Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Pertempuran sengit


__ADS_3

Rumanah membuka matanya lebar-lebar. Di hadapannya, seorang wanita memakai seragam pelayan tampak mematung dan seperti menatapnya dengan jeli. Tentu saja Rumanah merasa heran dan sedikit curiga. Wanita cantik itu 'kan tidak memanggil siapa-siapa. Tapi, kenapa pelayan wanita itu tiba-tiba masuk dan seperti sedang ingin melakukan sesuatu. Pastinya Rumanah heran dong dengan pelayan wanita yang mencurigakan itu. Apalagi kini si pelayan tidak membawa apa-apa di tangannya. Malah tangan satunya disembunyikan ke belakang punggungnya.


"Siapa kamu!? Mau apa kamu ke kamarku? Aku tidak meminta apa-apa!" Rumanah memberondong pelayan palsu itu dengan beberapa pertanyaannya.


Luna yang memakai masker tampak berseringai licik di balik maskernya. Tentu saja Rumanah tak dapat melihat apa pun di balik masker itu. Tetapi saat Rumanah memperhatikan manik mata wanita berdiri tak jauh dari tempatnya, seketika ia terhenyak kaget saat menyadari siapa pemilik mata tersebut.


"Luna!" desisnya dengan netra yang membulat penuh.


Ya, dia memang Luna. Dan Rumanah begitu mengenal netra yang tajam dan sangar itu. Netra siapa lagi jika bukan netra Luna yang sudah lama memusuhinya hanya karena ia tak sengaja berhasil mendapatkan princess Sandrina dengan Daddy nya.


"Ya, ini aku!" jawab Luna sembari melepas kasar masker yang menutupi mulutnya.


Rumanah kaget dan refleks ia meloncat dari ranjangnya. Bahkan ia lupa jika sedang hamil muda. Dan hal itu membuatnya tidak berhati-hati dan langsung meloncat begitu saja.


"Mau apa kamu ke sini!?" tanya Rumanah dengan ekspresi yang sangat terkejut namun juga penasaran. Ia yakin jika wanita di hadapannya itu akan melukainya.


Luna berseringai sinis dan melangkahkan kakinya dengan pelan. Menatap tajam dan penuh permusuhan pada istri mantan suaminya.


"Mau apa? Tentu saja aku mau memberikan kejutan di pesta pernikahanmu dengan mantan suamiku!" jawab Luna dengan sinis.


Rumanah tampak terhenyak kaget dan langsung menatap curiga pada mantan istri suaminya itu, "Jangan macam-macam! Aku bisa panggilkan penjaga di depan kamar ini. Aku juga bisa memanggil suamiku!" ucapnya yang tampak menaikkan suaranya.


"Hahahaha!" Luna tampak tertawa terbahak-bahak seperti pemeran antagonis di film layar lebar.


Rumanah tampak mulai panik dan tegang saat ia melihat Luna tertawa jahat dan menyeramkan seperti itu. Tentu saja ia merasa jika kini dirinya sedang dalam bahaya.


"Kau berlagak seperti Nyonya besar di rumah ini, ya! Padahal, kau hanya orang miskin yang kampungan! Aku yakin kau menggoda mantan suamiku agar mau menikah denganmu!" tuding Luna dengan sorot mata yang berkilat marah.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap intens pada Luna. Sepertinya ia harus berhati-hati dan waspada pada manusia jahat di hadapannya itu.


"Jangan asal bicara kau! Aku benar-benar tidak melakukan apa-apa. Semua ini real kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa!" ujar Rumanah yang tampak menekan setiap ucapannya.


Luna tersenyum sinis dan memutar bola matanya jengah, "Hng! Aku tidak percaya semua ucapanmu, kampungan! Pokoknya aku ingin kau menyerah dan lepaskan mantan suami dengan putriku! Kau tak berhak mendapatkan mereka! Hanya aku! Hanya aku yang berhak mendapatkan mereka berdua!" umpatnya dengan sorot mata yang penuh dengan api kemarahan.


Rumanah tampak diam dan bingung harus berbuat apa. Sementara saat ini Luna sedang mengancamnya. Tentu saja ia tidak ingin meninggalkan suami yang kini telah berhasil menghamilinya. Suami yang sangat sayang padanya. Dan princess, tentu saja ia pun tidak akan meninggalkan gadis kecil yang sangat ia sayangi itu.


"Aku tidak akan meninggalkan mereka! Mereka kini sudah menjadi milikku! Kau tidak bisa melarang dan mengaturku seperti ini, Tante Luna yang terhormat!" ujar Rumanah penuh penegasan.


Kilatan di mata Luna seakan mampu membakar apa saja yang ia lihat di sana. Deru napasnya begitu naik turun tak beraturan. Sementara rahangnya kini sudah mengeras dan gigi-giginya gemelutuk menahan emosi yang bisa meledak kapan saja.


Rumanah takut? Ya! Pasti dia sedang dalam zona ketakutan saat ini. Ia kini menyentuh perutnya yang masih rata walau sudah hamil satu bulan. Ia khawatir pada sang janin yang kini sudah tumbuh di dalam rahimnya. Ia takut, takut Luna akan melukai calon anaknya yang masih berada di dalam kandungannya itu.


Namun sepertinya Luna belum tahu jika Rumanah sedang mengandung. Hal itu dapat ditebak dari ketidakcurigaannya terhadap kandungan Rumanah. Wanita rubah itu sama sekali tidak menyingung soal kehamilan Rumanah. Sudah pasti jika Luna memang tidak tahu bahwa Rumanah sedang hamil.

__ADS_1


"Jika kau tidak mau meninggalkan mereka...." Luna berkata sembari melangkah maju dan menatap tajam pada Rumanah yang kini tersudutkan di dinding kamarnya, "Maka aku yang akan membuatmu terpaksa meninggalkan mereka dengan caraku sendiri!" lanjutnya sembari mengacungkan pisau kecil namun tajam ke hadapan Rumanah.


"Haahhhh??" sontak saja Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh dan jantungnya mulai berdetak tak karuan.


Rumanah memegangi perutnya dan bersandar pada dinding kamarnya. Sementara kini napasnya mulai naik turun tak beraturan. Ia begitu tegang, panik, syok dan juga ketakutan. Luna kini sedang memegang pisau yang sangat tajam. Tentu saja hal itu membuat Rumanah syok dan tak mampu berkata apa-apa. Hanya kaki yang gemetar menahan tegang dan ketakutan yang menerpanya.


"Jika kau masih ingin menikmati dunia ini, maka aku akan membiarkanmu hidup. Tetapi dengan satu syarat! Tentunya kau harus mengikuti apa yang aku katakan tadi. Tinggalkan Andre dan princessku, maka kau akan aku bebaskan. Tetapi jika kau memilih untuk tetap mempertahankan pernikahanmu itu, maka pisau ini akan menyayat setiap inci kulit tubuhmu! Aku akan menusukkan pisau ini pada perutmu agar kau tidak dapat merasakan yang namanya mengandung anak dari mantan suamiku!"


Luna berkata panjang lebat dan tentunya mengandung ancaman yang sangat membahayakan bagi Rumanah. Dan kini, wanita cantik bernama Tesanee Sunee itu tampak terpaku dan mulutnya seakan terkunci. Tak dapat mengucapkan sepatah kata pun pada wanita licik di hadapannya itu.


Yang kini Rumanah pikirkan hanyalah keselamatan baby di dalam kandungannya itu. Ia benar-benar tidak ingin Luna melukai baby nya. Akan tetapi, desakan dan ancaman Luna kini membuat Rumanah semakin dilematis. Jika ia bersitegang untuk diam dan mempertahankan pernikahannya dengan Andre, itu artinya Luna akan membunuhnya saat ini juga.


Namun, jika ia memilih untuk meninggalkan suami dan putri kecilnya yang tak lain akan kandung Luna, itu artinya ia harus siap menahan rasa sakit dan rasa bersalah untuk seumur hidupnya. Wanita cantik berdarah Indonesia-Thailand itu benar-benar dilematis dan nyaris hampir buntu dengan jalan yang akan ia pilih.


"Ayo cepat katakan apa yang akan kau pilih, kampungan! Aku rasa kau tidak akan menyia-nyiakan sisa umurmu hanya demi pria itu, bukan? Jadi, lebih baik kau menyerah saja dan tinggalkan Andre dengan princess. Serahkan mereka padaku, aku akan mengurus mereka berdua dengan baik dan penuh cinta!" desak Luna sembari mengarahkan pisaunya pada leher Rumanah.


Dekat, sangat dekat sekali pisau yang kecil namun tajam itu. Dan kini, napas Rumanah seakan tercekat di tenggorokannya. Ia benar-benar sesak napas dan sulit melakukan apa-apa. Netra bulat yang hitam miliknya itu kini semakin membulat dan menatap syok pada pisau yang nyaris menempel pada lehernya. Jika sekali saja Luna goreskan pisau itu, maka ia yakin urat nadinya akan putus dan tak berfungsi lagi.


"Kau ingin hidup dengan pilihanmu, atau kau ingin mati dengan pilihanku? Hm? Kau pilih yang mana? Ayo cepat katakan," bisik Luna dengan suara yang dingin dan menyeramkan. Pisau kecil yang tajam itu masih berada di leher Rumanah.


Rumanah meremas kimono tidurnya. Perutnya benar-benar terasa seperti diaduk-aduk dan begitu nyeri. Apa mungkin itu reaksi dari kepanikan dan kekhawatirannya pada sang janin yang berada di dalam kandungannya? Entahlah!


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Aku mohon berikan kekuatan padaku. Aku tak ingin menyerah dan mengakhiri hidupku dengan cara konyol seperti ini. Ya Tuhan, bantulah aku!" rintih Rumanah di dalam hati.


Wanita cantik itu tampak sedang menyiapkan keberaniannya untuk melakukan sesuatu. Dengan pelan ia menarik napasnya dan mengeluarkannya secara perlahan.


Luna tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap tajam pada Rumanah yang kini melawannya. Ia sungguh tidak akan mengampuni wanita yang kini sudah menjadi istri mantan suaminya itu.


"Aku tidak akan meninggalkan suami dan anakku hanya demi wanita licik dan jahat seperti dirimu!" ujar Rumanah dengan sorot mata yang berkilat marah.


Walau netra indah itu kini sudah bercucuran kristal bening, tetapi ia kini telah mendapat dorongan dan kekuatan. Tangannya menahan tangan Luna yang seperti hendak menusukkan pisaunya pada lehernya. Sementara Luna kini tampak benar-benar berusaha keras melepaskan tangan Rumanah yang menahan tangannya.


"Sialan! Itu artinya kau menantangku! Jika begitu, aku akan menghabisimu detik ini juga!" umpat Luna sembari menekan tangannya agar pisau itu menyayat leher Rumanah.


"Tidak akan bisa! Sebaiknya kau menyerah saja, wanita licik!" ujar Rumanah sembari mendorong tubuh Luna hingga membuat wanita itu terjerembab ke belakang.


"Aaaaa! Sialan! Beraninya kau padaku!" pekik Luna yang tampak emosi besar.


Kelentiiing!


Denting pisau yang jatuh terdengar lega di telinga Rumanah. Dengan cepat tangannya bergerak hendak menyambar pisau yang tergeletak di lantai. Namun, naas baginya saat tiba-tiba Luna menghadang kakinya sehingga membuatnya tersungkur dan jatuh ke lantai.


"Hahaha! Sudah kukatakan lebih baik kau menyerah! Aku benar-benar tidak akan terkalahkan! Hahaha!" tawa jahat itu kembali menggema di kamar kedap suara itu.

__ADS_1


Rumanah tampak terbelalak kaget saat Luna kembali meraih pisau yang jatuh. Sementara dirinya kini sedang dalam posisi kepayahan.


"Aku akan menghabisimu saat ini juga!" ucap Luna sembari melangkah mendekati Rumanah yang sedang tersungkur di lantai.


"Tidak! Jangan lakukan itu! Kumohon! Kita bisa bicarakan dengan baik-baik," pinta Rumanah sembari beringsut mundur dengan bokong dan kakinya.


Luna berseringai licik dan terus mendekati Rumanah yang masih beringsut mundur hingga tersudutkan di dinding dekat interkom.


"Tidak ada penawaran apa pun! Kau sudah memilih jalanmu sendiri. Dan kini, kau harus ... matiiiii!" Seketika Luna mengarahkan pisaunya pada perut Rumanah. Dan hal itu benar-benar membuat Rumanah terbelalak kaget.


"Tidaaaaaaaaaak!" pekik Rumanah sembari membalikkan badannya dan berguling menjauhi Luna. Ia seakan tak ingat lagi jika dirinya sedang mengandung. Tentu saja perutnya kini sudah dalam mode ancaman. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, yang jelas saat ini perutnya sudah terkena hempasan, benturan, dan bahkan tekanan.


Beruntungnya, Rumanah masih bisa menghindar dari pisau tajam yang Luna gunakan untuk menusuk perutnya. Dengan cepat ia bangun dari tempatnya dan bergegas berlari menjauhi Luna yang terus mengejarnya.


"Jangan! Hentikan semua permainan ini! Kau hanya akan membahayakan dirimu sendiri!" ujar Rumanah sembari melindungi perutnya yang kini terasa sakit dan seperti diobok-obok di dalamnya.


"Tidak akan! Aku ingin kau mati! Kau yang telah merampas Andre dan princessku! Kau berhak matiiii!" pekik Luna sembari berlari dan kembali mengarahkan pisaunya pada perut Rumanah.


"Aaaaaaa!" Rumanah memekik dan dengan cepat ia merosot menunduk dan bahkan merangkak menjauhi amukan Luna yang seperti sedang kerasukan.


"Sialan! Kau tidak akan bisa lepas dariku!" umpat Luna sembari melangkahkan kakinya mendekati Rumanah yang sedang berdiri di dekat jendela.


"Jangan! Aku mohon untuk tidak—" Rumanah tampak menggantung ucapannya saat tiba-tiba Luna melakukan serangan dadakan padanya.


"Matilah kaaaaaauuuu!" pekik Luna sambil berlari dan berusaha menusukkan pisaunya pada perut Rumanah.


"Aaaa!" lagi-lagi Rumanah memekik dan berusaha menghindar. Kali ini ia bergeser ke arah meja, dan naasnya, perutnya terbentur ujung meja dan hal itu benar-benar terasa sakit sekali.


Sementara Luna pun kepalanya terbentur pada dinding di samping jendela, sehingga hal itu membuat kepalanya begitu terasa sakit dan merah karena benturan yang begitu dahsyat.


"Argh! Sial!" desis Luna sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Aauuwh!" Rumanah tampak meringis sembari beringsut memegangi perutnya. Ia melangkah gontai menuju pintu, tentu saja ia harus keluar dari kamar itu.


"Jangan pergi kau sialan!" desis Luna sembari melangkah sempoyongan mendekati Rumanah yang sedang bertahan dengan perutnya yang semakin terasa sakit.


Rumanah menolehkan wajahnya dan menatap Luna yang sedang berusaha berjalan dengan kepala yang merah dan sedikit berdarah. Tentu saja hal itu menjadi kesempatan besar untuk Rumanah merebut pisau di tangan Luna.


Diam-diam dia melangkah kecil dan pelan ke arah berlawanan. Dan pada saat ia telah dekat dengan Luna, dengan cepat ia menendang tangan Luna sehingga membuat pisau itu terpelanting ke tempat yang lumayan jauh dari mereka.


"Sialan! Apa yang kau lakukan? Kau benar-benar ingin mati, ya!?" cicit Luna sembari melangkah dengan kepala yang masih terasa sakit.


"Tidak! Aku tidak akan mati dalam keadaan konyol seperti ini. Aku akan tetap hidup bersama suami dan anakku!" ujar Rumanah sembari menekan interkom guna memanggil penjaga di depan pintu.

__ADS_1


Interkom menyala, tapi ia tak bicara apa-apa. Hanya membiarkan interkom itu terpasang dan yang diluar mendengar suaranya yang sedang berdebat dengan Luna.


BERSAMBUNG...


__ADS_2