Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Aku ingin melihatnya


__ADS_3

Andre menyeruput kopi hangatnya. Manik matanya kini menatap tajam pada pengasuh putri cantiknya itu. Entah mengapa ia merasa ada yang mengganjal di dalam hatinya saat melihat gadis desa itu berduaan dengan Pak Muhsin.


"Haduh, sepertinya Tuan sedang marah, Rum." bisik Muhsin.


"Tidak, dia memang selalu seperti itu di saat marah atau pun tidak marah, Pak Muh." balas Rumanah yang juga tampak berbisik.


"Bisik-bisiknya pakai speaker saja, agar semua orang tahu apa yang sedang kalian bicarakan." kembali Andre menyindir.


"Hah???" Rumanah dan Pak Muhsin tampak terhenyak kaget dan saling beradu pandang. Tentu saja mereka berdua merasa tersindir oleh ucapan majikan galak itu.


"Jangan lama-lama saling pandangnya, nanti kalian bisa saling jatuh cinta." dan lagi-lagi duda tampan itu menyindir apa yang sedang terjadi pada Rumanah dengan si koki.


"Astaga, majikan galak ini benar-benar memiliki dosis sindir menyindir seperti penyihir. Eh, apaan sii, ngaco!" cerocos Rumanah dalam hati.


"Maafkan kesalahan saya, Tuan. Saya akan kembali fokus bekerja." ucap Muhsin seraya membungkuk penuh hormat.


Andre tersenyum kecut. "Bekerjalah denga baik dan benar. Jangan banyak mengobrol saat kalian sedang bekerja, nanti kerjaan kalian tidak akan selesai." tegas Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.


Muhsin dan Rumanah mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Dan kau, Annabelle. Segeralah selesaikan pekerjaanmu itu. Sebentar lagi princess harus berangkat sekolah." ucap Andre pada pengasuh putri kecilnya.


Rumanah mendongak dan kemudian ia mengangguk mengiyakan. Tanpa membuang waktu lagi ia pun bergegas membawa wadah bekal princess Sandrina untuk diisi oleh makanan yang sudah tersedia di atas meja. Sementara Muhsin tampak kembali melakukan pekerjaannya. Kebetulan di rumah mewah itu hanya ada satu chef yang Andre pekerjakan. Alasannya karena tidak banyak orang yang akan menikmati makanan buatan si chef yang bernama Muhsin itu. Jadi, hanya memiliki satu chef pun akan mencukupi makanan yang mereka inginkan.


"Bergegaslah, Rumanah. Majikan galak ini sedang sensi pagi ini. Emh, mungkin dia sedang darah tinggi." celoteh Rumanah seraya menuangkan nasi pada wadah bekal sekolah princess.


Andre tampak mengamati gerak gerik pengasuh putrinya itu. Tangan kiri Rumanah yang masih dibalut oleh kain kasa itu pun tak luput dari perhatiannya.


"Jangan terlalu gesit, Annabelle. Kau bisa membuat jahitan di jarimu terbuka sebelum waktunya." tegur Andre yang berhasil membuat Rumanah menghentikan gerakkannya.


"Baik, Tuan." jawab gadis desa itu seraya mengangguk. Kemudian Rumanah kembali mengerjakan tugasnya.


"Apa-apaan sii majikan galak ini. Kenapa dia mengamatiku seperti itu. Bikin risih dan susah gerak saja." gerutu Rumanah dalam hati.


Andre tersenyum kecil saat manik matanya menatap kemeja putih yang Rumanah kenakan. Ah tidak, bukan kemeja putih itu yang ia perhatikan. Tetapi, sebuah objek di balik kemeja itu. Ya Tuhan, Rumanah mengenakan kemeja putih yang sedikit transparan. Entah terbuat dari bahan apa kemeja itu, yang jelas saat ini bra hitam yang Rumanah kenakan begitu terlihat jelas di hadapan mata duda tampan itu.


"Wadidawww, Annabelle menggunakan bra hitam. Kenapa dia tahu sekali kalau aku suka dengan warna hitam. Hummm, rasanya aku ingin membuka kemejanya dan melihat isi di dalamnya." ucap Andre dalam hati.


Rumanah masih melakukan tugasnya, menggunakan satu tangan lumayan membuatnya sedikit tertekan dan kepayahan. Sehingga hal itu membuatnya sedikit lambat dan harus ekstra hati-hati.

__ADS_1


"Maaf, Tuan." ucap Rumanah seraya berusaha menyambar makanan yang ada di dekat majikan galaknya. Hal itu membuatnya kesulitan. Sebab, ia mencoba meraihnya dari sebrang majikan galaknya.


"Apa yang kau inginkan, Annabelle?" tanya Andre seraya menatap dada Rumanah yang sedikit terbuka. Tentu saja itu karena Rumanah sedikit menunduk karena terlalu jauh mencapai makanan yang ada di dekat majikan galaknya.


"Ah, itu Tuan. Telor gulung rumput laut." jawab Rumanah yang tampak masih berusaha.


"Ayo terus menunduk, aku ingin melihat dua bukit kembar milikmu, Belle." ucap Andre dalam hati. Duda tampan itu tampak masih mengintip dada Rumanah.


"Huh, sulit sekali." Rumanah mengeluh karena tangannya tak sampai, kini tangannya ia tarik kembali dan gadis desa itu mengusap keringat di dahinya seraya membuang napasnya kasar. "Huffft."


Andre tersenyum kecil melihat tingkah dan ekspresi pengasuh putrinya itu. Diam-diam ia memperhatikan wajah Rumanah yang terlihat manis jika lama-lama diperhatikan.


"Kau mau ini? Silakan, setelah ini tolong bawakan air hangat ke kamarku." ucap Andre seraya menyodorkan sepiring makanan yang Rumanah inginkan.


Rumanah melongo, untuk sesaat ia terdiam dan memperhatikan pergerakan majikan galaknya yang kini sudah beranjak dari duduknya.


"Jangan lupa, air hangat, ya." ucap Andre menegaskan. Kemudian duda tampan itu berlalu begitu saja.


Rumanah mengerjapkan matanya dan mengangguk mengiyakan. Walaupun kesadarannya sedikit oleng karena sikap majikan galaknya, tetapi ia tetap mendengar perintah dari majikan galaknya itu.

__ADS_1


***


__ADS_2