan menggoda.


"Tuan, saya takut," ucap Rumanah setengah merajuk. Ia tampak menggigit bibir bawahnya.


"Tenanglah, Annabelle. Aku akan melakukannya dengan lembut dan hati-hati," balas Andre mencoba menenangkan.


Rumanah mengangguk pasrah. Sesaat kemudian Andre kembali mengecup bibirnya. Sementara tangannya mengorek-ngorek lubang mis vags istrinya.


"Aaach!" Rumanah mengerang nikmat.


Tak membuang waktu lagi Andre pun mulai mengarahkan senjatanya pada lubang mis vags istrinya. Untuk permulaan ia menggesek-gesekkan miliknya terlebih dahulu. Memberi jalan dan memberi sensasi pengenalan pada istrinya.


"Eeeeeemhhhhh!" Rumanah bergumam. Ini sangat enak, tapi entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Tahan sedikit, ya. Ini mungkin sedikit terasa sakit," bisik Andre dengan tatapannya yang lembut.


"He'em," Rumanah tampak mengangguk pasrah dengan ekspresi tegang, takut, dan harap-harap cemas.


Sementara itu Andre kembali menghisap balon kenyal yang menggemaskan itu. Agar Rumanah semakin terangsang dan lupa akan rasa sakitnya.


Dalam hitungan detik...


"Aaaaaaaaaaaaaarrrgghhhh!" seketika Rumanah menjerit histeris dan kesakitan.


Saat itu, senjata tajam milik Andre sudah berusaha membuka kunci yang memiliki pintu berlapis-lapis itu. Rasanya perih dan sungguh sakit. Hampir saja Rumanah menangis karenanya.


"Sssstttt, tahan sedikit." Andre meminta.


"Tapi ini sangat sakit, Tuan. Aaaargghhhh!" Rumanah menjawab dan seketika ia kembali menjerit saat Andre mencoba melakukannya lagi.


"Maafkan aku, tapi kau harus menahannya, Belle." Andre mendesak.


Rumanah meringis dengan raut wajah menahan tangis. "Tidak, Tuan. Saya semakin takut, ini sangat terasa sakit sekali. Saya tidak mau melakukannya." tolak gadis desa itu yang tampak ketakutan dan kesakitan.


Andre terdiam sejenak dan menatap kasihan pada istri mungilnya itu.


Waduh, yang mau unboxing harus merasakan sakit terlebih dahulu. Tahan ya, Belle. Nanti juga bakalan terasa enak, kok. Hihihi


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2