
Rumanah berlari mencari pintu untuk keluar dari rumah yang besar itu. Ya, Rumanah bahkan baru sadar bahwa ia dibawa oleh penculik itu ke sebuah rumah yang begitu besar dan sepertinya kosong tanpa berpenghuni.
"Astaga! Di mana letak pintu keluarnya. Argh! Kenapa rumah ini besar sekali. Apakah ini milik si Joker itu?" cerocos Rumanah sembari menengok ke sana kemari.
Wanita cantik itu tampak tergesa-gesa dan merasa harus segera melarikan diri dari rumah besar itu. Apa lagi saat ini anak buah si Joker tampan tidak ada yang mengejarnya.
"Kenapa Joker itu tiba-tiba bangkit lagi? Astaga. Padahal aku sudah menendang adik kecilnya yang ... astaga! Adik kecilnya besar sekali. Ih, bahkan masih terasa sekali di pahaku ini," kembali wanita cantik itu mengoceh sendiri.
Rumanah menatap langit-langit rumah besar itu. Lampu hias yang menggantung di hadapannya begitu indah, namun sepertinya menyeramkan jika tiba-tiba jatuh dan menimpa dirinya.
Seketika, bayangan adik kecil milik Joker itu menari-nari di dalam pikirannya. Ia kini bahkan membayangkan adik kecil milik si Joker itu terpampang nyata di hadapannya. Astaga! Efek apa ini? Kenapa Rumanah tiba-tiba jadi mesum seperti ini?
"Aaarrgh! Apa yang aku pikirkan. Sialan! Bisa-bisanya aku memikirkan hal seperti itu. Gila!" desis wanita cantik itu sembari mengusap wajahnya berkali-kali.
Ya, Rumanah yakin semua hanya bayangan dan pikiran kotor si dalam kepalanya itu semata-mata karena ia sangat merindukan suaminya yang sudah tiga hari mereka tak bertemu.
"Anda tidak akan bisa keluar dari tempat ini, Nona!" ucap anak buah Joker yang berhasil membuat Rumanah tersentak kaget.
"Hah!" Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu kaget saat mendapati anak buah Joker berada di belakangnya.
"Bos kami meminta Anda untuk segera ke kamar lagi, Nona. Nanti malam bos kami ingin mengoyak-ngoyak tubuh Anda," ucap si anak buah Joker seraya melangkahkan kakinya maju mendekati Rumanah.
Mendengar ucapan pria di hadapannya, Rumanah tampak merinding dan seketika kakinya bergetar hebat. Ia tahu bahwa istilah mengoyak-ngoyak tubuh itu tak lain dan tak bukan adalah menidurinya.
"Jangan macam-macam! Aku akan menghancurkan tempat ini jika itu ter—" belum sampai Rumanah menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba seorang pria menangkap tubuhnya dari belakang.
Oh, begitu cepatnya Joker itu bertindak. Tubuh Rumanah benar-benar ditangkap oleh si Joker dan dipeluk dengan erat.
"Kau tidak akan bisa pergi ke mana-mana, Nona manis," ucap si Joker di telinga Rumanah.
"Lepaskan aku, sialan! Kau hanya pria pengecut yang tak berani melepaskan topengmu itu!" umpat Rumanah sembari berontak.
Si Joker terkekeh, "Nanti akan kulepaskan. Kau sangat ingin tahu siapa diriku? Kalau gitu, ayo ikut denganku ke kamar lagi," ucapnya yang semakin membuat Rumanah bergetar ketakutan.
"Tidak mau! Aku tidak mau ikut denganmu! Lepaskan akuuuuuuu!" pekik Rumanah sembari berusaha melepaskan diri.
Si Joker itu tak menggubris, ia malah membopong tubuh Rumanah sehingga membuat wanita itu tak bisa berkutik.
__ADS_1
🔥🔥🔥
Ferhat, Mami Purwati dan Papi Dargono kini sedang berada di depan rumah milik kedua orang tua Dimas. Setelah berusaha sebisa mungkin mencari tahu di mana keberadaan rumah milik kedua orang tua Dimas, akhirnya Ferhat pun mendapatkan informasi dari seseorang yang tahu.
"Kau yakin ini rumahnya, Fer?" tanya Mami Purwati.
"Sangat yakin, Mam. Soalnya teman Ferhat tahu betul soal ini. Dia juga sering melihat Dimas keluar masuk dari rumah ini," jawab Ferhat penuh percaya diri.
"Ya sudah, kalau gitu ayo kita masuk saja." Papi Dargono terlihat semangat empat lima.
"Serbuuu!" seru Mami Purwati yang juga begitu semangat.
"Eh eh eh! Tunggu sebentar, dua orang tua!" cegah Ferhat sembari menarik lengan keduanya.
Mami Purwati dan Papi Dargono menoleh serta menghentikan langkah mereka.
"Kenapa lagi? Kita 'kan mau menghajar si penculik itu," protes Mami Purwati dengan wajah geregetnya.
Ferhat tampak memutar bola matanya dan membuang napasnya kasar, "Tetap saja! Kita adalah tamu. Jadi, harus bertamu dengan baik dan benar!" ujarnya.
Mami Purwati dan Papi Dargono manggut-manggut pasrah. Lalu mereka pun memencet bel yang ada di samping pintu.
Bel berbunyi, tak berapa lama seorang wanita paruh baya membuka pintu.
"Selamat siang, Tante." Ferhat menyapa.
"Ya, selamat siang," jawab si wanita yang sepertinya adalah ibunya Dimas.
"Tante, ini aku Ferhat. Teman Dimas semasa SMA," ucap Ferhat memperkenalkan diri.
Wanita paruh baya itu mengerutkan dahi dan menatap Lamat wajah Ferhat. Sejurus kemudian...
"Oooh, Ferhat. Iya iya, Tante ingat sekarang," seru Ibunya Dimas, "Ke mana saja baru kelihatan lagi, Fer? Oh Ya ampun, ini pasti kedua orang tuamu, ya. Kalau gitu, ayo kita masuk!" lanjutnya.
Ferhat tersenyum. Rupanya Ibunya Dimas tidak tahu kalau hubungan Ferhat dengan putranya sudah lama terasa hambar.
"Sebenarnya kedatangan kami ke sini ingin bertemu dengan Dimas, Tan," ucap Ferhat to the point.
__ADS_1
"Oh, iya. Sebentar Tante panggilkan, ya. Kebetulan Dimas sedang ada di rumah. Biasanya dia suka keluyuran ke luar kota," balas Ibunya Dimas yang kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar putranya.
Seketika Ferhat, Mami Purwati dan Papi Dargono saling beradu pandang dan langsung menaruh curiga.
"Tidak salah lagi, dia pasti pelakunya," bisik Mami Purwati.
"Sepertinya begitu. Aku sudah tak tahan ingin meninju wajahnya," balas Papi Dargono.
Tak berapa lama...
Dimas berjalan beriringan dengan Ibunya. Ia sedikit heran dan kaget kedatangan Ferhat. Tentu saja keduanya sudah lama tak berhubungan baik. Terlebih saat Ferhat tahu kalau Dimas menjadi kekasih bayaran Kakaknya yaitu Luna.
"Hei, bro! Tumben banget loe datang ke—" belum sampai Dimas menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja...
"Pletak!"
Sepatu sneaker milik Mami Purwati melayang dan bersandar tepat pada dahi Dimas. Hal itu membuat Dimas dan juga Ibunya sangat terkejut bukan main.
"Aaauuwh!" ringis Dimas yang tak bisa menangkis karena mendapat serangan dadakan.
"Hei, apa-apaan ini!" sungut Ibunya Dimas dengan ekspresi marah dan juga kaget.
Mami Purwati bangkit berdiri dengan tampang yang lebih menyeramkan.
"Mam, sudah tahan dulu. Jangan tempramen seperti ini," tegur Papi Dargono mengingatkan istrinya.
"Diam!" tegas Mami Purwati.
"Ini sebenarnya ada apa, ya? Kenapa anak saya tiba-tiba ditimpug pake sepatu seperti ini?" tanya Ibunya Dimas yang tampak heran dan penasaran.
"Dia! Dia penculik! Putramu itu sudah menculik menantuku!" tuding Mami Purwati dengan tatapan tajamnya.
"Apaaa???" Dimas dan Ibunya tampak terbelalak kaget dan menatap tak mengerti.
"Mam, bicara yang santai dan jangan terburu-buru seperti ini. Kita bisa tanyakan dengan baik-baik dulu," kembali Papi Dargono mengingatkan istrinya.
Mami Purwati tampak memutar bola matanya malas dan kilatan api kemarahan terpancar di manik matanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...