Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Menikah


__ADS_3

"Apakah kakimu terasa sakit, Belle?" tanya Andre seraya melepas jaket hitamnya. Duda tampan itu kini berada di suatu tempat yang akan menjadi bukti nyata pernikahannya dengan Rumanah.


Rumanah menggeleng kecil serta tersenyum manis. "Tidak sama sekali, Tuan," jawabnya.


Duda tampan di hadapannya itu melemparkan senyuman hangatnya serta mengusap lembut rambut panjang yang hitam pekat itu. "Pintar dan kuat," pujinya.


Rumanah merasa terbang ke angakasa saat sang majikan mesumnya itu bersikap manis dan memuji dirinya seperti itu. "Astaga, Tuan! Kenapa ada pesawat di hadapan saya. Sepertinya saya sebentar lagi akan terbang karena telah mendapatkan pujian dari Tuan. He he he he," gadis desa itu sedikit bergurau manja.


Andre menaikkan alisnya seraya tersenyum usil. Duda tampan itu nyaris tak pernah ingin melewati senyuman manis yang selalu Rumanah berikan padanya. "Semestinya kau terbang bersamaku, Annabelle." ucap duda tampan itu.


"Mau terbang ke mana memang?" tanya gadis desa itu sedikit melemparkan senyuman centilnya.


"Dengar, pertama kita naik ke atas ranjang," bisik duda tampan itu serta merta mendekatkan dirinya pada gadis desa di hadapannya.


"Hah, kok naik ke atas ranjang. Memang ranjangnya bisa terbang seperti permadani milik Aladdin, begitu?" protes gadis desa itu sedikit heran.


Seketika Andre tersenyum usil dan mesum. Kemudian ia menarik tubuh Rumanah dan mendekatkan bibirnya pada telinga gadis desa itu. "Tidak sama sekali, Belle. Kau dengar ini, setelah naik ke atas ranjang. Kau akan berlayar ke sebuah pelabuhan cinta yang akan mengantarkanmu ke sebuah gudang cinta dan kenikmatan. Dan kau tahu? Sebelum kau terbang, kau harus disuntik terlebih dahulu. Jika sudah disuntiiiik...," duda tampan itu memainkan telunjuknya pada bibir ranum gadis desa itu.


"Jika sudah disuntik? Saya harus minum obat?" sela Rumanah yang berhasil membuat Andre terkekeh.


"Hihihihii, kau ini kalau bicara suka ngasal!" cicit duda tampan itu.


"Lantas? Jika bukan minum obat, ngapain dong? Kerokan?" kembali gadis desa itu bertanya.


"Ha ha ha, bukan! Sungguh kau akan tahu setelah kita menikah. Dan, beberapa saat lagi kita akan menikah, Belle. Sekarang aku tanya, kau sudah siap, bukan?" ucap duda tampan itu yang kini tampak menatap serius pada gadis desa itu.


Rumanah mengangguk kecil dengan ekspresi datarnya.


"Bagus! Jika begitu ... muach!' seperti biasa Andre mendaratkan bibirnya pada pipi mulus gadis desa itu.


"Tuan, iiih! Kenapa sii sukanya susar sosor aja? Kita itu belum menikah, lhoooo!" oceh gadis desa itu sedikit kesal.


"Why? Kenapa kau baru mengomel sekarang? Gak usah akting deh! Bilang saja kau sudah tak sabar ingin menikah dan ingin melakukan hal lebih dari sekedar cium mencium. Hayoook ngakuuu!" tuding Andre yang berhasil membuat Rumanah terhenyak kaget.


"Haaaa?? Anda bicara apa, Tuan? Astoge, kalau bukan karena Anda, saya tidak akan pernah melakukan itu. Sudah deh tidak usah membalikan fakta! Nyatanya Tuan lah yang tidak sabar ingin menikah dengan saya dan ingin menikmati tubuh molek dan syemoook serta bahenol emplok cendoool seperti diriku ini!" protes Rumanah yang tampak mengoceh tiada henti.

__ADS_1


"Ha ha ha ha," Andre tertawa lepas seperti aktor pemeran antagonis di film layar lebar. "Kau terlalu banyak bicara, Annabelle. Sebaiknya sekarang kita turun dan bergegas menemui ustadz di dalam sana. Kau tahu bukan, apa yang akan kita lakukan?" ucap duda tampan itu yang kini kembali menatap serius wajah pengasuh putri kecilnya itu.


"Menemui ustadz? Sepertinya Anda akan diruqyah oleh Ustadz yang ada di dalam sana, Tuan!" ucap Rumanah.


"Hah? Kok diruqyah?" protes Andre.


"Ya, diruqyah agar hilang kemesumannya!" cetus Rumanah seraya memalingkan wajahnya.


Andre terkekeh kecil serta ngusel pada lengan gadis desa itu. "Jika aku tidak mesum, bagaimana kau akan terbang ke angkasa, Belle?" ucap duda tampan itu.


"Hah? Bagaimana? Ya jelas naik pesawat laaaaah!" jawab gadis desa itu.


"Hehehe, lain lagi urusannya," ucap Andre.


Rumanah tak menanggapi. Ia sibuk dengan dress hitam dan high heels yang ia kenakan.


"Yuk, kita masuk ke dalam rumah itu. Hari ini juga aku akan menikahimu, Anabelle. Apakah kau senang?" ajak Andre seraya mengenggam tangan Rumanah.


"Biasa saja, tidak terlalu senang." gadis desa itu menjawab enteng dan santai.


"Ck, menyebalkan!" decak Andre seraya memutar bola matanya malas.




"Apakah ini tidak terpaksa?" tanya sang Ustadz.


"Tidak!"


"Terpaksa!"


Andre menjawab tidak, dan Rumanah menjawab terpaksa. Sepertinya hal itu sedikit membuat sang Ustadz puyeng.


"Bagaimana ini? Kebenarannya yang mana?" selidik sang Ustadz.

__ADS_1


"Maksudnya, kami terpaksa menikah sirri karena ini sangat mendadak, Tadz." duda tampan itu menjelaskan agar pernikahannya tetap terjadi.


Sang Ustadz manggut-manggut, sementara Rumanah hanya diam seribu bahasa.


"Jika begitu, sekarang kita bisa memulainya," ucap sang Ustadz.


Andre mengangguk dengan semangat empat lima. Sementara Rumanah hanya menundukkan wajahnya dalam. Terbesit rasa bersalah dalam dadanya. Menikah bukanlah sebuah permainan. Tapi apa yang terjadi dengannya sekarang, sungguh seperti permainan belaka.




Rumanah dan Andre sudah sah menjadi suami istri. Tak lupa keduanya mengabadikan moment saat pemasangan cincin dan sebagainya. Namun sayangnya, cincin yang Andre belikan tidak muat di jari jemari gadis desa itu.


Andre sedikit kesal karena ia salah memilih ukuran cincin. Itulah akibatnya ia tidak nurut pada pramuniaga yang melayaninya. Cincin itu sangat tanggung sekali. Dipasangkan di jari manis, kekecilan. Dipasangkan di jari tengah dan telunjuk, lebih sempit. Dan, dipasangkan di jari kelingking, kebesaran. Sehingga hal itu membuat Rumanah terpaksa memakai cincin pernikahannya di pertengahan jari manisnya.


Sekitar pukul dua siang, Andre membawa Rumanah ke sebuah hotel bintang lima di kota itu. Apa lagi tujuannya selain melakukan malam pertama. Hah, malam pertama? Siang pertama kali!


"Tuan, apa yang akan kita lakukan di hotel ini?" Rumanah bertanya setengah berbisik. Ia sedang berjalan mesra dengan suaminya itu. Cieee, suami! Hihihi.


"Melamar kerja!" jawab Andre ngasal.


"Haha, ya kali saya harus kerja di dua tempat," ucap Rumanah disertai tawa kecilnya.


"Ya mau apa lagi selain ... terbang ke angkasa raya!" bisik duda tampan itu.


Rumanah tercengang dan membulatkan kedua bola matanya penuh. "Haaa??"


Tring!


Pintu lift terbuka. Sampai pula Andre dan Rumanah ke lantai dua belas di Hotel yang besar dan sangat mewah itu. Di sana, kamar yang ia pesan berada. Ya, kamar bernuansakan honeymoon yang sangat romantis.


"Silakan masuk, Tuan, Nona. Ini kamar yang sangat spesial," ucap si jasa hotel.


Andre tersenyum serta mengangguk. Hotel itu sudah tak asing lagi baginya. Karena dulu ia sering berkunjung ke hotel itu bersama Luna. Namun berkat penyamarannya, para petugas hotel beserta jajarannya tidak dapat mengenali wajahnya.

__ADS_1


Deg degan gak sii? Awww, sepertinya sebentar lagi akan belah duren di siang bolong nii.


BERSAMBUNG...


__ADS_2