Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Menghancurkan acara


__ADS_3

Kelap-kelip lampu disko masih menghiasi acara di malam itu. Para tamu undangan tampak khidmat menyaksikan rentetan acara yang sudah dimulai sedari tadi. Sementara Ferhat sendiri tampak tidak begitu asyik dengan acara itu.


"Kini tiba saatnya untuk tiup lilin dan potong kue. Kepada Tuan Mardinamarco Rahman, kami persilakan," ucap pembawa acara dengan kemeriahannya.


Sorak sorai para tamu undangan tampak menggema. Tepuk tangan yang meriah mereka semua berikan. Tentu saja saat ini adalah acara yang ditunggu-tunggu sedari tadi.


"Aku ingin lihat putra Pak Rahman. Seperti apa dia," gumam Ferhat yang kemudian melangkahkan kakinya berbaur dengan yang lain.


Nyanyian ulang tahun sudah menggema dan berirama dengan musik yang dimainkan. Ferhat sendiri hanya bergumam-gumam kecil menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk putra rekan bisnis almarhum ayahnya.


"Berikan tepuk tangan yang meriah untuk Tuan Marco!" sorak pembawa acara.


Prok prok prok prok prok proookkk!


Mereka semua bertepuk tangan. Tak terkecuali dengan Ferhat yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan putra rekan bisnis almarhum ayahnya.


Dan sosok seorang Marco berjalan santai penuh wibawa ke arah panggung kecil yang sudah tersedia dengan kue yang besar beserta lilinnya. Sementara kedua orang tuanya sudah menunggu di atas panggung itu.


Namun, betapa terkejutnya Ferhat saat melihat wajah putra rekan bisnis almarhum ayahnya. Ya, ia begitu terkejut saat tahu sosok pria yang menjadi bintang di malam itu.


"Orang itu!" gumam Ferhat dengan manik mata yang membulat penuh.


Beberapa kali Ferhat mengerjapkan matanya, memastikan jika Marco adalah pria yang pernah ia temui di suatu tempat.


"Benar, itu orang yang ... astaga! Pria itu, kekasih Ririn. Ya Tuhan, aku baru mengerti mengapa ada Ririn di pesta ini. Ternyata yang berulang tahun adalah kekasihnya," ucap Ferhat dengan suara yang sangat lirih.


"Oke guys, terima kasih karena sudah hadir di acara ulang tahunku yang ke dua puluh lima tahun. Aku sangat bahagia karena di ulang tahun yang ke dua puluh lima tahun ini, aku selalu ditemani oleh orang-orang yang begitu menyayangiku. Ya, aku sangat berterima kasih pada Papa dan Mama yang selalu ada untukku. Selalu menyayangiku dan selalu mendukung di setiap langkahku," ucap Marco sebelum ia memotong kue.


Sorak sorai pada tamu undangan kembali terdengar riuh. Senyum bahagia dari Pak Rahman dan istrinya begitu membuat suasana terasa semakin meriah.


"Sekarang, aku ingin menyuapi Papa dan Mama dengan kue ini," lanjut Marco yang kini sudah memegang pisau kue untuk memotong kue di hadapannya.


Seorang wanita cantik yang berada di kerumunan para tamu undangan lainnya tampak tersenyum manis dan menatap penuh cinta pada kekasihnya. Ya, orang itu adalah Ririn. Ririn sangat terlihat cantik dengan gaun warna merah maroon yang begitu pas di tubuhnya.


Marco sudah memotong kue ulang tahunnya. Orang pertama yang ia suapi adalah Mama nya. Dan yang kedua adalah Papa nya. Setelah itu mereka berpelukan dengan sangat hangat dan penuh haru.


"Baik, setelah ini aku ingin menyuapi orang yang juga sangat berarti bagiku," ucap Marco dengan senyuman yang penuh arti.


"Siapakah ituuu??? Hayooooo, sepertinya di tengah-tengah kita ada seseorang yang sudah mengisi penuh hati Tuan Marco," goda sang pembawa acara.


Marco tersenyum manis dan mengangguk dengan pasti. Sementara Ririn yang mendengar hal itu tampak tersenyum malu-malu dan penuh arti.


"Ya, dia adalah orang yang sangat aku cintai. Wanita yang selalu membuatku jatuh cinta dari hari ke hari," ucap Marco sembari berjalan melewati para tamu undangan yang lain.


Sontak saja para tamu undangan bersorak riuh dan begitu penasaran dengan wanita yang dimaksud oleh Marco. Sementara Ferhat tampak membuang napasnya kasar dan sangat tidak menarik sama sekali dengan acara yang sedang berlangsung. Terlebih saat moment-moment Marco hendak memperlihatkan sosok seorang Ririn pada seluruh tamu undangan.


"Tidak menarik," gumam Ferhat dengan raut wajah yang terlihat kecewa.


Sementara itu Marco kini tengah berjalan mencari sosok seorang Ririn. Ya, sosok wanita yang menjadi kekasihnya.


"Sayang, maukah kau ikut denganku?" tanya Marco pada Ririn yang terlihat tersipu malu. Ia mengulurkan tangan pada wanita pujaannya itu.


Ririn tersenyum malu-malu dan mengangguk. Tanpa berpikir dua kali, ia pun menyambar tangan kekasihnya dan menggenggamnya.


"Yeeaaahhhh! Ternyata ini sosok wanita yang sangat berarti untuk Tuan Marco. Kita berikan tepuk tangan yang meriaaaah!" kembali si pembawa acara bersorak ria.


Dan, para tamu undangan pun ikut bersorak. Bertepuk tangan menyambut sosok wanita yang membuat Marco jatuh cinta.


"Ini calon menantu kami?" tanya Pak Rahman dengan senyuman.


Ririn tersenyum kecil dan begitu malu-malu, "Iya, Om," jawabnya singkat.


"Cantik ya, Pap," puji istri Pak Rahman.


Pak Rahman tersenyum seraya mengangguk, "Cantik sekali. Sama seperti kamu yang sangat cantik," jawabnya yang kemudian memuji kecantikan istrinya.


Ferhat tampak menekuk wajahnya dan menatap tidak suka pada Marco dan Ririn. Ya, tentu saja hatinya begitu terasa sakit melihat wanita yang membuatnya jatuh cinta, kini sedang bersama pria yang menjadi kekasihnya.


"Tahu seperti ini, tidak akan sudi aku hadir di tempat ini," gerutu Ferhat dengan kesal.


Marco memotong kue untuk kekasihnya. Kemudian ia menatap penuh cinta pada wanita cantik di hadapannya itu, "Baik, guys. Ini adalah wanita yang sangat berarti bagiku. Dia selalu ada untukku dan selalu menyemangati setiap langkahku. She ... my future wife!" ungkapnya yang berhasil membuat para tamu undangan bersorak ria dan bertepuk tangan.

__ADS_1


Terkecuali dengan Ferhat. Pria itu tampak murung dan mengepalkan tangannya kesal. Mengapa ia begitu tidak suka melihat kemesraan Ririn dan kekasihnya? Padahal, dia hanya menyimpan perasaan yang mungkin tak akan pernah terbalaskan.


"Thank you, Beby!" ucap Ririn dengan senyuman manisnya.


Marco mengangguk serta tersenyum. Lalu ia pun menyuapi kekasihnya dengan sepotong kue ulang tahun yang begitu enak dan mewah.


"Cium cium cium cium cium!" sorak para penonton yang berhasil membuat Ferhat kesal dan sangat malas berada di tempat itu.


"Astaga. Apa lagi ini? Kenapa mereka begitu tertarik dengan dua orang itu?" gerutu Ferhat kesal.


Ririn tampak membulatkan kedua bola matanya penuh saat para tamu undangan menyoraki dirinya dengan Marco untuk saling mencium. Tentu saja ia begitu malu jika harus mencium kekasihnya di hadapan orang banyak seperti itu.


"Apa? Cium? Astaga, aku sangat malu sekali!" desis Ririn di dalam hati.


Sementara itu Marco tampak menatap penuh cinta dan sudah ngiler ingin mencium kekasihnya itu. Tentu saja ia sendiri berani dan tidak malu jika harus mencium bibir sekalipun di hadapan para tamu undangan. Hal itu akan membuatnya semakin merasa berharga.


Hingga pada saat itu...


Muacch!


Sontak saja Ririn tersentak kaget saat tiba-tiba Marco mendaratkan bibirnya pada pipi kanannya. Hal itu benar-benar membuat malu bukan main. Wajahnya merah merona dan kakinya begitu gemetaran.


"Yeeeaaahhh! Manis sekali!" sorak pembawa acara yang selalu mengompori.


"Gil*a!" umpat Ferhat kesal.


Aneh! Padahal ia sebal dan tidak suka melihat Ririn dengan kekasihnya. Tetapi, ia sendiri tidak ingin pergi dan selalu penasaran dengan apa yang akan terjadi di tempat itu.


"Sayang, kenapa kau ceroboh sekali? Astaga!" desis Ririn yang tampak berbisik di telinga kekasihnya.


Marco tersenyum usil dan mengusap lembut wajah cantik kekasihnya, "Itu bukti jika aku cinta padamu, sayang," balasnya.


Ririn hanya tersenyum kecil dan mencubit manja tangan kekasihnya.


"Ayo dong, sekarang Nona nya lagi yang cium Tuan Marco!" sorak pembawa acara yang mulai mengompori Ririn dan Marco.


Ririn tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu terhenyak kaget mendengar ucapan si pembawa acara yang begitu mengompori.


Ferhat yang mengamati sedari tadi tampak harap-harap cemas. Ia berharap jika Ririn tidak mencium Marco saat itu juga. Ia merasa tidak rela sekali. Inginnya, dia saja yang dicium. Hihihi.


"Jangan cium dia! Tidak ada gunanya!" decak Ferhat dalam hati.


Ririn tampak terdiam dan begitu dilematis. Sedangkan para tamu undangan begitu riuh berisik menyorakinya agar mencium Marco.


"Astaga! Kenapa seperti ini. Apa yang harus aku lakukan?" gumam Ririn dalam hati.


Ferhat mengusap wajahnya kasar dan membuang napasnya frustasi. Ia benar-benar tidak ingin melihat Ririn mencium Marco.


"Aku harus melakukan sesuatu," gumam Ferhat dalam hati.


Ferhat mondar mandir mencari cara untuk menggagalkan Ririn mencium Marco. Ia tampak uring-uringan dan melirikkan matanya ke sana kemari mencari cara.


"Duh, apa ya?" gumam pria tampan itu yang tampak bingung.


Beberapa menit kemudian...


"Huwaaaaaa!!!!" pekik Ferhat saat ia tiba-tiba menabrakkan dirinya pada tumpukkan minuman di atas meja bundar.


Bruuaaaaaaccckkk!


Pruaaaayyyy!!!


Meja bundar itu ambruk bersama dengan minuman yang berada di atas mejanya. Dan sontak saja para tamu undangan pada terkejut dan menolehkan mata pada tempat kejadian.


"Astaga! Apa yang terjadi?" ucap Pak Rahman yang tampak terkejut.


Ferhat yang sengaja menabrakkan diri tampak sedikit merasa kesakitan. Baju dan celananya tampak basah terkena minuman yang tumpah semua.


"Biar aku saja yang melihat," ucap Marco yang kemudian melangkahkan kakinya pada tempat kejadian.


Ferhat menepiskan tangannya pada jas dan celananya yang basah. Para tamu undangan yang lain tampak berbondong-bondong menonton. Sebagian ada yang berbisik-bisik mencibir, sebagian ada yang prihatin dan penasaran.

__ADS_1


"Hei, kau tidak apa-apa?" tanya seorang pria yang tampak peduli pada Ferhat.


Ferhat menggeleng kecil, "Ya, tidak apa-apa, bro. Aku hanya—" belum sampai ia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Marco menyelanya.


"Ada apa ini?" tanya Marco dengan suara yang dingin.


Ferhat mendongakkan wajahnya dan menatap tidak ramah pada Marco. Sementara Marco tampak menyipitkan matanya dan sedikit tersentak kaget melihat wajah Ferhat.


"Kau!" ucapnya sembari menatap Ferhat penuh tanda tanya.


Ferhat menyipitkan matanya dan bertingkah seperti tidak pernah bertemu dengan Marco.


"Aku? Ya, aku," jawab Ferhat dengan ekspresi wajah yang datar.


Marco tampak terlihat heran pada pria di hadapannya. Padahal, ia ingat sekali jika pernah bertemu dengan pria di hadapannya itu.


"Ah, sorry! Aku sudah merusak acaramu, bro! Aku sungguh tidak sengaja," ucap Ferhat tanpa dosa.


"Kau! Staf yang bekerja di perusahaan Naga Mas Group, bukan?" tembak Marco sembari menatap penuh cibiran.


Ferhat mengerutkan dahi dan tersenyum sinis, "Sepertinya kau—" ia tampak menggantung ucapannya saat tiba-tiba Pak Rahman menyelanya.


"Apa yang terjadi, Marco? Apakah ada yang terluka?" tanya Pak Rahman begitu penasaran.


"Ah ini, sepertinya pria ini sedang mabuk atau bagaimana. Dia menghancurkan semuanya," jawab Marco dengan sinis.


Pak Rahman mengerutkan dahinya dan tersentak kaget saat melihat Ferhat sedang menatap takut-takut padanya.


"Maafkan Ferhat, Om. Ferhat benar-benar tidak sengaja," ucap Ferhat dengan raut wajah yang terlihat tidak enak. Padahal, ia hanya berakting saja.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi, Nak Ferhat? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Pak Rahman yang tampak khawatir pada putra almarhum rekan bisnisnya yang begitu berjasa sekali baginya.


Ferhat menggeleng dan tersenyum simpul. Sementara Marco tampak terlihat heran dan benar-benar tidak mengerti. Seingat dia, Ferhat adalah pria yang ia pergoki sedang mengintip kekasihnya. Tapi, kenapa Papanya seperti sangat menghargai pria itu?


"Tidak apa-apa, Om. Ferhat baik-baik saja. Ini hanya sedikit basah terkena minuman," jawab Ferhat sembari tersenyum.


"Kemarilah, Nak. Sepertinya kau harus mengganti pakaianmu," ucap Pak Rahman sembari menarik lengan Ferhat dan mengajaknya jalan.


"Tidak usah, Om. Sepertinya saya pulang saja. Lagipula ini basahnya hanya sedikit saja," tolak Ferhat berpura-pura.


"Hei, nanti tubuhmu lengket," tegur Pak Rahman.


Ferhat menggeleng kecil.


"Ini ... siapa, Pap?" tanya Marco pada Papanya.


"Ini, kau harus tahu, Marco. Dia Ferhat, putra almarhum Tuan Zaki. Kau tahu bukan siapa Tuan Zaki?" ucap Pak Rahman.


Marco tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan tampak terlihat kaget mendengar ucapan Papanya.


"Apa? Putra almarhum Tuan Zaki? Tidak mungkin! Sepertinya Papa salah orang," ucap Marco dalam hati.


"Ferhat, ini putra tunggal Om. Namanya, Marco." Pak Rahman memperkenalkan putranya pada Ferhat.


"Hello," sapa Ferhat berakting ramah.


Marco memejamkan matanya dan membuang napasnya kasar, "Tidak! Sepertinya Papa salah orang," ujarnya.


Pak Rahman mengerutkan keningnya tak mengerti, "Salah orang bagaimana, Marco?" tanyanya.


Marco mengusap wajahnya kasar dan menatap heran pada Ferhat, "Dia! Dia itu staf di perusahaan tempat Ririn bekerja, Pap!" ungkapnya yang berhasil membuat Pak Rahman mengerutkan dahinya setengah tak percaya.


"Apa? Tidak mungkin, Marco. Dia itu putra almarhum Tuan Zaki yang memiliki banyak hotel dan restoran," ujar Pak Rahman tak percaya.


Ferhat hanya tersenyum kecil dan terlihat tetap santai. Sementara para tamu undangan yang menyaksikan perdebatan itu tampak berbisik-bisik dan mulai menggibah.


"Ferhat!" ucap Ririn yang tiba-tiba datang dan begitu terkejut saat melihat mantan adik ipar bos tampannya.


Ferhat tampak menolehkan wajahnya dan seketika senyumnya mengembang dengan sempurna saat melihat sosok wanita cantik yang memanggilnya.


"Hei, senang bertemu denganmu," sahut Ferhat sembari melangkah mendekati Ririn yang terpaku dan tampak terlihat heran.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2