
"Yaa Tuhan, jika Engkau masih berkenan mengizinkanku untuk tetap hidup, maka lindungilah diriku dari amukan majikan galak ini. Tetapi jika ajalku sudah mendekat, maka kumohon untuk tetap biarkan diriku hidup sampai bisa membahagiakan Emak di desa. Hamba sangat memohon pada-Mu Ya Tuhan!"
Setengah memaksa, Rumanah tak henti-hentinya berteriak dalam hati, meminta perlindungan dari Tuhannya. Matanya terpejam menahan takut, kedua tangannya saling berpautan dan jemarinya saling meremas dengan kuat.
"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, kutu kupreeet!" desak Andre pada kedua manusia yang membuatnya mati penasaran.
Ferhat menarik napasnya dalam lalu membuangnya perlahan.
"Apa yang harus aku jelaskan?" tanyanya polos, dan hal itu membuat Andre jengkel. Alih-alih mendapat jawaban, single daddy itu malah terus-terusan dibuat kesal oleh manusia yang ada di hadapnnya itu.
"Ck, dasar otak udang!" Andre berdecak kesal.
Rumanah yang hanya terdiam tampak semakin tegang saat Andre kembali bicara. Apakah wanita itu akan selamat setelah menjawab pertanyaan dari majikannya? Ya, tentu saja itu menjadi harapan gadis desa itu.
"Kau jelaskan apa yang telah terjadi pada kalian dan princess. Kenapa kalian bisa saling mengenal dan bagaimana ceritanya kau bisa ada bersama mereka!? Ck, kau pikir kau harus menjelaskan apa? Kisah cinta kalian berdua, begitu!? Aaaaish, benar-benar menjengkelkan!" kali ini Andre tampak mengomel seraya menekan ucapannya. Terpampang nyata kekesalan di wajah tampannya.
Ferhat dan Rumanah tampak terlonjak kaget mendengar ucapan Andre. Keduanya tampak saling membulatkan kedua bola mata penuh.
"Hahh?? Kisah cinta? Maksudnya kisah cintaku dengannya? Haha, majikan galak ini tidak tahu jika aku sudah memiliki kekasih di desa, yaitu kucing kesayanganku. Aaaa, aku jadi kangen pada Iyong." celoteh Rumanah dalam hati. Mungkin jika berani berucap, maka sudah pasti Rumanah akan protes saat ini juga.
"Apa? Kisah cinta! Haha, yang benar saja. Bahkan aku dan dia baru saja saling mengenal. Kalau bicara jangan suka ngasal deh ya! Aku sungguh khawatir hal itu akan terjadi." protes Ferhat dengan tawa renyahnya.
Andre mengernyitkan dahinya dan mencerna setiap ucapan mantan adik iparnya.
"Uuweeeeek." seketika Ferhat berlagak hendak muntah. Entah apa yang sedang pria tampan itu pikirkan.
Rumanah mengangkat wajahnya lalu menatap heran pada pria yang baru ia kenal beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
"Astaga, apa yang aku pikirkan? Aku pasti sudah gila. Tidak mungkin aku jatuh cinta pada wanita ini. Ralat, kumohon kalian hapus ucapanku tadi dari ingatan kalian." lanjut Ferhat yang berhasil membuat Rumanah merasa terhina.
Mendengar hal itu, hati dan darah Rumanah terasa panas dan mengebul. Mengapa hal itu bisa terjadi? Tentu saja karena kejujuran Ferhat yang begitu menyakitkan di hati Rumanah. Manusia memang dituntut untuk selalu jujur, namun terkadang jujur itu menyakitkan.
"Haaaaah? Dasar pria kurang sesendok. Kalau bicara suka benerrr! Haha, kenapa kau harus jujur begitu, combrooo! Kau tidak tahu jika sebenarnya diriku memiliki kecantikan yang tersembunyi!? Haha, ya, memang tersembunyi. Karena nyatanya wajahku memang sangat jeleeek. Huhuhuuuu, kasihan sekali diriku ini." cerocos Rumanah dalam hati. Senyum dan kesal kini beradu menjadi satu.
Andre mengulas senyuman kecil. Bagi pria normal dan berselera tinggi seperti dirinya, gadis desa di hadapannya itu memang sangatlah jelek. Penampilannya jauh dari kata pertfect.
Rambut lurus yang selalu ia kepang bagi dua, wajah polos tanpa polesan make up dan skincare yang selalu menjadi kewajiban bagi wanita-wanita di zaman ini, pakaian yang sederhana dan terkadang atasan dengan bawahannya tidak senada, tentu saja hal itu sangat jauh dari kata 'cantik'.
"Ya, kau benar. Bahkan aku saja tidak yakin jika wanita ini akan mendapatkan jodoh. Ups!" timpal Andre yang juga tampak menghina Rumanah.
"Hahahahhaha!" disambut dengan tawa ngakak oleh Ferhat. Dan hal itu membuat Rumanah semakin kesal dan benar-benar merasa terhina.
Memangnya dia siapa di sana? Boneka? Tentu saja dia juga manusia yang punya rasa dan punya hati. Wajar saja jika Rumanah merasakan sakit yang terasa nyelekit di hatinya.
Rumanah menolehkan wajahnya, menatap sendu pada Meliza yang begitu membuatnya semakin sadar diri. Ya, dilihat dari segi manapun, Meliza memang sangat cantik dan menarik. Jauh ke ujung berung jika dibandingkan dengan dirinya.
"Haha, Mel, coba kau lihat gadis desa ini. Apa yang ada di dalam pikiranmu saat kau menatap wajahnya?" ucap Andre pada Meliza.
Meliza mengernyitkan dahinya mencoba mencerna ucapan bos tampannya. Tentu saja setelah ia berpikir keras, wanita cantik itu tampak sudah paham jika kedua pria itu sedang menertawakan wajah dan penampilan Rumanah. Jika harus jujur, Meliza pun pasti mengatakan bahwa Rumanah memang sangat jelek. Tapi, Meliza bukanlah wanita yang sombong dan besar kepala.
"Kasihan sekali gadis tak berdosa ini. Hmmm, kalian ingin aku satu partai dengan kalian? Oh no! Itu bukan diriku." ucap Meliza dalam hati.
Rumanah menahan dadanya yang terasa sesak dan sudut matanya yang terasa panas. Kedua tangannya tampak mengepal dengan sempurna.
Meliza tahu akan hal itu, ia sangat mengerti jika Rumanah sedang menahan sakit dan kesalnya. Dengan lembut ia mengusap punggung Rumanah dan duduk di sampingnya. Wanita ini memang sangat hangat, maka tak salah jika Andre sangat nyaman menjadikannya tangan kanannya.
__ADS_1
"Cantik dan menggemaskan." ucap Meliza seraya mengusap lembut puncak kepala Rumanah.
Degg!
Seketika jantung Rumanah terasa berdenyut mendengar pengakuan Meliza. Tentu saja ia tak menyangka jika ternyata Meliza bukanlah wanita julid julidah dan pemilik hati yang hitam.
Sementara Andre dan Ferhat pun tak kalah terkejutnya. Keduanya saling beradu pandang dan sama sekali tak mengerti dengan pendapat Meliza.
"Apa yang Anda pikirkan, Pak? Huuumm, sebaiknya mulai saat ini kalian buka mata dan hati kalian. Jangan sampai kalian yang akan termakan oleh ucapan kalian sendiri dan akan menyesali perbuatan kalian." celetuk Meliza yang semakin membuat Andre dan Ferhat membengong.
Rumanah menatap heran dan sendu pada Meliza. Ia benar-benar ingin sekali mengucapkan kata 'terima kasih' pada Meliza yang bagaikan pahlawan baginya.
"Argh, aku rasa kau terlalu berlebihan, Mel." sanggah Andre seraya mengusap wajahnya kasar. Mungkin pria duda itu merasa ngeri juga dengan ucapannya sendiri.
"Benar, lagipula kau ini wanita, jadi aku rasa sangat wajar jika kau membelanya." timpal Ferhat mendukung mantan kakak iparnya.
Meliza mengulas senyuman manis sejuta watt.
"Kalian salah! Sudah kukatakan sebaiknya kalian jangan mengatakan hal yang akan membuat kalian menyesal dan malu sendiri. Huum, baiklah. Mungkin kalian ingin aku berkomentar tentang kalian, begitu!?" ucapnya tanpa ragu.
Andre dan Ferhat kembali terdiam. Mereka tampak saling pandang tak mengerti.
"Satu kata untuk kalian, BANCI!" lanjut Meliza yang berhasil membuat Andre dan Ferhat terlonjak kaget.
Meliza tak merasa takut walau yang ia hadapi saat ini adalah bosnya sendiri. Ia tak perduli dengan karirnya yang mungkin sehentar lagi akan berakhir. Tentu saja ia lebih tak terima melihat satu manusia yang tak berdosa dan tak berdaya tampak didzolimu oleh dua orang laki-laki sekaligus.
Dan hal itu, membuat Rumanah bersorak ria dan sangat kagum pada Meliza. Senyuman kemenangan kini mengembang di wajahnya.
__ADS_1
***