
Sesampainya di Gedung Nusantara, Rumanah menggandeng putrinya masuk ke dalam ruangan peserta. Tentu saja ia harus menemani putrinya itu. Tapi, saat acara hendak dimulai, ia akan menjadi penonton yang menyemangati putrinya itu.
"Princess sayang, sebentar lagi acara akan dimulai. Nanti, Bunda akan duduk di depan panggung, ya. Bunda beserta Daddy dan Omma Oppa akan menonton pentas princess di atas panggung." Rumanah berkata dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ia mengusap lembut puncak kepala putri mahkotanya itu.
Si cantik Sandrina mengangguk serta tersenyum manis. Rok mekar bak burung unta sedang merekah itu begitu indah dipakai olehnya.
"Ya, Bunda. Princess mengerti," jawab gadis kecil itu.
Rumanah tersenyum, beberapa pasang mata menatap ke arahnya. Mungkin mereka heran, kok gadis seusia Rumanah sudah punya anak sebesar Sandrina? Atau mungkin ada yang heran dengan wajah keduanya yang tidak mirip? Ah, tentu saja mereka tidak mirip. Sebab, bukan Rumanah yang mengandung dan melahirkan gadis kecil itu. Melainkan Luna yang ternyata tidak bisa menjadi ibu yang baik bagi princess putrinya sendiri.
"Para hadirin semua, perlombaan nari balet anak antar kota akan segera dimulai. Diharap kepada para peserta untuk bersiap-siap pentas." Seorang Host telah menyerukan suaranya. Meminta para peserta untuk bersiap.
Pentas seni yang di adakan di Gedung Nusantara itu benar-benar ramai oleh penonton dan juga bintang tamu. Beberapa pebalet hebat di tanah air tampak turut serta menunjukan aksi mereka. Dan, salah satu bintang tamu utama yaitu Alina Cojocaru. Tampak sudah hadir di depan panggung.
"Huffft, aku sangat tegang sekali, darling. Entah bagaimana aksi princess di atas panggung. Semoga saja dia tidak nervous dan grogi." Ucap Andre seraya mengatur napasnya yang begitu berat. Ia sangat tegang dan harap-harap cemas. Bagaimana pun, perlombaan ini dihadiri oleh orang-orang penting di tanah air dan diekspos sampai ke luar negeri.
Rumanah tersenyum serta menggenggam erat tangan suaminya. "Tenanglah, suamiku. Princess pasti bisa melewati kesempatan ini. Princess anak yang cerdas dan begitu berbakat. Saya yakin gadis kecil itu mampu menghipnotis para penonton di sini," ucapnya menenangkan dan menyemangati suami tampannya itu.
Andre menolehkan wajahnya dan menyunggingkan senyuman manisnya. "Ya, darling. Kau benar, semestinya aku tenang dan mendoakan yang terbaik untuk putri kita," jawabnya seraya membalas menggenggam tangan istri cantiknya itu.
"Ya, Tuan. Saya yakin princess pasti menang. Kita di sini mendukung dan mendoakannya. Dan, ditambah lagi ada idolanya di sini, dia pasti semakin semangat dan semakin ingin menampilkan yang terbaik," balas Rumanah penuh kelembutan.
Andre tersenyum hangat. Gemerlap lampu tembak di atas panggung yang besar dan megah itu tampak membuat suasana semakin tegang namun penuh hikmat.
"Kita tampilkan, pertunjukan spektakuler dari pebalet hebat yang telah mendapatkan beberapa piala kejuaraan hingga ke manca negara. Satu, dua, tigaaaa!" sorak Host. Seketika tirai yang membentang pun perlahan terbuka. Dan, dibalik tirai itu ada seorang pebalet hebat dari tanah air Indonesia.
Alunan musik mulai terdengar mengayun indah di telinga setiap orang yang hadir di acara itu. Gerakan demi gerakan mulai dilakukan oleh penari balet yang hebat dan profesional itu.
__ADS_1
"Permisi, astaga. Untung saja aku masih kebagian tempat. Ya, memang di sini tempatku. Aku sudah membeli tiket VVIP sejak satu minggu yang lalu." terdengar suara Ferhat yang baru saja tiba di sana.
"Astaga, kukira kau tidak akan datang, Fer." Andre menolehkan wajahnya pada mantan adik iparnya itu.
"Ya gitu gue gak hadir di acara spesial bagi keponakan gue, Bang!" cicit pria tampan itu seraya mulai duduk tenang.
"Hmmm, barang kali begitu. Oh ya, ke mana Mami? Tidak ingin kah menonton penampilan cucu kesayangannya?" ucap Andre menanyakan Mami Ferhat.
"Sorry sekali, Bang. Bukan maksud hati tidak ingin menghadiri penampilan princess. Tapi, tiba-tiba saja Mami mengalami anemia dan tidak bisa hadir di tempat ini," ungkap Ferhat dengan raut wajah yang lemas.
"Ya Tuhan, berdosa sekali aku sudah suudzon sama Mami. Kalau gitu, lihat ke depan, Mami dan Papi ku hadir di sini," ucap Andre.
Ferhat mengerutkan dahinya dan mengedarkan pandangannya ke depan. "Owalah, ternyata ada Omma sama Oppa di sini. Kapan mereka datang?"
"Saat princess menginap di rumahmu," jawab Andre.
"Owalah, aku rasa mereka sengaja datang untuk menghadiri pentas cucunya sekaligus pernikahan putranya nanti," tebak Ferhat.
"Lah, terus gimana dengan pernikahan kalian? Apakah mereka belum tahu?" tanya Ferhat yang tampak terlihat heran.
"Tentu saja sudah tahu, Fer. Saat itu juga aku langsung berkata jujur pada kedua orang tuaku," jawab Andre seraya menatap ke panggung yang megah.
"Oooh, begitu rupanya," balas Ferhat.
"Para hadirin sekalian, kini sudah saatnya acara perlombaan dimulai. Peserta lomba kali ini diikuti oleh puluhan pebalet cilik yang sangat luar biasa. Kami harap para hadirin sekalian bisa tenang saat perlombaan telah dimulai, terima kasih." Host kembali memberikan pengumuman pada para hadirin di sana.
Rumanah dan Andre tampak saling menggenggam tangan satu sama lain dan saling tersenyum penuh harap. Tentu saja mereka sangat tidak sabar ingin melihat sang putri mahkota pentas di atas panggung.
__ADS_1
"Ini sangat menegangkan sekali, darling." Andre bicara sembari menatap istrinya.
"Tenanglah, Tuan. Princess pasti bisa," ucap Rumanah seraya tersenyum manis.
"Oh ayolah darling, sampai kapan kau akan memanggilku Tuan. Kau tak mau kah memanggilku sayang, cinta, bebeb, honey, atau apalah!" cicit Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
Rumanah tersenyum kecil dan mencubit gemas pipi suaminya. "Eeemh, baiklah. Kalau gitu, saya akan memanggil Anda ... Daddy!" ucapnya yang berhasil membuat Andre tersentak kaget.
"Whaaaattt??? Orang-orang akan menyangka kau adalah putriku, Annabelle!" sungut Andre sembari menatap ektrem istri cantiknya itu.
Rumanah menyengir kudanil dan menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Ya tidak apa-apa, Tuan. Dengan begitu, tidak akan ada yang berani menggoda saya," ucapnya enteng.
Andre terdiam sejenak dan tampak sedang berpikir keras. "Eeeemmh, benar juga." ucapnya.
Rumanah tersenyum geli dan kembali menatap panggung yang sudah di isi oleh peserta lomba. Namun, bukan princess.
"Eh, tapi aku tidak mau! Pokoknya kau harus panggil aku sayang atau apalah.Jangan panggil aku Daddy!" tegas Andre penuh penekanan.
Rumanah memutar bola matanya dan tersenyum kecil. "Baiklah, saya akan memanggil Anda ... Hubby!" ucapnya seraya menatap wajah tampan suaminya.
Andre tersenyum senang dan menyambar pipi istrinya dengan ciumannya.
"Muacch!"
"Hah??" Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh.
"Itu baru namanya istri yang comel," puji Andre seraya mencubit gemas hidung istrinya.
__ADS_1
Rumanah tersenyum kecil dan membuang napasnya kasar. "Ck, dasar pria nakal. Pakai cium-cium segala lagi. Ini 'kan di tempat ramai, astaga!" sungutnya dalam hati.
BERSAMBUNG...