
Rumanah menggeleng pelan. Manik matanya menatap sengit pada si pria berbadan tegap dan berkepala botak.
"Tidak, tapi aku pernah bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu." jawab Rumanah.
"Hah, kenapa kau bisa bertemu dengannya?" tanya Andre.
"Itu, hanya pengalaman sial ketika bertemu dengan nenek sihir. Lelaki itu mengejar saya sehingga membuat saya bersembunyi di mobil Tuan." tutur Rumanah.
"Nenek sihir? Siapa maksudmu?" tanya Meliza penasaran.
"Itu—"
"Hei kalian, cepat pergi dari tempat ini!" teriak si botak hitam yang berhasil membuat Andre, Meliza dan Rumanah kembali terjingkat kaget.
"Waduh, bagaimana ini, Pak?" Meliza mulai panik.
"Tenang, Mel. Kita bisa bicara baik-baik dengannya." ucap Andre sok tegar.
"Tapi dia terlihat sangat menyeramkan, Pak," ucap Meliza.
"Dia memang menyeramkan, tapi sepertinya aku sangat tahu kelemahannya." celetuk Rumanah.
"Apa? Jangan gegabah kau, Annabelle!" seloroh Andre.
"Tuan tenang saja. Kalian tunggu di sini, saya akan mendekati si botak itu dan mengalihkan perhatiannya. Saat itu terjadi, Tuan dan Mbak Meliza bisa langsung berlari naik tangga itu untuk mencari princess." ucap Rumanah sok berani.
Andre dan Meliza tampak melongo tak percaya. Sementara itu si botak hitam tampak sudah berjalan menghampiri mereka.
"Astaga, dia mendekati kita, Pak." bisik Meliza.
"Kau tenang ya, aku rasa aku bisa menanganinya." ucap Andre.
"Oooh, Tuan Andre rupanya. Ada perlu apa Anda datang kemari? Nyonya Luna sedang tidak menerima tamu." ucap si botak hitam.
"Ah, itu. Aku hanya ingin—" Andre belum selesai bicara, dengan cepat si botak hitam menyelanya.
"Lebih baik sekarang kalian pergi dari sini sebelum.." si botak hitam menjeda ucapannya dan menampakkn otot tangannya yang begitu besar dan kokoh.
__ADS_1
Meliza dan Rumanah tampak melongo melihat otot menyeramkan itu. Tentu saja jika si botak hitam itu melayangkan tinjunya, lima gigi saja pasti akan berhasil ia rontokkan.
"Cepat pergi!" gertak si botak hitam yang berhasil membuat ketiga orang itu kembali terperanjat kaget.
"Kami tidak akan pergi sebelum bertemu dengan nenek sihir." Rumanah maju ke depan dan memberanikan dirinya, menantang si botak hitam itu.
Andre dan Meliza tampak terbelalak kaget melihat tindakan gadis desa yang pemberani itu.
"Astaga, dia berani sekali." ucap Meliza setengah berbisik.
"Hei, apa yang kau lakukan?" bisik Andre pada Rumanah.
Rumanah menolehkan wajahnya. "Ssssst, kalian tenang saja ya." jawab Rumanah yang terlihat santai.
"Hei kau, boneka santet!" umpat si botak hitam seraya menatap tajam pada Rumanah.
Rumanah tersenyum kecil. "Ah, kau masih mengingatku rupanya." ucap Rumanah seraya melangkahkan kakinya mendekati si botak hitam itu.
"Ya, aku masih ingat. Kebetulan sekali kau datang ke sini. Kalau begitu hari ini aku akan menangkapmu!" ucap si botak hitam itu.
"Kau benar-benar menantangku, boneka santet!" umpat si botak hitam yang kemudian berlari mengejar Rumanah yang juga sudah berlari menantang si botak hitam itu.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? Kenapa gadis desa itu sangat berani sekali." ucap Andre yang tampak bingung harus berbuat apa.
"Pak, saya rasa sudah saatnya kita mencari princess." bisik Meliza mengingatkan bos dudanya.
"Astaga, benar juga. Tapi, bagaimana dengan gadis desa itu?" tanya Andre yang tampak kepikiran pada pengasuh putrinya yang sedang berlari di kejar oleh anak buah Luna. Mereka seperti sedang bermain kucing dan anjing.
"Saya rasa dia bisa menangani si botak hitam itu, Pak. Saya tahu Rumanah orang yang cerdik dan cerdas." jawab Meliza.
"Hmm, begitu rupanya." ucap Andre seraya melirikkan matanya pada Rumanah yang sedang naik ke atas meja. "Ya sudah, jika begitu ayo kita cari princess." lanjutnya.
Akhinya Andre dengan Meliza pun bergegas berlari menaiki anak tangga satu persatu. Tentu saja mereka harus segera menemukan princess yang entah di mana.
Sementara itu, Rumanah tampak tertawa ngakak saat melihat si botak hitam terpeleset akibat ulahnya. "Ha ha ha ha, syukurin tuh botak! Lantainya licin kaaan, sama seperti kepala kamu yang botak dan licin bagaikan cilok. Ha ha ha ha!" Rumanah tampak begitu puas melihat penderitaan si botak hitam. Tentu saja hal itu membuat anak buah Luna itu begitu geram dan kesal.
"Dasar kau boneka santet sialan! Tidak akan kuampuni kau!" umpat si botak hitam itu dengan tatapan yang sangat berkilat marah.
__ADS_1
Rumanah meletakkan tangannya di pinggangnya. "Jangan banyak ngoceh, botak! Jika kau bisa, cepat kejar dan tangkap aku!" tantangnya seraya berlari ke arah tangga.
Tadi, ia menyiramkan minyak makan di lantai yang akan si botak hitam lewati. Kali ini gadis desa itu menaburi tangga dengan tepung beras, gula pasir, beberapa butir kelereng yang ia dapatkan di dalam mobil majikan galaknya.
"Cepat tangkap aku, botaak!" teriak Rumanah penuh tantangan.
Tentu saja si botak hitam itu begitu kesulitan mengejar gadis desa yang cerdik itu. Licin bekas minyak makan saja masih membuatnya kesulitan, di tambah dengan segala macam senjata yang telah Rumanah taburkan di anak tangga itu.
"Dasar kau boneka santet! Akan kukejar kau sampai dapat." cicit si botak hitam itu seraya terus berlari dan berusaha walau sangat sulit sekali.
"Cepatlah, jangan ngoceh saja kau!" tantang Rumanah.
Si botak hitam berlari dan melalui rintangan yang begitu membuatnya kesulitan setengah mati. Hingga pada saat itu...
"Gubraaaaakkk!" terjatuh deh.
Si botak hitam kembali terjatuh dan hal itu membuatnya menggelundung dari anak tangga yang sudah mencapai pertengahan. Tentu saja hal itu lumayan membuat kepala dan tulang belulangnya terasa sakit luar biasa.
"Ha ha, mampoooossss!!" Rumanah bersorak gembira dan sangat puas. Kini ia pun berlari ke atas untuk menyusul Meliza dan Andre. Sementara si botak hitam itu, jangan di tanya lagi. Dia sudah ambruk dan pingsan dengan tenangnya.
Di kamar Luna...
Luna tampak sedang membujuk putri kecilnya agar mau tinggal bersamanya. Tentu saja hal itu tidaklah mudah ia lakukan. Gadis kecil itu sudah terlanjur marah dan benci pada Ibunya sendiri.
"Ayolah princess sayang. Kau harus mau tinggal bersama Mommy. Mommy janji akan selalu ada buat princess." bujuk Luna yang tampak masih berusaha tanpa bosan.
Sandrina menggeleng. "Aku tidak mau. Aku sudah memiliki dewi peri yang sangat baik dan perhatian padaku!" tolaknya dengan wajah yang tetap ia tekuk.
Luna membuang napasnya kasar. "Mommy bisa lebih perhatian dan sayang pada princess. Mommy janji!" ucapnya.
"Bohong!" sanggah Sandrina.
"Tidak, sayang. Mommy berjanji, Mommy akan berhenti bekerja dan akan selalu menemani princess setiap hari." ucap Luna mencoba meyakinkan putri kecilnya.
Sandrina tampak terdiam dan seperti sedang memutar otaknya berpikir keras. Sementara Luna tampak berseringai licik dan mengira jika putrinya akan berhasil ia bujuk.
***
__ADS_1