Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Saya ingin menikah


__ADS_3

"Princess sayang, kita tunggu Daddy di sini ya." ucap Rumanah pada asuhannya.


Princess Sandrina mengangguk tanpa membantah.


"Princess, kalau boleh tahu, emh kenapa princess hanya ingin di antar dan di jemput oleh Daddy? Bukankah ada Pak supir yang setia menemani princess ke mana pun princess mau pergi?" tanya Rumanah panjang lebar.


Sandrina menaikkan bola matanya dan mengetuk-ngetukan telunjuknya pada dagunya. Berpikir keras mencari jawaban yang sebenarnya ia pun tidak tahu alasan logisnya.


"Kenapa lama sekali berpikirnya, sayang?" goda Rumanah.


"Emh, entahlah, princess juga tidak tahu. Tapi saat Daddy berpisah dengan Mommy, princess tak ingin jauh-jauh dari Daddy. Hanya Daddy yang princess miliki, Mommy bukanlah orang yang baik. Dia tidak pernah mengantar atau menjemput princess." jawab Sandrina.


Rumanah mengulas senyuman kecilnya. Kini ia benar-benar mengerti akan keretakan rumah tangga majikan galaknya itu.


"Princess sayang, jangan bicara seperti itu. Bagaimana pun Mommy adalah wanita yang telah melahirkan princess. Mungkin Mommy memiliki kesibukan sehingga tidak.." Rumanah belum selesai bicara, dengan cepat Sandrina menyelanya.


"Tidak, Mommy bukan Mommy yang baik. Princess benci pada Mommy." sela Sandrina yang tampak menekan setiap ucapannya.


Rumanah hanya tersenyum dan menghela napasnya. Mengelus lembut puncak kepala asuhannya. Sepertinya dia harus ekstra bersabar dan perlahan-lahan membuka hati Sandrina untuk tidak membenci ibunya sendiri.


Tak berselang lama, seorang pria tampan yang sudah tak asing lagi bagi Rumanah tampak berjalan santai menghampiri mereka.


"Hallo princess sayang." sapa Ferhat seraya tersenyum hangat.


"Hai Uncle! Yeeeaayy Uncle datang menjemput princess." sorak Sandrina yang tampak kegirangan.


Sandrina meloncat dan merangkul manja paha Ferhat.


Rumanah tampak menatap heran pada Ferhat yang tiba-tiba datang. Sama seperti saat pertama kali ia bertemu dengan pria itu.


"Hai, kamu." sapa Ferhat pada Rumanah.


Rumanah tampak terjingkat kaget saat Ferhat menyapanya dengan manis.


"Ah iya, kamu."balas Rumanah gugup.


"Emh, pasti kalian terkejut bukan?" tebak Ferhat.

__ADS_1


Sandrina dan Rumanah mengangguk bersamaan.


"Pasti Uncle ingin mengajak kami jalan-jalan lagi, ya." tebak Sandrina tepat sasaran.


"Kok tahu? Pasti princess sudah membaca jalan pikiran Uncle, ya!" seru Ferhat.


"Benaaaaaaaarr!" sorak Sandrina seraya berloncatan.


"Aduh, jangan macam-macam deh Mas Ferhat!" seru Rumanah sedikit menekan ucapannya.


"Macam-macam gimana maksud kamu?" tanya Ferhat.


"Jangan membawa princess jalan-jalan lagi, nanti Tuan Andre akan mencarinya dan melapor kepada polisi lagi." jawab Rumanah yang berhasil membuat Ferhat tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha, ternyata kau ketakutan akan hal itu." ucap Ferhat di sela-sela tawanya.


Rumanah mengangguk kecil.


"Soal itu, kau tenang saja. Karena aku sudah meminta izin pada Bang Andre." lanjut Ferhat tanpa berbohong.


Rumanah mengernyitkan dahinya.


"Of course, princess." jawab Ferhat penuh percaya diri.


Sandrina bersorak ria dan berloncatan. Sementara Rumanah tampak memutar bola matanya pasrah.


***


"Kita akan pergi ke mana, Uncle?" tanya princess.


"Terserah princess, princess maunya ke mana?" Ferhat menyerahkan objek wisata yang akan mereka kunjungi pada keponakannya.


"Emh, ke mana yaaa???" Sandrina mulai berpikir.


Sekian detik kemudian..


"Ke pantai!" seru Sandrina penuh ceria.

__ADS_1


"Pantai??" Rumanah mengernyitkan dahinya.


"Oke kita ke pantai." ucap Ferhat.


Sandrina kembali bersorak kegirangan.


***


Di perusahaan milik Andre..


"Apa yang ingin kau bicarakan, Mel?" tanya Andre pada sekretaris cantiknya.


Meliza menarik napasnya dalam lalu membuangnya perlahan.


"Sebenarnya saya ingin mengajukan surat pengunduran diri, Pak." ucap Meliza yang berhasil membuat Andre terhenyak kaget.


"Apa kau sedang main-main denganku?" sungut Andre yang seakan tidak rela kehilangan Meliza.


Meliza menggeleng pelan. Wajahnya ia tundukkan, sementara jari jemarinya ia remas menahan ketegangan.


"Saya serius, Pak." ucap Meliza dengan suara yang lirih.


Andre terdiam tak menanggapi, keinginan Meliza benar-benar membuat dirinya syok dan kesal.


"Minggu depan akan saya.."


"Hentikan leluconmu, Meliza!" bentak Andre yang tampak menatap tajam pada Meliza.


Meliza tersentak kaget, namun buru-buru ia tundukkan wajahnya.


"Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkanmu berhenti menjadi sekretarisku." tegas Andre penuh penekanan.


"Tapi Pak,"


"Apa alasanmu?" desak Andre.


"Saya ingin menikah."jawab Meliza tanpa ragu.

__ADS_1


Andre tampak terbelalak kaget mendengar pengakuan Meliza. Kedua bola matanya tampak membulat penuh. Dadanya terasa bergemuruh dan hatinya terasa sakit saat mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Meliza.


***


__ADS_2