
Phoo Boon-Nam berjalan cepat keluar dari kamarnya. Ia begitu terkejut dan setengah tak menyangka saat sang istri mengatakan jika Tesanee Sunee yang tak lain adalah Rumanah telah pulang ke rumah mereka.
"Bagaimana bisa dia pulang secara tiba-tiba. Ck, anak itu benar-benar bedebah! Pergi tidak pamit, datang pun tidak memberi kabar!" cicit Phoo Boon-Nam yang tak henti-hentinya mengomel karena kesal pada putri semata wayangnya itu.
"Sudahlah, sayang, kau tidak usah memarahinya nanti. Yang penting dia sudah kembali dengan selamat. Toh, dia pergi juga karena kau memaksanya menikah dengan Chaisay," ucap sang istri yang berusaha membela putri satu-satunya itu.
"Apa katamu? Gara-gara aku? Sembarangan!" desis Phoo Boon-Nam seraya menjentikkan jarinya pada dahi istrinya.
Maae Lilis mengerucutkan bibirnya dan mengusap dahinya yang tidak terasa sakit. Phoo Boon-Nam adalah seorang pengusaha sekaligus pemilik perkebunan terbesar di tempatnya ia tinggal. Di Thailand pun, perkebunan dan perusahaannya sangat berkembang pesat. Usianya tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Di usia yang sudah ke lima puluh lima tahun, Phoo Boon-Nam masih sangat terlihat gagah perkasa dan awet muda.
Tubuhnya tinggi besar, perutnya tidak pernah membuncit. Wajahnya begitu berkharisma. Siapa pun tidak akan mengira jika pria itu sudah berusia lima puluh plus. Tidak jarang, para janda di desa itu sering mencari-cari sensasi pada sang saudagar kaya yang memiliki kesetiaan penuh pada istrinya.
"Aku tidak pernah memaksanya, sayang. Aku hanya mendesaknya saja. Aku tidak ingin dia menikah dengan pria lain selain Chaisay. Kau tahu bukan jika keluarga Chaisay pun sangat menginginkan Sanee." Terang Phoo Boon-Nam penuh penegasan.
Maae Lilis membuang napasnya berat. "Ya, I know, beb. Tapi, Sanee hanya menganggap Chaisay sebagai sahabatnya saja. Dia tidak pernah mencintai Chaisay. Lagipula, dia datang ke sini dengan seorang pria dewasa yang mengaku sebagai suaminya." Ujar Maae Lilis tak mau kalah.
Sontak saja Phoo Boon-Nam terlonjak kaget mendengar ucapan istrinya. "Apa? Seorang pria dewasa yang mengaku sebagai suaminya?" tanyanya memastikan.
Maae Lilis mengangguk. "Aku rasa telah terjadi sesuatu pada putri kita, beb." Ucapnya.
Phoo Boon-Nam mengerutkan dahinya dan mencoba mencerna setiap ucapan istrinya. Sepertinya ia sangat syok dengan ucapan istrinya itu.
Tanpa berkata apapun, Phoo Boon-Nam bergegas melangkahkan kakinya kembali untuk menemui putrinya yang sedang menunggu di bawah.
"Apa yang harus aku katakan pada Phoo. Ha ha ha, aku merasa asing dengan panggilan itu." Andre tertawa ngakak saat ia mengatakan Phoo, persis sekali seperti istrinya.
"Hei, kenapa tertawa? Ayolah latihan! Phoo tidak suka pria yang lembek dan bertingkah. Walaupun orang banyak uang, Phoo tidak sombong dan bertingkah. Ia selalu baik terhadap siapa pun! Pokoknya, tidak ada perbedaan baginya antara orang kaya dan orang miskin." Ujar Rumanah penuh penegasan.
Andre tersenyum serta mengangguk tanda mengerti. "Aku percaya akan hal itu, darling. Itulah sebabnya kau sangat baik hati dan penyayang." Ucapnya.
Rumanah mengangguk. "Dan satu lagi, Phoo tidak pernah bersenang-senang dengan wanita bayaran seperti yang kau kira! Ya, mungkin hal itu sangat mudah untuk Phoo lakukan, tapi, Phoo benar-benar tidak seperti itu!" tegasnya.
Andre tersenyum kecil dan mencoba mencerna setiap ucapan istrinya itu. "Hmmm, benar dugaanku. Semua perkebunan yang berderet di sepanjang jalan raya itu adalah milik ayah mertuaku. Hmm, benar-benar luar biasa. Belum lagi perkebunan di sepanjang jalan depan rumahnya. Astaga, jangan-jangan, kekayaanku kalah oleh keluarga ini." Cerocosnya dalam hati.
"Sudah jangan banyak berpikir, hubby. Sekarang kau harus siapkan mental untuk berhadapan dengan pemilik rumah ini." Rumanah berkata sembari membelai lembut wajah tampan suaminya.
Andre tersenyum. "Aku sangat siap, darling." Jawabnya seraya memeluk manja istri cantiknya itu.
"Sanee!" suara bariton itu terdengar menggema di telinga Rumanah dan Andre.
Sontak saja Rumanah melepaskan pelukannya dan menatap takut-takut pada ayahnya. Sementara sang Ayah tampak menatap tajam pada dirinya serta suaminya.
"Phoo," ucap Rumanah dengan suara yang lirih.
__ADS_1
Keduanya bangkit dari duduknya dan membungkuk memberi hormat.
"Astaga, itu kumis apa buntut kuda? Tebal amat ya." Ucap Andre dalam hati.
Phoo Boon-Nam menatap tajam dan penuh intimidasi pada Andre. Hal itu membuat pria itu menelan ludahnya kasar dan menundukkan wajahnya.
"Untuk apa kau kembali?" ketus Phoo Boon-Nam seraya mendudukkan bokongnya di sofa.
Rumanah menatap ragu dan mendudukkan bokongnya di sofa. "Untuk ... emh, Sanee masih putri Phoo dan Maae 'kan? Memangnya tidak boleh Sanee pulang?" jawabnya sedikit terbata.
"Tentu saja boleh, sayang." Jawab Maae Lilis seraya tersenyum manis.
Phoo Boon-Nam memelototkan matanya pada sang istri. Memberi isyarat jika dia saja yang boleh bicara.
"Setelah kau pergi tanpa izin, kini kau kembali tanpa memberi kabar. Dan ini, siapa pria tengil ini? Kenapa kau bisa pulang bersamanya. Apakah dia teman gelandanganmu di luaran sana?" tanya Phoo Boon-Nam dengan nada yang sinis dan judes.
Rumanah tampak terjingkat kaget mendengar ucapan kasar ayahnya. Begitu pun dengan Andre, ia sangat terhenyak kaget dan setengah kesal.
"Apa? Gelandangan? Astaga, dia tidak bisa melihat bagaimana tampannya suami putrinya ini? Ck, benar-benar Pakmer yang sangat menyebalkan! Sama seperti putrinya, menyebalkan!" decak Andre dalam hati.
"Phoo, jangan bicara seperti itu. Sanee datang ke sini untuk beri'tikad baik. Tidak ada niatan buruk. Sanee minta maaf karena telah pergi tanpa izin. Tapi, itu Sanee lakukan karena Sanee muak pada Phoo yang selalu memaksa Sanee untuk menikah dengan Chaisay!" tegas Rumanah yang kini tampak sudah mulai berani bertindak.
Phoo Boon-Nam memutar bola matanya dan memainkan kumisnya yang hitam dan tebal. Sementara Maae Lilis hanya diam dan berharap tidak terjadi pertengkaran di sana.
Rumanah mengerutkan dahinya dan menatap sebal pada ayahnya.
"Tidak, Phoo. Sebenarnya kedatangan kami ke sini ingin memberitahu perihal pernikahan kami." Ucap Andre tanpa ragu. Hal itu berhasil membuat Phoo Boon-Nam tercengang kaget.
Rumanah meremas jari-jarinya dan menundukkan wajahnya. Sementara Andre tampak terlihat tenang dan santai.
"Pernikahan kalian? Apakah kau pikir aku akan merestui kalian?" ucap Phoo Boon-Nam.
Andre tersenyum. "Tentu saja, Phoo. Karena—" belum sampai ia menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Phoo Boon-Nam menyelanya.
"Siapa yang mengizinkanmu memanggilku Phoo?" ketus Phoo Boon-Nam menyela.
Andre terdiam sejenak dan menatap istrinya.
"Sanee yang menyuruhnya, Phoo. Karena, dia memang menantu Phoo." Ucap Rumanah dengan suara yang bergetar.
"Apaaa? Menantu?" Phoo Boon-Nam berkata dengan ekspresi tak percaya.
Rumanah mengangguk.
__ADS_1
"Apa maksudnya? Jangan menipu Phoo dengan cara konyol seperti ini, Sanee! Phoo tahu jika ini hanya akal-akalanmu saja agar Phoo melepaskan Chaisay dan membiarkan kamu tidak menikah dengannya!" bentak Phoo Boon-Nam dengan ekspresi kemarahannya.
Melihat istri cantiknya dibentak seperti itu membuat Andre tidak terima. "Stop! Jangan marahi istriku! Dia tidak bersalah. Apa yang dia katakan, benar adanya. Kami memang sudah menikah!" Ucapnya penuh penegasan. Ia tampak berani dan percaya diri.
Phoo Boon-Nam tampak tercengang melihat keberanian pria di hadapannya. Begitu pun dengan Maae Lilis.
"Aku sama sekali tidak percaya padamu! Jangan asal bicara. Aku tahu jika kau hanya disuap oleh putriku agar mengaku menjadi suaminya. Dasar kau tidak tahu diri! Sebaiknya kau pergi dari rumah ini sebelum kulemparkan kau ke kolam lele dan belut!" bentak Phoo Boon-Nam mengusir dan mengancam menantunya.
Andre tampak terbelalak kaget dan bergidik ngeri mendengar kata lele dan belut. Sementara Rumanah hampir tertawa ngakak karena geli dengan ayahnya yang akan melemparkan suaminya ke kolam lele dan belut .
"Apa? Kolam lele dan belut? Gila, lebih baik gue berenang di kolam buaya daripada harus berenang di kolam lele dan belut. Dan, apa katanya? Gue disuap oleh putrinya? Astaga, orang tua ini benar-benar tidak tahu jika menantunya ini seorang pengusaha kaya raya. Ck, menyebalkan! Menyesal aku tidak membawa pesawatku ke hadapannya!" gerutu Andre dalam hati.
Phoo Boon-Nam menatap intens pada menantunya. Sebenarnya ia sangat penasaran pada sosok pria yang mengaku suami putrinya itu.
"Jangan salah paham tentang saya, Phoo. Saya sungguh jujur dalam hal ini. Beberapa bulan yang lalu, saya menemukan putri Anda dalam keadaan compang-camping. Dia benar-benar terlihat seperti orang kismin. Dan, saya baru tahu identitasnya saat ini. Saya baru tahu jika ternyata istri saya ini adalah seorang putri tunggal saudagar kaya. Saya menikahinya karena cinta dan sayang padanya. Bahkan saat saya tidak tahu keluarganya seperti apa. Saya sungguh benar-benar—" belum sampai Andre menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Phoo Boon-Nam menyelanya.
"Bagaimana bisa kalian menikah tanpa kehadiranku? Siapa yang menjadi wali-mu, Sanee!?" selidik Phoo Boon-Nam.
Rumanah menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan. Sesaat ia menatap wajah suaminya.
"Kami—"
"Masuk ke kamarmu dan biarkan pria ini pergi!" perintah Phoo Boon-Nam tanpa bantahan.
Rumanah tampak terlonjak kaget dan mulai panik. Inilah yang ia takutkan, ia takut sang ayah tidak akan merestui pernikahannya dengan suaminya itu.
"Tidak, Phoo! Sanee sudah menikah dengannya. Dia menantu Phoo dan Maae. Ini sungguh tidak bercanda, Phoo!" ucap Rumanah memelas dan memohon pengertian dari ayahnya.
"Phoo, sebaiknya dengarkan dulu penje—" Maae Lilis menggantung ucapannya saat tiba-tiba suaminya memelototinya.
Sementara itu, Andre tampak mengusap wajahnya kasar dan benar-benar pusing dengan keadaan saat ini.
"Kau akan tetap menikah dengan Chaisay, Sanee!" ucap Phoo Boon-Nam dengan tatapan penuh kemarahan.
Rumanah beringsut memeluk lutut ayahnya dan memohon agar tidak dipisahkan dengan suaminya. "Tidak, Phoo. Jangan lakukan itu. Sanee benar-benar mencintai suami Sanee. Phoo jangan memisahkan Sanee dengannya, hiks hiks hiks." Kali ini Rumanah tampak tak kuasa menahan tangisnya.
Andre menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan. "Phoo, tolong dengarkan penjelasan saya. Saya benar-benar—"
"Diam kau! Aku tidak memintamu untuk bicara! Sebaiknya kau keluar dari rumahku saat ini juga!" bentak Phoo Boon-Nam mengusir menantunya.
Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap kesal pada mertuanya itu. Belum lagi sang istri yang masih berlutut di hadapan ayahnya benar-benar membuat hatinya terasa sakit.
"Pelayan! Bawa Nangsaw Sanee masuk ke kamarnya! Dan kalian, pengawal! Seret pria ini agar keluar dari rumah ini!" perintah Phoo Boon-Nam dengan sekejap saja mampu membuat para pelayan dan pengawal menangkap tubuh Rumanah dan Andre.
__ADS_1
BERSAMBUNG...