Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Penyiksaan!


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Rumanah sudah terbangun dari tidurnya, haus dan lapar kini menimpanya. Namun, gadis desa itu tidak bisa melakukan pengisian ke dalam perutnya. Sebab ia harus melakukan puasa sampai operasi dilakukan.


"Hoaaaaaaam!" gadis desa itu menguap nikmat. Melupakan selang infus yang terpasang di tangannya.


"Astaga, selang infus ini benar-benar menyiksaku. Lagi pula ngapain sii harus pakai infus segala. Aku kan sehat, cuma karena luka di jariku yang harus di operasi saja harus memasang infus ini. Ribeeeeeettnyaaaaa!!!" celoteh Rumanah yang tampak kesal pada selang infus.


"Tentu saja untuk memberikan nutrisi padamu agar kau kuat menghadapi kenyataan dan cobaan hidup." ucap Andre yang nampak baru saja keluar dari kamar mandi.


Rumanah menolehkan wajahnya dengan ekspresi yang terlihat syok. Tentu saja gadis desa itu terkejut saat tiba-tiba mendapat jawaban dari sang majikan galaknya itu. "Hah, dari mana asalnya majikan galak itu. Ternyata dia sudah bangun." ucapnya dalam hati.


Andre mendudukkan bokongnya di sofa, wajahnya nampak terlihat segar karena sepetinya duda tampan itu baru saja mencuci wajahnya.


"Ya ampun, Tuan sudah bangun, ya." ucap Rumanah seraya mengutek-ngutek sudut matanya membersihkan belek-belek yang menumpuk di sana.


"Seperti yang kau lihat, Belle. Aku bukan orang yang suka melambat-lambatkan diri untuk bangun dan memanjakkan kasur oleh tubuhku. Pria tampan seperti diriku selalu bangun pagi dan tepat waktu. Memangnya situ, wanita kok pemalas!" Andre nyeloteh sembari mengupas buah jeruk.


"Astaga, banyak sekali yang dia ucapkan. Kenapa dia sangat cerewet sekali dan seperti seorang wanita." cerocos Rumanah dalam hati.


Rumanah mengusap wajahnya. "Oh, begitu rupanya." ucapnya. "Emh, Tuan, ngomong-ngomong saya sudah bisa makan atau tidak?" tanya gadis desa itu.


Andre menyunggingkan senyuman usilnya. "Tidak boleh." jawabnya sembari memasukkan satu sisir jeruk ke dalam mulutnya.


Rumanah mengerucutkan bibirnya bertingkah manja. "Tapi saya lapar sekali lah." rengeknya.


"Lapar? Kau bisa melihatku makan ini, nanti kau tidak akan lapar lagi." ucap Andre seraya memasukkan buah anggur ke dalam mulutnya. Tak lama setelah itu ia menyambungnya dengan meneguk air mineral dengan ekpsresi yang sengaja ia buat senikmat mungkin.


Glek!


Rumanah menelan ludahnya kasar. Setiap makanan yang masuk ke dalam mulut majikan galaknya terasa seperti masuk ke dalam mulutnya. Ya, memang benar yang dikatakan oleh majikan galaknya itu, tetapi bukan membuat rasa laparnya hilang, melainkan semakin membuatnya merasa lapar dan haus.


"Hentikan, Tuan." ucap Rumanah mencoba menghentikan aksi majikan galaknya.


Andre menghentikan kunyahannya. "Ada apa?" tanyanya santai.


Rumanah membuang napasnya kasar. "Jika seperti itu Tuan hanya akan membuat saya semakin lapar dan haus. Ini penyiksaan namanya, Tuan." ucap Rumanah penuh penegasan.


Andre menyunggingkan senyuman usilnya. "Itu deritamu, Annabelle!" cetusnya seraya melemparkan satu buah anggur tepat mengenai kepala pengasuh putrinya.

__ADS_1


"Aauuuuwwww, Tuan ini benar-benar mendzolimi saya!" sungut Rumanah seraya mengusap kepalanya yang terkena lemparan anggur.


"Ha ha ha, mendzolimi manusia seperti dirimu adalah sebuah hiburan untukku, Annabelle!" ujar Andre disertai tawa renyahnya.


"Hahhhh???" Rumanah benar-benar terbelalak kaget dan sangat kesal mendengar ucapan majikan galaknya itu.


"Ya sudah, kuperingatkan sekali lagi padamu. Jangan coba-coba menyantap makanan ataupun minuman apa pun sebelum kau melakukan operasi. Nanti ketika kau sudah selesai operasi maka kau sudah bisa kembali memberi makan pada cacing-cacing peliharaanmu itu." tegas Andre mengingatkan.


"Baiklah, Tuan. Tapi, berapa jam lagi, Tuan?" tanya Rumanah.


"Lima belas jam lagi!" seloroh Andre dengan tampang kesalnya.


Rumanah menelan ludahnya kasar dan menatap ngeri pada majikan galaknya.


"Kan sudah kuberitahu jika operasinya pukul sepuluh pagi ini. Kau hitung saja dari sekarang, jam enam sampai jam sepuluh berapa jam lagi!" celoteh Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.


Rumanah menganggukkan kepalanya pasrah. "Iya iya iya." jawabnya lirih.


"Sudah jangan banyak bicara dan jangan banyak gerak. Sekarang aku akan pulang dulu sebentar, aku ingin bertemu dengan princess dan Mel—" Andre menggantung ucapannya saat ia hendak menyebutkan nama sekretaris cantiknya.


Rumanah memutar bola matanya malas. "Meliza, bilang saja Meliza." sungut Rumanah dalam hati.


"Baik, Tuan." jawab Rumanah.


"Oh ya, kalau perawat menanyakanku, bilang saja aku pulang dulu." ucap Andre lagi.


Rumanah mengangguk. "Selamat bertemu dengan Mbak Meliza, Tuan." ucapnya dalam hati.


Andre menyambar kunci mobil dan ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Kemudian duda tampan itu melangkahkan kakinya hendak ke luar dari ruangan vvip itu.


"Tuan," Rumanah memanggil majikan galaknya sehingga membuat duda tampan itu menghentikan langkahnya dan menolehkan wajahnya.


"Ada apa?" tanya Andre.


"Emh, kalau ke sini lagi tolong bawakan pakaian ganti untuk saya, ya." ucap Rumanah dengan entengnya.


Andre nampak memincingkan kedua manik matanya. "Kau menyuruhku?" tanyanya penuh sindiran.

__ADS_1


"Emh, bukan. Saya tidak bermaksud seperti itu, Tuan." elak Rumanah seraya menundukkan wajahnya.


"Baiklah, akan kubawakan." ucap Andre yang kemudian melangkahkan kakinya kembali. Berlalu meninggalkan gadis desa itu.


Rumanah mendongakkan wajahnya dan membuang napasnya lega. "Hufft, kukira dia tidak mau membawakan pakaian gantiku." ucapnya lirih.


Sementara itu di rumah milik Andre...


Meliza menyisir rambut putri bos galaknya dengan sangat hati-hati. Semalam ia menemani princess yang tidurnya tidak begitu nyenyak. Mungkin karena ia merasa kelelahan dan masih merasa ketakutan atas perbuatan kasar Mommynya sendiri.


"Setelah ini Aunty Meliza akan mengantarkan princess ke sekolah." ucap Meliza.


"Apakah Daddy dan dewi peri tidak akan pulang hari ini?" selidik princess Sandrina.


Meliza membuang napasnya kasar. "Aunty Meliza tidak tahu, sayang. Tapi sebaiknya princess berdo'a saja agar dewi peri bisa segera pulang." jawab Meliza penuh kelembutan.


"Aamiin, tapi princess ingin diantarkan oleh Daddy." rengek gadis kecil itu.


Meliza menarik napasnya dan membuangnya berat, ternyata mengurus anak kecil seperti Sandrina tidaklah mudah. Butuh kesabaran yang sangat tinggi.


"Daddy belum pul—" Meliza menggantung ucapannya saat tiba-tiba terdengar suara Andre menyela ucapannya.


"Daddy sudah pulang!" ucap Andre seraya masuk ke dalam kamar putri kecilnya.


Sandrina dan Meliza menolehkan wajah mereka secara bersamaan. Senyum mengembang di wajah keduanya.


"Daddy!" sorak Sandrina seraya berlari kecil menghampiri Daddynya.


Andre tersenyum seraya menggendong manja putri kecilnya itu. "Apa kabar, princess? Apakah kau sudah siap berangkat ke sekolah bersama Daddy dan Aunty Meliza?" ucap Andre penuh kelembutan.


"Kabar baik, Dadd. Tetapi bagaimana dengan dewi peri? Princess sangat merindukannya." jawab Sandrina yang kini nampak menekuk wajahnya.


Andre tersenyum kecil. "Dewi perimu akan di operasi hari ini, sayang. Setelah pulang sekolah Daddy akan menjemputmu dan akan mengajak princess menemui dewi peri." ucap Andre mencoba menghibur putri kecilnya.


"Yeaaaaayyy! Princess ingin bertemu dengan dewi periii!" gadis kecil itu bersorak ceria.


Meliza dan Andre saling beradu pandang dan saling melemparkan senyuman mereka masing-masing.

__ADS_1


***


__ADS_2